BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
TRAUMA JOHANNA


__ADS_3

Seperkian detik kemudian Rivera mulai membuka dimensi ruang waktu untuk memanggil Ajax dan Hector. Dengan cepat, Ajax dan Hector pun segera memenuhi panggilan Rivera. Mereka masuk kedalam dimensi dan sampailah didalam ruangan yang menjadi saksi bisu dari kejadian naas tadi.


Ajax dan Hector membulatkan mata mereka pada jasad seseorang yang sudah kehilangan kepalanya karena ulah sang Master mereka. Namun mereka berdua lebih memilih untuk diam karena takut salah berbicara.


Saat ini pun, suasana hati Rivera benar-benar buruk sembari menatap kepala Hector dengan tatapan dingin.


"Saya punya tugas untuk kalian. Antar kepala tikus ini masuk kedalam kamar Ratu. Pastikan, kepala ini harus berada tepat diatas kasur nya..!! Letakan bunga mawar juga di atas kasur itu," titah Rivera tanpa menerima penolakan.


"Dan jangan lupa, antar tubuh ini pergi kedapur Queen's Palace. Pastikan, kalian memainkan peran dengan baik diatas panggung yang sudah mereka siapkan..!!" lanjutnya.


"Baik, master!!"


Mereka berdua langsung pergi membawa bagian masing-masing. Saat ini hanya tersisa Rivera dan Johanna di dalam ruangan sunyi itu. Rivera langsung menghampiri Johanna sembari memberikan tatapan sayu.


"Maaf, Johanna. Saya sedikit terlambat," bisik Rivera, menggunakan kemampuan penyembuhan kepada Johanna.


Seketika, tubuh Johanna mulai bersinar, diiringi oleh aroma manis yang mulai keluar memenuhi ruangan. Perlahan-lahan namun pasti, Johanna mulai mendapatkan kesadarannya kembali sembari membuka matanya perlahan.


"T-tuan putri..." lirih Johanna dengan tatapan buram.


"Iya, Johanna. Saya disini," jawab Rivera lembut.


Johanna mulai bangun dari pisisi baringnya. Dia duduk dilantai untuk menstabilkan pikiran. Seperkian detik, Johanna mulai tersadar dan menatap ruangan dengan perasaan takut. Tubuhnya bergetar dengan jantung yang berdetak dengan cepat.


"T-tuan putri... dimana pria itu..?! Putri baik-baik saja kan?" tanya Johanna panik, memeriksa Rivera dengan tergesa-gesa.


"Johanna, tenanglah. Pria itu sudah kembali ketempat yang seharunya. Dia tidak akan datang lagi untuk mengganggu kita," ujar Rivera berusaha menenangkan Johanna.


Johanna mengelus dadanya dengan perasaan lega. Dia memegang leher nya dengan perasaan yang masih takut. Nampak nya dia sedang mengalami trauma jika dilihat dari gerak-gerik nya yang aneh.


Itu cukup mencuri fokus Rivera sehingga dirinya tersadar jika noda darah masih tersisa dilantai dan dinding dapur. Sontak saja Rivera langsung menutup mata Johanna menggunakan tangan kanannya.

__ADS_1


"A-ada apa, Tuan putri?" bingung Johanna.


"Shutt, diamlah. Tenangkan pikiran anda, Johanna. Anda tidak boleh mengalami stres karena tekanan yang baru saja anda dapatkan," ujar Rivera masih menatap pada noda darah itu.


Johanna tersenyum kecil. Seketika hatinya langsung menghangat pada sikap peduli Rivera. Dia tersenyum dalam diam dan membiarkan Rivera menutup matanya. Pun dia juga merasa bahwa dia perlu menenangkan pikirannya sendiri.


"Bagaimana caraku untuk menghilangkan noda darah ini?!" benak Rivera berpikir cukup keras.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba fokus Rivera kembali tercuri oleh Dorothy yang sedang memanggil dirinya.


"Tuan Putri.. anda dimana?" teriak Dorothy.


Rivera langsung tersenyum dan kemudian berkata "Di dapur, Nanny," teriak Rivera dengan perasaan lega.


Dorothy pun mulai menghampiri area dapur dan mulai memasuki dapur tersebut. Tapi baru saja dia menjejakan kaki di lantai dapur, tiba-tiba Dorothy melihat sebuah pemandangan kacau yang sangat membuatnya terkejut.


Mata Dorothy membola dengan kedua tangan yang sedang menutup mulutnya. "Tuan putri...?!" lirih Dorothy syok.


"shuttt...!! " Rivera menyuruh Dorothy diam sembari menunjukkan Johanna yang sedang terdiam, duduk dilantai.


15 menit berlalu...


Noda darah berhasil dibersihkan dengan cepat. Karena sudah lama dirinya menahan Johanna, Rivera memutuskan untuk melepas kedua tangannya itu dari mata Johannn.


"Johann, apakah anda merasa baikan?" tanya Rivera mengharapkan jawaban.


Johanna mengulum senyum sembari berkata "Saya baik-baik saja berkat Tuan putri. Terima kasih Tuan putri,"


Lantas Rivera dan Dorothy langsung mengelus dada mereka dengan perasaan lega. Mereka saling pandang dan kemudian mulai mengangguk satu sama lain.


"Johanna, saya akan kembali ke kamar saya. Anda istirahat saja dulu, tenangkan pikiran terlebih dahulu baru lanjut bekerja. " ujar Rivera khawatir.

__ADS_1


"Baik, Tuan putri,"


Rivera dan Dorothy pun pergi dari sana untuk melakukan sesuatu yang akan mereka kerjakan. Sementara Johanna, dia masih mematung disana dengan tangan kanannya memegang dada.


Pikiran Johanna kacau sehingga cukup membuat kakinya lemas untuk sekedar berjalan. Dia tidak menduga jika kejadian seperti ini akan terjadi di Balmoral Palace.


Dia benar-benar sangat sedih, tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah tediam, mencoba untuk melupakan kejadian itu. Dia berharap agar rasa takut yang dia alami akan segera menghilang.


...****************...


Di kamar Rivera saat ini. Rivera sedang duduk di sofa berhadapan dengan Dorothy sembari berdiri, berpikir keras dengan gurat wajah khawatir.


Sama halnya dengan Rivera. Dia ikut berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sekali lagi dia sudah kecolongan. Dia benar-benar lengah untuk sekedar melindungi Johanna.


"Tuan putri.. apakah kita kembali saja ke Romant?" usul Dorothy merasa jika Rivera lebih baik kembali ke Romant, dari pada harus tinggal di istana yang penuh akan ancaman ini.


"Tidak..!! Masih ada yang harus aku kerjakan, Nanny," tolak Rivera karena diri nya memang memiliki sebuah urusan yang harus dia kerjakan.


"Tapi... jika seperti ini terus.." khawatir Dorothy menurunkan pandangan.


"Sudahlah, lupakan kejadian itu. Sebaiknya kita membicarakan tentang acara suci gerhana bulan. Bukannya Nanny sangat bersemangat menyambut acara suci itu?" ujar Rivera mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Seketika ekspresi wajah yang tadinya sedih berubah menjadi tawa sumringah. Dorothy tersenyum, mengambil sebuah katalog pakaian yang sudah dia bawa sebelumnya.


"Putri, coba putri lihat pakaian ini..!! Putri harus memilih dress yang bagus yang bisa membuat Putri menjadi pemeran utaman!!" desak Dorothy mengulum senyum.


Rivera mengerutkan keningnya "Mengapa aku harus menjadi pemeran utama?" bingung Rivera.


"Itu adalah sebuah keharusan..!! Ini adalah acara suci pertama Tuan putri..!!" jawab Dorothy dengan pandangan berapi-api.


Rivera hanya bisa bergeleng menghadapi sikap Dorothy. Tidak ada lagi yang ingin dia katakan, dia pasrah menerima setiap perlakuan sang Nanny.

__ADS_1


"Tinggal 2 hari lagi..! Aku tidak boleh lengah karena bisa saja Animos sudah menyiapkan jebakan demi jebakan. Iblis itu sangat licik, bisa saja dia akan mengorbankan nyawa semua orang yang hadir di acara suci itu, " benak Rivera.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2