
Happy Reading 🌹🌹
Sudah tiga hari lamanya, Ridwan melakukan perjalanan ke luar negeri agar mendapatkan investor.
Sedangkan Aryo, dia mencoba mengajukan beberapa proposal di perusahaan-perusahaan yang cukup besar.
"Bagaimana keadaan keuangan perusahaan Rik?" Tanya Aryo pada asistennya.
"Krisis Tuan, seluruh saham Prataman sudah habis terjual. Sedangkan aset hanya tersisa rumah utama." Jelas Riko pada bosnya.
Aryo memegang keningnya, dia harus melelang perusahaan yang sudah di bangun oleh kakeknya dengan susah payah jika Ayahnya pulang nanti tidak membawa hasil.
Ting
Masuk sebuah notifikasi transaksi belanja.
Aryo hanya menghela nafas kasar, Mamanya kurang peduli terhadap kondisi keuangan saat ini. Dia yakin jika suaminya dan anaknya dapat menangani masalah ini.
"Apa kita memblokir kartu Nyonya Indah?" Saran Riko pada bosnya.
"Jangan, pasti saat ini Mamaku masih berada di mall." Jawab Aryo
Riko tidak membantah lagi.
"Riko kamu buat surat pengunduran diri, aku akan menjual perusahaan ini besok. Jual saja mansion utama, dan tolobg belikan rumah di pinggiran kota yang layak kami huni." Ucap Aryo
"Tuan, aku akan tetap mengikutimu meski perusahaan susah bangkrut." Ucap Riko pada Aryo
"Tidak bisa Riko, aku sudah tidak bisa menggajimu. Kau harus teruskan kehidupanmu sendiri tanpaku." Jelas Aryo pada sang asisten.
Aryo berdiri dan memeluk Riko sebagai tanda perpisahan mereka.
Sedangkan di sebuah mall besar, Intan tengah memborong beberapa baju dan sepatu. Dia tidak mau tahu tentang keuangan perusahaan dan pribadi.
Sedangkan Ridwan kini terlihat tengah menaiki pesawat untuk kembali ke tanah air, karena dia sudah mencoba mencari investor tidak ada yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya.
__ADS_1
...**...
Kini kekasih Nanda tengah mengawasi rumah Aryo, karena dia DPO harus sembunyi2 untuk menemui anaknya.
Terlihat anak kecil yang tengah bermain dengan seorang suster, laki-laki itu terus mengawasi hingga sang suster pergi untuk membeli sesuatu.
Kekasih Nanda segera berlari ke arah anaknya dan membekap mulutnya agar tidak berteriak. Dengan segera dia membawa lari Abel.
Suster bingung karena tidak menemukn Abel, dia berteriak dan lari kesana kemari untuk mencari Abel. Tapi Nihil.
Dengan segera dia menelfun Aryo, memberitahukan jika Abel hilang.
Aryo yang mendapatkan laporan dari suster segera pulang, karena meskipun bukan anaknya. Aryo sudah berjanji kepada Nanda akan merawatnya hingga Nanda keluar dari penjara.
Abel terus menangis selama di dalam mobil, Candra tidak memperdulikannya. Dia harus kabur sejauh mungkin dengan Abel dari tanah air.
Kini Candra sudah sampai di sebuah pelabuhan, terlihat Abel sudah tertidur karena terlalu banyak menangis. Candra meminta tolong orang suruhannya untuk kabur dengan Abel.
Sedangkan Candra akan membebaskan Nanda bagaimanapun caranya.
...**...
Dia akan membuat Aryo benar-benar pergi jauh dari kota ini dan tidak bermimpi lagi untuk merebut Dinda dari tangannya.
...**...
Kini di kediaman Pratama semua tengah gusar mencari Abel, mereka sudah tidak dapat mengerahkan anak buah lagi. Karena semua sudah mereka pecat dan di beri pesangon.
"Sudahlah Aryo, Abek juga bukan anakmu. Untuk apa kita mencarinya, menambah beban saja." Ucap Intan ketus.
"Mama sendirikan yang menginginkan Abel jatuh hak asuhnya ke kita." Jawab Aryo
"Ya itukan kemarin sekarng kita kesusahan uang. Buat makan kita saja susah apalagi menampung anak orang lain Aryo." Jawab Intan yang tidak mau disalahkan.
"Sudah... sudah, lebih baik sekarang kita berkemas-kemas. Kita akan pindah dari mansion ini." Ucap Ridwan.
__ADS_1
"Apa!! Pindah kemana Yah? Mama tidak mau tinggal di rumah jelek!" Seru Intan pada suaminya.
"Mah, kondisi kita sedang terpuruk! Perusahaan sudah Aryo lelang hanya tinggal mansion ini saja aset satu2nya mah." Jelas Aryo pada Mamanya.
Intan menggeleng tidak percaya "Mama tidak mau jadi miskin Aryo!! Semua ini karena Dinda, Mama harus menemui Dinda!" Seru Intan
"Mah berhenti, ini tidak ada kaitannya dengan Dinda!" Seru Aryo
Intan menyunggingkan senyum sinisnya "Tidak ada katamu! Jelas-jelas setelah kejadian beberapa hari lalu, perusahaan menjadi kacau!! Ini semua karena Dinda dan Zack!" Kekeh Intan.
"Mah, tapi Aryo tetap bersalah!" Seru Aryo
"Sudahlah Mah, lebih baik kita segera pergi. Hari akan semakin gelap." Jelas Ridwan, dia sudah pasrah dengan keadaan.
Dengan langkah berat, seluruh keluarga Pratama meninggalkan mansionnya. Mereka menuju rumah yang baru saja Aryo beli di pinggiran kota.
Selama 2 jam perjalanan, kini telah sampai Aryo dan kedua orangtuanya di depan pagar rumah yang minimalis dan sederhana.
"Aryo, kamu yakin ini rumah?" Tanya Intan yang memandang bangunan di depannya seerti leng semut.
"Iya Mah, hanya rumah ini yang dijual di sekitar sini. Untuk sementara kita tinggal disini dulu." Jelas Aryo, dengan segera dia membuka kunci pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah itu.
...**...
"Bagaimana?" Tanya Zack pada bawahannya.
"Keluarga Pratama sudah menjual seluruh harta dan bendanya Tuan, mereka telah membeli rumah di daerah pinggiran kota" Jelas anak buahnya.
"Bagus, jangan pernah mereka mendekati kehidupanku dan istriku lagi." Ucap Zack penuh penekanan.
"Baik Tuan."
PROMO NOVEL
__ADS_1