
...Selamat datang di karya terbaru author receh ini....
...Jangan lupa like, komen, dan vote....
Happy Reading🌹🌹
Suara bel rumah berbunyi, terlihat wanita dengan usia empat puluh tahunan tengah mencuci pakaian di belakang.
"Ayah!!!" Seru Reni tersebut.
"Ya Buk," Jawab Alif yang masih memegang sapu.
"Itu siapa, cepat bukalah. Aku masih belum selesai yang mencuci baju." Perintah sang istri kepada suami.
Sang suami mengangguk dan segera berjalan ke gerbang depan untuk membuka pintu, terlihat ada dua pria dengan memakai jas hitam dan kacamata hitam. Terlihat gagah dan rapi.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Alif dengan sopan.
"Apakah ini benar kediaman keluarga Sukarjo?" Tanya salah satu pria berjas hitam tersebut.
"Benar," Jawab Alif dengan menganggukkan kepalanya.
"Perkenalkan, kami utusan dari keluarga Subastian sahabat dari Almarhum Tuan Sukarjo." Jelas mereka lagi.
Kini Reni, Alif, dan kedua orang utusan dari keluarga Abiyeksa tengah duduk di ruang tamu.
"Ada keperluan apa tuan-tuan datang kemari?" Tanya Alif yang memulai membuka pembicaraan.
"Kami adalah urusan dari keluarga Subastian, apakah benar Anda Alif ayah dari Anindi Ayu Sukarjo?" Tanya salah satu utusan A.
"Benar," Jawab Alif cepat.
"Bisakah kami melihat foto Anindi dari balita hingga dewasa?" Pinta utusan B.
Reni mengangguk cepat segera Reni masuk kedalam kamar anaknya dan mengambil sebuah album foto yang kemudian di serahkan kepada kedua utusan keluarga Subastian.
Para utusan terlihat tengah mencocokkan foto yang mereka pegang dan juga foto yang berada di album tebal tersebut.
"Buk, buatkan minum untuk tamu." Pinta Alif kepada istrinya.
Reni mengangguk dan berpamitan untuk pergi kebelakang sebentar, dengan senyum yang lebar dan bersenandung pelan Reni bahagia kedatangan tamu dari keluarga Subastian.
Siapa yang tidak tahu dengan keluarga itu, Subastian merupakan keluarga konglomerat nomor satu di kota A tersebut.
__ADS_1
Terlihat Reni keluar membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan, Reni menghidangkan dengan senang hati.
"Silahkan tuan-tuan, hanya air yang dapat kita sediakan." Ucap Reni kepada kedua tamunya.
"Terima kasih Nyonya, tidak perlu repot-repot." Jawab utusan A.
"Tuan, apakah ada cincin seperti ini?" Ucap utusan B yang menunjukkan foto cincin emas.
"Ada apa dengan cincin itu?" Tanya Reni kepada utusan tersebut.
"Perjanjian antara Tuan Besar Subastian dan juga Tuan Sukarjo adalah menjodohkan kedua cucunya, karena usia keduanya sudah cukup untuk melakukan pernikahan oleh karena itu kami meminta untuk menunjukkan cincin seperti di gambar ini sebagai bukti." Jelas utusan A dengan sopan.
Reni dan Alif menutup mulut mereka dengan kedua tangannya, pagi hari mendapatkan lotre. Bahkan dalam mimpi mereka tidak berani bermimpi yang besar.
"Sebentar tuan," Ucap Reni yang kemudian menyeret suaminya untuk mengikutinya.
"Apa sih Buk, kenapa tarik-tarik Ayah seperti ini. Tidak sopan di depan tamu," Ucap Alif kepada Reni.
"Stt... Ayah ingat itu cincin yang dulu diberikan oleh Ayahmu. Sekarang disimpan dimana cincin itu?" Todong Reni pada suaminya.
"Ayah lupa Buk," Jawab Alif mulai panik.
"Cepat Ayah kita cari, anak kita akan menjadi menantu orang terkaya di kota ini." Ucap Reni dengan semangat membara mencari cincin tersebut.
"Ketemu tidak Yah?" Tanya Reni yang sudah lelah dengan pencariannya.
"Tidak Buk, kemana ya kita menaruh cincin itu." Jawab Alif yang sudah banjir keringat.
Kedua utusan sudah menunggu cukup lama, sehingga mereka berinisiatif memanggil tuan rumah untuk berpamitan.
"Eh, maaf tuan, bisa beri kami waktu. Spertinya cincin itu di simpan oleh Anindi dan sekarang Putri kami tengah di sekolah." Jelas Reni kepada utusan keluarga Subastian.
"Tidak apa Nyonya, akan kami beri waktu dua hari untuk mencarinya. Kami akan datang kembali ke sini." Jawab utusan B.
"Terima kasih tuan." Jawab Alif sopan.
Kedua utusan tersebut pamit undur diri dari kediaman Sukarjo, Reni dan Alif melambaikan tangan mereka ke arah mobil yang berjalan menjauh.
"Ayah, ayo cepat kita cari cincin itu lagi." Ajak Reni yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
...**...
Di Sekolah Menengah Atas (SMA), sekolah elit yang berada dibawah naungan Bastian Group tengah duduk seorang gadis yang bersendau gurau dengan rekan-rekannya.
"Nindi, kamu akan meneruskan kuliah atau bekerja?" Tanya Eky.
__ADS_1
Anindi yang biasa di panggil Nindi oleh kerabat dekat dan juga teman-temannya, seorang gadis cantik dari keluarga sederhana. Karena kepintaran Anindi sehingga dapat masuk di SMA elit kota tersebut.
"Aku ingin meneruskan pendidikanku, aku tengah berkonsultasi untuk mendapatkan beasiswa di Universitas X " Jawab Anindi dengan tersenyum lebar.
"Aku juga mendaftar di sana Nin, kamu akan mendaftar di jurusan apa?" Tanya Eky bahagia karena akan satu kampus dengan sahabatnya.
"Aku ingin mengambil seni rupa, aku bercita-cita jadi pelukis terkenal." Jawab Nindi yang membayangkan dirinya menjadi seorang pelukis terkenal.
"Yes! Aku juga Nin, aku sudah bilang ke orangtua ku di jurusan seri rupa." Jawab Ela yang dari tadi mendengarkan percakapan kedua sahabatnya.
Ketiga sahabat itu saling bertaut dan menggenggam erat tangan mereka berteriak bahagia, Nindi sangat bersyukur memiliki dua sahabat yang sangat baik terhadapnya.
Teman-teman kelas Nindi juga tidak ada yang membully dirinya. Selama tiga tahun menempuu pendidikan di sekolah ini tidak ada kendala apapun selain memperjuangkan nilainya agar tetap di atas atau peringkat pertama.
"Besok wisuda kalian akan memakai baju apa?" Tanya Ela kepada Nindi dan Eky.
"Aku kebaya saja," Jawab Nindi sambil tersenyum.
"Iya, kita pakai kebaya saja. Kita samakan warnanya dengan milik Nindi bagaimana?" Tanya Eky memberikan ide.
"Oke!" Jawab Ela semangat.
Eky dan Ela adalah sahabat Nindi sejak pertama kali mereka duduk di kelas sepuluh, mereka paham bagaimana perekonomian Nindi sahabat mereka. Tetapi mereka tetap saling bersahabat dan terkadang kepintaran Nindi untuk menjadi tentor les mereka.
Sedangkan di kediaman keluarga Subastian, para orangtua tengah membicarakan acara pernikahan yang akan di adakan sebentar lagi.
"Mah, apa tidak terlalu cepat menikahkan anakku dengan gadis yang belum dia kenal?" Tanya Sinta pelan kepada ibu mertuanya.
"Ini sudah wasiat dari mendiang kakeknya, saat ini usia keduanya sudah cukup untuk menikah." Jawab Olivia kepada menantunya.
"Baiklah Mah, aku hanya tidak ingin pernikahan ini bermasalah kedepannya." Ucap Sinta yang menyampaikan ketakutannya.
"Jangan cemas, Mama yakin jika Abiyeksa tidak akan mengecawakan kita menantu." Jawab Olivia yang menggenggam tangan Sinta menantunya.
Sinta tersenyum patuh kepada mertuanya, keluarga Subastian jauh dari terpaan gosip yang merugikan atau mencoreng nama keluarga.
"Ayah juga yakin Mah, sebentar lagi cincin pertunangan mereka akan ketemu. Kita tunggu saja sampai dua hari kedepan." Jawab Nugraha Ayah kandung dari Abiyeksa.
...**...
...HALO...
...JANGAN LUPA DUKUNGAN UNTUK NOVEL AUTHOR YANG TERBARU...
...LIKE, KOMEN, DAN VOTE...
__ADS_1