BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
SAINTESS YANG TERSESAT #1


__ADS_3

Rivera melihat mahkota itu sembari memutar-mutarnya. Di ekspresi nya tergambar jelas jika dia sedang merasakan sesuatu seperti energi yang tidak baik di dalam permata mahkota tersebut.


Rivera melempar mahkota itu sehingga permata pada mahkota itu pecah berkeping-keping. Dengan seketika keluar sebuah aura hitam yang mengepul dan melayang-layang.


"Benda apa ini," monolog Rivera heran dengan posisi berdiri.


Dia mendekati aura hitam itu dan kemudian menggapainya.....


" !!! "


Baru saja Rivera ingin mengulurkan tangannya, aura hitam itu langsung merasuki Rivera sehingga membuat Rivera terjatuh dan kemudian tidak sadarkan diri.




Rivera terbangun di sebuah lahan kering yang sedang di tutupi oleh banyak sekali energi jahat. Sontak saja dia langsung terbangun dan memfokuskan pikirannya.



"Mengapa tiba-tiba aku berada di sini!! " monolog Rivera kebingungan.



"Sistem aktif"



...........



Rivera berniat ingin membuka sistem namun sangat di sayangkan tidak ada jawaban sama sekali dari sistem saat ini.



Rivera yang merasa jengkel pun mencoba untuk mengaktifkan sistem kembali "Sistem aktif!! "



.........



Nihil. Tidak ada respon yang di berikan oleh sistem terhadap panggilan Rivera. Rivera yang merasa bingung dan tidak mengerti akar dari permasalahan itu pun memilih untuk menenangkan diri dan mengamati apa saja yang ada di sana.



"Tempat sepi lebih menakutkan dari pada tempat yang di penuhi monster!! " Gumamnya.



Dia berjalan beberapa langkah sambil memegang pedang blood dragon. Karena merasa di permainan Rivera pun mengaktifkan kemampuan pendeteksi keberadaan. Dia terus menganalisi keberadaan sesuatu dan berharap jika sesuatu itu adalah monster.



Namun setelah beberapa kali mendeteksi Rivera sama sekali tidak menemukan keberadaan dari satu pun kehidupan saat ini. Dia menjadi semakin cemas karena tidak menemukan satu monster pun disana.



"Apa-apaan ini!! Kenapa kau membawa ku kemari jika tidak ada monster satu pun!! Bajingan kecil, jangan mempermainkan ku!! " pekik Rivera kesal sambil menunjuk-nunjuk keatas langit.



Karena tidak bisa menemukan satu pun monster di sana, Rivera pun memutuskan untuk berjalan menelusuri tempat itu. Dia berharap jika dia bisa menemukan sesuatu seperti sebuah kastil agar dia bisa beristirahat disana selama menunggu portal untuk kembali.



Setelah menelusuri tempat tersebut, Rivera menyadari jika tempat itu sangatlah luas tanpa hamparan dari tumbuhan sama sekali. Hanya terdapat rumput yang sudah mengering karena aura jahat yang sudah lama menutupi tempat tersebut.



Selang beberapa waktu, akhirnya Rivera bisa menemukan sebuah kuil putih terbengkalai yang sedang ditutupi oleh aura jahat. Tanpa mau memakan waktu lebih lama, Rivera pun bergegas menuju kuil tersebut.



Dia menaikit anak tangga kuil itu sambil terus mengamati keadaan di sekitar kuil. Keadaan kuil itu sangat berantakan. Ada beberapa bagian dari pilar kuil yang sudah roboh dan lantai yang sudah retak.



Bagian-bagian dari alat doa pun berserakan kemana-kemana seperti baru saja sedang diacak-acak oleh seseorang.



"Kenapa ada aura jahat di sebuah kuil..?" monolog Rivera keheranan.



Setelah puas untuk mengamati, Rivera pun mengalihkan pandangan pada altar doa yang terletak lima langkah dari diri nya saat ini. Rivera pun mulai mendekati altar doa itu dan sotak saja, dia bisa merasakan sebuah aura jahat yang sangat kental.



Insting nya mengatakan jika aura jahat itu sangat tidak aman dan bisa merusak jiwa jika sembarangan menyentuhnya.



Aura jahat tersebut berasal dari cawan doa, yang terletak dibagian tengah-tengah meja persembahan. Cawan doa itu memancarkan sebuah aura jahat dan membagi emosi marah dan sedih kepada Rivera.


__ADS_1


Rivera terhentak, dia terdiam sejenak sembari merasakan rasa marah dan sedih itu bercampur menjadi satu. Dia pun dengan segera memegang dadanya karena merasa sesak dan sakit hati.



"Hati ku sangat sakit. Apa-apaan ini, mengapa aku merasa jika aku baru saja putus cinta," ujar Rivera sambil merasa sesak karena emosi yang seakan-akan telah ditumpuk selama beratus-ratus tahun lamanya.



Rivera terjatuh dengan posisi tangan yang terus memegangi dadanya. Dia mencoba untuk mengatur napas dan berharap dirinya akan tenang. Namun bukannya menjadi tenang, Rivera mengeluarkan air dari matanya. Dia menangis sesegukan tanpa alasan.



Dan secara bersamaan Rivera mulai kehilangan kesadaran.



~~~ Di Time line yang berbeda ~~~



Terlihat seorang wanita yang amat teramat cantik menggunakan dress bewarna putih sedang menikmati angin di padang rumput yang asri.



Rambut nya tergerai indah diterpa angin sehingga melayang-layang dengan elok. Wanita itu terus tersenyum sambil memikirkan sesuatu yang menyenangkan di dalam pikirannya.



"Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Suami dan putri kecil ku. Sudah 10 tahun lamanya kami tidak bertemu. Oh suami dan putri tercinta ku, tolong tunggulah aku yang sebentar lagi datang kepada kalian" ujar sang wanita cantik itu dengan pipi merona.



Sudah 10 tahun lamanya sang wanita cantik itu tidak bertemu dengan sang suami dan putrinya yang tercinta. Hal itu terpaksa dia lakukan karena sang wanita itu merupakan seorang Saintess. Dia harus melakukan upacara pengasingan selama 10 tahun di tempat terpencil karena aturan yang sudah di tetapkan oleh kepala uskup terdahulu.



Selama 10 tahun itu pun, sang wanita selalu mengirim surat kepada sang suami. Meski sama sekali tidak mendapat kan balasan satu pun, sang wanita itu masih berfikiran positif dan menunggu waktu 10 tahun berlalu.



Karena kesabarannya yang besar, waktu 10 tahun itu pun berlalu. Sang wanita cantik itu akan kembali melakukan perjalanan pulang menuju ke istana kecilnya.



"Sainstess, sudah waktunya kita melakukan perjalanan anda," ujar prajurit suci yang tiba-tiba saja datang sambil membawa satu buah koper.



Sang wanita cantik itu pun tersenyum girang lalu berkata "Baiklah,"




Seolah-olah tidak memperdulikan diri sendiri, sang wanita terus berdoa tanpa makan dan minum sedikit pun. Hal itu menimbulkan kekhawatiran dari prajurit suci. prajurit suci takut jika sang Saintess yang amat berharga ini akan jatuh sakit jika tidak makan dan minum sedikit pun.



Selang waktu berlalu, akhirnya mereka sampai di kediaman Saintess. Karena merasa tidak sabar, Saintess pun langsung melompat dan berlari masuk menuju halaman kediamannya.



"Tunggu saya, Saintess" Pekik sang prajurit suci.



Saintess terus berlari tanpa memperdulikan perkataan dari sang prajurit suci. Di pikirannya saat ini hanyalah sang Suami dan putri kecilnya. Dia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan sang suami dan putrinya itu.



Tak jauh di sana, terlihat seorang gadis yang berusia sekitar 13 tahun sedang bermain dan memetik bunga di depan kediaman. Dalam sekali lihat saja, Saintess bisa mengetahui jika itu adalah sang putri tercinta yang sudah 10 tahun tidak dia jumpai.



Dengan perasaan berbunga-bunga, Saintess segera datang dan memeluk sang putri.



"Putriku, ibu sangat rindu padamu, nak" ujar Saintess menangis terharu.



"Siapa bibik ini? Mengapa anda memeluk saya...?"



" !!! "



Saintess terhentak. Dia melepas pelukannya sambil melihat sedih kearah sang putri.



"Ini ibu mu, nak. Ibu datang untuk menemui mu," jawab Saintess penuh harapan jika sang putri akan mengingatnya.



"Apa yang anda katakan!! Ibu saya adalah ibu Lucy, dan bukan anda!! "

__ADS_1



" !! "



Saintess kembali terhentak. Dia tidak memahami perkataan dari sang putri sama sekali.



"Lucy adalah bibik mu, nak. Aku adalah ibu mu, dan bukan dia!! " tegas Saintess.



"Dasar orang aneh!! Ibu ku adalah ibu Lucy, dan bukan anda!! Pergi dari sini, wanita aneh!! " pekik sang putri lalu mendorong Saintess sehingga Saintess terhuyung kebelakang.



Putrinya pun segera berlari dan masuk kembali ke dalam kediaman. Sementara Saintess, dia mematung sambil memikirkan sesuatu yang baru saja terjadi padanya.



"Tidak... pasti terjadi sesuatu yang tidak beres," gumam Saintess kembali melihat kearah sang putri yang sudah menjauh.



Dia pun dengan segera berlari untuk menyusul sang putri ke dalam kediaman.



Tidak lama waktu berlalu, Saintess pun berada di dalam kediaman itu sambil berjalan-jalan mencari keberadaan sang putri dan suaminya.



Namun, pada saat sedang berjalan masuk kesebuah ruangan, Saintess secara samar-samar bisa mendengar suara isak tangis dari sang putri. Dengan bersemangat pula Saintess pun pergi untuk menghampiri sang putrinya itu.



"Ada apa nak? Mengapa putri ibu menangis?"



\*DEG



Kaki Saintess tertahan di depan pintu setelah mendengar suara pamiliar buatnya. Suara itu berasal dari Lucy, sang adik kandung satu-satu nya yang dia punya. Saintess pun merasa bingung dengan pikiran yang berkecamuk.



"Tidak ibu. Aku hanya sedang merasa sedih saja. Aku hanya takut kehilangan ibu," kata sang putri sambil menahan isak tangisnya.



Saintess pun kembali terkejut. Dia begitu marah saat mendengar sang putri memanggil Lucy dengan embel embel 'ibu'. Karena tidak terima, Saintess pun memutuskan masuk untuk melabrak sang adik.



Namun, sebuah suara kembali mengejutkan Saintess sehingga semakin membuat hati Saintess hancur sehancur-hancurnya.



"Mengapa putri ayah ini menangis seperti ini? Berhentilah menyusahkan istri ayah, mengerti!!"



"Dia adalah ibu ku!! "



"Jangan bertengkar, tenanglah,"



\*Deg deg deg...



Jantung Saintess berdetak dengan cepat. Tatapannya kosong dengan tangan gemetaran. Di otak nya saat ini hanya terlewat kata-kata 'mengapa?' . Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata setelah mengetahui jika selama sepuluh tahun ini, sang suami dan adiknya telah membangun hubungan suami istri.



Hati nya benar-benar hancur. Dia tidak tahu harus memberikan respon apa terhadap penghianatan tersebut. Secara tidak sadar, kakinya pun membawanya pergi menjauh dari ruangan itu. Dia berjalan keluar kediaman dengan pandangan kosong.



Sang prajurit suci yang melihat keadaan dari sang Saintess pun sontak saja langsung bertanya apakah sang Saintess baik-baik saja. Namun Saintess tidak menjawab pertanyaan tersebut dan malah berkata...



"Bawa saya menuju kuil..." ujar Saintess tanpa semangat hidup.



"B-baik, Saintess,"



^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2