
Queen's Palace~~
Saat ini kamar Estira sedang dalam keadaan ricuh. Estira histeris dengan ekspresi ketakutan. Wajahnya pucat pasi dengan seluruh tubuh bergetar hebat.
"CEPAT BAWA ITU KELUAR..!! " pekik Estira pada pelayan setianya, Erlhite.
Dia menunjuk-nunjuk kepada potongan kepala manusia itu yang berada diatas kasurnya serta lengkap dengan sebuket bunga mawar merah.
Erlhite dengan segera keluar memanggil pengawal untuk menyingkirkan kepala itu. Sementara yang terjadi pada Estira, dia tidak bisa bergerak dari sana.
Kakinya lemas, tidak bisa bergerak. Pupil matanya bergetar dengan rasa takut yang mulai menguasai dirinya. Melihat itu, Estira bagai dihantui oleh mimpi buruk yang sedang menyambut hangat dirinya. Namun tentu saja dalam artian lain.
"T-tidak...!! Tidak mungkin jika bocah pelacur itu yang sudah menghabisi Ryco..!! Meski rumor mengatakan jika bocah itu sudah membunuh 2 orang prajurit Rank A, namun itu tidak benar..!!" monolog Estira dengan pikiran yang mulai kacau.
"A-atau semua ini adalah ulah Kaisar? A-apakah dia marah jika aku menyentuh bocah pembawa sial itu?!" lanjut Estira, memeluk dirinya sendiri dengan rasa takut yang semakin membesar.
Dirinya merasa jika dia semakin mengecil, cukup kecil untuk membuka mata. Dan secara perlahan Estira mulai kehilangan kesadaran dan terjatuh kelantai dengan kepala membentur lantai.
*Brukk..kepala Estira mengeluarkan darah tatkala kepala itu mulai terbentur kelantai dengan keras.
Tidak lama waktu berlalu, akhirnya Erlhite datang bersama 2 orang prajurit dengan berlari tergesa-gesa. Wajah mereka terlihat panik saat mulai membuka pintu kamar Estira.
" !! " mata Erlhite membola tatkala melihat sang Ratu sudah kehilangan kesadarannya. Dengan cepat dia mendatangi Estira sembari berlutut.
"Ratu, apa yang terjadi pada anda..!!" panik Erlhite khawatir.
"Kalian berdua, cepat singkirkan benda sialan itu dari sini..!! " tegas Erlhite sehingga ke-2 prajurit itu langsung bergerak untuk menyingkirkan kepala itu dari atas kasur Estira.
Erlhite kembali fokus pada Estira. Dia mengeluarkan sapu tangan dan menyeka keringat Estira menggunakan sapu tangan bewarna biru itu. Sembari terus berpikir, Erlhite berkata..
__ADS_1
"Siapa yang berani melakukan ini pada Ratu..!! Aku akan mengembalikan 100 kali lipat kepadanya..!!" geram Erlhite meremas erat sapu tangan.
...****************...
Selepas kejadian yang menggemparkan itu, hari berjalan dengan cepat. Sampai tidak terasa bahwa datanglah hari-hari yang telah ditunggu-tunggu oleh semua orang mau pun Rivera.
Keadaan kekaisaran sedang ramai saat ini, dipenuhi oleh para pekerja atau pelayan yang sedang mendekorasi kekaisaran. Kali ini, acara suci akan diadakan di lapangan istana utama atau sering disebut dengan istana resmi.
Disanalah acara suci gerhana bulan akan dilakukan. Mengingat jika lapangan di istana resmi memiliki ukuran yang luas untuk menampung setidaknya 500 rakyat yang ikut bergabung.
Tentunya para rakyat biasa, turut merasa semangat menyambut acara sakral itu. Terlebih lagi, di acara suci itu akan dihadiri oleh keluarga kekaisaran yang sangat jarang sekali mereka lihat.
Pun sekali lihat paling tidak mereka hanya bisa melihat punggung mereka atau dari samping saja. Maka dari itu, mereka tidak ingin melewati kesempatan untuk acara suci yang menguntungkan.
Saat ini di istana utama, tempat biasanya Alexander melakukan tugasnya sebagai kaisar, sedang di penuhi oleh berbagai utusan dari kerajaan-kerajaan lain yang berada di bawah kekaisaran Obelion.
Alexander sedang duduk di singgasananya sembari memandang malas kearah depan. Dia melipat kakinya dengan tangan kiri menopang dagu.
"Dari kerajaan mana anda berasal..?" dingin Alexander bertanya pada seorang pemuda yang sedang bersama bawahannya, membawa sebuah peti yang berisikan mutiara.
Pemuda itu menelan ludah dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya. Dia melihat Alexander dengan tegang seakan-akan dia sedang dihadapkan oleh macam kumbang yang baru terbangun dari tidurnya.
"Hormat saya pada matahari kekaisaran Obelion..!! Saya putra mahkota kerajaan Berly, nama saya Ferdes Sermon. Kedatangan saya kemari adalah sebagai utusan dari kerajaan kami agar bisa turut serta dalam acara suci gerhana bulan," jelas Ferdes membungkuk sedikit dengan rasa hormatnya.
"Ouhh, anda berasal dari kerajaan Berly. Saya mendengar jika kerajaan anda adalah kerajaan penghasil mutiara terbesar, bukan?" tanya Alexander namun sedikit merasa malas untuk sekedar menunggu jawaban.
"Benar, yang mulia kaisar. kerajaan Berly adalah kerajaan penghasil mutiara terbesar. Karena kami telah mendapatkan kesempatan beharga ini, kami tidak ingin melewatkan kesempatan membawa mutiara terbaik kami sebagai hadiah, yang mulia kaisar," jawab Ferdes dengan rendah hati.
Memang benar jika kerajaan Berly adalah kerajaan penghasil mutiara terbesar. Bahkan harga mutiara sama dengan harga kepala manusia. Tidak heran jika mutiara memiliki harga yang terbilang sangat mahal itu, karena mutiara bisa digunakan untuk perhiasan, jimat, artefak, pembuatan obat maupun pembuatan kosmetik.
__ADS_1
Meski kerajaan Berly bukan kerajaan pengguna kekuatan, namun kerajaan kecil itu cukup hidup dengan makmur dengan harta melimpah.
Semua orang yang ada diruangan itu pun turut merasa iri karena Alexander mendapatkan 1 peti mutiara dengan kualitas yang sangat tinggi. Alexander hanya bisa mengulum senyum sembari berkata..
"Saya akan menerima hadiah ini. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah memberikan barang yang beharga ini, saya akan memberi hadiah pada anda. Saya akan mengirimnya nanti," ujar Alexander dengan ekspresi malas.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, yang mulia kaisar," balas Ferdes membungkuk kembali dan kemudian mulai pergi dari hadapan Alexander.
"Membosankan..!!" benak Alexander merasa bosan karena harus menyambut tamu-tamu yang tersisa.
Seperkian detik, tiba-tiba mata Alexander tertuju kearah utusan menara sihir yang sedang duduk diam dengan tubuh berbalut jubah-jubah besar mereka.
Seketika mata Alexander menajam karena merasakan perasaan curiga pada sikap mereka.
"Apa lagi yang akan dilakukan oleh pria tua itu..!!" benak Alexander.
Karena masih banyak sekali utusan yang harus dia urus, Alexander memilih untuk menepis semua pikiran buruk itu. Dia melanjutkan menyapa semua utusan agar dirinya bisa cepat-cepat pergi dari sana.
Singkatnya waktu, Rembulan pun datang menggantikan peran mentari. Hari-hari yang sudah ditunggu pun akhirnya datang, menyambut antusias dari rakyat kekaisaran Obelion maupun kerajaan-kerajaan lainnya.
Note : Kekaisaran berada 1 tingkat diatas kerajaan.
Disaat semuanya menyambut acara suci dengan antusias mereka, Rivera justru hanya terdiam dengan ekspresi datar seolah-olah tidak menganggap jika acara seperti ini penting untuk diikuti.
Rivera terus memperhatikan kesekitar dengan sikap waspada. Bahkan dirinya sudah mengerahkan seluruh kesatria Holy Sword kesekitar lapangan acara.
"Sebentar lagi... tempat ini akan hancur.." benak Rivera.
^^^To be Continued~^^^
__ADS_1