
Dengan segera dirinya menutup Shop Sistem lalu mulai duduk di sofa. Sembari duduk di sofa, Rivera mencoba untuk memeriksa kemampuan miliknya, karena Rivera sudah lama tidak memeriksa kemampuan nya itu.
*Ding
...[Nama : Rivera Beatrice ]...
...[Ras : Manusia ]...
...[Usia : 11 Tahun ]...
...[Rank : S+++ ]...
...[Strength : 700 ]...
...[Ability : 900 ]...
...[Skill : Poison Blood , The shadow, Mercenary, Sword Aura, Saintess, Spy item's, Teleportasi & Elemental skills ]...
...[Vitality : 1000 ]...
...[Mana : 1500 ]...
" !! " seketika Rivera langsung terkejut melihat kemampuannya sendiri. Dia mengucek-ucek matanya, takut jika dia sedang salah melihat. Namun nyatanya, kemampuannya memang memiliki peningkatan yang sangat pesat dari kemarin.
"Waww... apakah ini memang kemampuan ku?! Mengapa peningkatan nya bisa secepat ini..? " heran Rivera dicampuri oleh rasa puas.
Dengan rasa puas itu, Rivera bangun dari posisi duduk lalu mulai mengeluarkan kemampuan Saintess miliknya. Cahaya emas mulai membalut tangan kanan Rivera, disertai oleh aroma manis yang menyegarkan.
Diapun tersenyum lantas mendapatkan peningkatan seperti ini. Tidak lama pula, Rivera mengeluarkan daggernya lalu dengan dingin dia mulai menyayat tangannya sehingga mengalami luka goresan yang cukup dalam.
Darahnya menetes kelantai sehingga seharusnya itu menjadi sebuah luka yang fatal. Namun Rivera malah melihat luka itu dengan senyuman sinis, mata sayunya mengarah pada luka itu sembari berkata..
"Memang sudah bertambah kuat. Aku tidak bisa merasakan luka kecil ini," monolognya, menyimpan kembali daggernya dan kemudian menggunakan kemampuan Saintess atau bisa disebut juga dengan Holy power.
Seketika luka itu menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Tentu saja itu membuat Rivera semakin berpuas diri. Dirinya melompat kesenangan, perasaan yang berbunga-bunga dan juga suasana hati yang sangat bagus.
"Yahh... sudah cukup berpuas dirinya. Aku ingin membeli kemampuan lagi. Aku harus bertambah kuat lagi, lagi dan lagi..!! " monolog Rivera menekan dirinya sendiri.
*Ding
__ADS_1
Shop Sistem kembali terbuka sehingga Rivera bisa melihat sebuah kemampuan yang lagi-laginya telah menarik perhatiannya.
Kemampuan itu bernama Panop, kemampuan yang bisa membuat pengguna memakai Shield untuk melindungi diri. Panop memiliki tipe unique dan Rank S, sehingga semakin membuat Rivera tertarik untuk membelinya.
"Sangat beruntung bisa menemukan kemampuan ini," monolognya tersenyum kecil sembari membeli kemampuan Panop yang memiliki harga 1 miliar Gold.
*Ding
...[Sedang mencocokan ]...
Rivera terdiam, sedang menunggu rasa sakit yang akan timbul dari penococokan kemampuan. Namun, seperkian menit pun, Rivera tidak bisa merasakan rasa sakit itu.
Justru itu sangat aneh baginya. Dia kembali mengecek Shop Sistem itu takut jika pembelian nya telah gagal. Namun nyatanya bahwa kemampuan itu sudah berhasil terbeli tanpa ada kesalahan sedikit pun.
"Mengapa tidak ada reaksi apapun?" bingung Rivera memeriksa kembali. "Tidak ada kesalahan.." lanjutnya masih merasa kebingungan.
*Ding
...[Berhasil mencocokan ]...
Tiba-tiba Rivera mendapatkan notif dari sistem yang telah membuat kebingungan nya semakin bertambah. Rivera kembali memerikasa Shop sistem, karena lagi-lagi dirinya merasa curiga.
Masih tidak ada perubahan. Kemampuan Panop telah dicocokan dengan Rivera. Rivera yang tidak tahu apa-apa itu lantas langsung memeriksa perubahan apa saja yang terjadi padanya.
Rivera mengalihkan fokus pada setiap inci tubuhnya. Dia memeriksa lengah kirinya, namun tidak menemukan apapun. Akan tetapi pada saat dirinya meneliti tangan kanannya, dia bisa menemuka sebuah tato berbentuk tameng kecil, sehingga Rivera beranggapan jika tato tameng kecil itu adalah wujud dari kemampuan Panop.
"Bagaimana caranya menggunakan kemampuan ini?" bingung Rivera, mengibaskan tangannya kekiri, kekanan, kebawah dan keatas.
"Kenapa masih tidak bereaksi?!" ujar Rivera mulai jengkel. Karena tidak kunjung mendapatkan respon Panop, Rivera memutuskan untuk bereksperimen.
Rivera mulai memasuki dimensi ruang waktu dan menghampiri para kesatrianya yang masih berlatih dengan keras.
"Kalian, tolong perhatiannya," panggil Rivera sedikit berteriak dan berlari kecil.
Sontak mereka langsung menghentikan latihan mereka tatkala melihat sang Master yang sudah lama mereka tunggu pun akhirnya datang menemui mereka. Termasuk juga Ajax dan Hector, mereka menghampiri Rivera dengan menyeret pedang-pedang besar itu.
"Hormat kami master..!!" hormat mereka dengan suara bergema.
"Langsung saja, saya ingin meminta Hector menyerang saya dengan kemampuan penuh. Cepatlah," suruh Rivera bersemangat sehingga membuat semua kesatrianya menjadi panik dan menurunkan pandangan mereka.
__ADS_1
Tentunya itu membuat Rivera juga turut kebingungan. Dia tidak mengerti mengapa semuanya langsung diam saat dirinya meminta bantuan Hector.
"Ada apa?! " tanya Rivera sedikit jengkel.
"M-master..? Apa anda ingin melatih kami lagi?" tanya Ajax sedikit ragu-ragu, sedikit menurunkan pandangan.
Rivera memiringkan kepalanya, tidak mengerti maksud dari Ajax. "Maksudnya? Kalian ingin saya latih?"
" !! " semuanya langsung membola, menggeleng-gelengkan kepala sembari menurunkan pandangan.
"T-tidak, Master. Anda pasti sangat sibuk, kami tidak ingin merepotkan Master," balas Ajax tersenyum canggung dengan gurat wajah sedikit panik.
"Jika saja master mengajar kami semua, kami akan habis," benak Ajax mengingat masa lalu saat Rivera mengajar mereka habis-habisan seperti seorang tiran yang sangat kejam.
"Huft.. kalian ini kenapa? Baiklah, saya tidak punya waktu banyak. Untuk Hector, tolong serang saya dengan kemampuan penuh. Jangan menahan diri anda, karena saya juga tidak akan menahan diri," ujar Rivera tersenyum sinis, meminta Hector maju kedepan dengan lambaian tangannya.
Seketika Hector langsung menelan ludahnya, sembari maju membawa pedang besarnya kehadapan Rivera.
"Ma-master, tolong sedikit lebih lembutlah pada saya," ujar pria tampan berbadan kekar itu sedikit mengiba.
Sementara Ajax hanya bisa menertawakan nasib malang Hector dari samping. Tentu saja Hector menyadari itu, dia mempelototi Ajax seolah berkata "Awas saja kau..!!"
"Baiklah, Hector. Cepat serang saya dengan Holy Power. Gunakan kekuatan penuh dan arahkan pada saya," titah Rivera.
"B-baik, Master," jawab Hector patuh mulai membuat ancang-ancang penyerangan.
Hector mulai fokus pada satu titik dan mengarahkan kedua telapak tangannya kearah Rivera. Tidak lama kemudian munculah sebuah cahaya terang yang mengalir deras dari telapakan tangan Hector.
Hector menggunakan Holy power tipe penyerang sehingga cahaya itu bisa saja membuat apapun hancur lebur tidak tersisa. Namun berbeda dengan Rivera, dia justru dengan tenang menghadapi Holy Power milik Hector sembari tersenyum kecil.
"Baguslah, Hector. Kali ini adalah giliran saya untuk unjuk kemampuan..!! " ujar Rivera mengarahkan lengan kanannya kedepan, mencoba untuk menerima serangan Hector.
" !! " semua orang langsung tegang melihat pertarungan itu. Mereka sungguh berharap lebih pada tindakan yang akan dilakukan oleh Rivera.
*BOMM... suara ledakan terdengar begitu keras menghantam Rivera sehingga tubuh Rivera tidak terlihat, ditutupi oleh asap debut yang berterbangan.
Semuanya langsung panik dan secara sadar mereka berlari untuk melihat keadaan Rivera.
"Master, anda tidak apa-apa?!" panik Hector berlari, disusul oleh Ajax yang tidak kalah paniknya dari Hector.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^