
River sedang duduk di bangku yang berada di tempat latihan berpedang, Bellezac dan Viese. Dia terpaksa ikut kesana karena kedua bocah itu terus saja merengek sehingga membuat Rivera menuruti semua kemauan kedua bocah tersebut.
"Huftt...." sungutnya bosan karena Bellesac dan Viese masih melakukan sparing pedang.
Dia menopang dagunya dengan tangan kirinya. Sembari melihat kearah Bellezac dan Viese, Rivera berusaha mengamati setiap pergerakan mereka.
"Setiap gerakan mereka tidak memiliki cacat. Namun aku bisa membaca setiap pergerakan mereka. Mungkin jika mereka berlatih beberapa tahun lagi mereka akan semakin mempertajam gerakan mereka," benak Rivera sedikit puas sehingga tidak ada alasan baginya fokus pada sparing Bellezac dan Viese.
Dia terdiam, tenggelam dalam lamunan sampai dia tidak sadar jika Bellesac dan Viese sudah menyelesaikan sparing mereka.
Mereka ber-2 pun pergi mendekati Rivera dengan sedikit berlari. Wajah mereka terlihat sangat bersemangat meski dipenuhi oleh keringat.
"Apa kau melihat gaya berpedang ku tadi? Bagaimana menurut mu?" tanya Viese bersemangat.
"Aku juga, bagaimana gaya berpedang ku? Apa kau terkesan?" sahut Bellesac.
Mereka ber-2 memperhatikan Rivera dengan pandangan meminta pujian. Sementara Rivera, dia hanya mengangguk dengan ekspresi wajah tertekan.
"Yeyy, aku memang keren. Kau harus melihat kami latihan setiap hari, ya. Kau pasti akan lebih terkesan lagi jika melihat kami latihan pedang," senang Viese merangkul Rivera dengan senyuman mengembang.
"Hahhh.. bawa aku pergi dari sini..."
...****************...
Sementara di tempat yang berbeda, di tempat tinggal kaisar Alexander Windsor yaitu Emperor's Palace. Sedang ada pertemuan di sebuah ruang rahasia yang hanya di ketahui oleh kaisar dan para kaki-tangan/pendukung kaisar yaitu Duke pelet, Duke Ropill dan anjing setia Alexander yang bernama Ares.
Alexander duduk di singgasana nya dengan tatapan mempesona namun di penuhi racun, seolah-olah dia bisa mengetahui apa-pun yang ada di depan matanya.
__ADS_1
Senyuman Alexander sungguh mempesona, senyuman tipis namun dengan aura mengintimidasi. Jika bisa dideperjelas, Alexander terlihat seperti malaikat yang turun dari surga. Paras wajah nya sungguh sempurna, namun tidak dengan kepribadian sikopet yang dia punya.
Lewat aura tajam yang dia keluarkan mampu membuat Duke Pelet dan Duke Ropill yang digadang-gadangi adalah seorang Swordmaster menjadi meringkuk tidak berdaya.
Mereka menunduk tegang dengan keringat yang membasahi wajah mereka. Dan bahkan, anjing setia kaisar yaitu Ares ikut mendapatkan dampak dari aura membunuh itu.
Dia tersenyum tipis, melihat kearah ke-2 anjing nya yang sedang menunduk menahan kemampuan Intimidating yang dia gunakan.
"Katakan, ada perlu apa kalian memanggil ku ke ruangan ini.." ujar Alexander dengan nada pelan namun tajam.
Duka Pelet dan Duke Ropill mengangkat pandangan mereka sambil menelan ludah dengan ekspresi tersenyum paksa.
"Kita harus cepat berbicara kepada Count Endirson, yang mulia. Kita harus segera mendapatkan tambang berlian itu," ujar Duke Ropill memberanikan diri meski jantungnya berdegup kencang.
"Benar, yang mulia. Kita harus mendiskusikan ini kepada Count Endirson dan memberikan nya beberapa jaminan agar dia mau menyerahkan tambang berlian itu," sahut Duke pelet.
Alexander terdiam. Dia menatap lurus ke arah 2 anjing di depannya. Mata indah sayup itu perlahan bergerak ke arah Ares dan kemudian dia mulai menunjukkan senyum mempesona miliknya.
*Glek
Sontak saja ke-2 nya menelan air liur mereka dan menatap kearah bawah, tidak berani menatap sang kaisar yang sudah mulai menunjukkan aura membunuh.
"Sialan, jika saja kau bukan kaisar.. aku akan mebunuh mu!! Aku akan mencabik-cabik mu menjadi beberapa bagian karena telah menghina ku sepeti ini!! " benak Duke Pelet menahan emosi.
Alexander tersenyum tipis, dia bisa merasakan hawa membunuh dari arah Duke Pelet. Namun, Alexander hanya mengabaikan hal itu dan kemudian berkata "Aku akan mengurusnya. Untuk kedepannya jangan pernah memanggil ku untuk melakukan pertemuan..!" kata Alexander dengan nada malas namun tetap memandang tajam kearah ke-2 orang itu.
Setelah mendengarkan hal itu dari Alexander, ke-2 orang itu langsung mengangkat pandangan mereka lalu tersenyum dengan puas. Wajah rakus mereka terlihat dengan jelas sehingga Alexander dan Ares bisa merasakan bau busuk dari mereka berdua.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi," kata Alexander berdiri dan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu bersama Ares.
"Semoga dilimpahkan kesehatan selalu, matahari kekaisaran, " hormat mereka mununduk dengan hormat.
Tidak lama Alexander dan Ares meninggalkan tempat itu, Duke Pelet dan Duke Ropill pun mengangkat pandangan mereka. Mereka saling pandang sambil melontarkan tatapan tidak suka. Itu karena mereka adalah musuh bebuyutan yang terpaksa bekerja sama untuk mendapatkan tambang berlian atas dorongan keserakahan masing-masing.
Dan merekapun pergi kearah yang berbeda tanpa bertukar basa-basi sedikit pun.
Sementara di tempat yang tak jauh dari tempat rahasia itu, Alexander dan Ares sedang berjalan melewati sebuah lorong panjang yang gelap. Disana hanya diterangi oleh beberapa obor sehingga jalan tidak terlalu jelas terlihat.
"Berani sekali 2 orang itu menggunakan ku sebagai pemuas keserakahan mereka. Anjing-anjing yang tidak patuh....!! " decak Alexander tersenyum tipis.
"Haruskan saya membunuhnya wahai, yang mulia..!!" sahut Ares bersiap memegang pedang.
"Tidak..! Anjing seperti mereka masih berguna untu ku. Ikuti saja apa yang mereka rencanakan. Tekan Count Endirson agar menyerahkan tambang berlian itu," kata Alexander tersenyum sinis sehingga membuat Ares menarik kembali niat membunuhnya.
"Baik, yang mulia,"
Mereka pun pergi meninggalkan lorong dan pergi ke ruangan kaisar untuk melakukan beberapa hal.
Semenjak hal itu, hari cepat berlalu. Masih ada 1 hari untuk digelarnya acara perjamuan. Hal itu pun dimanfaatkan oleh Rivera untuk berlatih di dalam kamarnya. Dia sedang melakukan peregangan agar tubuhnya tidak kaku setelah lama tidak melakukan Raid menara.
Dia melakukan push up sebanyak 500 kali, sit up sebanyak 500 kali dan menyerap mana selama 2 jam. Karena sudah lama berdiam di kamar karena harus melakukan beberapa kegiatan itu, akhirnya rivera memutuskan untuk mandi dan pergi keluar.
Setelah selesai mandi, Rivera dengan cepat memilih dress yang akan dia gunakan. Dia memilih sebuah dress selutut bewarna kuning dengan corak bunga matahari. Karena tidak pernah memiliki pengalaman dalam menghias rambut, Rivera hanya mengikat rambutnya menggunakan pita bewarna kuning dan tidak menempelkan jepitan apapun.
Setelah merasa cukup, Rivera akhirnya pergi keluar kamar untuk menyapa Dorothy, Daniel dan Johanna yang dia pinta agar tidak memasuki kamarnya selama 4 jam penuh.
__ADS_1
"Aku lapar..." monolog Rivera mengelus perutnya.
^^^To be Continued~^^^