BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
SUASANA SEJUK


__ADS_3

...[Nona, lantai 50 sudah berhasil dibersihkan. Masa tahanan sudah habis. Apakah Nona akan keluar?]...


Rivera yang sedang duduk di tumpukan monster itu hanya terdiam, menatap datar kearah inti core yang sudah dia kumpulkan selama 100 tahun lamanya. Terbesit sebuah ide di otaknya saat Kiryu mulai mengatakan jika masa tahanannya sudah berakhir.


"Aku ingin keluar, aku akan pergi melihat kekaisaran itu," sinis Rivera.


Dia mulai melompat dari tumpukan monster itu seraya berjalan menuju portal yang akan menghubungkan langsung dengan dimensi miliknya.


Begitu keluar dari dalam menara, Rivera langsung disambut oleh suara keras yang berasal dari area latihan. Dia menoleh dengan ekspresi lelah saat melihat para kesatrianya bergelempangan dengan keadaan babak belur.


"HAHAHAHAHAHA...!! Sudahilah, karena kalian itu manusia rendah yang sangat lemah..!! " Solderet tertawa jahat dengan sikap sombongnya.


"Solderet... kau benar-benar sangat kejam..!! " lirih Hector yang sedang tersangkut diatas pohon karena ulah Solderet.


Begitu melihat itu, Rivera langsung menampar pelan keningnya. Dia berjalan mendekati Solderet dengan ekspresi datar.


"Solderet, anda apakan kesatria-kesatria saya ini?! " datar Rivera.


Solderet menoleh kearah Rivera. Sontak saja dia berhenti tersenyum sembari membenarkan posisi berdirinya. Dia lihat Rivera disertai dengan senyuman ceria.


"Hay keturunanku yang paling~ manis~" kata Solderet berusaha untuk menjilat.


Rivera menghela napas, dia mulai mengalihkan pandangan kembali kearah para kesatrianya.


"Kalian tidak apa-apa? Apakah kalian ingin jika saya yang menggantikan Solderet?" tanya Rivera, membuat ekspresi khawatir.


" !! " para kesatria yang kesakitan itu langsung saja saling bertatapan dengan ekspresi panik mereka. Mereka dengan cepat bangun dari posisi baring mereka lalu berdiri dengan tegak.


"SIAP, TIDAK...!! " serempak mereka dengan suara bergema.


"Fttt..... " tawa Solderet pecah sehingga membuat Rivera jengkel.


Rivera mengerutkan keningnya seraya berkata "Kenapa?"


"K-kami lebih baik di ajari oleh Solderet, dari pada Master. K-kalau master yang mengajar kami, kami akan mati, " jawab Ajax menurunkan pandangan.


"Fttt..... Huahahahaha...!! Mati dia bilang..?! Hahahaha.. dasar master yang kejam.." tawa Solderet kembali pecah, menertawakan pengakuan dari Ajax.


Rivera memicing pada Solderet dengan perasaan yang semakin jengkel. "Jangan menertawakan saya..!!"

__ADS_1


*PLAKK... Rivera melayangkan pukulan pada Solderet sehingga Solderet terjatuh kedepan.


*Brukk... Solderet tersungkur ke tanah dengan wajah terbenam.


"Rasakan itu..!! " kesal Rivera berlalu pergi dari sana, meninggalkan Solderet dan semua kesatrianya yang sedang terdiam dengan pandangan shok.


"Mengapa bocah ini bertambah sangat kuat..!!! " pekik Solderet frustasi.


Rivera berjalan menuju satu perumahan yang menjadi tempat tinggalnya bersama Dorothy dan Johanna. Dia memasuki rumah itu dan kemudian mulai menatap kesekitar.


"Dimana Nanny?" monolog nya mencari-cari Dorothy.


Rivera lanjut berjalan menuju kedalam dapur untuk mencari keberadaan Johanna. Dan benar saja, ternyata Johanna berada di dalam dapur dan bahkan Dorothy yang telah dia cari-cari malah berada di dalam dapur.


Rivera mengulum senyum sembari menghampiri mereka.


"Wahhh apa yang kalian buat? " tanya Rivera mengintip kearah adonan yang sedang di aduk oleh Johanna.


Repleks mereka berdua langsung menoleh kebelakang dan kemudian mulai menghentikan kegiatan mereka begitu melihat Rivera ada di belakang mereka berdua.


"Tuan putri, anda sudah datang.." ujar Johanna dengan senyuman hangatnya, menyambut kedatangan Rivera.


Seketika hati Rivera langsung menghangat. Dia membalas tersenyum seraya berkata "Saya sudah menyelesaikan urusan saya, Johanna," jawab Rivera.


"Lalu untuk ku? " kata Rivera memiringkan kepalanya, menatap Dorothy dengan memelas.


Dorothy dan Johanna langsung saling bertatapan dengan senyuman lebar mereka. Tidak lama, mereka mulai melihat Rivera kembali.


"Tuan putri, anda sudah mendapatkan bagian anda..! Saya dan lady Dorothy sudah membuat pie lemon untuk Tuan putri," jawab Johanna, berjalan menuju tempat pemanggangan dan kemudian dia mulai membuka penutup pemanggangan itu.


Rivera menyusul dan mengintip kedalamnya. Seketika senyuman indah mulai menghiasi wajah cantiknya.


"Wahhh...!! Kalian benar-benar membuatkan pie lemon untuk saya..." ujar Rivera bersemangat dengan tatapan berbinar-binar.


"Tentu saja..!! Ini adalah permintaan putri 2 minggu lalu," jawab Dorothy menghampiri.


Rivera kembali menatap mereka berdua dengan tatapan terharu. "Terima kasih," ujarnya.


"Baiklah, sebaiknya Tuan putri duduk dulu. Saya akan menyiapkan pie lemon untuk Tuan putri," kata Dorothy mulai mempersiapkan perlatan makan untuk Rivera.

__ADS_1


2 menit kemudian~


Rivera, Dorothy dan Johanna sedang duduk di meja makan sembari menikmati sepotong pie lemon. Mereka berbincang-bincang kecil dan tidak jarang pula mereka bersenda gurau.


"Tuan putri, anda ini..." ujar Johanna terkekeh mendengar lelucon yang diberikan oleh Rivera.


"Benar..! Mereka lari terbirit-birit saat solderet mulai mendekati mereka.. " ujar Rivera.


Mereka kembali tertawa sampai tak terasa bahwa pie lemon yang ada di piring mereka sudah mulai habis.


"Begini, Nanny, Johanna. Kita bertiga akan kembali ke kekaisaran. Sudah waktunya kita keluar dari dimensi ini," ujar Rivera mulai serius.


Johanna dan Dorothy langsung terkejut mendengar perkataan Rivera. Mereka saling bertatapan seolah mereka memiliki pemikiran sama.


"Tapi, Tuan putri.. jika kita kembali.. " lirih Johanna dengan ekspresi khawatir.


"Tuan putri, anda sudah terkurung disini selama berpuluh-puluh ribu tahun. Berarti...anda sudah lama meninggalkan kekaisaran Obelion. Bagaimana jika mereka tidak mengenali Tuan putri?" sahut Dorothy tidak kalah khawatirnya.


Itu adalah ketakutan terbesar Dorothy. Bahkan dirinya sudah mendengar kabar tidak mengenakan tentang Rivera yang tersebar di kekaisaran Obelion pada saat dirinya membeli persedian makanan.


"Tidak apa-apa. Mulai saat ini kita akan menjalani hidup baru di kekaisaran Obelion. Kita sudah lama terkurung di sini," jawab Rivera dengan sikap santainya.


"Baiklah, kalau memang itu keputusan Tuan putri, Nanny akan ikut,"


"Benar, saya akan mengikuti keputusan Tuan putri,"


Rivera hanya bisa tersenyum melihat kekompakan mereka berdua. Dia sangat berbangga diri memiliki mereka berdua di sisinya. Suasana menjadi menghangat, cukup hangat sampai mampu membuat hati keras Rivera menjadi lembut.


Namun sayangnya, ditengah-tengah kebahagian itu tiba-tiba kembali terdengar suara ledakan besar yang berasal dari luar.


Sontak saja fokus mereka bertiga langsung tertuju pada suara ledakan itu.


"Tck...!! Solderet, apa lagi yang dia perbuat..!! " kesal Rivera.


Dorothy dan Johanna hanya bisa tertawa melihat tingkah Solderet yang semakin menjadi-jadi.


"Suara ini terjadi hampir setiap hari, Tuan putri. Tidak perlu meladeni tingkah Tuan Solderet," kekeh Johanna.


"Beliau juga sering membuat perumahan hancur. Tapi beliau juga yang membangunnya," sahut Dorothy ikut terkekeh.

__ADS_1


Rivera menghela napas dalam-dalam, membuang semua perasaan jengkel nya dan kembali tersenyum.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2