Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 15


__ADS_3

Ayah dan mama Aryo segera menuju ke bandara agar dapat segera berjumpa dengan Aryo dan Dinda. Karena sudah dua bulan ini merrka hanya berkomunikasi lewat Hp, jika dulu di Jakarta mereka selalu berkumpul bersama karena tinggal satu rumah. Hingga Aryo yang tiba-tiba dimutasi untuk bekerja di Rumah Sakit X Yogyakarta.


****


Dinda sampai rumah baru yang sekarang mereka tinggali. Dia masuk dan menuju dapur untuk melepas dahaganya, dilihatnya Aryo dan Nanda sedang menonton televisi sesekali tertawa entah apa yang mereka tertawakan. Dinda hanya melewati mereka tanpa menyapanya dan berlalu begitu saja meuju kamar.


"Mas, mbk Dinda kenapa?" Tanya Nanda yang melihat Dinda hari ini lebih dingin dari biasanya.


"Mungkin hanya kelelahan honey, aku ke kamar sebentar ya." Ucap Aryo. Nanda hanya menganggukkan kepalanya.


Ceklek


"Sayang kamu sudah pulang, kenapa tidak menyapaku?" Tanya Aryo yang sedang memeluk istrinya dari belakang.


"Tidak apa-apa mas, menyingkirlah aku ingin mandi." Jawab Dinda yang melepaskan tangan suaminya.


"Baiklah, ayo kita mandi bersama." Jawab Aryo dengan tersenyum.


"Lain waktu saja mas, aku benar-benar lelah hari ini." Jawab Dinda yang menolak secara halus.


"Ayolah sayang, kita sudah lama tidak mandi bersama" Jawab Aryo merajuk.


"KARENA KAMU SELALU SIBUK DENGAN NANDA!!!!" Jawab Dinda dengan nada tinggi, yang kemudian berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.


Brak!!!


Aryo tidak bergeming dari tempatnya berdiri, dia kaget dengan ucapan Dinda. Padahal dia sudah berusaha bersikap adil dengan kedua istrinya. Memang benar Nanda akhir-akhir ini lebih manja dan selalu menempel dengan Aryo, karena bawaan bayi alias ngidam.


Tok... tok... tok...


"Sayang, buka pintunya!" Seru Aryo dari luar.


Dinda yang mendengar dari dalam kamar mandi tidak merespon Aryo. Aryo beberapa kali mengetuk pintu agar Dinda membukanya, tetapi tidak ada respon. Akhirnya Aryo memilih menunggu Dinda sampai selesai mandi dengan duduk di tempat tidurnya.


Dinda keluar dari kamar mandi dengan baju handuknya, dan handuk kecil di tanganbya untuk mengeringkan rambut.


Aryo yang melihat istrinya tersebut terpesona, sudah lama sekali rasanya tidak melihat Dinda seperti itu. Kemudia dia tersadar bahwa ada masalah yang harus diluruskan.


"Sayang apa makhsud perkataanmu tadi?" Tanya Aryo yang masih duduk di atas tempat tidur mereka.


"Perkataanku yang mana mas?" Jawab Dinda cuek yang segera mendudukkan dirinya di depan meja rias.


"Yang kamu bilang bahwa aku terlalu sibuk dengan Nanda? Apa makhsud kamu?!" Tanya Aryo yang sudah tidak sabar.


"Oh, lupakan saja. Percuma juga jika aku jelaskan" Jawab Dinda yang mengoleskan cream di wajah cantiknya.


"Dinda kamu harusnya lebih mengerti, Nanda itu sedang hamil. Jadi wajar jika dia lebih membutuhkan aku di sampingnya." Ucap Aryo dengan wajah kesal.


Dinda yang mendengar perkataan Aryo menghentikan aktivitasnya, sakit tentu saja. Dinda tidak pernah menuntut agar suaminya selalu untuknya, setidaknya meluangkan waktu barang sejenak dengannya sudah cukup.


"Apa kamu bilang? Aku harus lebih mengerti? Apa aku kurang mengerti mas! Apa aku kurang mengerti ketika kamu tidak ada waktu untuk aku! Apa aku kurang mengerti untuk selalu mengalah dengan maduku! AKU HARUS MENGERTI BAGAIMANA LAGI!!!! selalu Nanda Nanda dan Nanda!" jawab Dinda yang sudah tidak kuat dengan segera dia meluapkan rasa kekesallnya yang sudah dia tahan.


"Dinda!!! Jika kamu hamil tentu saja aku tidak akan mempertahankan pernikahanku dengan Nanda." Jawab Aryo yang ikut tersulut emosi.


Hati Dinda berdenyut nyeri, apa ini semua salahku yang belum bisa hamil sehingga membuat mas Aryo melakukan pernikahan yang kedua.


Tes


Tanpa permisi air mata Dinda menetes membasahi pipinya. Jika Dinda belum bisa hamil sampai saat ini seharusnya mereka berusaha bukan hanya salah satu pasangan sajakan? Kenapa hanya pihak perempuan yang disalahkan?


"APA KARENA AKU BELUM HAMIL ITU SALAHKU MAS?!!!!" Tanya Dinda yang sudah berlinang air mata.


"Seharusnya kamu sadar Dinda, didalam pernikahan yang di nantikan adalah keturunan!!! dan aku mendapatkannya dari istri keduaku." Jawab Aryo yang langsung meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


Dinda merosot terduduk di lantai "Aaaaaaaaachhhh" berteriak histeris dan sesekali memukul-mukul dadanya yang terlalu sesak, seakan udara didalam kamarnya habis.


Aryo segera menuju keruang kerjanya dan melempar apa saja yang ada di meja kerjanya.


Brakkkk


Pyarr. .. Pyar...


Aaaaaaaa


Aryo berteriak dan sesekali menjambak rambutnya, dia berniat untuk memberi pengertian ke Dinda. Tetapi dia sekali lagi menorehkan luka didalam hati Dinda.


Nanda yang mendengar pertengkaran dan keributan antara Aryo dan Dinda tidak berani mendekat, dia hanya menyaksikan dan mendengarkan percakapan mereka.


Kamar Dinda maupun Nanda tidak ada peredam suaranya, sehingga jika mengobrol dengan suara keras pasti akan terdengar.


*****


Yogayakarta Internasional Airport



Sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi sampai di bandara Yogyakarta, mereka sangat gembira dan sudah tidak sabar untuk memberikan surprise untuk anak dan menantunya.


"Ayah dimana mobil jemputan kita?" Tanya mama Intan.


"Sebentar lagi mah." Jawab papa Ridwan


"Selamat siang tuan dan nyonya, maaf terlambat karena dijalan sedikit ada kendala." Ucap sang sopir yang baru saja tiba untuk menjemput tamunya.


"Tidak apa-apa, kita langsung saja menuju alamat yang sudah saya berikan kemarin lewat chat." Jawab papa Ridwan.


"Baik silahkan." Jawab sang sopir.


Sopir memasukkan barang-barang bawaan tamunya dan segera masuk untuk menuju alamat yang sudah dia dapatkan kemarin sore.




Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam akhirnya Intan dan Ridwan sudah sampai didepan rumah yang menjadi tujuan mereka.


"Tuan, Nyonya kita sudah sampai." Ucap sang sopir.


"Iya, tolong turunkan semua koper-kopernya ya." Ucap Ridwan.


Sang sopir segera menurunkan semua koper-koper dan beberapa barang yang sempat merrka beli di sepanjang perjalanan tadi.


TingTong... TingTong... (anggep aelah itu bunyi bel 😂😂)


Ceklek


"Maaf mencari siapa ya?" Tanya Nanda kepada orang tua Aryo.


"Maaf apakah benar ini alamat xxxx rumah dokter Aryo dan dokter Dinda?" Tabya Ridwan dengan lembut, ingin memastikan bahwa dia tidak salah alamat.


"Be.. benar, anda siapa jika boleh saya tau?" Tabya Nanda dengan gagap. Dia kaget karena tiba-tiba orang tua Aryo datang ke rumah, setahu dia kedua orang tua Aryo tinggal di Jakarta.


"Kami orang tua dari dokter Aryo dan dokter Dinda, kamu siapa? kenapa ada dirumah anak dan menantu saya?" Tanya Intan judes, karena dia sudah membayangkan yang membuka pintu salah satu dari Aryo maupun Dinda, tetapi yang dia temui orang lain.


"Ah, silahkan masuk dulu tuan dan nyonya." Ucap Nanda yang mempersilahkan orang tua Aryo masuk.


"Terima kasih." Jawab Ridwan.

__ADS_1


"Bawakan koper-koper di luar dengan hati-hati karena di dalam banyak barang-barang mahal ubtuk hadiah anak dan menantuku." Jawab Intan dengan angkuh.


"Mama, jangan begitu." Ucap Ridwan tidak enak terhadap Nanda.


"Apasih ayah, kerjaan pembantukan memang begitu." Jawab Intan dengan cemberut.


"Baik nyonya." Jawab Nanda dengan menunduk.


Tangan Nanda terkepal kuat, bukan dia yang seharusnya di perlakukan sebagai pembantu. Aku juga menantumu!! bahkan aku sedang mengandung cucu kalian! jerit Nanda dalam hati.


Nanda segera membawa masuk koper-koper dari orang tua Aryo, dan bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan camilan untuk keduanya.


"Silahkan di minum, akan segera saya telfun dokter Aryo dan dokter Dinda." Ucap Nanda.


"Hemmm." Ucap Intan


Nanda segera berlari ke kamarnya dan menghubungi dokter Dinda, tetapi tidak di angkat. mungkin masih banyak pasien. Kemudian dia mencoba menghubungi Aryo beberapa kali, hingga akhirnya di angkat.


"Halo hon, ada apa?" Tanya Aryo


"Mas segeralah pulang, di.. dirumah ada orang tua mas." Jawab Nanda dengan gugup dia *******-***** jarinya.


"apa!! baik tenanglah hon, aku akan segera pulang mengajak Dinda." Jawab Aryo


"Iya mas, cepatlah pulang." Jawab Nanda.


Aryo kemudian menyelesaikan 3 pasien lainnya dan meminta untuk tidak menerima pasien untuk hari ini, dengan gelisah Aryo memeriksa pasien-pasiennya.


Sedangkan Dinda, kini terlihat meregangkan tangannya, sungguh melelahkan hari ini. Dia mengecek Hpnya tertera nama madunya. Kemudian Dinda menelfun madunya.


"Halo, ada apa Nan?" Tanya Dinda.


"Mbak, segeralah pulang dengan mas Aryo. dirumah ada orang tua mas Aryo." Jawab Nanda.


"Apa! Sejak kapan mereka datang?" Tanya Dinda


"kurang lebih 40 menit yang lalu mbak." Jawab Nanda


"Apa kamu sudah menelfun mas Aryo?" Tabya Dinda


"Sudah mbak, tapi mas Aryo blm sampai rumah." Jawab Nanda.


"Baik, aku akan segera pulang." Jawab Dinda.


****


Dinda dan Aryo sudah berada di mobil untuk menuju ke rumah, di dalam mobil suasana tegang.


"Bagaimana kamu akan menjelaskan ke mama dan papa mas?" Tanya Dinda.


"Aku belum tau, aku tidak pernah berfikir akan secepat ini kedatangan mereka." Jawab Aryo.


"Bagaimanapun kamu harus menjelaskan kemereka mas." Jawab Dinda jengkel.


Aryo hanya diam tanpa menjawab, dia juga bingung bagaimana menjelaskan dihadapan kedua orang tuanya jika dia memiliki istri selain Dinda.


****


Hallo semuanya, bagaimana kabar kalian?


Semoga sehat selalu ya.


Meskipun autor masih masa penyembuhan, autor berusaha untuk update.

__ADS_1


Jangn lupa dukunganny yaa.


salah sehat dari autor ❤💚


__ADS_2