
...Jangan lupa sesajennya 🌹...
Happy Reading 🌹🌹
H-7 acara pernikahan Zack dan Dinda, para Mama dan Ayah sudah menyebarkan undangan melalui para ajudan yang di utus mereka.
Tidak sedikig juga, mereka yang langsung menemui untuk mengundangnya langsung.
Aryo kini tengah mengerjakan pekerjaannya dengan serius, dia tidak mengambil pusing tentang saran yang diberikan oleh orangtuanya.
Bagi Aryo, memiliki Nanda dan Abel sudah cukup. Karena selama menikah dengan Dinda dia memang menginginkan anak.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk,"
"Tuan, ada utusan dari keluarga Biming."
"Ada apa?"
"Ada sebuah undangan untuk Anda tuan,"
Setelah Riko meletakkan undangan tersebut, dia segera kembali keruangannya. Dia tau jika calon mempelai wanitanya adalah mantan suami Aryo.
Dia tidak ingin ambil pusing dengan urusan rumah tangga tuannya.
Aryo segera membuka undangan tersebut, hatinya serasa diremas. Ada perasaan tidak rela jika Dinda menikah dengan orang lain.
Aryo menghela nafasnya kasar, dia menyandarkan kepalanya dengan memejamkan mata. "Apa aku perlu merebutmu Din?" gumam Aryo.
...🌈🌈...
Disalah satu kamar hotel, kini sepasang kekasih yang berbeda status tengah berbagi peluh dan salavina.
Nanda dan kekasihnya, kini saling mencari kenikmatan dan kepuasan bersama-sama.
Ahhh...
Lenguhan panjang keluar dari mulut Nanda dan kekasihnya yang sudah meledakkan kenikmatan tersebut.
Kini Nanda dan kekasihnya tengan berjalan ke restoran, tanpa mereka ketahui mata-mata dari Biming mengikuti mereka.
Banyak foto, bahkan suara ******* mereka tidak terlewatkan. Kini mata-mata dari Biming segera duduk dibelakang kursi Nanda.
"Sayang, kapan kamu akan bercerai dengan Aryo?" tanya laki-laki tersebut
"Sebentar lagi, kau tau mertuaku menginginkan Aryo menikah lagi dengan mantan istrinya!" ujar Nanda
"Kenapa?"
"Mertuaku baru tau jika mantan menantunya itu adalah anak dari Tuan Chen Biming," ujar Nanda
"Makhsudmu, Dinda anak konglomerat dari Cina yang terkenal itu?" ujar laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Heem, apakah kau juga tertarik dengannya!"
"Tentu tidak sayang, aku sudah memilikimu dan Abel. Kenapa kamu tidak pernah membawa Abel menemuiku?"
"Abel dirumah dengan pengasuh dan Ibu mertuaku, sangat sulit keluar dengan membawa anak kita sayang."
"Baiklah segeralah merampas seluruh harta keluarga Pratama, dan kita kabur dari negara ini."
"Ya sayang, aku juga sudah tidak tahan hidup dengan laki-laki yang cepat ejakulasi seperti Aryo." jelas Nanda yang kini tengah memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Makhsud kamu, Aryo mandul?" ujar kekasih Nanda kaget.
"Bukan begitu, spermanya saja yang tidak sehat mungkin, nyatanya berhubungan denganku sudah lebih satu tahun aku tidak hamil. Karena aku penasaran aku membongkar surat-surat yang dulu disimpan di dalam kota oleh Dinda, yang dia simpan didalam lemari" jelas Nanda
"Tapi kenapa Dinda, yang dibilang mandul sayang?" Tabya kekasih Nanda penasaran.
"Hahah... sayang tentu saja aku yang membuat skenarionya." Ucap Nanda sambil tertawa.
"Aku membayar seseorang di Rumah Sakit tempat mereka periksa, dan membuat surat palsu yang menyatakan jika Dinda itu mandul." Jelas Nanda lagi.
"Kamu memang jahat sayang, dan aku suka itu." ucap kekasih Nanda.
Mereka tertawa, dan melanjutkan rencana jahat mereka.
Mata-mata dari Biming segera keluar dari retoran hotel tersebut, dan menuju mansion untuk melaporkan pembicaraan yang dilakukan oleh Nanda dan kekasihnya.
Flashback
Nanda yang mengendap-endap masuk ke kamar madunya, dia mencari sesuatu yang berharga.
Dia menemukan surat hasil pemeriksaan dokter kandungan, segeralah dibuka dan dibaca.
Nanda menemukan surat hasil pemeriksaan Dinda dan Aryo, tertera jelas bahwa mereka berdua sehat.
Tetapi ****** Aryo memang kurang sehat sehingga harus melakukan terapi atau pengobatan. Dengan gerakan cepat Nanda memfoto surat teraebut.
Nanda sudah di rumah sakit, dia menemui seseorang yang dapat memalsukan surat.
"Segera buat surat ini sesuai yang aku inginkan, besok aku ambil dan uang sudah aku transfer 50%," ucap Nanda pada orang dalam Rumah Sakit.
"Baiklah, besok siang bisa kamu ambil,"
Saat di ruang keluarga.
Mereka berlima berkumpul karena permintaan Nanda.
"Maaf membuat kita berkumpul malam-malam seperti ini." ucap Nanda
"Ada apa Nan?" ucap Dinda
Nanda mengeluarkan dua surat dari dalam sakunya, dan diletakkannya dimeja dengan tangan gemetar. Seolah-olah dia juga kaget.
Mata Dinda membola, dan memandang madunya. Seakan bertanya darimana madunya mendapatkan surat hasil pemeriksaan mereka.
__ADS_1
Aryo yang biasa saja, kini mengambil amplop yang ada di atas meja.
Dibuka satu persatu, hingga dia membaca hasil pemerikaan milik Dinda. Dilihatnya istrinya tersebut dengan mata tajamnya.
Dinda yang melihat kemarahan di pancaran mata suaminya, segera mengambil kertas yang ada di tangannya.
Kaget. Itu perasaannya, bagaimana bisa hasil pemeriksaan Dinda berubah.
Dinda menatap tajam madunya, dia tidak habis fikir ternyata madunya orang yang sangat licik.
"Mas, ini bukan hasil pemeriksaanku. Kamu tau sendirikan kita berdua sehat." Ucap Dinda yang mencoba meyakinkan suaminya.
"Mbak, aku menemukan surat itu jatuh dari kardus. Ketika mbak Dinda membereskan barang-barang di kamar." Ucap Nanda yang kini sudah menangis.
Intan dan Ridwan yang sudah membaca surat pemeriksaan tersebut tentu saja kaget, dengan segera Intan menampar Dinda.
Plak
"Kamu sudah membohongi kami Dinda!!" Teriak Intan.
Dinda yang di tampar hanya diam, dia menatap tajam madunya.
Nanda hanya tersenyum smirk di depan Dinda.
"Mah, itu bukan hasil pemeriksaan Dinda." Ucapnya dengan tangan memegang pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan dari Intan.
"Mah, Nanda tidak bohong. Itu Nanda memungutnya dari lantai mah." Kini Nanda juga meyakinkan mertuanya.
"Mas kamu percayakan padaku, aku tidak mungkin berbuat kejam terhadap mbak Dinda. Apalagi aku tidak pernah tau kapan kalian periksa ke dokter." Jelas Nanda yang kini tengah menatap suaminya.
"Mas Aryo, kamu yang pernah membaca sendiri surat dari dokter waktu itu bukan! Kita dinyatakan sehat mas!" Seru Dinda yang melihat suaminya hanya diam saja sejak tadi.
"Aryo, kamu jangan mudah percaya terhadap Dinda. Karena kalian dokter, pasti Dinda sudah melobi dokter kandungan tempat kalian akan periksa." Ujar Intan yang masih berdiri di depan Dinda.
"Tidak mah, Dinsa tidak seperti itu. Mas Aryo dan Dinda sehat!" Jawab Dinda yang kini merasa terpojokkan
"Mbak, tidak mungkin aku merubah surat itu bukan. Aku tidak ada kuasa seperti mbak Dinda dan mas Aryo." Terang Nanda
Aryo yang pusing mendengar ketiga wanita saling membela diri, "CUKUP!!!"
"Dinda, kamu sungguh jahat. Jika kamu sedari awal jujur terhadapku, kita akan mengobatinya!"
"Mas," Kini Dinda ingin memegang tangan suaminya, Aryo menepis dan berlalu dari ruangan tersebut.
Dinda menatap nanar punggung suaminya, sedangkan Nanda bersorak didalam hati.
Rencana Nanda untuk memisahkan Aryo dan Dinda selangkah lagi.
"Dasar wanita mandul, enyahlah kau dari hadapanku!" Kini Intan mendorong Dinda.
Ridwan hanya diam, dia pergi dari ruangan tersebut disusul Intan dan Nanda.
Flashback off
__ADS_1
...🌈🌈...
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVELKU YANG LAIN TEMAN TEMAN