Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 87


__ADS_3

...AKAN AUTOR TAMATKAN NOVEL INI TEMAN-TEMAN, AUTOR AKAN FOKUS DI NOVEL AUTOR YANG BARU....


...JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL 'PERNIKAHAN KONTRAK SANG CEO'...


happy Reading 🌹🌹


Hp Aryo berdering, tertera di layar Hpnya nomor asing yang tidak dia kenal.


Segera Aryo mengangkatnya sambil berjalan melewati koridoe Rumah Sakit untuk kembali keruangannya.


"Hallo, siapa ini?" Tanya Aryo pada oenelfun asing tersebut.


"Hai, Honey! Apa kamu lupa denganku?" Jawab Nanda dari balil telfunnya.


Ya, yang menghubungi Aryo saat ini adalah Nanda mantan istri keduanya.


"Ada apa lagi kamu menghubungiku!" Geram Aryo pada wanita di sebrang telfun.


"Oho, tenanglah Honey. Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu, dan kali ini jika kau mengkhianatiku. Tidak segan-segan aku membunuh Ibumu!" Seru Nanda di sebrang telfun dengan senyum yang menyeringai.


Aryo menghentikan langkahnya setelah mendengar jawaban Nanda, "Jangan main-main denganku Nanda!! Dimana Ibuku sekarang!! Cepat katakan!" Teriak Aryo di sebrang telfun.


Nanda tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Aryo di sebrang telfun, segera Nanda membuat sambungan telfunnya menjadu video call.


Aryo yang melihat kondisi Ibunya membulatkan matanya, emosi dalam dirinya berkobar. Rasanya ingin sekali mencekik wanita ular itu.


"Apa yang kau lakukan pada Ibuku!" Geram Aryo yang menampilkan wajah marahnya di layar Hp


"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran," Jawab Nanda dengan melirik ke arah Intan yang tengah pingsan.


"Apa sebenarnya yang kamu ingkinkan huh!! Dimana kalian sekarang!"


"Tenanglah Honey, apa kau sudah sangat merindukanku?"


"Wanita menjijikkan!"


"Ck... ck... ck... aku akan melepaskan Ibumu jika kali ini kau harus benar-benar menurut apa perintahku."


"Apa keinginanmu sebenarnya!"


"Membunuh Dinda, aku tunggu di daerah Z sore ini. Jika sampai kamu membawa orang lain atau melapor polisi, saat itu juga aku kirim mayat Ibumu." Ucap Nanda dengan segera mematikan sambungan telfunnya.


...**...


Aryo menjambak rambutnya frustasi, dengan segera dia berlari keluar Rumah Sakit unguk menuju ke perusahaan Zack.


Dengan kecepatan tinggi Aryo menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan, seakan sudah tidak ada lagi hari esok.

__ADS_1


Sesampainya di perusahaan Zack, segera Aryo menuju resepsionis untuk mengatakan kepada Zack atau asistennya Niko, jika saat ini dirinya ingin bertemu.


Pintu ruangan Zack terbuka, terlihat Niko yang sudah masuk kedalam ruangannya.


"Tuan, Aryo ingin menemui Anda. Katanya ini sangat penting tidak dapat di tunda lagi." Ucap Niko pada bosnya.


"Suruh dia masuk," Jawab Zack yang tengah melepas kacamata kerjanya.


Setelah Aryo mendapatkan ijinnya, segera dirinya berlari ke arah lift untuk menuju ruangan Zack.


Pintu ruangan Zack diketuk dan terbuka, terlihat oenampilan Aryo yang sedikit berantakan.


"Ayo duduk Aryo," Ucap Zack


Nafas Aryo memburu, menandakan dia sedang tidak baik-baik saja.


"Tolong aku," Ucap Aryo dengan mata yang memerah menahan tangis.


"Ada apa, pelan-pelan saja." Jawab Zack sembari menyodorkan air putih dingin yang sudah di sediakan oleh Niko.


"Ibuku, Ibuku saat ini jadi tawanan Nanda. Dia tadi menelfunku dan kondisi ibuku sangat memperihatinkan." Jawab Aryo dengan frustasi.


"Apa yang dia katakan?" Jawab Zack dingin, dia mengepalkan tangannya. Sungguh dia akan memberikan tubuh Nanda pada hewan peliharaannya.


Zack menceritakan seluruh percakapannya dengan Nanda, bahkan rencana pembunuhan Dinda.


"Baiklah, mari kita ikuti permainannya. Aku akan memberikanmu pelacak dan penyadap."


"Alat pelacak ini, kamu tempelkan pada Nanda. Jangan sampai dia tahu."


"Mari kita menangkap wanita ular itu."


Segera Aryo mengangguk, dan mengambil kotak yang sudah di sediakan oleh Zack.


...**...


Pertemuan Aryo dan Nanda terjadi di bawah jembatan yang terlihat jelas biasa menjadj tempat untuk berkumpulnya para penjahat.


Nanda memberikan rencana pembunuhan terhadap Dinda kepada Aryo, Aryo hanya mengangguk dan mencari oeluang ketika Nanda lengah agar dapat menempelkan alat pelacaknya.


Kini Zack dan Niko tahu rencana Nanda, segera Zack memerintahkan untuk mencari wanita yang mirip dengan Dinda agar sasarannya salah.


...**...


Hari ini Dinda akan pergi ke perusahaannya, karena sudah lama tidak pergi bekerja. Meskipun hanya sebentar tetapi Dinda merasa sangat senang dapat memakai baju dinasnya.


Romeo di titipkan kepada Ibu mertuanya, karena tidak akan lama dirinya pergi keluar.

__ADS_1


Kini terlihat Dinda sudah sampai di perusahaannya, dia melihat anak kecil di sebrang jalan yang seperti orang kebingungan.


Dengan keadaan jalan raya tengah lenggang karena jam kerja kantor sudah mulai, sehingga membuat Dinda tidak kesusahan untuk mencapai anak tersebut.


Segera Dinda menyebrang untuk menghampiri anak tersebut, ketika dirinya sudah berada di tengah jalan sebuah mobil dari arah kanan dengan kecepan tinggi menuju ke dirinya.


Kecelakaan tidak terelakkan, mobil tersebut terpental dan terguling di jalan raya sehingga menyebabkan mobil tersebut menjadi terbalik dan mengeluarkan asap tebal.


"Nyonyaa!!!!" Teriak seluruh karyawan dan bodyguard yang melihat kejadian tersebut namun terlambat.


Zack yang mendapatkan telfun dari salah satu bodyguard istrinya, segera berlari keluar perusahaan di ikuti oleh asistennya.


Dengan kecepatan tinggi mereka menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Dinda.


Dengan tangan mengepal, nafas yang memburu, dan mata yang memerah. Zack bersumpah akan menguliti orang yang sudah mencelakai istrinya.


Sesampainya di Rumah Sakit, segera Niko berlari mendahului bosnya untuk menanyakan ruangan Dinda.


Dibukanya ruangan serba putih tersebut dan berbau obat, Zack langsung menghambur memeluk istrinya dia terisak jika sampai kehilangan wanita tersebut entah apa yang akan dia lakukan.


Dinda yang menerima pelukan Zack yang tiba-tiba sedikit kwalahan. Karena tubuh suaminya yang lebih besar membuatnya sedikit kesusahan untuk melepaskannya.


"Sayang, lepaskan pelukanmu. Ini sunggu sesak" Ucap Dinda pada suaminya.


Zack segera melepas pelukannya, dia melihat luka yang ada di beberapa bagian tubuh istrinya.


Tangan Zack terulur memegang luka-luka kecil itu, dia menangis karena jika sampai terlambat saja pasti akan kehilangan istrinya.


"Maaf, maafkan aku sayang tidak bisa menjagamu." Ucap Zack yang masih senantiasa menangkupkan wajahnya di paha istrinya.


"Hem, aku tidak apa-apa Zack. Ayo kita lihat keadaan Aryo. Dia yang sudah menyelamatkanku." Jawab Dinda dengan mengelus surai hitam milik suaminya.


Zack mendongakkan kepala, dia sampai lupa dengan pelaku tersebut.


"Dimana orang yang ingin menabrakmu! Akan aku bunuh dengan kedua tanganku sendiri!" Seru Zack.


Segera Niko masuk setelah mendengar ucapan bosnya yang cukup menggema di lorong rumah sakit depan kamar yang tengah di tempati oleh Dinda.


"Silahkan Tuan dan Nyonya, ikut saya ke ruang mayat." Ucap Niko pada keduanya.


Dinda membelalakkan matanya lebar-lebar, tangannya menutup mulutnya dan air matanya sudah membasahi pipi.


Segera Dinda dan Zack menuju kamar mayat, pikiran keduanya melayang apakah Aryo atau sipelaku yang meninggal.


Terlihat tubuh yang terbakar, sedah dapat di pastikan jika dia adalah seorang perempuan.


"Tuan, Nyonya. Pelaku penabrakan adalah Nanda. Dia merubah rencananya secara mendadak untunglah dia menghubungi Tuan Aryo untuk menjemput Ibunya." Jeda Niko

__ADS_1


"Ibunya bercerita rencana Nanda yang akan membunuh Nyonya Dinda hari ini, segera Tuan Aryo mengendarai mobilnya menuju perusahaan Biming. Ketika mobil Nanda lurus menuju ke arah Nyonya Dinda sudah di pangkas oleh mobil Tuan Aryo sehingga membuat mobil milik Nanda terguling dan meledak." Jelas Niko pada keduanya.


Dinda menatap nanar kearah mayat yang sudah ditutupi kain putih tersebut, segera Dinda menggandeng Zack untuk keluar dari kamar mayat itu.


__ADS_2