
Singkatnya waktu, malam sudah berganti pagi. Rivera yang masih memikirkan rencana Animos dan Estira tidak bisa tertidur sepanjang malam.
Rivera duduk di sofa dengan pikiran yang berkecamuk. Tidak lama pula, terdengar suara ketukan pintu yang membuat lamunan Rivera terpecah.
*Tok...tok.. tok..
"Tuan putri, Nanny akan masuk," ujar Dorothy membawa tumpukan handuk putih ditangannya.
Rivera mencoba untuk memperbaiki ekspresi nya dan kemudian berkata "Masuklah, Nanny,"
*Klakk
Dorothy membuka pintu dan menutupnya kembali. Dengan senyuman riangnya Dorothy mulai berkata "Selamat pagi Tua... "
Senyuman riang yang menghiasi wajah Dorothy menghilang, perkataannya juga terhenti tatkala melihat penampilan Rivera.
"Tuan putri, mengapa kulit anda sangat pucat?" panik dorothy memeriksa kening Rivera.
" !! " Dorothy terhentak begitu merasakan suhu tubuh Rivera yang mengalami panas tinggi.
"Tuan putri sedang demam. Tuan putri..." seketikan jantung Dorothy berdetak dengan cepat dan kemudian bergegas untuk memanggil dokter.
Rivera hanya bisa diam mengamati pergerakan Dorothy. Dia tenggelam dalam diam dengan tatapan yang kosong.
"Kiryu, apa aku benar-benar akan mati jika tidak bisa menyelesaikan misi?"
[Nona, nona pasti bisa menyelesaikan misi..!! Percaya pada Kiryu, karena Nona sangat hebat..!!]
Rivera hanya bisa diam. Mendengar kata semangat dari Kiryu nyatanya tidak bisa membuatnya semangat. Dia memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya.
"Aku tahu jika aku bisa menyelesaikan misi, karena aku percaya pada kemampuan ku. Tapi.. mengapa perasaan ku sedikit terluka..! " gumam Rivera merasakan perasaan yang sulid untuk dideskripsikan.
15 menit berlu~
Datanglah Dorothy, Eiden dan seorang dokter yang sedang berlari dengan ekspresi wajah panik mereka. Rivera yang sudah menyadari keberadaan mereka hanya bisa terdiam sambil terus mengunci bibirnya.
"Dokter cepatlah periksa Tuan putri, tubuhnya sangat panas," desak Dorothy panik sembari terus menangis.
Sembari mengelap peluhnya, dokter pun mulai memeriksa keadaan Rivera.
"Tuan putri, bisa saya memegang tangan Tuan putri..?" tanya dokter itu dengan gugup.
__ADS_1
Rivera hanya diam sehingga membuat Dorothy dan Eiden semakin khawatir. Mereka berdua segera mendekati Rivera dan memegang tangan Rivera dengan lembut.
"Bekerja samalah dengan dokter, Tuan putri," lembut Dorothy mengangkat tangan Rivera untuk diberikan pada dokter.
Dokter itu pun dengan segera memeriksa denyut nadi Rivera dengan menyalurkan mana tipis-tipis agar sakit Rivera terdeteksi.
"...Tuan putri terlalu banyak pikiran sehingga dia mengalami stres berat. Karena kurang tidur juga, Tuan putri jadi mengalami demam," jelas dokter itu turut merasa prihatin.
"Tuan putri..."
Mereka mendadak memberikan tatapan khawatir mereka pada Rivera. Sementara Rivera, dia masih terdiam dengan mulut terkenci.
"Betapa beratnya beban Tuan putri... dia pasti sangat sedih memikirkan keadaan kaisar. Ohh putri yang malang," benak Eiden mengusap air matanya.
"Tuan putri...apa yang tuan putri pikirkan hingga mengalami stres seperti ini..? Tuan putri ku..." benak Dorothy semakin terisak dalam tangis.
"Ohhh ya Tuhan, kepala ku pusing. Mengapa kedua orang ini malah menangis..!! "
Dokter dengan segera menulis beberapa resep obat untuk meredakan demam Rivera. Setelah menulis semua obat, dokter itu pun memberikan daftar obat pada Dorothy.
"Tebus obat-obat ini di apotek istana. Katakan atas nama saya agar mereka cepat memberikan obatnya," kata Dokter dan kemudian mengalihkan pandangan pada Rivera.
"Tunggu dulu, lady. Saya yang akan menebus obat nya," ujar Eiden dan tak lama Dorothy segera memberikan resep obat itu pada Eiden.
"Saya akan mengantar," ujar Eiden.
Mereka berdua pun keluar dari kamar itu sehingga tersisalah Rivera dan Dorothy. Dorothy mencoba untuk menguatkan dirinya sembari berkata "Putri, apa putri ingin makan atau minum sesuatu?"
Rivera terdiam sejenak, lalu mulai berkata "Nanny, ada yang ingin aku katakan," tanpa menjawab topik pertanyaan yang ditanyakan Dorothy.
"Silahkan, Tuan putri. Nanny akan mendengarkan dengan baik," jawab Dorothy duduk dilantai sembari mendongakan wajahnya untuk melihat Rivera.
"Mungkin sekitar 2 hari lagi surat istana akan sampai di Romant. Tolong hubungi Ambher dengan surat. Aku juga sudah mengirim beberapa kesatria untuk menjaga kediaman Endirson," jelas Rivera datar dengan kondisi tubuh yang semakin lesu.
" Putri..."
"Bahkan dalam kondisi seperti ini putri masih sempat memikirkan Romant. Putri anda sangat baik sekali," benak Dorothy dan tak lama dia pun mengangguk.
"Baiklah, Nanny akan cepat mengirim surat pada lady Ambher. Putri tidak perlu khawatir,"
Rivera tersenyum kecil. Dia kembali menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Tadi malam aku mengirim kesatria Holy Sword menuju Romant. Aku sengaja melakukan itu karena aku tahu jika sebentar lagi hari itu akan tiba, " benak Rivera.
Sambil menghela napas dalam-dalam Rivera pun mulai membuka shop sistem dan membeli 2 botol Elixir. Dorothy yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam meski dia kebingungan sekali pun.
"Darimana ramuan itu datang? " bingung Dorothy sembari melihat Rivera meminun 2 botol Elixir sehingga habis tidak tersisa.
Seketika dia bisa melihat perubahan yang dialami oleh Rivera. Kulit Rivera yang awalnya pucat pasi perlahan mulai kembali seperti keadaan normal. Dan juga tubuh Rivera tidak terlihat lesu seperti tadi.
Rivera benar-benar sehat kembali hanya dengan 2 botol Elixir.
"Yahh pada akhirnya tubuh ku menjadi segar kembali," kata Rivera meregangkan persendiannya dengan semangat.
"Baiklah. Aku ingin mandi," lanjutnya menuju kamar mandi, meninggalkan Dorothy yang masih tercengang karena ulahnya.
*Klak... suara pintu kamar mandi yang ditutup memecahkan lamunan Dorothy.
" !! "
"A-aku sangat senang karena putri sudah sembuh. Tapi... apakah semuah itu?" bingung Dorothy sembari menganggap sia-sia air matanya tadi.
"T-tunggu saya Tuan putri, Nanny akan membantu Tuan putri mandi," lanjutnya sedikit berteriak dan menyusul Rivera masuk kedalam kamar mandi.
*Klak..
...****************...
Di kamar pribadi milik Alexander saat ini, dia sedang duduk di sofa dengan pandangan sayup dan ekspresi yang sangat kelelahan. Dia mendongakan wajahnya, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Disana juga terdapat keberadaan Ares yang selalu setia berdiri disamping belakang Alexander.
"Master, apakah master memiliki tugas untuk saya?" tanya Ares.
"....Awasi saja Animos. Jangan sampai dia melanggar perjanjian," datar Alexander.
"Laksanakan, Master,"
Ares langsung menghilang dari sana sehingga tinggal lah Alexander seorang. Alexander mengusap wajahnya dengan frustasi sembari terus menahan rasa sakit dari efek yang berasal dari Elixir yang dia minum.
Pandangannya masih menghitam, dihalangi oleh kegelapan yang semakin menggelap dari biasanya. Entah mengapa, Alexander berpikir jika semakin lama dirinya meminum Elixir yang diberikan oleh Animos, juga semakin banyak efek yang di timbulkan.
"Tapi Animos adalah satu-satunya orang yang bisa membuat ramuan itu agar aku tidak menggila. Jelas aku masih membutuhkan tikus itu.." monolog Alexander datar.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^