BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
FIRASAT BURUK, RIVERA


__ADS_3

"Tu-tunggu... mengapa kalian mempermasalahkan itu sekarang..!" ujar Rivera terheran-heran pada perubahan suasana hati ke-2 nya.


"Tidak. Aku mau Bunny memanggil ku 'kakak'!! " desak Viese merengek sehingga membuat Rivera gelagapan tidak tahu harus berbuat apa.


"Jangan berprilaku tidak adil..! Kau harus memanggil kami dengan sebutan kakak..! " sahut Bellesac merengut.


"A-aku... " Rivera kebingungan.


"Huftt.. baiklah, kakak Bellesac dan kakak Viese, " pasrah Rivera menghela napas.


"Yey..!! Bunny memanggil ku 'kakak'" betapa senangnya Viese sampai-sampai diri nya melompat dan berlari kesanakesana-kemari.


"Baiklah-baiklah, jangan melompat-lompat seperti itu. Kita harus cepat pergi ke ruang utama karena sebentar lagi acara akan di mulai," ujar Rivera sehingga membuat si kembar itu berhenti berlari-lari dan berbaris menunggu Rivera.


Rivera hanya bisa menampar kening dengan perasaan frustasi menghadapi kelakukan random dari si kembar. Dia kembali menatap Abel, yang sedang terdiam menatap kearah buku nya tadi.


"Anak ini hanya menghabisi kan hari-hari dengan buku-buku ini. Apa dia tidak bosan," benak Rivera mengerut kan keningnya.


"Kakak, tinggalkan buku itu. Mari kita pergi ke ruang utama," ajak Rivera sehingga memecah fokus Abel.


"Haruskah kita pergi?" tanya Abel dengan ekspresi bingung.


Si kembar saling menoleh, mereka melihat tangan mereka sambil membuat ekspresi sinis.


"Apakah kau jarang menghadiri pesta..? Huft pantas saja... " perkataan Viese terhenti..


"Saya juga tidak pernah menghadiri pesta sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertama saya. Apakah itu masalah?" ujar Rivera menyela ucapan Viese. Sontak saja, Viese langsung terhentak dengan ekspresi bersalah.


"Bunny, kakak hanya bercanda... jangan marah pada kakak.." melas Viese merengek.


"Maafkan Viese, Tuan Endirson. Dia memang sedikit labil," sahut Bellesac sehingga membuat Viese meliriknya dengan tajam.


Abel terlihat bingung. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada si kembar itu. Namun untungnya Rivera segera menyadari kesulitan Abel lalu memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Jangan membuang-buang waktu lagi. Mari kita segera pergi," ujar Rivera langsung melangkah pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


"Bunny tunggu aku," si kembar menyusul Rivera sehingga hanya tersisa Abel saja di dalam ruangan itu.


Abel melihat ketiganya dengan tatapan yang sulid untuk diartikan. Tatapan nya kosong dengan langkah yang mulai menyusul ke-3 nya.


Sementara di ruang utama saat ini~~


Semua tamu undangan sudah datang memenuhi undangan. ruangan pesta yang amat besar nan megah itu di penuhi oleh para bangsawan yang sedang melakukan dansa bersama. Alunan piano terdengar merdu mengiringi tarian indah dari para bangsawa.


Namun tak lama, terdengar pengumumam dari penjaga pintu sehingga membuat lantunan piano terhenti. Termasuk juga para tamu yang sedang berdansa.


"Matahari kekaisaran memasuki ruangan.." teriak penjaga sehingga mereka berhenti dan langsung menepi sambil membungkuk dengan meletakan tangan kanan mereka di dada.


Alexander Windsor dan anjing setianya Ares memasuki ruangan dengan gagah dan berwibawa. Alexander berhenti di depan singgasana nya dan kemudian berbalik untuk melihat kepada tamu undangan.


"Semoga panjang umur, matahari kekaisaran," para tamu undangan berbicara serempak dengan keadaan masih membungkuk.


Alesander langsung tersenyum sinis sembari memberi kode pada pelayan untuk meminta segelas koktail. Sang pelayan pun langsung maju dan mengulurkan nampan minuman pada Alexander.


Alexander langsung mengambil segelas koktail lalu mulai menggoyangkan cangkir koktail itu dengan pelan.


"Saya menyambut kedatangan kalian di acara perjamuan ini... tolong nikmati acara ini dengan sepenuh hati," ujar Alexander tersenyum kecil.


Alexander duduk di singgasana nya sambil melipat kaki dia pun berkata "Mengapa kalian tidak melanjutkan tarian kalian..." datar Alexander sehingga membuat para tamu undangan menjadi gelagapan dan pada akhirnya mereka kembali memainkan piano dan berdansa.


Sementara Alexander, dia menikmati acara itu sembari menyesap secangkir koktail. Entah apa yang dia pikirkan, dia memperhatikan kesekitar seolah sedang mencari seseorang.


Namun, dia tidak bisa menemukan orang yang sedang dia cari sehingga keningnya mengerut seolah menggap jika tidak ada yang menarik di depannya.


Selang berjalannya acara pesta, akhirnya Rivera, Abel dan si kembar memasuki ruang pesta secara bersamaan sehingga beberapa pandangan tertuju pada mereka. Rivera bisa merasakan hawa jahat dari para tamu undangan sehingga membuatnya tidak nyaman dan memilih untuk pergi kepojokan kembali.


Si kembar dan Abel yang melihat Rivera mulai memisahkan diri dengan segera menyusul Rivera secara bersamaan. Namun pandangan sinis dari beberapa orang tak hentinya menghilang sampai Rivera bisa merasakannya pada pojok ruangan tersebut.


Rivera duduk di kursi pojok ruangan dengan ekspresi datar. Dia hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun sehingga Viese memutuskan untuk mengajak Rivera berbicara.


"Bunny, apakah acaranya sangat menyenangkan? Bunny pasti sangat menikmati pesta ini kan..! " ujar Viese bersemangat.

__ADS_1


"Disini berisik. Bau parfum bangsawan-bangsawan itu membuat saya mual," ketus Rivera masih memandang datar.


" !! " Bellezac dan Viese saling pandang. Mereka mencoba untuk mencium bau di sekitar mereka sehingga membuat mereka akhirnya menyadari dan setuju dengan perkataan Rivera.


"Benar juga. Bau parfum yang beragam ini sungguh membuat ku pusing. Kenapa aku baru menyadarinya..." gumam Bellesac berpikir.


"Mungkin karena kita sibuk pada urusan kita masing-masing, " sahut Viese.


Rivera hanya diam sambil memikirkan firasat buruk yang sebentar lagi akan terjadi. Dia melirik kearah singgasana Alexander dengan ujung matanya.


" !! " Rivera terhentak. Dia menarik pandangannya lagi setelah menyadari jika Alexander juga sedang memandangnya dengan senyuman kecil.


"Mau apa pria gila itu menatap ku...!! Apa dia, menyadari apa yang sudah aku lakukan untuk menggagalkan rencananya...? Akhh sialan..!! " benak Rivera kesal dan mencoba untuk membuang muka kearah lain.


"Tidak mungkinkan jika dia mengetahui apa yang sedang aku rencanakan..! Jika sampai dia tahu, apa mungkin dia sekuat itu sampai menembus penghalang mana yang aku buat..?" lanjutnya merasa cemas.


[Tidak nona. Hanya pihak sistem dan pengguna saja yang bisa menembus pertahanan mana]


" !! "


"Kiryu, kau masih aktif?" kaget Rivera setelah menyadari jika Kiryu masih aktif.


[Tentu saja, Nona kan tidak mematikan sistem]


"Be-benarkah. Namun, apakah benar yang kau ucapkan tadi? Apa mungkin pria itu tidak bisa menembus pertahanan mana yang aku buat."


[Tentu saja, nona ]


Rivera terdiam sambil melirik pada Alexander. Namun sayangnya dia kembali terkejut karena Aelxander masih mengarahkan pandangannya pada Rivera. Rivera yang berniat ingin memeriksa Rank Alexander pun dengan segera menarik kembali pandangannya.


"Dasar aneh..." gumam Rivera pelan namun masih cukup kuat terdengar oleh ketiga orang yang sedang menempel padanya.


"Ada apa?" tanya Bellezac kebingungan.


"Tidak ada..." datar Rivera.

__ADS_1


Mereka saling pandang dengan tatapan kebingungan. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Rivera sehingga membuat ketiga orang itu sedikit merasa khawatir.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2