BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
SAMPAI DI ISTANA


__ADS_3

Rivera keluar dari menara. Dia memutuskan untuk memasuki dimensi ruang dan waktu alih-alih kembali ke kamarnya.


Setelah memasuki dimensi ruang dan waktu. Rivera di kejutkan dengan penampakan yang tak disangka-sangka. Seluruh tempat sangat berantakan. Tanah-tanah berlubang seperti baru saja di ledakan oleh sesuatu. Para boneka jerami berserakan di tanah dengan keadaan yang sudah berubah menjadi beberapa bagian.


Setelah melihat hal itu, Rivera kembali mengalihkan pandangan ke arah para Calon kesatria yang saling berlatih menggunakan pedang asli sambil melawan satu sama lain. Sontak hal itu membuat Rivera tidak bisa berkata-kata pada kemampuan mereka yang terbilang seperti seorang ranker itu.


Dia kembali melihat kearah kelompok B yang sedang melakukan sparing menggunakan Dagger. Mereka terlihat sangat serius sehingga menciptakan pertarungan yang sengit.


"Banyak sekali yang berubah setelah aku meninggalkan tempat ini.." monolog Rivera berjalan mendekat kearah kelompok A.


" !! "


"Master..."


Anggota yang tak mengikuti sparing menyadari keberadaan Rivera. Dia pun berniat untuk memanggil teman-temannya yang sedang melakukan sparing, namun Rivera menghentikannya.


"Master, selamat datang. Maaf jika tempat ini sangat berantakan," kata anggota satunya.


"Mengapa kalian berdua tidak ikut Sparing?"tanya Rivera.


"Ka-kami..." mereka berdua saling lihat-lihat dengan ragu-ragu.


"K-kami tidak memiliki kemampuan seperti mereka semua, Master. Kami tidak mampu mengangkat pedang karena pedang asli sangat berat," jawab salah satunya sambil menunduk sedih.


"Tapi kami akan berusaha berlatih agar bisa menyusul yang lainnya master. Kami berjanji..!! " sahut yang lainnya dengan tekat penuh.


Rivera memperhatikan mereka dengan tatapan datar. Saat ini, dia hanya berpikir bagaimana cara membuat ke-2 pemuda di depannya bisa segera menyusul kemampuan dari para anggota lainnya.


"....Baiklah. saya akan kembali membawa sesuatu yang bisa menambah Strength kalian. Berlatihlah dengan keras," ujar Rivera kembali membuka portal menuju kamarnya.


"Baik, Master,"


Dia pun sampai di kamarnya dan segera menutup portal. Dan dengan segera Rivera duduk di Sofa sambil membuka status window.


*Ding


"Kemampuan ku sudah bertambah. Setidaknya aku bisa tenang untuk keluar dari Romant," gumam Rivera merasa puas dengan senyuman tipis.


"Aku akan senang menghadapi ular-ular yang ada di istana itu. Bagaimana ya reaksi mereka nanti setelah mengetahui jika orang yang sudah mereka rundung tiba-tiba bisa menggunakan mana dan memiliki Rank S+..? Apakah mereka akan pingsan..." lanjutnya menyeringai memikirkan mereka yang sedang pingsan karena terkejut.


"Sangat menarik...."


...****************...

__ADS_1


Setelah melakukan Raid, waktu pun berjalan dengan cepat sehingga sampailah dimana waktu untuk pergi menuju ke kekaisaran berada. Rivera, Dorothy, Celevin, Abel, Mark dan 10 kesatria Endirson sudah siap untuk melakukan perjalanan.


Celevin, Mark dan ke-10 kesatria memilih untuk menaiki kuda. Sementara Rivera, Abel dan Dorothy menaiki Kereta. Mereka pun segera pergi menuju istana karena acara perjamuan akan dilaksanakan sekitar dua hari lagi.


Banyak sekali para bangsawan penting yang akan hadir pada acara perjamuan tersebut.


Rivera bahkan sudah tahu siapa saja yang akan datang keacara perjamuan nanti.


Akan ada keluarga Duke Pelet, Keluarga dari ratu Estira pelet. Yang kedua, ada keluarga Duke Ropill, Keluarga dari permaisuri Firentia Ropill. Yang ketiga, ada keluarga Duke Durac, keluarga dari selir utama Shananet Durac. Yang keempat akan ada keluarga Marquess Luise, keluarga dari Selir kedua Lily vern Luise, dan akan ada keluarga Marquess lumberg, keluarga dari selir ketiga Lilhite Lumberg.


Sain itu, akan ada utusan dari menara sihir dan utusan dari kuil suci yang akan menghadiri perjamuan kali ini. Sementara yang lainnya hanyalah bangsawan yang di undang karena alasan formalitas saja.


Hal itu diketahui Rivera berkat dari informasi yang diberikan oleh Ambher. Oleh karena itu dia terlihat tidak sedang memikirkan apapun saat ini. Sehingga suasana sangat sunyi dan membuat Dorothy mendengus beberapa kali.


"Putri, apakah putri yakin akan kembali ke istana? Jika putri ketiga tidak suka, bagaimana?" tanya Dorothy khawatir dengan ekspresi sedih.


"Jika dia tidak suka akan ku pukuli dia," jawab Rivera dengan ekspresi santai sambil bersandar.


" !! "


"B-benar, putri kan sudah bisa menggunakan mana..." gumam Dorothy pelan namun masih bisa di dengar oleh Rivera.


Sontak saja, Rivera segera menatap Dorothy dengan cukup lekat. Dia juga berkata "Apakah Nanny setakut itu pada Loraine?" tanya Rivera heran.


Rivera hanya melihat datar kearah Dorothy. Dia merasa jika dia tidak pernah di pukuli, karena dia tidak mengingat apapun memori yang di tinggalkan pemilik tubuh asli.


"Apakah hanya Loraine yang merundung ku? Apakah ada yang lainnya?" tanya Rivera dengan ekspresi santai.


Dorothy terdiam karena mendengera pertanyaan Rivera. Dia tidak menyangka jika Rivera masih kehilangan ingatannya. Sambil membuat ekspresi sedih, Dorothy pun menjelaskan dengan tegar..


"Putri ke-2 juga merundung Putri, namun dia tidak pernah memukul putri. Putri ke-2 hanya mencemooh putri karena tidak bisa menggunakan mana. Sudah, hanya putri ke-2 dan putri ke-3 saja yang mengganggu putri, sementara yang lainnya hanya diam saat putri diperlakukan seenaknya," terang Dorothy sambil tersenyum kecut sehingga membuat Rivera keheranan.


"Ada apa..?" tanya Rivera bingung terhadap ekspresi wajah Dorothy.


"T-tidak, Putri. Nanny hanya mengingat masa lalu saja. Tapi sekarang Nanny senang karena putri tidak tinggal di istana lagi," jawab Dorothy bergeleng sambil tersenyum malu.


Rivera hanya memperhatikan Dorothy dengan membalas tersenyum. Begitu juga Abel. Abel hanya melihat Dorothy, namun dengan ekspresi berbeda. Abel membuat ekspresi kesal sekaligus penasaran terhadap prilaku yang dilakukan orang istana kepada Rivera.


"Putri, apakah putri masih belum mengingat masa lalu?" tanya Dorothy.


"Tidak. Aku belum mengingatnya, Nanny," jawab Rivera.


"Be-benarkah? Nanny berharap semoga Putri cepat mendapatkan ingatan putri kembali," ujar Dorothy berharap.

__ADS_1


"Iya, aku berharap akan segera mengingatnya," jawab Rivera membuat ekspresi masa bodoh seolah tidak masalah baginya jika ingat atau tidak.


Mereka berhenti berbicara sehingga suasana di dalam kereta menjadi sedikit canggung. Untung saja terdengar suara pedang dari arah luar sehingga suasana tidak terlalu hening.


Kesatria Endirson berusaha untuk membunuh setiap monster yang menyerang mereka. Beruntungnya, para monster Rank rendah saja yang menyerang, jika sampai ada Monster Rank tinggi maka perjalanan mau tidak mau akan berjalan dengan waktu yang lama.




Selang beberapa jam kemudian, akhirnya Rivera dan yang lainnya menginjakkan kaki di depan istana. Seketika mereka semua mendongakkan kepala pada gerbang istana yang sangat besar nan megah itu.



Di depan istana ada 2 orang prajurit penjaga. Mereka menghampiri Celevin dan kemudian berkata..



"Bisa anda tunjukkan identitas Anda?" tanya prajurit itu meminta sebuah tanda pengenal.



"Baiklah," Celevin merogoh saku jas nya untuk mengambil tanda pengenal. Namun, Rivera menghalangi sambil berkata..



"Apakah anda buta? Atau berpura-pura tidak mengenali saya sebagai putri ke-4..!" tegas Rivera menatap tajam pada prajurit itu.



" !! "



Tidak tahu mengapa, prajurit itu bahkan hanya membuat ekspresi santai seolah-olah tidak menganggap serius amarah Rivera.



"Maafkan saya, Putri. Silahkan lewat," ujarnya mempersilahkan mereka masuk meski dengan ekspresi merendahkan Rivera.



^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2