
Tidak lama pula, pelayan pria tadi segera datang dengan mendorong troli pesanan menuju kearah meja Rivera. Dia meletakan satu-satu diatas meja sambil menata nya dengan rapi.
Setelah meletakan semua pesanan, pria itu pun kembali meletakan sebuah kain dengan selembar kertas di atas kain tersebut. Rivera dan Dorothy langsung saling pandang dengan pemikiran masing-masing.
"Silahkan dinikmati, Nona muda," ujar pelayan pria lalu pergi dari sana.
Belum lama pelayan itu pergi, Rivera segera mengambil kertas tersebut dan membaca isi dari surat itu. Seketika keningnya mengerut dan kembali menatap pada kain.
"Nona, apa isi surat itu?" tanya Dorothy bingung.
Rivera langsung memberikan kertas itu pada Dorothy supaya Dorothy juga tahu apa yang tertulis pada surat tersebut. Dorothy segera membacanya nya dan tak lama raut wajahnya pun berubah menjadi ekspresi kebingungan.
"Nona..."
Rivera hanya diam. Dia paham apa yang dipikirkan Dorothy. Dia memandang kain itu dan mulai mengambilnya.
"Dari mana kepercayaan diri pria itu?! Dia malah memberi ku jubah tanpa aku pinta. Apa sebenarnya tujuan dirinya..!! " benak Rivera memilih untuk tidak mempercayai pria itu karena mereka baru saja pertama kali bertemu. Jangankan orang yang baru pertama bertemu, dengan orang yang sering kita temui saja kita tidak boleh terlalu mempercayai mereka!! Pikir Rivera.
Dia menghela napas sambil memegang jubah itu dengan teliti.
"Nona, apa kita pergi saja dari sini?" tanya Dorothy khawatir.
"Tidak usah. Aku juga tidak memerlukan jubah ini karena semuanya sudah terlanjur tahu jika aku seorang putri. Pasti rambut inilah satu-satunya penyebab mereka mengetahui identitas ku," jawab Rivera masa bodoh karena dia memang tidak terlalu memperdulikan jika identitas nya terbongkar sekali pun.
Dorothy hanya mengangguk. Dia mengikuti semua keputusan sang Tuan putrinya tanpa banyak memberikan pertanyaan. Dan saat ini mereka lebih memutuskan untuk mencicipi dessert yang sudah mereka pesan.
Baru sekali melakukan suapan pertama, Rivera bisa merasakan aroma lemon yang kuat di dalam pie yang dia gigit. Seketika matanya langsung melotot saat merasakan rasa yang nikmat dan meleleh di dalam mulutnya.
"Wahhh... Nanny, ini sangat lezat..!! Bagaimana bisa pei ini bisa selezat ini..!! " takjub Rivera dengan mata berbinar.
"Benarkah, Nona. Apa Nona suka pei lemon?" tanya Dorothy turut senang melihat Rivera yang bisa tersenyum hanya karena sebuah dessert.
"Iya!! Nanny juga buatlah pei lemon jika kita sudah pulang nanti. Ini enak dan tidak terlalu manis," gumamnya dengan mulut penuh.
"Berbicaralah setelah menelan makanan, Nona. Awas, hati-hati tersedak," nasehat Dorothy memandang senang kearah Rivera.
Selang beberapa waktu mereka menikmati semua dessert yang telah mereka pesan, mereka pun memutuskan untuk segera pergi namun setelah Rivera memesan beberapa dessert lagi untuk dibawa pulang.
Ditengah-tengah saat memesan beberapa dessert kembali, dari arah pintu masuk ada dua pasangan yang baru memasuki restoran. Mereka terlihat tidak nyaman dengan raut wajah kewalahan.
"Haihh saya sangat tegang saat prajurit istana mendatangi saya tadi. Saya pikir mereka ingin memukul saya karena wajah mereka terlihat sedang serius," ujar sang wanita mengelus dadanya.
"Benar, Nona. Saya penasaran, kemana keberadaan putri ke-4 sehingga membuat prajurit yang digadang-gadangi seorang prajurit setia kaisar bisa turun kejalan-jalan kota," timpal sang pria lagi.
Mereka berdua langsung berjalan menuju meja kasir untuk memesan beberapa dessert sebagai buah tangan. Namun baru saja mereka melangkah, mereka langsung disambut oleh pemandangan yang tak diduga-duga.
"Putri ke-4..!! " ujar mereka agak keras sehingga semuanya langsung memperhatikan Rivera yang sedang memegangi dessert nya dengan erat.
"Apa yang kalian lakukan!! Beri hormat pada putri ke-4!! " tegas Dorothy.
__ADS_1
Seketika semua orang berdiri dan membungkukan tubuh mereka sambil berkata "Hormat pada putri kekaisaran," serempak mereka dengan hormat.
"Cih!! Diamlah. Dari tadi kalian juga sudah tahu keberadaan saya, tapi mengapa pura-pura hormat sekarang! Tutup mulut kalian sekarang dan urus-urusan masing-masing. Saya akan pergi, jadi jangan bahas lagi keberadaan saya disini. Jika ada yang berani... akan saya pastikan kalian tidak memiliki rumah lagi..!! "
"Me-mengerti Tuan putri," jawab mereka panik dengan tatapan memandang kebawah.
Dengan segera Rivera dan Dorothy pergi dari dalam restoran itu dan pergi keluar untuk menghindari kejaran para prajurit.
"Nanny, kita harus pergi lagi untuk membeli beberapa barang. Aku juga mau melihat malam berbintang malam ini," ujar Rivera dengan senyuman lebar.
"Baiklah, Nona," Dorothy hanya bisa pasrah pada kemauan Tuan putrinya ini. Dia mengikuti langkah Rivera dengan setia dan senyuman yang tak pernah luntur.
Mereka berdua berjalan-jalan dan mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Rivera sebelumnya. Dimulai dari acara pentas seni, acara lelang dan beberapa toko yang menjual perhiasan.
Karena terlalu asik berjalan-jalan, tak terasa matahari akan segera turun. Dan saat ini, di Emperor's Palace, Alexander sedang duduk di singgasana nya dengan tatapan tajam yang mengarah pada Eiden dan beberapa pelayan.
Tidak lupa pula, ada Ares yang selalu setia berdiri di samping singgasana Alexander selayaknya bayangan.
Eiden dan beberapa pelayan berlutut dengan pandangan mengarah kebawah. Mereka tidak berani menghadapi kemurkaan sang Kaisar karena mereka tidak becus menjaga Rivera.
"Siapkan kuda secepatnya!!" titah Alexander tak dapat terbantahkan.
"Baik, paduka,"
Eiden dan beberapa pelayan langsung pergi setelah memberi hormat pada Alexander. Mereka pergi dengan tergesa-gesa sembari memegang leher mereka dengan perasaan lega.
...****************...
Mereka melaju dijalanan dan tidak memperdulikan siapapun yang ada didepan mereka. Sementara Ares, dia berteriak untuk menyuruh para rakyat menghindar karena kaisar saat ini sedang lewat.
Para rakyat menepi dengan ekspresi ketakutan. Mereka tercengang dan tidak menyangka jika bisa melihat kaisar secara langsung meski hanya sekilas.
"Master, saya merasakan aroma putri tak jauh dari sini," ujar Ares sehingga membuat Alexander semakin menambah laju kudanya.
...****************...
Saat ini Rivera dan Dorothy sedang berada dalam kasino sembari memainkan beberapa permainan judi. Dorothy hanya bisa memandang Rivera dengan perasaan pasrah.
Sudah beberapa kali dirinya mengatakan jika Rivera tidak boleh memasuki kasino karena belum cukup umur. Ditambah lagi Rivera adalah seorang Tuan putri kekaisaran, maka itu akan mempengaruhi kehormatan Rivera.
Namun dengan keras kepala yang dimiliki Rivera, Dorothy pun lebih memilih untuk mengalah.
__ADS_1
"Ohoo kau pasti curangkan anak kecil..!! ujar seorang pria bangsawan yang sedari tadi kalah oleh permainan Rivera.
"Apa yang anda katakan, Tuan. Mana ada saya curang, saya bermain jujur dari tadi. Mengaku saja jika anda memang payah," ejek Rivera.
"Nona muda, anda sangat senang mengejek, ya. Lagi pula dari mana datangnya anda sehingga berani memasuki kasino ini?" tanya pria satunya terkekeh.
"Saya datang dari keluarga bangsawan, tapi saya tidak mau menyebutkan dari mana asal saya," jawab Rivera terang-terangan.
"Oho.. anda sangat menarik,"
"Mengapa Nona muda ini menggunakan jubah?" tanya satunya tidak mengerti.
"Perajurit suruhan ayah saya sedang mencari-cari saya saat ini. Saya tidak mau ketahuan, jadi saya memakai jubah,"
"Nah, saya menang lagi! " tawa Rivera setelah menang untuk ke sekian kalinya.
Ketiga pria didepannya hanya bisa menepuk kening mereka karena lagi-lagi mereka di kalahkan oleh anak kecil.
"Nona, permainan anda sangat hebat. Bagaimana anda melakukan itu!! " takjub salah dua dengan ekspresi kebingungan.
"Karena saya pintar," jawab Rivera bangga.
Mereka semua terkekeh, menertawakan sikap menggemaskan Rivera. Sementara Dorothy, dia hanya bisa menghela napas lelah.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^