Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 16


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Bagaimanapun kamu harus menjelaskan kemereka mas." Jawab Dinda jengkel.


Aryo hanya diam tanpa menjawab, dia juga bingung bagaimana menjelaskan dihadapan kedua orang tuanya jika dia memiliki istri selain Dinda.


****


Aryo dan Dinda segera turun dari mobil begitu mereka sampai di pekarangan rumah.


Ceklek


Mama... Papa.


Aku rindu kalian. Ucap Dinda yang segera berlari dan menghambur memeluk kedua mertuanya.


"Kami juga sangat merindukanmu sayang." Jawab Intan.


Ridwan dan Intan yang melihat Aryo mendekat segera memberikan tatapan tajam.


Aya......h


Belum sempat menyelesaikan ucapannya Aryo sudah di hadiahi bogem mentah dari Ayahnya.


Bugh..


"Dasar laki-laki kurangajar. Bagaimana bisa kamu menduakan Dinda, apa ayah mendidikmu untuk mejadi laki-laki brengs***k dan melukai hati perempuan? Hah jawab!!! Sekarang juga kamu ceraikan Nanda!"


Jderr


Bagai tersambar petir, tubuh Nanda oleng dan terduduk di sofa. air matanya menetes. Bercerai? Kalimat yang tidak pernah dia bayangkan dalam benaknya.


"Ayah sudah, tenanglah ayah." Ucap Dinda yang menggenggam erat tangan ayah mertuanya.


"Dinda harusnya kamu bilang ke ayah, jika anak kurang ajar ini menduakanmu!" Jawab Ridwan dengan emosi.


"Apalagi kamu menduakan Dinda dengan wanita rendahan seperti dia Aryo!" Ucap Intan dengan menuding Nanda.


"Mama.... Ayah... Aryo bisa jelaskan semuanya. " Ucap Aryo mengiba.


"Menjelaskan apalagi, kami kesini untuk memberi kejutan denganmu dan menantu kami Dinda. Tapi justru kami yang mendapatkan kejutan!" Jawab Ridwan garang dan sekali lagi memukul pipi Aryo hingga sudut bibirnya berdarah.


"Ma.. maafkan aku om, tante. Ini semua salah saya bukan mas Aryo." ucap Nanda lirih


"Diam kamu!! Kamu disini hanya pelakor. Sekarang juga angkat kaki dari rumah ini dan tinggalkan Aryo!" Jawab Indah dengan tatapan tajam.


"Ma.. sabar biar kami jelaskan dulu mah." Jawab Dinda dengan memegang tangan ibu mertuanya, dia masih waras bagaimanapun Nanda sedang hamil dan tidak bisa di talak.


"Dinda kamu sebagai istri jangan mau dimadu, apalagi dia tidak sederajat dengan kita!" Jawab Indah dengan menggebu.


Dinda sadar mertuanya mencari menantu harus sesuai bibit bebet bobotnya, meskipun Dinda tidak mendapatkan restu dari Ayahnya. Dia tetap menikah dengan Aryo. Apakah mungkin ini karma yang dia dapatkan karena tidak menjadi anak yang berbakti?


Nanda yang sedari tadi diam dan mendengarkan perkataan orang tua Aryo yang sangat menyakitkan, dengan tangan terkepakll erat, mata merah dan sembab, wajah pucat pasi, memberanikan diri menatap semua orang di dalam ruangan tersebut.


"CUKUP!!!! AKU MEMANG ORANG MISKIN DAN ANAK YATIM PIATU, TETAPI AKU JUGA MASIH PUNYA HATI. AKU JUGA MANUSIA SEERTI KALIAN YANG MAKAN NASI. JIKA AKU SEDANG TIDAK HAMIL, AKU SUDAH LAMA MENINGGALKAN ARYO!!!"


Jder....


Indah dan Ridwan shock secara bersamaan. Hamil? Indah membeo.


Indah dan Ridwan menatap menantu dan anaknya untuk mencari kebenaran, dan Dinda mengangguk. Indah memegangi lehernya seakan tensinya sudah melebihi ambang batas.


Mereka berlima duduk dengan suasana yang dingin dan tegang. Dinda duduk di sebelah Nanda dan menguatkannya, karena dia melihat madunya pucat.


"Jelaskan semuanya Aryo." Ucap Ridwan.


"Baiklah yah, aku dan Dinda sudah menikah hampir satu bulan. Selama mempersiapkan pernikahan dengan Dinda, aku berteman dengan Nanda di media sosial. Awalnya kami hanya bertukar informasi terkait dunia medis, karena Nanda saat itu sedang kuliah perawat, sedangkan aku dan Dinda dokter. Hingga pada akhirnya Nanda menghabiskan libur semester ke Bandung, dan aku memang berniat untuk menemuinya saat itu. Singkat cerita karena cuaca buruk aku mencoba menunggu hingga tertidur, entah bagaimana saat aku terbangun aku sudah menemukan Nanda yang menangis di sampingku, dan aku mengambil kepera****nya. Sebagai rasa bersalah dan tanggung jawab, saat itu juga aku menikahi Nanda secara sirih hingga sekarang sampai dia hamil anak Aryo" Ucap Aryo yang menjelaskan kronologisnya.


"Aryo, rasa tanggung jawab tidak harus dengan menikahinya bukan?" Tanya Intan.


"Ma, Aryo sudah merenggut hal berharga dari dirinya." Jawab Aryo.


"Berapa usia kehamilannya?" Tanya Indah


"Jalan 2 bulan mah." Jawab Aryo dengan menunduk.


"Gugurkan." Jawab Intan dengan dingin.

__ADS_1


"Mama!!!" Ucap Aryo, Dinda, dan Wisnu secara bersamaan


Nanda yang mendengarkannya langsung lemas dan tiba-tiba ruangannya menjadi gelap. Dia begitu shock dengan ucapan sari ibunya Aryo.


"Nanda, bangun Nan." Dinda yang mengguncang pundak Nanda. "Mas Nanda pingsan, segera di bawa ke kamar." Ucap Dinda memberi untruksi ke suaminya.


Aryo dengan segera menggendong Nanda dan lari ke lantai dua menuju kamar Nanda. Diletakkannya Nanda dengan perlahan dan mengusap tangannya. Aryo begitu bersalah karena tidak menguatkan Nanda.


"Mas tinggalkan aku dan Nanda, temanilah Ayah dan Mama di bawah dulu." Ucap Nanda.


"Apa kita bawa Nanda saja ke Rumah Sakit?" Tanya Aryo


"Apakah kamu siap jika semua orang tau bahwa kamu menikah lagi dengan Nanda?" Tanya Dinda dengan mengusapkan minyak kayu putih ke beberapa titik tubuh madunya.


Aryo tidak menjawab, dia hanya diam dengan menatap Dinda.


****


Diruang tamu.


"Ayah.. Mama, aku sudah ikhlas jika mas Aryo memiliki madu, saat ini Nanda sedang hamil. Tidak bisa di talak, kasian juga bayi dalam kandungannya. Bagaimanapun bayi itu tidak bersalah, dia tetap anak kandung mas Aryo." Jelas Dinda kepada mertuanya.


"Kamu sungguh-sungguh akan menjalani pernikahan yang seperti ini nak?" Tanya Ridwan dengan tatapan iba pada menantunya, dia tidak menyangka bahwa anaknya anak memiliki rumah tangga yang tidak normal seperti ini.


"Iya ayah, aku akan mencoba menjalaninya. Jika aku tidak sanggup aku akan melepasbyanya ayah." Jawab Dinda dengan senyum yang di paksakan, Dinda tidak menyangka pernikahan yang sekarang berjalan 5 bulan sudah mendapatkan cobaan yang sedasyat ini.


"Apa makhsudmu Dinda? apa kamu akan menceraikan Aryo begitu?" Sela Intan


"Untuk saat ini tidak mah, tidak tahu kedepannya." Jawab Dinda.


"Tidak bisa!!! Mama tidak setuju!! Kamu dan Aryo tidak akan pernah bercerai, kita tunggu anak itu lahir, kamu boleh mengadopsi anaknya, Aryo akan menceraikannya." Ucap Intan segera beranjak dari tempat duduknya. Mau di taruh dimana muka Intan, jika sampai teman-teman arisannya tau kalau dia sekarang memiliki menantu yang miskin dan jauh dari barang-barang branded.


Dinda dan Ridwan kaget dengan pikiran Intan, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing-masing.


Benar kata Indah, Aryo dan Dinda tidak boleh bercerai. Bagamanapun Dinda tambang emasku, kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Ridwan dengan pikiran sejengkalnya.


Apa aku harus memisahkan ibu dan anak? Tapi jika aku di posisi maduku, aku juga tidak akan mau dan rela di pisahkan dari anakku. Gumam Dinda dengan menggigit-gigit bibir bawahnya.


***


Esok harinya.


"Jika aku risen dari rumah sakit bagaimana aku mendapatkan uang?" Jawab Nanda.


"Kamu tidak usah memikirkan uang, aku sebagai suamimu akan bertanggung jawab. Aku akan memberika nafkah lahir dan batin." Sela Aryo.


"Iya itu benar, Istirahatlah selama masa kehamilanmu Nanda." Ucap Dinda dengan mengelus punggung tangan Nanda.


"Baiklah mbak, jika itu yang terbaik. Aku juga tidak ingin terdengan gosip yang tidak sedap." Jawab Nanda dengan menunduk.


"Tenanglah, tidak ada yang tahu tentang hubungan kita bertiga di tempat kerja." Terang Aryo.


Dinda yang mendengarkan hanya diam, seandainya mereka tau, bahwa ada seseorang yang pernah memergoki mereka. Tapi sampai saat ini Dinda juga tidak pernah tau identitas pengirim gambar tersebut.


***


Dimeja makan


"Mana madumu?" Tanya Intan


"Nanda sedang istirahat mah, dia masih shock dengan ucapan mama yang kemarin." Jawab Aryo.


"Cih, bilang saja dia malas bangun dan ingin dilayani bak seorang putri." Ucap Intan dengan judes.


"Sudah cukup mah! Nanda sedang hamil anak Aryo, jadi mama jangan bicara yang bukan-bukan." Ucap Aryo yang langsung beranjak dari tempat duduknya, moodnya pagi ini sudah rusak karena ucapan mamanya.


"Mah.. Dinda berangkat kerja dulu ya. Nanda biarkn istirahat, dia sudah makn dan minum obat." Ucap Dinda seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mertuanya.


***


Dirumah sakit


Seluruh Rumah Sakit X Yogyakarta hebohh dengan foto yang di posting pada web Rumah Sakit.


Foto tersebut menampakkan sosok seorng dokter dan suster yang sedang bercumbu ruang pemeriksaan.


__ADS_1


Aryo yang melangkah masuk mendapatkan tatapan yang mengintimidasi dan tatapan jijik. Tapi Aryo segera menepis rasa itu dan segera berlalu untuk ke ruangannya.


Berbeda dengan Dinda, dia mendapatkan tatapan perasaan yang iba dan kasihan. Karena suaminya telah berselingkuh di belakngnya.


"San, apa hari ini kamu merasa aneh?" Tanya Dinda pada asistennya.


"Aneh kenapa dok?" Tanya Santi pada dokter Dinda, dia tau bahwa dokternya ini kurang update dengan pemberitaan di Rumah Sakit.


"Hari ini aku seperti arti, semua menatapku" Ucap Dinda dengan tersenyum.


"Eihhh... Pede kali dokter ni. Dokter buka saja web Rumah Sakit." Jawab Santi dengan geleng-geleng, bisa-bisanya Dinda masih bercanda di saat bocor seperti ini.


Dengan segera Dinda masuk di halaman web Rumah Sakit X Yogyakarta, kaget, sedih, marah, semua menjadi satu. Tangannya gemetar, foto itu adalah suami dan madunya. Tapi siapa yang menyebarkannya, tidak mungkin suami maupun madunyakan?


Ketika Dinda sedang sibuk melamun, Hpnya berdering. Dilayar menandakan Aryo suaminya yang menelfun.


"Halo, Dinda apa kamu sudah lihat di web Rumah Sakit?" Tanya Aryo


"Sudah mas." Jawab Dinda tenang


"Bagaimana keadaanmu, apakah kamu baik-baik saja? Siapa yang sudah mengunggah fotoku dan Nanda?" Tanya Aryo


"Mas aku tidak tau dan tidak mau tau, aku sudh pernah bilang padamu untuk sellu berhati-hati jika di Rumah Sakit." Jawab Dinda.


Aryo gusar, Nanda belum bisa datang ke Rumah Sakit untuk menyerahkan surat risennya. tidak mungkin jika dia yang menyerahkannya. Aryo mengusap wajahnya dengan kasar.


***


Dirumah


Nanda yang terbangun dan haus melangkahkan kakinya keluar kamar, karena air di dalam teko sudah habis.


"Enaknya bangun tidur semua sudah rapi dan masakan sudah matang?" Ucap Indah yang duduk di ruang tamu.


"maaf ma" cicit Nanda.


"Jangan panggil aku mama, aku tidak sudi!!!" Jawab Indah dengan nada naik satu oktaf.


"Ma.. maaf nyonya." Ucap Nanda dengan menunduk.


Entah karena rasa takut atau gugup, perut Nanda tiba-tiba bergejolak. Dengan segera dia berlari kearah watafel dapur.


Hoek... hoek...


Intan yang melihatnya menjadi tidak tega, dia mendekat dan mengelus leher istri kedua Aryo. Nanda yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari mertuanya kaget, tetapi rasa mualnya lebih mendesaknya. Beberapa saat semua yang ada didalam perut Nanda keluar, Nanda lemas kaki-kakinya seakan tidak memiliki tulang.


Dengan segera Intan memapah Nanda untuk duduk di sofa, dia membuatkan teh hangat untuk Nanda.


"Minumlah." Ucap Intan dengan menyodorkan gelas.


"Terima kasih nyonya." Jawab Nanda. Nanda meminumnya sedikit demi sedikit. Intan yang melihat wajah pucat Nanda menjadi khawatir. Bagaimanapun dia memang menginginkan seorang cucu.


"Tidak perlu nyonya, saya baik-baik saja. Sudah hal yang biasa setiap hari seperti ini." Jawab Nanda.


"Apa kamu selalu mengalami mual-mual seerti ini?" Tanya Intan


"Iya nyonya, setiap hari pagi maupun siang atau malam, tidak mengenal waktu" Jawab Nanda.


"Apa Dinda dan Aryo tidak tahu keadaanmu yg selalu mual-mual?" Tanya Indah


"Mereka tau nyonya, hanya dokter Aryo saja yang peduli. Dokter Dinda acuh bahkan tidak pernah membuatkan minuman hangat yang seperti nyonya lakukan saat ini." Jawab Nanda dengan wajah sedihnya, ya Nanda akan berbohong demi melancarkan rencananya. Bagaimanapun dia harus merebut simpati dari orang tua Aryo terlebih ibunya.


"Apa?! Dinda setega itu denganmu?" Tabya Intan dengan mencincingkan matanya.


"Iya nyonya, bahkan setiap malam saya sellu terbangun menangis karena saya tidak bisa tidur tanpa dokter Aryo, tetapi dokter Dinda akan marah-marah jika dokter Aryo tidur dengan saya. Bagaimanapun saya dengan hamil anak dokter Aryo, cucu nyonya juga." Ucap Nanda dengan mengelus perut yang cukup buncit.


"Jika mereka selalu tidur, bagaimana Dinda sampai saat ini tidak hamil?" Ucap Intan dengan berfikir.


"Saya tidak tahu nyonya, saya dengar dokter Dinda ada masalah dengan rahimnya. Mungkin mandul? Nyatanya saya baru menikah blm ada 2 bulan sudah hamil nyonya." Jawab Nanda dengan senyum liciknya, ya dia akan menyingkirkan Dinda dengan pelan-pelan.


"Iya benar juga, aku akan memastikan ketika mereka pulang." Jawab Intan dengan menggebu-gebu


"Ja.. jangan nyonya, tolong jangan sampai mereka tau, aku tidak mau dokter Dinda sedih dan akan bertengkar dengan dokter Aryo" Ucap Nanda.


"Tapi Aryo tidak adil terhadapmu, dia selalu bersama Dinda di tempat kerja maupun rumah." Jawab Intan dengan sengit.


"Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa nyonya, saya hanya ank yatim piatu tidak ada yang menolong maupun peduli dengan keadaan saya." Jawab Nanda yang sudah terisak.

__ADS_1


"Tenanglah, ada aku. Mulai sekarang anggap saja aku adalah ibumu." Jawab Intan yang kemudian memelun Nanda dengan sayang, Nanda hanya menyeringai dalam pelukan mertuanya.


__ADS_2