BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
MENGUNJUNGI AMBHER


__ADS_3

"Kiryu, aku akan menyerap mana kembali. Tolong buat berir mana disekitar kamar ku," titah Rivera.


[Baik, Nona]


Rivera duduk membentuk bunga lotus dengan mata cantik nya perlahan terpejam. Dia menghirup nafas panjang lalu menahan nya sebentar dan kemudian baru dia hembuskan. Dia melakukan hal itu secara berulang-ulang.


Dan barulah cahaya emas lagi-lagi muncul di saat Rivera akan menyerap mana. Cahaya itu sangat padat dan bahkan bisa dilihat oleh mata telanjang.


Rivera bisa merasakan jika mental lelahnya sudah menghilang bersamaan dengan rasa lelah fisiknya. Dia juga bisa merasakan jika mana heart nya sudah bertambah banyak.


Rivera cukup bersyukur karena hanya dengan menyerap mana semua rasa lelah yang dia rasakan pun menghilang. Dia tidak takut lagi harus pergi ke seorang dokter apalagi Saintess untuk menyembuhkan mentalnya.


" ! "


Rivera bisa merasakan jika tak jauh dari kamarnya sedang ada tanda keberadaan seseorang.


"Mau apa dia kemar?" pikir Rivera dengan terpaksa menghentikan penyerapan mana.


Rivera pun meninggalkan posisi duduknya dan kemudian berjalan mendekat kearah pintu. Dia bersandar di pintu itu sambil berkata


"1..2...3...4.....5...."


"Tok tok tok..."


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Rivera yang sudah menyadari itu sejak tadi pun berkata "Siapa ya..."


"Ini saya, Tuan Putri" jawab Abel.


Rivera tersenyum kecil dan kemudian mulai membuka pintu.


"Kakak, ada apa?" tanya Rivera membuat ekspresi bingung.


"Saya ingin pergi keluar untuk bermain salju, apakah tuan putri ingin ikut?" ujar Abel dengan suara dan ekspresi datarnya.


Setelah mendengarkan hal tersebut Rivera terdiam sejenak sambil melihat kearah Abel.


"Aku tahu jika bermain seperti itu bukanlah tipemu, Abel" benak Rivera merasa heran pada perubahan sikap Abel kepadanya.


"Tuan putri...?" panggil Abel sehingga memecahkan lamunan Rivera.


"Ah ya... baiklah, saya akan menyusul," jawab Rivera tersenyum kaku.

__ADS_1


"Saya akan menunggu di bawah," kata Abel lagi dan kemudian berlalu pergi dengan sedikit berlari.


Rivera yang masih merasa keheranan pun mengintip Abel dengan ekspresi bingung. Dia menarik kepalanya dan kemudian menutup pintu.


"Kenapa akhir-akhir ini bocah itu senang sekali menempel padaku," Monolognya.


10 menit berlalu setelah mengganti pakaian hangat yang sangat tebal, Rivera pun datang menghampiri Abel yang sudah menunggu diluar kediaman bersama Dorothy.


Rivera yang sudah agak lama tidak menemui Dorothy pun dengan segera menyapanya "Nanny, selamat pagi," sapa Rivera.


"Tuan putri... pagi. Putri terlihat sangat lucu menggunakan pakaian hangat itu," ujar Dorothy merona.


"Ah benarkah..? Apa seperti itu, kakak?"


Abel mengangguk, "Benar, Tuan Putri." katanya.


Rivera tersenyum dan kemudian pandangannya teralihkan pada salju-salju yang sudah menumpuk menutupi halaman kediaman. Rivera pun berlari di antara salju-salju tersebut.


"Sudah lama saya tidak merasakan salju ini..." pekik Rivera senang.


"Maksud ku, sudah lama aku tidak bermain-main di tengah salju begini. Biasanya aku hanya akan berperang meski salju datang sekali pun," benak Rivera tersenyum kecut sambil memegang salju di genggamannya.


"Tuan putri, apakah Tuan putri ingin membuat boneka salju?"


Rivera segera berlari dengan perasaan riang bagai seorang anak kecil yang sesungguhnya.


Mereka banyak sekali menghabiskan waktu bersama bermain salju-salju itu. Sampai tak terasa waktu banyak berlalu. Sudah banyak sekali hal yang di lakukan Rivera selama musim dingin terjadi. Dan kini, musim dingin pun berhenti tergantikan musim semi yang panjang.


Salju-salju yang menumpuk perlahan-lahan mencair karena suhu panas akibat dari musim semi. Berkat dari musim semilah, akhirnya pertambangan dapat kembali dilakukan dengan lancar.


Rivera yang sudah melakukan investasi pada pertambangan itu hanya bisa bersantai sambil menunggu bagian nya datang. Saat ini pun, dia sedang bersantai dibawah pohon besar dibagian belakang kediaman yang berdekatan dengan pertambangan.


Dengan berbagai camilan dan secangkir teh sungguh membuat hari-hari Rivera menjadi cerah.


"Putri, ini sudah sangat lama tuan putri tidak mengunjungi butik Nyonya Ambher," ujar Dorothy membuat ekspresi mengingat-ingat.


Rivera terhentak, dia mulai mengingat jika dia juga melakukan investasi pada butik Ambher sebagai serikat pusat informasi. Dia meletakan cangkir tehnya segera.


"Nanny, untung saja Nanny mengingatkan ku pada Nyonya Ambher. Baiklah, kita akan mengunjungi Nyonya Ambher dengan segera!! " ujar Rivera memutuskan untuk pergi ke butik Ambher.


Selang waktu berlalu, Rivera dan Dorothy pun sampai di depan butik Ambher. Betapa terpananya Rivera saat melihat butik Ambher yang sudah berubah dengan drastis.

__ADS_1


Butik Ambher bertambah besar dengan desain yang berbeda. Bahkan pakaian seperti gaun dan dress mahal terpampang pada etalase.


Bahkan terdapat beberapa kereta kuda yang berada di depan butik Anbher. Rivera yang merasa penasaran pun masuk kedalam butik tersebut.


Dan benar saja, bagian dari dalam butik Ambher juga berubah. Bahkan ada beberapa karyawan baru di sana. Rivera celingak-celinguk melihat perubahan tersebut.


"Selamat datang, Nona muda... silahkan ikuti saya," ujar seorang karyawan perempuan muda menuntun Rivera menuju ke ruang tunggu.


"Ambher menggunakan investasi ku dengan benar," benak Rivera takjub.


Dia pun memasuki ruang tunggu itu dan melihat penampakan yang tak disangka-sangka. Selain model ruanganya yang berubah, bahkan terdapat sekitar 10 orang nyonya maupun Nona bangsawan disana. Tidak lupa dengan beberapa pelayan yang turut membantu tuan-tuan mereka.


Rivera merasa takjub dengan kerja keras Ambher. Dalam kurun waktu sebulan saja, Ambher bisa mendapatkan pelanggan dari kalangan bangsawan.


Karena rasa penasarannya sudah menghilang, Rivera pun memutuskan untuk mendatangi Ambher keruangan kerjanya. Dengan di temani oleh Dorothy tentunya, Rivera pun sampai di depan ruangan itu.


*Tok tok tok


Rivera mengetuk pintu ruangan itu sambil menunggu respon Ambher.


"*Ceklek


"Siapa ya..


" !! "


"Master, anda disini.." kaget Ambher sedikit berteriak.


Dorothy memicing, dia tidak suka pada Ambher karena berbicara keras pada Rivera.


"Diamlah, berhenti bersikap konyol. Apakah nyonya akan membiarkan saya masuk kedalam?" kata Rivera sedikit risih pada tindakan Ambher.


"T-tentu saja, Master!! Silahkan masuklah, ayo tolong duduk dengan nyaman, master," ujar Ambher mempersilahkan Rivera masuk.


Rivera pun masuk bersamaan dengan Dorothy "Nyonya sudah bekerja dengan sangat baik, saya bahkan merasa takjub melihat perubahan besar ini," puji Rivera.


"I-ini berkat master, saya hanya melakukan hal kecil saja," jawab Ambher tersipu malu.


Dorothy yang melihat sikap Ambher pun menjadi semakin tidak suka. Betapa kesalnya dia melihat Ambher memperlakukan Rivera seolah mereka sudah sangat dekat.


Mereka bertiga duduk di sofa tersebut sambil melanjutkan beberapa obrolan. Dengan di temani oleh seteko teh yang baru saja diantar oleh salah satu karyawan.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah hal yang saya pinta sudah di selesaikan?" tanya Rivera mulai membuat ekspresi serius.


^^^To be Continued~~^^^


__ADS_2