
...Jangan lupa likenya teman-teman...
Happy Reading 🌹🌹
Waktu terus berjalan, tidak terasa kini putra Dinda dan Zack sudah berumur tiga bulan.
Saat ini Dinda tengah bersiap-siap untuk pergi ke swalayan bersama beberapa maid dan pengasuh anaknya.
Putra pertama Zack dan Dinda akhirnya di beri nama Romeo Alexander.
"Sayang, maaf tidak bisa menemanimu. Karena ada rapat penting hari ini." Ucap Zack pada istrinya.
"Tidak apa-apa Baby, kamu berkerja juga demi aku dan Romeokan?" Jawab Dinda dengan mengelus rahang suaminya.
"Tentu saja, aku bekerja untukmu dan jagoan kita." Jawab Zack yang kemudian mencium pipi Dinda.
"Baiklah, hati-hati di jalan sayang." Ucap Dinda yang mengantarkan suaminya untuk berangkat bekerja.
Dinda melambaikan tangannya hingga mobil yang di kendarai Zack menghilang dari pandangannya.
Kini Dinda langsung masuk mobil dengan yang lainnya untuk menuju ke salah satu swalayan yang lengkap di kota tersebut.
Tanpa Zack dan Dinda sadari interaksi keduanya tengah di tatap oleh seseorang dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.
...**...
Sudah seminggu lamanya, Aryo dan keluarganya kembali lagi ke kota. Mereka mulai merintis usaha membuka toko kelontong.
Dengan menaiki angkutan umum Aryo dan Mamanya berangkat ke swalayan untuk berbelanja kebutuhan isi kelontong mereka.
Aryo yang melihat Mamanya merasa risih berada di angkutan umum hanya acuh saja.
Saat ini Dinda telah sampai di swalayan, dengan segera beberapa maid yang ikut dengannya mengambil troli belanja.
Kedatangan Dinda menyita banyak perhatian pengunjung, karena ahli waris perusahaan Biming turun langsung untuk berbelanja.
Banyak yang mengabadikan moment tersebut.
__ADS_1
Sudah hampir tiga puluh menit Dinda berbelanja, dia tiba-tiba merasa ingin buang air kecil.
"Ras, tolong gendong Romeo sebentar." Ucap Dinda pada Saras babysister anaknya.
Dengan cekatan dan telaten, Saras segera mengambil bayi kecil tersebut dari gendingan Dinda.
Segera Dinda menuju ke kamar mandi, setelah selesai menuntaskannya. Segera Dinda kembali berjalan menuju rombongannya.
Bruk!
Dinda tidak sengaja menabrak tubuh wanita parubaya.
"Maaf, Nyonya." Ucap Dinda dengan mengambilkan barang bawaan wanita tersebut.
Wanita parubaya tersebut hanya diam terpaku dengan pemandangan didepannya, menantu yang selama ini dia sia-siakan.
Jantung Dinda terpompa dengan cepat, aliran darah serasa berdesir ke seluruh tubuh. Pandangannya terpaku pada wanita tua yang masih terlihat cantik tersebut.
"Dinda." Ucap Intan pada mantan menantunya.
"Nyonya Intan, maaf saya tidak sengaja menabrak Anda." Jawab Dinda, dengan cepat dia menaruh barang Intan yang jatuh ke troli samping Intan.
Maaf, satu kata yang hanya dapat dia lontarkan ke mantan menantunya tersebut.
Dinda hanya diam tanpa membalas pelukan tersebut.
"Maafkan Mama, Din." Ucap lirih Intan yang masih setia memeluk Dinda.
Dinda hanya berekspresi datar tanpa menjawabnya, hatinya berkecamuk. Kenapa tidak sejak dulu dia tidak mengucapkan kata tersebut.
Intan yang merasa tidak mendapatkan balasan segera melerai pelukannya, dia menatap mata bulat yang jernih milik Dinda.
"Mama, Dinda." Panggil Aryo pada kedua wanita beda usia tersebut.
"Aryo." Jawab Intan
"Saya permisi dulu Nyonya," Ucap Dinda
__ADS_1
Belum jauh Dinda melangkahkan kakinya, pergelangan tangannya sudah di cekal oleh Aryo.
Dinda menatapnya tajam, Aryo segera melepaskan cekalannya.
"Maaf." Ucap Aryo.
Intan yang melihatnya segera bertindak, "Dinda, kita sudah lama tidak bertemu. Bisakah kita makan siang bersama?" Tanya Intan dengan nada yang lembut.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menemani kalian makan siang." Tolak Dinda halus
"Ayolah Dinda, Mama sudah lama tidak bertemu dan mengobrol lagi denganmu." Bujuk Intan dengan memelas.
"Memang hubungan kita tidak sedekat itu Nyonya." Jawab Dinda lagi.
Dinda sebenarnya sangat jengah dengan keadaan ini, kenapa dia harus bertemu lagi dengan mereka.
"Apakah kamu belum bisa memaafkan Mama?" Tanya Intan cepat, meskipun Dinda memanggilnya Nyonya. Intan tidak memperdulikannya.
"Bukankah Anda sudah tau jawabannya Nyonya, kenapa mesti bertanya lagi?" Jawab Dinda dingin.
Aryo yang melihat Dinda berubah hanya menatapnya sendu. Dulu dia wanita yang lembut, tetapi sekarang dia menjadi wanita yang dingin.
Aryo menyadari dia ikut andil dalam perubahan sikap Dinda.
Intan meneteskan air matanya, dia langsung bersujud di depan Dinda.
Aryo dan Dinda yang melihatnya kaget, sontak Dinda segera memundurkan langkahnya. Dia kaget dengan perbuatan Intan.
Aryo segera berjongkok dan mensejajarkan tinggi badanya dengan Mamanya.
"Mah, ayo berdiri." Ucap Aryo.
Intan hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Aryo, Mama tidak akan berdiri sebelum mendapatkan maaf dari Dinda." Jawab Intan dengan sesenggukan.
Aryo memandang Dinda yang hanya diam, "Din, maafkan kami." Ucap Aryo.
Dinda tidak menjawab, dia segera pergi dari hadapan mereka. Segera Dinda menggendong Romeo dan keluar dari swalayan tersebut.
__ADS_1
Di dalam mobil Dinda mengatur nafasnya, emosinya seakan ingin meledak.