
Mereka masuk kedalam ruang makan, disusul oleh 7 pelayan yang sedang menyeret troli yang berisikan beberapa hidangan.
Alexander meletakan tubuh Rivera diatas kursi dan tidak lama dia pun mulai duduk persis disamping Rivera. Rivera hanya pasrah, menerima setiap perlakuan menjekelkan Alexander.
Para pelayan secara langsung menyusun setiap hidangan diatas meja. Sementara Rivera hanya menatap lurus tanpa memperdulikan.
Selang beberapa waktu, akhirnya para pelayan telah selesai menyajikan semua hidangan diatas meja. Mereka pergi dari ruangan, menyisakan 2 orang yang saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
Ruangan cukup terasa sepi. Rivera terdiam menatap pada sup hangat. "Aku tidak nafsu makan," benak Rivera.
Alexander memperhatikan, dia lirik piring sang putri yang masih kosong melompong, tidak lama iris mata itu kembali ter-arah pada sang putri, sembari menghela napas dalam-dalam dia mulai mengambil sandwich timun dan meletakannya pada piring Rivera.
"Ini sangat cocok untuk pertumbuhan," celetuk Alexander memecah lamunan Rivera.
Rivera mengerutkan keningnya. Sebuah rasa tersinggung tiba-tiba terasa. "Saya tahu jika saya pendek..! " jengkel Rivera mengambil sandwinch itu lalu memakannya.
Sudut bibir Alexander tertarik keatas, melihat sang putri yang sedang mengunyah makanan dengan kesal. Dia menopang dagunya, menatap Rivera, tanpa makan satu pun hidangan yang ada disana.
Rivera terus mengucah dan menghabiskan sandwinch diatas piring. Tak terasa, perutnya mulai kenyang dan hatinya pun tiba-tiba mulai menghangat. Moodnya membaik sampai tak sadar jika dia sedang tersenyum dengan riang.
Rivera menoleh kearah Alexander. "Baginda, mengapa anda tidak makan-makanannya?" bingungnya memiringkan kepala.
Alexander tersenyum kecil, dia menatap pada makanan yang tersisa cukup banyak. "Melihat mu, aku sudah kenyang," jawabnya.
Rivera menghela napas dalam-dalam. Rasa jengkel semakin bertambah. Dia lihat Alexander kembali sembari membuat ekspresi serius.
"Saya ingin berbicara serius pada anda, baginda," ujar Rivera menatap datar kearah Alexander.
Seketika Alexander mengangkat satu alisnya dan berhenti menopang dagu. Dia melihat Rivera dengan mata sayu itu sembari berkata "Apa kau tidak bisa memanggil ku Ayah saja? Apakah sangat sulit..?"
__ADS_1
"Y-ya..?" Rivera kebingungan, dia juga baru sadar jika Alexander pernah menintanya untuk memanggil Alexander dengan sebutan 'Ayah'.
"Huft..!! Sudahlah. Jika kau ingin berbicara maka bicarakan," lanjut Alexander mengurut pelan keningnya.
"A-apa-apaan pria ini..!! Apa kau ingin sekali aku panggil 'Ayah'?! " benak Rivera jengkel. Namun dia mencoba untuk menahannnya lalu tak lama dia mulai berkata
"Saya akan kembali ke Balmoral Palace. Hari ini, saya akan langsung pergi," jawab Rivera seketika mencuri fokus Alexander.
"Apa yang kau katakan?! Apakah aku mengijinkannya!" tajam Alexander, jelas tidak setuju.
"Ini demi kebaikan kita bersama, baginda. Keluarga kaisar saat ini banyak memberikan protes karena saya tinggal disini tanpa persetujuan mereka. Banyak sekali surat kabar yang beredar tentang informasi yang tidak-tidak antara saya dan pewaris tahta," terang Rivera.
" !! "
"Mengapa kau memperdulikan masalah itu... " kata-kata Alexander terhenti tatkala melihat sang putri memandangnya dengan tatapan marah.
"Jelas-jelas yang dirugikan disini adalah saya! Saya mempunyai status seorang putri cadangan. Masa depan seorang putri cadangan tidak pernah berakhir bahagia, baginda..!"
Alexander terhentak, dia terdiam menatap Rivera yang sedang menunduk dengan sedih. Seketika dia merasakan sebuah perasaan aneh dihatinya.
"Bagaimana aku tidak memikirkan sampai sejauh itu! Dia memang benar. Akan banyak ancaman yang akan datang padanya jika aku terlalu banyak memberikan perhatian. Anak ini harus aku kembalikan pada tempatnya.." benar Alexander dengan raut rasa bersalah.
Pandangannya kembali ter-arah pada Rivera. Lalu tak lama dia mulai bangkit dari posisi duduknya sembari berkata "Pergilah kapanpun kau mau. Semakin lama, maka akan semakin bagus," ketus Alexander lalu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
Rivera menatap tajam kearah Alexander yang semakin menjauh darinya. "Cih, kenapa pria itu. Aneh sekali..!!" cicit Rivera lalu pergi dari sana dengan perasaan jengkel.
...****************...
Dorothy mengemasi semua barang-barang Rivera dan memberikan beberapa koper pada pelayan laki-laki untuk diangkat dan dipindahkan ke Balmoral.
__ADS_1
Sementar Rivera, dia sedang duduk di sofa balkon sembari membaca buku tentang administrasi. Wajah fokusnya mengundang perhatian dari beberapa pelayan yang sedang ikut membantu Dorothy untuk mengemasi barang-barang.
Mereka berbisik dan sesekali melirik kearah balkon.
"Hey, apakah putri ke-4 sudah diusir oleh yang mulia kaisar?" bisik pelayan wanita berambut pirang pendek pada temannya yang memiliki rambut panjang bewarna coklat.
"Tapi bukannya putri ke-4 disayangi oleh yang mulia kaisar?" jawab pelayan berambut panjang.
"Sayang apanya! Jika yang mulia kaisar sayang pada putri ke-4, tidak mungkin putri ke-4 diusir dari sini. Lihat lah, wajah putri ke-4 terlihat sedih," jawab lagi pelayan berambut pendek, melirik Rivera sinis.
"Kurasa kau benar.."
Mereka terus berbisik, melupakan tugas yang harus mereka kerjakan. dorothy yang sedari tadi mendengarkan langsung mendatangi mereka berdua.
"Mengapa pelayan seperti kalian berani membicarakan keluarga kekaisaran? Apakah kalian ingin dihukum mati?" ujar Dorothy dengan nada rendah, berusaha agar Rivera tidak mendengarnya.
Mereka berdua langsung menoleh kearah Dorothy dengan ekspresi panik. Mereka salah tingkah dan kemudian mulai pergi kearah yang berbeda-beda.
Dorothy menghela napas lelah, berusaha bersabar sembari melirik kearah Rivera yang sedang membaca buku di balkon.
"Tahu apa mereka tentang Tuan putri ku...!! Mereka hanya pandai berkomentar tanpa tahu fakta yang sebenarnya," gumam Dorothy dan kemudian mulai sibuk pada pekerjaannya yang tertunda.
Sementara itu, Rivera masih fokus membaca buku dengan sampul yang terlihat seperti sebuah buku administrasi. Namun nyatanya, buku itu bukanlah buku administrasi, namun berkas yang dikirim oleh Ambher dan juga kesatria Holy Sword tentang informasi penting.
Didalam buku itu terdapat berbagai catatan tentang informasi mengenai Animos yang sedang melakukan pergerakan di sebelah selatan kota. Animos memasang sebuah lingkaran sihir yang sangat besar sehingga mampu mencakup 1 kekaisaran.
Jelas terbukti jika Animos hanya membodoh-bodohi Estira. Animos jelas memiliki niat jahat dari ritual yang dia lakukan.
"Ritual yang akan dilakukan Animos adalah penumbalan nyawa jutaan manusia. Apakah mungkin Animos ingin melakukan pemberontakan..?! Apakah dia sadar kalau sebentar lagi dia akan mati karena sudah tua...!!" benak Rivera jengkel, berpikir cukup keras.
__ADS_1
"Apa tujuannya mengumpulkan roh-roh manusia yang akan dia bunuh? Apakah dia akan memanggil iblis sekelas king? Benar juga... dia kan adalah manusia setengah iblis..." benak Rivera mulai menerka-nerka tujuan yang sebenarnya dari rencana jahat Animos.
^^^To be Continued~^^^