
Rivera, Abel dan Dorothy yang baru saja pulang dari jalan-jalan pun memutuskan untuk beristirahat karena rasa lelah setelah menaiki kereta. Mereka pun berpisah pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Rivera yang masih di temani oleh Dorothy pun langsung masuk ke dalam kamar nya. Dengan cepat pula dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
17 menit berlalu...
Dorothy membantu Rivera mengeringkan rambut. Mereka berdua berbincang-bincang ringan sambil sesekali melontarkan lelucon.
Sesekali pula mereka membahas obrolan berat tentang istana kekaisaran.
"Putri, apa putri ingin memakan cemilan sebelum tidur?" tanya Dorothy.
"Tidak perlu. Nanny langsung pergi istirahat saja," jawab Rivera.
"Baiklah,"
Setelah mengeringkan rambut Rivera, Dorothy pun dengan segera menyisir rambut Rivera dan membiarkan nya tergerai begitu saja. Dia tersenyum puas pada saat melihat penampilan sang tuan putri.
"Putri terlihat sangat cantik," puji Dorothy.
Rivera tersenyum manis sambil berkata "Benarkah?"
"Benar!!"
"Baiklah-baiklah. Sekarang pergi lah istirahat, Nanny pasti sangat lelah"
"Iya putri, saya akan pergi ke kamar saya. Putri tidur lah dengan nyenyak" kata Dorothy melambaikan tangan dan kemudian pergi keluar kamar.
Rivera memastikan apakah Dorothy sudah menjauh atau belum, setelah memastikan Dorothy sudah menjauh, Rivera pun segera bergegas untuk mengunci pintu kamar.
"Sistem aktif"
\*Ding
\[Selamat malam, Nona. Kiryu sangat senang ternyata Nona tidak lupa jika memiliki Kiryu\]
"..........."
\[Kenapa, Nona? Kenapa hanya diam?\]
"Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Kali ini aku tidak akan mematikan sistem tanpa seizin mu" ujar Rivera mengalah.
\[Benarkah Nona? Nona berjanji kan?\]
"Iya, aku berjanji. Sudah kan? Apa kau masih marah?"
\[Ah tidak. Kiryu tidak akan pernah marah kepada Nona\]
".......ya, tidak pernah marah~. Baiklah, aku ingin mengunjungi bukit. Bisa kau buka kan portal untuk ku"
\[Tidak masalah Nona\]
\*Ding
__ADS_1
Portal segera muncul dalam sekejab mata. Rivera pun dengan segera mengambil jubah nya lalu mengenakan jubah tersebut.
Setelah mengenakan jubah, Rivera pun dengan segera memasuki portal dan sampai di bukit dalam sekejab mata.
Keadaan gelap gulita itu membuat Rivera tidak bisa melihat apapun di sana. Dia pun membuat bola api di tangan kanannya untuk menerangi jalan.
\[Nona, gali tanah di bawah kaki Nona. Di seluruh bukit dan sekitar bukit ini memiliki berlian\]
Rivera pun mengikuti instruksi dari Kiryu. Dia menggali tanah menggunakan tangan kirinya dan perlahan namun pasti, dia bisa melihatkan sesuatu yang bersinar dari dalam tanah yang dia gali.
Rivera yang sudah merasa penasaran dengan segera memperdalam lubang galian nya sehingga mulai terlihat sebuah batu berlian seukuran jempol pria dewasa. Bukan hanya satu, batu yang ada di dalam lubang galiannya berjumlah tiga batu berlian.
Rivera pun mengambil batu berlian itu dan mulai melihat nya dengan teliti.
"Kualitas nya benar-benar bagus. Jika di tambang bisa menghasilkan banyak uang. Seharusnya Tuan Count bisa menikmati hasil tambang ini sejak dulu" monolog Rivera.
\[Nona, ada misi sampingan\]
"Apakah misi nya berkaitan dengan batu berlian ini?"
\[Kiryu tidak tahu. Apakah Nona ingin melihat misi nya?\]
"Baiklah"
\*Ding
...⚠️Bantu Count Celevin Endirson menemukan tambang berlian ⚠️...
"Sudah ku duga,"
"Baiklah. Ini hanya karena aku penasaran dengan hadiah misi nya"
\[Baiklah-baiklah, kiryu percaya\]
"........."
~~~ Malam berlalu ~~~
Pagi segera tiba menggantikan peran malam. Seperti biasa, penghuni kediaman Endirson sedang memulai aktivitas mereka masing-masing.
Termasuk Rivera, Abel dan Thomas. Mereka bertiga sedang berdiri di depan kediaman untuk menyambut kedatangan Celevin, mark dan prajurit lainnya yang baru saja datang dari raid di dalam hutan iblis.
Celevin segera turun dari kuda nya dan menghampiri Rivera dan Abel. Dia melepas helm tempurnya dan kemudian mulai tersenyum senang.
"Wah terima kasih sudah menyambut kedatangan saya, Tuan Putri" kata Celevin.
"Tidak masalah, Tuan Count. Omong-omong, tangkapan hari ini sangat banyak ya," ujar Rivera mengintip ke arah gerobak yang di penuhi oleh monster rank B\+ tipe bos.
Kira-kira monster itu berjumlah 10 monster, Rivera yang melihat itu merasa kagum pada pencapaian Celevin.
"Terima kasih. Ini adalah kerja keras dari para pengikut saya"
Rivera mengangguk setuju sambil membuat ekspresi senang.
"Ouh ya, Abel. Apakah kau sehat? Tuan putri juga? Apakah kalian makan dengan benar?"
__ADS_1
"Saya baik-baik saja tuan Count"
"Aku baik-baik saja, Ayah"
Mereka berbicara serempak dan kemudian saling melontarkan senyuman. Celevin yang menyaksikan itu sontak saja terkejut karena melihat kedua bocah itu saling tersenyum.
Dia pun dengan segera menatap Thomas dengan ekspresi bertanya-tanya. Thomas yang tak tahu-menahu hanya bisa mengakat bahu.
"*Apa yang terjadi selama aku meninggalkan kediaman*?" benak Celevin heran.
"Tuan Count, anda pasti lelah. Mari masuk, saya sudah menyiapkan beberapa hidangan" ujar Thomas dan kemudian disetujui oleh yang lainnya.
Mereka pun masuk ke dalam, termasuk Mark yang kali ini ikut kedalam kediaman.
Karena Celevin dan Mark yang baru saja datang dari Raid hutan iblis, mereka pun memilih untuk membersihkan diri baru bisa mengikuti acara makan. Sambil menunggu, Rivera dan Abel memutuskan pergi ke perpustakaan untuk membaca beberapa buku yang ingin mereka baca.
"Kakak, dimana letak buku tentang administrasi berada?" tanya Rivera dengan sorot mata sedang mencari-cari.
"Di sebelah kanan anda, Tuan putri"
"Ah baiklah"
Rivera pun melangkah kearah kanan dan mencari buku tentang administrasi, pajak dan keuangan. Dengan segera dia menemukan buku yang berhubungan dengan yang sedang dia cari.
"Yosh, akhirnya ketemu" gumamnya senang lalu mengambil buku tersebut.
Rivera segera membuka buku tersebut dan membacanya. Sorot matanya terlihat begitu semangat akan sebuah pengetahuan itu. Dia pun duduk di sebelah Abel sambil terus membaca.
"Apakah putri memang suka membaca buku seperti ini?" tanya Abel.
"Ya. Saya sangat suka, kakak" jawab Rivera masih fokus membaca buku.
...\[Tidak bisa mendeteksi\]...
" !!! "
Betapa terkejutnya Abel setelah pendeteksi kebohongan sama sekali tidak bekerja lagi pada Rivera. Karena takut salah, Abel pun memastikannya sekali lagi.
"Apakah putri sering melakukan ini di istana kekaisaran?"
"Tidak. Saya jarang membaca buku di istana kekaisaran,"
...\[Tidak bisa mendeteksi\]...
"*A-apa yang terjadi? Mengapa pendeteksi kebohongan ku tidak bekerja*?" benak Abel terkejut sekali lagi.
Rivera masih tetap fokus membaca buku administrasi itu sampai-sampai tak terasa jika sudah berada dibagian akhir pada buku. Dia pun dengan segera menutup buku itu dan menggantinya dengan buku lain.
"Apakah putri sudah selesai membaca buku itu?" tanya Abel sangat penasaran terhadap hal yang di lakukan Rivera.
"Iya. Semuanya sudah masuk di kepala saya" jawab Rivera masih tetap memandang isi buku yang sedang dia baca.
"*Karena aku tidak membaca melainkan menyerap isi dari buku ini*, " benak Rivera.
^^^To be Continued~^^^
__ADS_1