
Happy Reading 🌹🌹
Saat ini Zack tengah berada di ruangannya bersama Niko.
"Nik, kamu selidiki keluarga Aryo. Berikan seluruh laporannya kepadaku." Ucap Zack memberikan perintah.
"Ada apa Tuan? Apa mereka mengganggu Nyonya Dinda lagi?" Tanya Niko pada bosnga.
"Hem, saat ini belum. Tapi Dinda beberapa hari lalu bertemu mereka di swalayan, dan hari ini mantan mertuanya mendatangi mansionku. Bahkan kata penjaga sudah hampir seminggu dia selalu datang dan menunggu Dinda keluar rumah." Jelas Zack pada asistennya.
"Baiklah Tuan, akan segera saya hubungi anak buah kita." Jawab Niko cepat, dia tidak habis fikir dengan perilaku keluarga mantan suami Nyonya mudanya.
"Beri bodyguard bayangan pada Dinda dan anakku, aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang berbahaya. Tempatkan gps dan alat penyadap pada tas dan perhiasan yang di pakai Dinda." Perintah Zack lagi, dia akan menjaga ketat keluarga kecilnya.
Entah kenapa perasaan Zack tidak tenang semenjak dirinya secara tidak sengaja melihat wanita yang mirip seperti Nanda.
"Baik Tuan, akan saya suruh pelayan untuk mengumpulkan perhiasan dan tas milik Nyonya muda." Jawab Niko pada bosnya.
Zack hanya mengangguk dengan segera jari-hari Niko berselancar di HPnya untuk menghubungi bawahan mereka.
...**...
__ADS_1
Saat ini Intan tengah berada di swalayan, seperti biasa dia berbelanja barang-barang untuk warungnya.
Sedangkan Aryo, kini telah di terima kerja di sebuah pabrik tekstil.
Intan mengambil barang-barang yang berada dalam list belanjaannya dengan mendorong troli besar tersebut yang sudah berisi beberapa barang.
Intan menjangkau minyak goreng yang di warungnya sudah menipis tetapi pergerakannya berhenti karena ada tangan lain yang sama-sama mengambil minyak goreng tersebut.
Pandangan keduanya saling bertemu, seketika Intan emosi melihat orang tersebut.
"Kamu!! Bagaimana kamu bisa keluar dari penjara huh!" Seru Intan pada wanita tersebut.
Wanita tersebut hanya menyunggingkan senyum tipisnya, "Tentu saja, karena aku punya uang." Jawab Nanda cepat, meskipun pada kenyataannya dia harus menukarkan nyawa kedua orang yang dia cintai.
"Apa kamu pikir aku akn percaya dengan mulut sampahmu itu!! Bilang saja kamu melarikan diri atau kamu menjajakan tubuhmu kepada polisi disana." Jawab Intan dengan tajam.
Nanda mengepalkan tangannya, tetapi dia mencoba menahannya. Dia akan bermain lebih rapi kali ini.
"Mah, jangan marah-marah. Tentu saja Nanda bisa cepat bebas karena Nanda berfikir dengan otak buka nafsu." Jawab Nanda angkuh.
"Cih, kamu saja tidak punya otak sok-sokan mau berfikir! Menyingkir dari hadapanku, kamu hanya pembawa sial seperti anakmu!" Seru Intan yang mendorong trolinya maju kedepan ke arah Nanda.
__ADS_1
Nanda yang mendengar anaknya disebut pembawa sial naik pitam, dengan gerakan cepat Nanda menjambak rambut Intan dengan kuat dan mendorongnya hingga menabrak rak di toko itu.
"Jangan pernah menyebut Abel pembawa sial nenek tua!! Ingat dia juga cucumu!" Jawab Nanda tajam.
Intan meludah ke arah Nanda "Jangan harap anak harammu menjadu cucuku!" Jawab Intan tidak kalah sengit.
Nanda yang mendapatkan penghinaan terlebih anaknya di sebut anak haram segera mendoring tubuh Intan hingga terjerembab ke atas lantai.
Intan tidak mau kalah, meskipun dia sudah termakan usia tetapi dia masih kuat untuk menghajar Nanda.
Dengan cepat Intan berdiri dan menampar Nanda, "Dasar wanita murahan! Tidak tahu malu, pelakor!" Seru Intan pada Nanda.
Sakit hati? Tentu saja, dirinya di hina habis-habisan oleh Intan.
Nanda dan Intan saling menjambak dan mengumpat satu sama lain, hingga menjadi tontonan pengunjung swalayan tersebut.
Hingga dua orang petugas keamanan masuk untuk melerai mereka.
"Ingat nenek tua! aku akan membalasmu!" Seru Nanda pada Intan.
"Cih, apa kamu pikir aku takut dengan ancamanmu wanita jailang!" Jawab Intan.
__ADS_1
Keduanya di usir dari swalayan tersebut tanpa bisa membeli barang apapun yang sudah mereka pilih tadi.
Intan segera mencegat taxi dan berlalu untuk pulang, sedangkan Nanda berjalan ke parkiran mengambil mobil. Segera dia mengikuti Intan di belakang taxi tersebut.