
Rivera yang sedang dihadapkan oleh cahaya terang yang mulai mendekatinya, hanya bisa berdiri tegap, menatap datar sembari mengarahkan lengannya kedepan.
Dia cukup percaya diri jika dia tidak akan terluka. Dengan tingkat kepercayaan tinggi itu, dia tersenyum sinis saat Holy Power mulai mendekatinya.
*BOMM.... suara ledakan terdengar sangat keras sehingga debu mulai berterbangan menutupi pandangan semua orang.
" !! " Rivera membuka matanya, mendapati jika disekeliling nya saat ini sedang terlapisi oleh shield besar nan kokoh. Seketika senyuman puas mulai menghiasi wajah Rivera tatkala eksperimen nya berhasil.
"Master, anda tidak apa-apa?!" panik Hector berlari, disusul oleh Ajax yang tidak kalah paniknya dari Hector. Mereka pergi menembus debu itu hanya untuk memastikan apakah Rivera baik-baik saja.
Seketika Rivera mengalihkan fokusnya pada Ajax dan Hector. "Saya baik-baik saja," jawab Rivera sedikit berteriak sembari menarik kembali Panop miliknya.
Mereka semua terlihat sangat khawatir. Sangkin khawatirnya, mereka sampai meneliti Rivera dari atas sampai ujung kaki. saat itu juga mereka mengelus dada mereka dengan perasaan lega.
"Seperti yang diharapkan dari master, master sangat kuat sehingga rasa khawatir kami menjadi sia-sia," ujar Ajax tersenyum kagum.
"Terima kasih sudah membantu saya mencoba kemampuan ini, Hector. Kemampuan anda semakin bertambah kuat, pertahankanlah," puji Rivera.
Dibalas Hector dengan sikap malu-malunya "Saya merasa tersanjung, Master,"
Yang lainnya hanya bisa menertawakan sikap Hector sehingga Hector memberi mereka tatapan kesal seolah berkata "Diamlah kalian semua!! " Namuan nyatanya semua orang masih tertawa, bahkan semakin kencang sampai membuat tempat itu ricuh.
Ditengah hiruk pikuk itu, Rivera malah terdiam, mengarahkan pandangan pada segala arah. Keningnya mengerut lantas tidak menemukan orang-orang yang sedang dia cari.
"Ajax, dimana kelima pelayan itu?" ujar Rivera sehingga mencuri fokus Ajax.
"Mereka sedang membersihkan rumah. Kami menyiksa mereka seperti apa yang Master suruh," jawab Ajax, tersenyum sinis melihat kearah perumahan dibelakangnya.
Menyiksa yang dimaksud oleh Ajax bukan merupakan penyiksaan seperti yang dibayangkan oleh banyak orang. Namun dalam artian berbeda. Rivera cukup puas pada kinerja Ajax dan Hector yang bisa menjalankan semua tugas mereka tanpa terkecuali.
"Baguslah..! Kalau begitu saya akan pamit. Lanjutkan latihan kalian..!!"
"Baik, Master..!!"
Rivera langsung memasuki dimensi ruang waktu untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun, disaat dirinya baru saja menginjakan kaki di lantai kamarnya, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Rivera langsung waspada.
"Jendela kamar ku terbuka..!! " ujar Rivera memicing kearah jendela yang terbuka. Disana juga terlihat sebuah noda tanah yang berasal dari telapak sepatu seseorang.
__ADS_1
"Tikus mana yang berani main-main dengan ku..!!" jengkel Rivera langsung merasakan mana disekelilingnya. Seperkian detik, dia mulai membuka mata dan langasung pergi dari dalam kamar.
Rivera berjalan cepat menuruni anak tangga dengan ekspresi serius dan dilanda oleh rasa marah. Tangannya mengepal erat sembari berjalan menuju ke dapur Balmoral Palace yang berada di lantai 1.
*BRUKKK... Rivera menendang pintu ruangan sehingga dia bisa melihat ada seorang pria yang sedang mencekik Johanna sehingga Johanna terangkat, meronta-ronta kesakitan.
Pria yang memiliki postur tubuh tinggi dan kekar itu menoleh kearah Rivera dengan ekspresi santai sembari tersenyum sinis. Saat itu barulah Rivera bisa melihat rupa dari pria itu, yang memiliki bekas luka di alis kirinya.
"Ohoo... ternyata bocah pembawa sial ini ada disini..!!" sinis pria itu melepas Johanna sehingga Johanna terjatuh kelantai dengan keras. saat itu pula, Johanna mulai kehilangan kesadarannya.
Rivera memicing pada pria itu, mencoba untuk mengamati pria itu dengan teliti.
*Ding
...[Nama : Ryco ]...
...[Ras : Manusia ]...
...[Usia : 37 Tahun ]...
...[Rank : A++ ]...
...[Ability : 400 ]...
...[Skill : Swords ]...
...[Vitality : 306 ]...
...[Mana : 498 ]...
"Mengapa kau melihatku..?! Apakah aku setampan itu sehingga bocah sialan seperti mu menjadi tertarik? Lihatlah sepuasnya karena nyawamu sebentar lagi akan menghilang..!!" sinis pria itu tertawa jahat, memandang Rivera dengab rendah.
"Siapa yang menyuruh anda..?" datar Rivera menatap lurus pada Ryco.
"...Hahahahaha... lihatlah bocah ini..!! Kau bertanya padaku, siapa yang menyuruhku datang kemari..?! Hammm... karena sebentar lagi nyawamu akan melayang, aku akan berbaik hati padamu," jawab pria itu tertawa terbahak-bahak sembari mengarahkan belati tajam kearah leher Rivera.
Rivera masih terdiam, tidak bergeming pada belati yang bahkan sudah menyayat kulitnya. Dia memberikan tatapan datar pada Ryco seolah menganggap remeh pria berbadan kekar itu.
__ADS_1
"Kau cukup pemberani..! Karena aku tersanjung pada sikap pemberani mu, bocah sialan, maka aku akan mengatakan siapa yang telah menyuruh ku..." ujarnya menarik lagi belati itu sembari berjalan kecil dan melihat-lihat seisi dapur.
Rivera mengikuti pergerakan pria itu dengan tatapan dingin. "Tunggu saja sampai kau mengatakannya," benaknya tersenyum kecil, masih menatap Ryco.
"Yang telah menyuruhku adalah sang Ratu, pujaan hatiku yang sangat aku sayangi..!! Pujaan hatiku tidak suka padamu..!! Aku tidak bisa membiarkan pujaan hatiku sakit hati, maka aku akan menghilangkan nyawamu dan membawa kepala mu pada pujaan hati ku..!!" sinis Ryco diakhiri oleh tertawaan kencang.
Rivera mengangkat satu alis, mulai mengeluarkan daggernya sambil berkata "Bukan kepala saya yang akan datang pada pujaan hati anda..!! Melainkan, kepala anda lah yang akan sampai kepada nya.!!" sinis Rivera dengan cepat bergerak menuju pria itu sembari mengayunkan dagger miliknya.
Ryco yang sedikit terlambat menyadari pergerakan Rivera pun dengan segera termundur kebelakang dengan mata membola sembari tersenyum lebar.
"Wahhh..!! Tikus kecil ini berani sekali menyerangku..!!" sinis Ryco tersenyum lebar, mengayunkan pedang besarnya kearah Rivera.
*Trankk... Rivera menangkis pedang Ryco dengan santai, sembari menatap malas kearah Ryco, Rivera berkata..
"Jangan berlaga menyerang saya hanya dengan kemampuan seperti ini..!!" ujar Rivera pelan namun tajam.
Dia semakin menambah kekuatan pedangnya sehingga Ryco mengalami tekanan yang sangat besar. Ryco termundur, tidak mampu menyaingi kekuatan Rivera yang luar biasa kuat.
"Me-mengapa seorang bocah seperti mu memiliki kekuatan besar ini..!! Kau seorang monster..!" lirih Ryco tersenyum masam dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya.
"Kuat apanya..!! Saya bahkan belum mengeluarkan kekuatan saya. Itu karena anda terlalu lemah untuk dibilang seorang asasin..!!" tajam Rivera mendorong Ryco mundur kebelakang.
Ryco termundur dengan paksa. Harga dirinya benar-benar terluka tatkala direndahkan oleh bocah 11 tahun yang memiliki tubuh pendek, seukuran pinggangnya. Giginya bergerigit menahan amarah karena Rivera terus saja mempermainkan sedari tadi.
"Siapa kau sebenarnya..! Kau benar-benar seorang monster..!! " tajam pria itu.
"Cih! Saya sangat kesal mendengar kata monster berulang-ulang kali dari mulut anda..!!" jengkel Rivera menendang Ryco sehingga Ryco tersungkur kebelakang dengan posisi keamanan pecah.
"Lihatlah dulu penampilan anda sebelum memanggil saya sebagai Monster!!" kesal Rivera mengayunkan daggernya pada leher Ryco.
" !! "
*Slashh...
leher Ryco terpisah dari badannya. Darah mulai mengotori tempat itu.
"Itulah akibatnya, dasar tikus sialan..!!" gumam Rivera memandang rendah kearah jasad Ryco.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^