Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 62


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Tiga minggu kemudia.


Kini Aryo sudah keluar dari Rumah Sakit, dia dapat menjalani rawat jalan.


Aryo memandangi setiap sudut kamarnya, dia berjalan ke arah lemari besar yang berada di sudut kamar.


Dikeluarkannya seluruh pakaian, tas branded, sepatu, make up, bahkan koleksi perhiasan Nanda.


Seluruh barang-barang istrinya tersebut dia masukkan dalam kantung plastik hitam besar.


Cklek


Intan membuka pintu kamar Aryo, terlihat Aryo sedang mengemasi barang-barang Nanda.


Intan menatap sendu putranya tersebut, bahkan dia dapat melihat bibir yang bergetar milik Aryo. Menandakan jika Aryo memendam perasaan sedihnya.


Intan berjalan mendekat dan merengkuh tubuh putranya, seketika tangis Aryo pecah. Seakan Aryo menyalurkan rasa kecewa, sakit hati, dan penyesalannya. Intan tanpa sadar ikut meneteskan air mata.


"Mah, apa yang harus Aryo lakukan saat ini?" Tabya Aryo yang masih senantiasa memeluk tubuh tua Mamanya.


"Aryo kamu harus bangkit, apa kamu tidak kasihan terhadap Abel." Jawab Intan dengan pengelus punggung Aryo.


Aryo menggeleng, dia sungguh kecewa. Putri yang selama ini sangat dia sayangi, ternyata hasil hubungan gelap istrinya.


"Aryo tidak bisa menerimanya Mah," Jawab Aryo yang sudah mulai melepas pelukan Mamanya.


"Lalu kita harus bagaimana Aryo? Ayah biologis Abel menjadi DPO di kepolisian." Jawab Intan yang memandang Aryo dengan sendu.


Aryo memalingkan wajahnya, "Kita kirim saja ke panti asuhan Mah, dan aku akan menceraikan Nanda saat ini juga." Jawab Aryo yang di iringi dengan derai air mata.


Untuk sesaat Intan tertegun dengan jawaban putranya, jika masalah dia mau menceraikan Nanda. Intan sangat mendukung.


Tetapi mengirim Abel ke panti asuhan, sangat sulit untuk Intan.


"Jika kamu ingin menceraikan Nanda, Mama sangat setuju Aryo. Secepatnya akan Mama urus. Tapi masalah Abel yang ingin kamu kirim ke panti asuhan, Mama mohon pikirkanlah dengan kepala dingin." Jawab Intan, yang saat ini sudah bangkit dan berjalan meninggalkan kamar Aryo.


Di sisi lain, tengah terlihat sepasang suami istri yang duduk santai di belakang rumah. Dia adalah Dinda dan Zack.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu masih keberatan jika Aryo berkunjung kemakam anak kalian?" Tanya Zack yang saat ini menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


"Entahlah, aku bingung. Apakah aku sudah benar-benar memaafkan mereka." Jawab Dinda yang kini menyandarkan kepalanya di pundak Zack


Zack mengelus kepala istrinya "Cobalah berdamai dengan masa lalu, bagaimanapun Aryo adalah Ayahnya. Dia juga berhak mengetahuinya." Jelas Zack


"Hemm." Jawab Dinda dengan menganggukkan kepalanya.


Satu Minggu kemudian.


Saat ini Nanda tengah duduk berhadapan dengan Aryo.


"Tanda tangani" Ucap Aryo dingin.


"Tidak!! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu mas!" Seru Nanda yang saat ini matanya sudah berkaca-kaca.


Aryo tersenyum sinis, "Terserah, jika kamu mempersulit ini semua. Jangan salahkan aku jika Abel aku buang ke panti asuhan." Ucap Aryo dengan mengancam.


Deg


Hati Nanda serasa disayat sembilu, "Mas tega membuang anak kita ke panti asuhan hah!!" Ucap Nanda tidak terima.


Nanda mencengkram berkas yang ada di tangannya, sungguh dia tidak pernah menyangka jika laki-laki yang ada di depannya saat ini dengan mudahnya membuang anak kecil.


Dengan kasar Nanda mengambil pena yang ada di samping, dia bubuhkan tanda tangannya di atas kertas ini.


"Puas!" Ucap Nanda dengan tajam.


"Tentu saja, aku akan menampung Abel sampai kau keluar dari penjara." Ucap Aryo dengan seringainya.


Kurang ajar! gumam Nanda.


Riko masuk dan membisikkan sesuatu di telinga Aryo, Aryo hanya membalas dengan anggukan.


"Baiklah, karena aku sudah tidak memiliki urusan denganmu. Aku akan pergi." Ucap Aryo yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


"Kau ingin menemui Dinsa heh?" Ucap Nanda sinis.


Aryo sesaat kaget, dengan segera dia menetralkan wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa, kamu kaget?" Lanjut Nanda lagi.


"Bukan urusanmu." Jawab Aryo dingin.


"Apa kamu mengharapkan Dinda kembali lagi kepadamu? Kau tidak lihat, Dinda sudah bersanding dengan laki-laki yang lebih kaya darimu." Ucap Nanda lagi.


"Tidak peduli, suami Dinda lebih kaya dariku atau tidak. Karena aku yakin Dinda masih mencintaiku." Jawab Aryo tersenyum miring.


Nanda yang mendengarnya semakin sakit hati, "Kamu terlalu percaya diri mas." Jawab Nanda tajam.


"Tentu saja, apa kamu tidak tahu. Jika Dinda menjengukku di Rumah Sakit beberapa kali? Ah, aku lupa. Kamu mendekam di penjara sehingga tidak tau hubungan kami semakin dekat." Jawab Aryo menipu Nanda, pada kenyataannya Dinda hanya menjenguknha satu kali. Itupun inisiatif suaminya Zack.


Nanda membelalakkan matanya, seakan tidak percaya dengan segala ucapan Aryo. "Jangan mencoba menipuku mas!" Jawab Nanda cepat.


"Tidak ada untungnya aku menipumu, untuk apa juga aku menceritakannya denganmu." Jawab Aryo acuh.


"Sudahlah, kita akan bertemu di pengadilan. Aku saat ini hanya akan bersenang-senang dengan Dinda." Jawab Aryo lagi, dengan segera dia pergi dari ruangan tersebut.


Nanda yang melihat kepergian Aryo, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.


Aku akan menghancurkan kalian, tunggu pembalasanku.


Sedangkan kini Aryo tengah menyandarkan kepalanya di kursi mobil, dia seakan lelah dengan perjalanan rumah tangganya.


Riko menjalankan mobil Aryo menuju TPU, dimana anak Dinda dan Aryo dimakamkan.


Kini sampailah mereka di TPU, sudah terlihat mobil Dinda dan Zack telah terlebih dahulu sampai.


Dengan memakak kacamata hitamnya, Aryo segera keluar dari dalam mobilnya.


Dinda dan Zack yang merasa ada seseorang yang mendekat kearah mereka, dengan segera mengalihkan pandangannya.


"Maaf lama menunggu." Ucap Aryo yang merasa membuat Dinda dan Zack menunggu lama.


"Tidak, kami juga baru saja sampai." Jawab Zack.


"Yasudah, ayo kita masuk." Ajak Zack, Dinda segera berjalan beriringan dengan suaminya.


Sedangkan kedua asisten mereka hanya menunggu di luar TPU.

__ADS_1


__ADS_2