Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 71


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di dalam mansion tengah terlihat Zack sedang berjemur dengan putranya.


Ayah dan anak terlihat sangat kompak, mereka sama-sama memakai kacamata hitam.


Dinda yang sudah selesai ritual mandinya segera mencari keberadaan putranya tersebut.


"Sayang." Panggil Dinda pada suaminya.


Zack yang merasa di panggilpun menoleh ke arah sumber suara.


"Apa kamu sudah selesai?" Tanya Zack


"Sudah, aku akan membawa putra kita masuk. Sudah cukup untuk berjemurnya hari ini." Ucap Dinda pada suaminya. Dengan perlahan Dinda mengambil bayinya untuk digendongnya masuk ke dalan rumah.


Zack segera menyusul istrinya ke dalam dan menyuruh pelayan untuk membereskan barang-barang yang telah dia gunakan.


Terlihat Dinda tengah menyusui putranya, Zack hanya mendesah kasar karena dirinya harus berpuasa sampai diperbolehkan untuk menyentuh Dinda lagi.


"Ada apa sayang?" Tanya Dinda membuyarkan lamunan Zack.


"Aku harus berpuasa berapa hari lagi sayang?" Tanya Zack memelas pada istrinya.


Dinda yang mendapatkan pertanyaan tersebut mengerjabkan matanya beberapa kali, hingga pada akhirnya tawanya pecah.


Dinda bahkan memiliki ide untuk menjahili tukang mesum itu, pikirnya.

__ADS_1


"Bukan hari lagi sayang, tapi tahun. Kamu harus menunggu putra kita berusia satu tahun dulu." Ujar Dinda dengan menahan tawanya.


Zack yang mendengarkannya terperangah, jangankan satu tahun. Satu minggu saja sudah terasa satu tahun.


"Kenapa lama sekali, kata dokter hanya menunggu beberapa hari saja." Jawab Zack cemberut tidak terima.


"Apa kamu sudah tidak kuat menahannya?" Tanya Dinda pada suami.


"Tentu saja, aku bahkan selalu ingin memakanmu." Jawab Zack cepat.


"Akan aku tuntaskan dengan cara lain kau masuklah dulu ke kamar mandi. Aku akan meletakkan anak kita dulu di kasurnya." Jawab Dinda segera dirinya beediri dan meletakkan anaknya.


Zack bingung dengan ucapan Dinda, tetapi dia tetap menurut saja pada ucapan istrinya.


...**...


Kini terlihat Aryo sedang perjalanan naik bis untuk menuju kekediaman Zack dan Dinda.


Dengan senyum yang terpatri di wajahnya, Aryo memandangi setiap sudut kota yang dilintasi oleh bis itu.


Masih terekam jelas di ingatannya, setiap kenangan yang ada di kota tersebut. Bahkan awal dimana dirinya memulai hubungan dengan Dinda dan berakhir pula dengannya.


Ingin sekali Aryo memutar waktu, andai Aryo memiliki teman Doraemon. Pasti kehidupan Aryo tidak akan sekacau sekarang.


...**...


Belahan benua lain, Nanda tengah melarikan diri dengan Candra dan Abel. Mereka melewati hutan yang sangat lebat dan sepi untuk melarikan diri dari kejaran mafia tersebut.

__ADS_1


Dengan nafas yang sudah tidak beraturan, keringat bercucuran, bahkan kaki seakan sudah tidak kuat menompang bobot tubuh mereka.


"Kita harus pergi dari negara ini!" Ucap Nanda.


"Tapi Nan, pasti anak buah mereka sudah menutup akses transportasi agar kita tidak bisa kabur." Jawab Candra dengan nafas Senin Kamis dan menggendong Abel.


"Kita coba tengah malam saja, kita harus menyamar agar tidak ketahuan."Jawab Nanda


Kini mereka tengah beristirahat di pinggiran hutan, rasa lapar dan haus menyerang mereka.


Abel bahkan hanya lemas dan hanya menangis, Nanda dan Candra yang melihatnya tidak tega. Tetapi mereka harus keluar dari negara tersebut.


"Bagaimana dengan Abel Nan, lihatlah dia sangat lemas bahkan badannya panas." Tanya Candra yang terlihat khawatir.


"Bagaimana jika kita taruh dia di panti asuhan saja, atau di rumah warga agar dirawat." Usul Nanda.


"Tidak! Sudah cukup kamu memisahkanku dengan Abel, kita akan tetap membawanya bersama." Seru Candra pada Nanda


Langkah kaki lainpun terdengar, dan suara senjata api sangat dekat.


"Oh, kalian para tikus ternyata disini?" Tanya ketua mafia tersebut.


Nanda dan Candra sudah kembali tertangkap oleh mereka. Bahkan senjata api serasa dingin ketika mengenai pelipis Nanda.


Candra dan Nanda langsung bersimpuh dengan tangan di angkat di atas, Abel bahkan hanya bisa menangis kencang.


Kongkangan senjata dan suara peluru yang memekakkan telinga terdengar, darah yang mengalir menjadi satu dengan tanah, suara tangisan yang kian melemah tergantikan dengan jeritan seorang Ibu.

__ADS_1


"TIDAK!!! ABEL!!!" Jerit Nanda.


Sang pembunuh hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


__ADS_2