Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 12


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Aryo dan Dinda bersiap-siap untuk menjemput Nanda, meskipun hampir tengah malam mereka harus berdebat lagi. Aryo tidak mau melupakan Dinda, bagaimanapun mereka akan tinggal satu atap, dia ingin mendekatkan kedua istrinya agar tidak ada yang merasa di beda-bedakan dan tetap dapat bersikap dengan adil.


Mereka menempun kurag lebih empat puluh menit untuk menuju ke rumah Nanda.


Tok..tok..tok


Cklek


“Mas Aryo.. mbak Dinda.” ucap Nanda yang tertegun mereka berdua sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


“Apakah kami tidak dipersilahkan masuk?” tanya Dinda.


“Eh, maaf. Silahkan masuk.” Ucap Nanda dengan menyingkirkan badannya ke samping agar Aryo dan Dinda dapat masuk.


Mereka masuk dan duduk diruang tamu. Dinda mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Nanda segera membuat minuman untuk mereka, Dinda mengikuti madunya dan melihat-lihat seluruh rumahnya.


“Silahkan diminum.” Ucap Nanda yang sudah menyajikan minuman.


“Nanda, aku kesini dengan Dinda. Ingin menjemputmu untuk tinggal bersama.” Ucap Aryo yang mengutarakan tujuan mereka, dia paham jika istri sirinya bingung kenapa mereka datang bersama.


“Tapi bagaimana dengan dokter Dinda, apakah dia dapat menerimaku sebagai madunya?” tanya Nanda dengan menunduk.


“Dinda menerima kalian, dia juga yang menginginkanmu agar dapat tinggal bersama kami. Kamu sedang hamil, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayi yang ada di dalam kandungamu.” Ucap Aryo menjelaskan.


Apakah mas Aryo hanya ingin bayiku? Ucap Nanda di dalam hati.


“Segeralah bersiap-siap, hari semakin siang.” Ucap Dinda yang segera mengintruksi madunya.


Mereka bertiga segera masuk ke kamar Nanda, Aryo membantu istri keduanya untuk berkemas-kemas, sedangkan Dinda melihat-lihat kamarnya. Dilihat ada foto di atas nakas, didekatinya foto tersebut, itu adalah foto pernikahan siri mereka.


Hati Dinda berdenyut nyeri, sekarang yang dirasakan hanya sakit hati. Apakah dia akan benar-benar dapat menerima pernikahan kedua suaminya. Dinda bermonolog di dalam hatinya.


“Sayang ayo kita pulang, Nanda sudah selesai mengemas barang-barangnya.” Ucap Aryo yang mendekati Dinda.


Nanda yang mendengar dan melihat hal tersebut merasakan kecemburuan di dalam hatinya.


“Baiklah aku tunggu di mobil.” Jawab Dinda yang langsung keluar dari dalam kamar dan meninggalkan mereka berdua tanpa melihatnya.


Aryo paham, Dinda masih sulit untuk menerima pernikahan keduanya. Dia sadar bahwa Dinda melihat foto diatas nakas, pasti hatinya sakit lagi. Aryo hanya mnghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Beb.” Ucap Nanda yang memeluk Aryo dari belakang.


“Ya.” Jawab Aryo.


“Apakah kita bertiga akan dapat hidup berdampingan, bagaimana jika mbak Dinda dan aku saling tersakiti?” Tanya Nanda dengan sendu.


“Maafkan aku yang sudah membuat kalian berdua jadi tersakiti.” Jawab Aryo.

__ADS_1


**


Dinda menunggu mereka di dalam mobil dengan bermain Hp, dia melihat Aryo dan masunya berjalan menuju mobilnya.


Aryo memasukkan koper-koper Nanda di belakang mobil. Nanda duduk di kursi belakang, sedangkan Aryo dan Dinda di depan. Mobil berjalan menuju apartemen. Selama perjalanan hanya ditemani kesunyian.


“Apakah ada yang kamu inginkan? Tanya Dinda


Masih belum ada yang menjawab, pertanyaan Dinda entah di tujukan ke siapa.


“Apakah ibu hamil tidak menginginkan sesuatu? Biasanya trimester pertama merasakan ngidam.” Ucap Dinda dengan menghela nafasnya.


“Ti..tidak dok.” Jawab Nanda dengan gagap.


“Jangan panggil aku dokter, karena kamu sudah jadi maduku meskipun aku masih belajar untuk menerimanya. Panggil mbak saja.” Jelas Dinda ke madunya.


“Baik mbak.” Jawab Nanda dengan menundukkan matanya dan *******-***** roknya.


**


Mereka sudah sampai ke apartemen dan Nanda menempati kamar satunya. Mereka makan dengan makanan yang sebelumnya sudah di pesankan oleh Aryo.


Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing. Aryo kemudian menuju ruang TV, Nanda yang melihat suaminya tidak bersama Dinda mendekat perlahan.


Greb


Cup


Aryo mengecup dahi Nanda.


“Ada apa honey?” Tanya Aryo.


“Tidak apa-apa aku hanya ingin dekat denganmu beb.” Jawab Nanda.


“Benarkah? Apakah anak kita ingin dekat dengan ayahnya?” Tanya Aryo yang mengelus perut Nanda yang masih terlihat rata.


“Mungkin, hehe.” Jawab Nanda yang menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan suaminya, dengan mengigit pelan dada bidangnya.


“Honey jangan mengujiku.” Ucap Aryo yang menahan hasratnya karena tidak dapat menyentuk Dinda maupun Nanda.


“Aku ingin.” Ucap Nanda yang berbisik di telinga Aryo.


Aryo mendekatkan wajahnya ke Nanda dan mencium bibir tipisnya, dengan hasrat yang menggebu Aryo menahan tengkuk istri sirinya untuk memperdalam ciumannya.


Aryo menggendong Nanda seperti anak koala dan membawanya ke kamar mereka.


Tanpa disadari kegiatan mereka berdua tak luput dari penglihatan Dinda, hati dinda bergemuruh nyeri menyaksikan kemesraan suami dan madunya. Jangankan untuk bergulat di atas ranjang, Aryo tidak menyentuhnya sama sekali.


**

__ADS_1


Kini mereka bertiga sudah duduk di depan meja makan untuk sarapan, Nanda melayani Aryo dengan baik. Dinda yang melihat mereka hanya diam, Aryo yang melihat Dinda tidak melakukan apapun mencoba mencairkan suasana.


“Sayang bisakah ambilkan telur mata sapi itu.” Tanya Aryo yang menunjuk piring di depan Dinda.


“Baik.” Dinda segera mengambil dan meletakkan telur di piring suaminya.


Nanda yang melihat itu mendengus kesal tapi dia mencoba terlihat baik di depan keduanya.


“Beb apa kita akan berangkat bersama.? Tanya Nanda yang bergelayut manja dilengan suaminya.


“Tentu saja honey.” Jawab Aryo dengan mengunyah makanannya.


“Aku akan berangkat sendiri, silahkan kalian berangkat berdua.” Sela Dinda dengan meneguk air putih.


“Sayang biasanya kita berangkat bersama, ayolah kita sudah membicarakannya.” Kata Aryo yang meletakkan sendok dan menatap Dinda.


“Apa yang akan kalian pikirkan jika pekerja di Rumah Sakit tahu kita berangkat bertiga setiap hari?” tanya Dinda dengan menatap tajam keduanya.


Aryo dan Nanda tidak berfikir sampai disitu, mereka bingung bagaimana akan menghadapi teman-temannya. Sedangkan yang mereka tahu Nanda belum menikah, dan status Aryo dan Dinda adalah pasangan suami istri. Pasti akan banyak gosip yang beredar di Rumah Sakit.


“Aku berangkat dulu.” Ucap Dinda yang berdiri dan beranjak dari kursiya.


**


Aryo dan kedua istrinya duduk di ruang keluarga.


“Aku sudah membeli rumah, kita akan segera pindah.” Ucap Aryo dengan memperlihatkan brosur rumah yang sudah dia beli.



“Benarkah beb? Wah akhirnya kita memiliki rumah.” Jawab Nanda dengan berbinar, dia memang tidak begitu suka tinggal di apartemen.


Dinda hanya diam, entah bagaimana pendapat para tetangganya kelak. Dia tidak akan memikirkannya, karena bukan dia yang bersalah disini.


“Apakah kamu tidak suka sayang?” Tanya Aryo karena melihat Dinda yang hanya diam.


“Suka, kapan kita akan pindah?” Tanya Dinda.


“Sekarang juga bisa yank, aku sudah mengisi rumah kita lengkap. Kita tinggal membawa barang pribadi saja.” Ucap Aryo yang mengelus rambut Dinda.


Rumah kita? Nanda bermonolog di dalam hati, dia cemburu dengan perilaku Aryo ke Dinda.


Akhirnya mereka berkemas-kemas barang prindi mereka, dan mereka berangkat menuju rumah yang sudah di beli oleh Aryo.


**


tolong likenya teman-teman


sudah 1.000 kata lebih.

__ADS_1


__ADS_2