BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
DIPERMALUKAN


__ADS_3

"Tanah Romant adalah hak milik Endirson, saya dengan sopan tidak akan menyerahkan tambang itu pada kekaisaran, " tegas Celevin membungkuk memberi hormat dan kemudian pergi begitu saja.


Duke Pelet dan Duke Ropill langsung melihat kearah Aelxander dengan tatapan meminta bantunan. Namun bukannya menolong, Aelxander malah memalingkan wajah seolah berkata "Urus sendiri,"


Mereka berdua langsung bertambah kesal. Sangking kesalnya, mereka seperti mau mati. Harga diri mereka benar-benar terluka dengan wajah memerah akibat menahan malu. Mereka pun pergi dari sana sambil memendam rasa kesal yang sudah memuncak di ujung kepala.


"Aku sudah menyiapkan panggung untuk kalian, bukannya memberikan adegan superior, kalian malah memberikan adegan komedi," benak Alexander tersenyum sinis dan kembali menatap kearah Rivera.


" !! " dia terkejut saat tidak melihat Rivera pada posisi itu. Dia pun langsung mengarahkan pandangan kesegala sisi, namun Rivera tak kunjung di temukan.


"Dimana anak itu..? " bingung Alexander.


...****************...


Di taman Party Hall..


Rivera dan Abel berjalan-jalan ditaman. Mereka saling terdiam dalam lamunan masing-masing. Tak henti-henti nya Rivera memikirkan perasaan bocah yang ada disampingnya. Dia terus menoleh pada Abel, takut jika Abel akan menangis.


"Tentu saja, dia kan masih bocah. Jika dia ingin menangis, maka dia harus menangis, " benak Rivera mengerutkan kening.


[Orang dewasa juga bisa menangis, Nona.]


Kiryu menyahut sehingga membuat Rivera terperanjat karena tiba-tiba saja berbicara.


"Kiryu, kau mengejutkan ku!! " kesal Rivera mengelus dada nya.


[Maaf, Nona.]


"Huftt...memang benar jika orang dewasa juga bisa menangis, tapi paling tidak jika ingin menangis pun harus ditahan kan?" lanjut Rivera.


[Nona..? Nona tidak pernah mempelajari tentang emosi sejak dulu ya?]


"T-tidak.. memangnya kenapa?" bingung Rivera

__ADS_1


[Emosi itu tidak boleh dipendam. Jika sering dipendam, maka akan berakibat fatal bagi mental seseorang. Jika ingin menangis setidaknya harus menangis untuk mengurangi beban itu]


Kiryu mencoba untuk menjelaskan. Sementara Rivera, dia hanya terdiam dengan ekspresi sedikit sedih. Dia menunduk, melihat pada kaki nya yang sedang melangkah beriringan dengan Abel.


"Benarkah... aku memang tidak pernah belajar tentang semua emosi itu.. jadi apakah itu salah? " jawab Rivera agak merasa sedih karena sepanjang hidupnya dia tidak pernah yang namanya hidup layak seperti seorang penduduk sipil biasa.


[Nona.. kiryu meminta maaf pada nona jika membuat Nona sedih... ]


"Tidak apa... aku sekarang mengerti apa yang sudah kau jelaskan. Kadangkala jika ingin menangis maka orang harus menangis, jika marah harus marah dan jika senang harus senang. Sekarang aku mengerti itu, Kiryu" ujar Rivera mulai mengerti apa yang tidak dia mengerti sejak dikehidupannya dulu.


Rivera terus terdiam. Meski dia merasa senang, namun di ekspresinya tergambar jika dia sedang merasa sedih. Hal itu pun segera disadari oleh Abel. Sontak saja Abel langsung melambaikan tangan persis di depan wajah Rivera sehingga lamunannya terpecah.


"Putri, anda baik-baik saja?" tanya Abel dengan ekspresi khawatir.


"Sa-saya baik-baik saja, kakak. Tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang saya,"


"Bagaimana dengan kakak, apakah kakak baik-baik saja?" tanya Rivera karena memang sedari tadi Abel hanya diam tanpa memberi sepatah kata pun.


"Saya baik-baik saja, putri. Saya hanya merasa sedikit sedih karena kejadian tadi. Namun untungnya Tuan putri bisa menenangkan saya. Terima kasih, Tuan putri," jawab Abel tersenyum kecil menatap pada Rivera.


Mereka berpisah di taman itu untuk pergi ketempat istirahat masing-masing. Hanya tinggal menunggu hari esok yang akan segera datang.


Entah apa yang akan terjadi, namun Rivera sangat yakin jika dia akan bisa menyelesaikan semua masalah yang akan datang. Tak peduli jika masalah itu kecil atau pun besar, yang terpenting sebuah keyakinan selalu ada padanya.


...~ pagi datang menyinari Obelion ~...


Semenjak kejadian di perjamuan kekaisaran, berita langsung menyebar hampir di seluruh penjuru Obelion. Bahkan berita itu telah sampai di kerajaan tetangga.


Surat kabar yang beredar adalah berita tentang kelicikan dan kerakusan Duke Pelet dan Duke Ropill, namun adakala surat kabar yang mendukung keduanya dengan alasan memajukan kekaisaran.


Saat ini pun, di istana Pelet, Duke Pelet sedang mengamuk dengan melampiaskan kekesalan nya pada barang dan para pelayan.


Dia sangat kesal sampai ingin membunuh Celevin karena telah berani mempermalukannya. Dia merobek-robek surat kabar itu lalu menghempaskan nya ke lantai dan menginjaknya berulang kali.

__ADS_1


"Berani sekali count sampah miskin itu mempermalukan diriku yang merupakan Duke Pelet sekaligus ayah dari Ratu Obelion saat ini..!!" kesal Duke Pelet dengan ekspresi menghitam.


"Buttler..." teriak nya memanggil sang Buttler.


Tidak lama Buttler segera datang dengan peluh dikeningnya. Dia merasa was-was karena takut sang Tuan melampiaskan amarah padanya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Duke," ujar sang Buttler.


"Panggil seorang wartawan kemari, aku ingin melakukan sesuatu yang akan merusak reputasi Count sampah itu..!! " titahnya tanpa terbantahkan.


"Baik, Tuan Duke," sang Buttler segera pergi untuk menjalankan perintah sang Tuan.


Kini tinggallah Duke Pelet yang sedang tersenyum sinis memikirkan sesuatu yang jahat, yang akan dia lakukan.


"Cih! Tunggu saja, aku akan menerima ganjaran dari perbuatan hina mu itu, Count.." monolognya tersenyum sinis.


Beralih pada Balmoral Palace, Rivera sedang duduk di kursi yang terletak di balkoni. Dia membaca sebuah suray kabar dengan secangkir teh sebagai pemanis dan sepiring cookie.


Disana juga ada Dorothy yang sedang menemani. Mereka berdua terlihat sangat menikmati sinar mentari dikala pagi itu.


"Putri, apa akan baik-baik saja bagi Tuan Count karena sudah memancing amarah Tuan Duke Pelet dan Duke Ropill? " khawatir Dorothy.


"Tidak apa-apa. Tuan Count itu sangat kuat, jadi tak masalah mau mereka bertindak seperti apapun mereka tidak akan bisa mengalahkan Tuan Count. Karena mereka itu lemah, jelek, pendek, buncit dan bodoh. Maka dia akan kalah, iyakan?" jawabnya tidak lupa menyelipkan kata hinaan pada perkataannya.


"P-putri... itu agak..." Dorothy melihat kekiri dan kekanan takut jika ada yang mendengarkan "Putri tidak boleh berkata seperti itu lagi..! Bagaimana jika ada yang mendengar.. " khawatir Dorothy.


"Baiklah-baiklah.."


Rivera melanjukan membaca surat kabar itu dengan senyuman sinis sekaligus senang karena ke-2 orang itu sudah dipermalukan lewat surat kabar yang sedang dia pegang.


"Tidak sia-sia aku membayar wartawan sebesar 1.000 Gold. Ternyata hasilnya mampu membuat setidaknya ke-2 orang itu malu selama bertahun-tahun.." kekeh Rivera di dalam hati.


Dia sangat senang saat membaca isi surat yang dipenuhi hinaan untuk kedua Duke itu. Sangkin senangnya dia akan melakukan Raid menara saat itu juga, namun dia tahu jika dia tidak akan sempat untuk melakukan Raid.

__ADS_1


^^^To be Continued ~ ^^^


__ADS_2