
Happy Reading 🌹🌹
"Apa yang akan mama lakukan?" Tanya Ridwan dengan marah.
"Kita harus segera meresmikan oernikahan Nanda dan Aryo yah, mama tidak mau jika nanti cucu kita dianggap anak haram." Ucap Intan dengan menggebu-gebu.
"Tapi mah...yah.. mas Aryo tidak akan meresmikan pernikahan kami jika Dinda tidak mau." Ucap Nanda menyela.
"Apa!? yah bagaimana cara membuat Dinda agar menyetujuinya?" Tanya Intan ke suaminya.
"Ayah juga tidak tau mah, kamu tau sendiri Aryo begitu mencitai Dinda, ingat dulu perjuangannya?" Jawab Ridwan.
"Tapi mama tidak mau nanti Nanda dan cucu kita dijadikan bahan gunjingan orang-orang yah!" Jawab Intan.
"Ayah juga tidak mau mah" Ucap Ridwan.
"Nanda tau mah, bagaimana kalau......
...🌈🌈...
Dinda terbangun dari tidurnya, dia mengumpulkan kesadarannya. Terakhir yang dia ingat dia menangis karena suaminya.
Dinda menghela nafas berat bagaimana hari-harinya kedepan. Apakah sekarang suami dan mertuanya menuntut anak darinya. Padahal selama ini baik-baik saja, apalagi Aryo tidak pernah menyinggung perihal anak dalam pernikahan mereka.
Dinda segera bangun dan bersiap-siap untuk pulang, disepanjang jalan banyak yang menagapnya dengan rasa iba. Se-antero Rumah Sakit X Yogyakarta sudah mengetahui tentang kondisi pernikahan Dinda dan Aryo.
Aryo yang sudah sampai di rumah langsung menuju ke kamar Nanda.
Ceklek
Aryo masuk ke kamar Nanda terlihat istri keduanya tertidur pulas di tempat tidur. Aryo mendekat dan mengelus rambutnya penuh kasih, dan mendaratkan telapak tangannya ke perut yang sudah mulai membuncit itu.
Aryo mendesah kasar dan menjambak rambut hitamnya, dia ingat sudah berbuat kasar dengan istri pertamanya. Benar apa yang dikatakan Dinda, jika foto yang ada di website Rumah Sakit sudah banyak yang melihat, karena dia juga yang seharusnya pernikahan kedua Aryo dapat disembunyikan harus terbongkar dan menjadi konsumsi para pegawai Rumah Sakit tempat dia bekerja.
Nanda mengerjabkan matanya tidurnya terganggu karena ada gerakan di kasurnya.
"Mas sudah pulang?" Ucap Nanda dengan suara khas bangun tidur.
"Hm" Jawab Aryo
"Aku siapkan air hangat dulu untukmu mandi mas." Ucap Nanda
"Ya." Jawab Aryo singkat
Nanda yang mengetahui Aryo menjawab pertanyaannya dengan singkat hanya menggerutu di dalam hati, pasti gara-gara masalah tadi.
Aryo sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos putih polos dan celana jogger pendek.
"Aryo kemarilah nak." Ucap Indah yang melihat anaknya melintas
"Ada apa ma?" Tanya Aryo, di ruang keluarga sudah ada Nanda dan Ridwan ayahnya.
"Apa kamu tau kalau rekan-rekan kerjamh di Rumah Sakit menggunjingkan Nanda?" Tanya Intan dengan serius.
"Tau mah, tapi memang benarkan apa yang diucapkan mereka?" Jawab Aryo dengan dingin
"Aryo!!!! Nanda sedang mengandung cucu mama darah dagingmu! seharusnya Dinda mengalah dan kamu melindungi Nanda!" Jawab Intan dengan nada naik beberapa oktaf.
"Apa makhsud mama? kenapa membawa-bawa Dinda dalam masalah ini? Aryo tanya, siapa yang menyuruh Nanda untuk periksa di Rumah Sakit X?!" Jawab Aryo yang mulai terpancing emosinya.
Nanda yang tau suaminya sudah mulai emosi meremas tangan mertuanya dan mulai ikut berbicara "maaf mas, tadi aku yang memaksa mama untuk menemaniku periksa, karena baru satu x aku pergi ke dokter kandungan." Jawab Nanda sendu.
Aryo hanya mengusap wajahnya kasar, dia bahkan belum pernah mengajak Nanda untuk memeriksakan kehamilannya karena dia terlalu takut orang lain akan mengetahui kondisi rumah tangganya.
"Dengar kamu Aryo kamu bahkan tidak pernah membawa menantu mama periksa kandungannya? semua pasti karena istri pertamamukan yang tidak memperbolehkannya!" Ucap Intan marah
"Sabar ma." Jawab Ridwan, Ridwan sebenarnya juga marah kepada Aryo tapi menurutnya sikap Dinda juga tidak bisa disalahkan, jika memang benar menantunya itu tidak memperbolehkan Aryo dan Nanda terlihat didepan umum.
"Papa bagaimana sih, jelas-jelas Aryo dan Dinda itu salah!" Jawab Intan kepada suaminya.
"Sudah ma, aku tidak apa-apa" Jawab Nanda dengan menundukkan kepala.
"Diamlah kamu Nanda, mama pokoknya tidak ingin terjadi apa-apa terhadap calon cucu mama! kamu harus memprioritaskan Nanda dan bayi dalam kandungannya! Jika perlu ceraikan Dinda, untuk apa masih mempertahankannya dia itu mandul Aryo!" Jawab Intan yang masih terlihat emosi.
Deg
Hati Aryo berdenyut nyeri mendengarkan mamanya untuk menceraikan Dinda.
Sedangkan di samping pintu Dinda hanya mengepalkan tangannya, jika tadi Aryo yang mengancam untuk memceraikannya, sekarang ibu mertuanya juga menyuruh Aryo untuk bercerai dengannya. Semakin sakit hatinya, dia bahkan tidak mendengar Aryo menolak bujukan mamanya.
Dengan mengadahkan kepalanya ke atas Dinda berharap tidak ada air mata yang menetes. Dengan menarik nafas, dia melangkah masuk kerumah.
"Aku pulang" Ucap Dinda sambil melepas sepatunya di depan pintu.
Keempat orang tersebut kaget, apakah Dinda mendengarkan pembicaraan mereka?.
__ADS_1
"Sudah pulang din? kok ayah tidak dengar suara mobilmu?" Tanya Ridwan kepada menantunya.
"Iya yah, tadi Dinda naik taxi karena mobil Dinda mogok." Jawab Dinda
Tanpa menghiraukan keempat orang yang masih duduk di ruang keluarga, Dinda melewati mereka begitu saja tanpa melihat mereka.
"Lihatlah istri pertamamu itu, tidak ada sopan santun. Ada orang tua duduk disini tidak ingin menyapa, begitulah perilaku istrimu yang sebenarnya Aryo." Ucap Intan agar Aryo dengan segera membenci Dinda dan menceraikannya.
Aryo yang mendengarkan perkataan mamanya hanya mendesah kasar, dia bingung harus berbuat apa.
Dengan segera Aryo bangkin dari duduknya dan menyusul Dinda di kamar.
...🌈🌈...
Negeri Cina
Didalam rumah sedang duduk sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi, mereka sedang bercengkrama dan sesekali tertawa. Mereka adalah orang tua dari Dinda yaitu tuan Chen Quon Biming dan nyonya Xiu Yuan Biming.
Dengan langkah yang lebar dan tergesa-gesa seorang laki-laki mendekat ke arah mereka, yaitu asisten sekaligus orang kepercayaan dari tuan Chen yaitu Lin
"Tuan, ada yang ingin saya laporkan." Ucap Lin
"Ada apa?" Tanya tuan Chen
Dengan sigap Lin segera menyerahkan tablek yang sedari tadi dia genggam ke tuannya. Tuan Chen segera menerima tablet Lin, dengan mata membelalak lebar dan tangan gemetar karena emosi dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Segera jemput Dinda segera!" Ucap Chen emosi.
"Ada apa sayang?" Tanya nyonya Yuan.
Chen segera menyerahkan tablet ke hadapan istrinya, nyonya Yuan sangat shock. Bagaimana dengan kondisi anak semata wayangnya, Yuan menangis dengan segera tuan Chen memelum istrinya.
"Tenanglah sayang, kita akan jemput anak kita." Ucap tuan Chen menenangkan Yuan.
"Hiks.. pernikahan mereka belum genap 6 bulan. Bagaimana Aryo bermain gila dengan perempuan lain pah... hikss mama tidak rela Dinda disakiti." Ucap nyonya Yuan yang terisak di pelukan suaminya.
"Maaf tuan menyela, menurut informasi yang saya dapatkan dari mata-mata yang saya suruh mengawani nona Dinda selama ini. Tuan Aryo sudah menikah dengan wanita tersebut dan sekarang wanita itu sedang hamil." Ucap Lin menjelaskan.
"Apa!!!! baj*****an! bagaimana bisa kamu sampai kecolongan berita besar seperti itu Lin!" Ucap tuan Chen yang emosi ke ubun-ubun. Meskipun dia sempat bertengkar hebat dengan Dinda, tapi sebagai ayah dia tetap tidak rela jika anak kesayangannya disakiti orang lain yang tidak ikut campur dalam mendidik sedari kecil.
"Maafkan saya tuan, awalnya saya kira bahwa tuan Aryo akan menceraikan wanita tersebut." Ucap Lin dengan menundukkan kepalanya.
Bugh
"Sekarang juga jemput Dinda, jika dia tetap menolak seret dia." Ucap tuan Chen.
"Saya sudah menempatkan pembantu dirumahnya tuan, apakah kita tidak menunggu terlebih dahulu? saya berharap jika tuan Aryo dan nona Dinda akan langgeng pernikahannya, dan tuan Aryo membuang wanita tersebut." Ucap Lin.
Setelah Lin mendapatkan kabar tersebut, dengan segera orang-orangnya di intruksi untuk menjadi manusia tanpa terlihat di sekitar Dinda dan keluarganya di Yogyakarta.
"Iya ayah, mama berharap rumah tangga putri kita masih bisa di perbaiki. Kita tunggu dulu perkembangannya dulu sayang." Ucap nyonya Yuan menimpali.
Dengan kasar tuan Chen mengusap kasar wajahnya "Baiklah, jika sampai Dinda tersakiti. Akan aku jemput langsung dirumahnya." Ucap tuan Chen.
...🌈🌈...
Didalam kamar Aryo masuk dan mendapati Dinda sedang mengeringkan rambutnya.
Dinda melihat suaminya dari pantulan kaca riasnya "Ada apa?" Tanya Dinda.
"Maaf" Ucap Aryo lirih.
Dengan menghela nafas kasar Dinda mencoba tenang "Untuk?"
"Karena sudah menamparmu tadi, maafkan aku. Aku terbawa emosi." Ucap Aryo yang kemudian mendekat ke istrinya.
"Stop jangan mendekat lagi, apakah kamu akan selalu memukul aku jika kamu emosi? bahkan itu bukan kesalahanku?" Tanya Dinda dengan sedikit meluapkan perasaannya.
"Tidak, maafkan aku tadi aku khilaf sayang" Ucap Aryo, yang kino sudah memeluk Dinda dari belakang dan menyandarkan kepalanya ceruk leher istrinya.
"Berjanjilah mas, jangan memukulku dan jangan emosi dulu jika kamu belum pendapatkan penjelasanku." Ucap Dinda sendu.
"Iya sayang, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Aryo yang mengecup pipi istrinya.
...🌈🌈...
Pagi hari, semua orang berkumpul dimeja makan dengan tenang. Karena hari ini hari libur sehingga mereka hanya berkumpul dirumah.
Nanda yang melirik Dinda karena sedari tadi diam saja begitu kaget, banyak tanda cintaa yang bertengger di lehernya. Dia menggenggam erat sendok dan garpu di tangannya, apakah dia mau pamer? sh****! katanya dalam hati.
Huek.. dengan segera Nanda berlari ke arah wastafel. Intan yang melihat menantunya muntah-muntah segera mendekat dan mengurut-urut lehernya.
Dinda berdiri dan segera membuatkan teh hangat untuk madunya.
Nanda pura-pura mual dan lemas di hadapan suami dan orang tuanya.
__ADS_1
"Diminun Nan agar perutmu hangat." Kata Dinda yang meletakka cangkir teh dimeja.
"Terima kasih mbak" Ucap Nanda
Dengan segera Nanda mengambil cangkir dan meminumnya
Pyar
Panas.. panas.. panas..
"Dinda apa yang kamu lakukan!!" Ucap Intan mama mertuanya
"Aku hanya membuatkan teh hangat untuk Nanda mah" Ucap Dinda.
Aryo yang melihat Nanda kepanasan segera mendekat dan menyambar tisu didekatnyaa.
"Lihat bibir Nanda sampai melepuh, kau bilang itu air hangat!" Ucap Aryo. "Kamu keterlaluan Dinda." sambung Aryo lagi.
Bibi yang melihatnya diam dan merekam segala aktivitas dirumah ini lewat kamera yang terpasang di kancing bajunya.
"Hikss.. mbak Dinda kenapa jahat denganku. Apakah kamu begitu bencinya denganku dan anakku sehingga ingin mencelakai kami" Ucap Nanda yang menangis.
"Tidak Nanda, aku benar-benar yakin membuatkan kamu teh hangat bukan teh panas." Ucap Dinda.
"Alah sudahlah, jangan banyak alasan Dinda! Kamu irikan lihat Nanda bisa hamis, sedangkan kamu tidak bisa hamil. Jadi ingin mencelakai bayi didalam kandungannya." Ucap Intan.
Aryo memeluk Nanda yang masih sesenggukan, dengan mata nyalang dia menatap Dinda. Dinda yang di tatap tajam oleh suaminya segera menundukkan kepala.
...🌈🌈...
Flashback
Malam hari sebelum Aryo dan keluarganya membubarkan diri untuk istirahat dikamar masing-masing.
Tok.. tok.. tok
"Siapa?" Tanya Intan.
"Maaf nyonya mengganggu malam anda saya Lasmi, saya dari kampung. Saya ingin pulang tapi tidak punya uang" Tanya wanita tersebut.
"Kami tidak menerima pengemis dirumah ini" Tanya Intan angkuh.
"Tidak nyonya, saya ingin bekerja disini boleh agar saya bisa mendapatkan uang dan bisa pulang kampung" Ucap Lasmi
"Siapa mah?" Tanya Nanda dan Ridwan
"Wanita kampung, dia mau pulang tidak punya uang.
"Iya tuan dan nona. Jika diperbolehkan saya ingin bekerja disini sebagai pembantu juga tidak apa-apa" Ucap Lasmi.
"Yasudah, terima saja mah. Lagian Nanda juga lagi hamil dan Dinda pasti sibuk bekerja di Rumah Sakit. Terima saja sebagai pembantu untuk sementara waktu." Ucap Ridwan
"Yaudah, ayo masuk. Tapi kamu jangan berani mencuri barang dirumah anak saya ya! Disini serba mahal." Ucap Intan sombong
"Baik nyah, terima kasih" Ucap Lasmi.
Intan dan Nanda segera mengantar Lasmi kekamar belakang dekat gudang.
"Ini kamarmu, bersihkan sendiri. Jangan ribut, kami mau tidur." Ucap Nanda, yang kemudian menggandeng tangan ibu mertuanya untuk meninggalkan bi Lasmi.
Lasmi hanya geleng-geleng dan segera masuk kekamarnya "Ya Tuhan, non Dinda bisa-bisanya satu rumah dengan setan" Ucap bi Lasmi.
Lasmi segera menghubungi tuan Lin
"Hallo" Ucap Lin
"Hallo tuan, saya sudah berhasil masuk dirumah non Dinda" ucap bi Lasmi
"Bagus, segera pasang kamera kecil yang sudah aku berikan ke setiap sudut rumah kecuali kamar mandi, tak lupa setiap kancing dibajumu sudah aku pasang kamera, jika ingin mencucinya lepas dulu kancingnya." Jelas Lin kepada orang suruhannya
"Baik tuan" Ucap bi Lasmi
Lasmi segera keluar kamar dan mengendap-endap, semua lampu sudah padam. Dia segera memasang cctv kecil yang sudah didapatkannya dari tuan Lin. Untuk kamar, dia akan pasang besok ketika membersihkan seluruh kamar dirumah ini.
Flashback off
...🌈🌈...
Hallo semuanya.
Jangan lupa dukungannya.
Maaf baru update, karena seharian kemarin seminar online.
Salam sehat dari autor 💚❤
__ADS_1