
Rivera menipiskan matanya, melihat pada seorang pria yang lumayan pamiliar untuknya. Pria itu memiliki rambut panjang bewarna biru, dia memiliki paras rupawan dan juga dengan pakaian khas dari kuil suci.
Rivera tersadar, dia akhirnya mengingat siapa orang tersebut.
"Dia adalah Kahil Macario, pria menyebalkan yang menabrak ku saat ada di taman kekaisaran! Mau apa dia kesini?" ujar Rivera akhirnya mengingat pria tersebut.
Mereka berhenti disebuah gua, dan mulai duduk di depan gua tersebut. Kondisi mereka benar-benar sekarat. Mereka kehilangan banyak darah.
Kahil, yang merupakan seorang pengguna Holy Power pun langsung menggunakan kemampuannya. Namun sayangnya, Kahil, juga kehabisan banyak mana.
Rivera yang melihat itu pun sontak merasa tertarik, pada drama yang akan terjadi selepas ini.
"Apa yang mereka lakukan disini. Dan dimana ini, mengapa aku ditarik kemari..!" monolog Rivera berdecak sebal.
*Ding
[Nona..... apa kau baik-baik saja?! Mengapa tiba-tiba ada disini?!]
Kiryu begitu khawatir, dia berbicara dengan nada mendesak.
"Aku juga tidak tahu, mungkin ada kesalahan sistem," jawab Rivera datar.
[Maafkan Kiryu, Nona. Kiryu akan berusaha memperbaiki kesalahan ini. Tunggu Kiryu sebentar lagi!! ]
*Ding
Sistem dinonaktifkan. Rivera hanya bisa menghela napas dalam-dalam, menghadapi tingkah Kiryu. Namun seperkian detik kemudian, tiba-tiba, Rivera, merasakan sebuah tanda keberadaan sekumpulan monster yang ada disekitar tempat itu.
Matanya langsung melirik tajam kesekitar seraya berkata "Hawa ini sama yang pernah aku rasakan saat ada di lantai menara..! Tapi mengapa di tempat seperti ini dipenuhi oleh monster!" tajam Rivera.
Dia mulai menatap kearah 10 orang itu, yang sedang duduk, merasa aman pada tempat yang sebenarnya adalah sebuah neraka.
"Bodoh sekali! Bagaimana mereka tidak bisa merasakan hawa dari monster-monster yang sangat banyak itu!!" jengkel Rivera mulai mengotak-atik Shop Sistem.
"Kira-kira ada 1000 ogre, ratusan goblin, monstser ular yang pernah aku lawan sebelumnya, dan bahkan ada 500 srigala bergigi besi!! Mereka sudah dalam keadaan sekarat, jika dibiarkan mereka akan mati.." benak Rivera.
__ADS_1
Dia mengotak-atik Shop Sistem untuk mencari sesuatu. Dan pada akhirnya, dia menemukan apa yang sedang dia cari.
Rivera membeli satu topeng putih dan kemudian langsung memakai topeng tersebut. Tanpa mau menunggu waktu lama lagi, Rivera langsung melompat kebawah dan kemudian berjalan menuju mereka.
Tap.. tap... tap...
Suara kaki Rivera mengejutkan mereka. Mereka pun langsung menoleh kearah Rivera dengan sikap waspada mereka. Mereka mengangkat senjata mereka, bersiap untuk bertarung kapan saja meski dalam keadaan keritis.
Tentu saja mereka sangat waspada pada kehadiran Rivera yang bisa dibilang sangat tiba-tiba. Mereka bahkan tidak bisa merasakan hawa keberadaan orang lain selain diri mereka sendiri.
"Saya datang kemari bukan dengan maksut buruk. Saya hanya ingin mengatakan jika kalian sedang di kepung oleh ribuan monster. Mereka sedang menuju kemari," jelas Rivera dengan suara yang agak diberatkan.
Mereka semua langsung saling menoleh, masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh Rivera.
"Mana buktinya jika kau benar-benar tidak memiliki niat jahat..?!" desak Kahil masih mengacungkan tombak nya kearah Rivera.
Rivera tersenyum sinis, menertawakan sikap waspada milik Kahil. Itu patut di apresiasi.
"Jika tidak percaya, itu urusan kalian. Intinya, siapapun yang percaya kepada saya, maka ikuti saya masuk ke dalam gua..!! " datar Rivera, berjalan masuk ke dalam gua, meninggalkan orang-orang yang masih terdiam dalam lamunan mereka.
"Orang itu terlihat mencurigakan..!! Kita tidak tahu siapa dirinya..!" kata seorang pria, yang memakai seragam penyihir lengkap disertai oleh tongkat penyihirnya.
Kahil merenung, sama halnya dengan yang lain. Otak mereka mengatakan jika tidak boleh mengikuti Rivera untuk masuk ke dalam gua. Namun lain halnya dengan hati mereka.
Hati mereka tidak merasakan bahaya sama sekali. Bahkan, mereka yang merupakan seorang petarung yang sudah berbelas-belas tahun bertarung melawan monster saja, mereka masih tidak bisa merasakan hawa membunuh atau niat jahat dari Rivera.
"Aku akan ikut masuk bersama orang itu. Aku rasa dia memang tidak memiliki niat buruk," ujar Kahil, dengan cepat segera menyusul Rivera masuk ke dalam gua.
"Aku juga merasa demikian..!"
"Benar! Aku akan masuk ke dalam..!! "
Satu-persatu dari mereka pun akhirnya memasuki gua tersebut. Tertinggal sang mage tadi. Dia masih dengan pendiriannya yang tidak ingin mengikuti, Rivera, memasuki gue.
"Naif sekali..!! Bagaimana bisa mereka mempercayai orang baru itu..!! " jengkel sang mage, menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Sialan..!! Jika saja tidak ada kejadian 5 tahun lalu, para mage tidak akan pernah dianggap sebagai rendahan! Mereka dari tadi tidak mau mendengarkan kata-kata ku..!! " lanjutnya semakin merasa jengkel saat mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Kembali pada, Rivera, dan kesembilan orang yang menyusul dirinya.
Mereka berjalan, mencoba untuk mencari keberadaan Rivera. Dan pada akhirnya, mereka sampai disebuah ruangan yang lumayan luas.
Mereka mulai mengarahkan pandangan ke arah kanan, sehingga mereka bisa melihat jika Rivera sedang duduk disebuah batu, sembari mengelap dagger miliknya.
"Kalian sudah datang... " ujar Rivera, menatap mereka satu-persatu.
"Dimana satunya?" lanjutnya.
Mereka saling bertatapan dengan suasana yang canggung.
"Dia tidak ikut. Biarkan saja dia..!" jawab Kahil nampak sudah lelah pada sikap sang mage tersebut.
Rivera tersenyum sinis, turun dari batu itu dan kemudian mulai berjalan menuju kesembilan orang tersebut. Dia memainkan Dagger yang ada ditangganya, sembari melihat orang-orang itu dengan detail.
"Baiklah..! Kalian istirahat saja di belakang sana. Serahkan semuanya pada saya," ujar, Rivera, menunjuk kearah belakang lalu mulai maju kedepan.
Meski kesembilan orang itu terlihat keheranan, namun mereka dengan patuh mengikuti perkataan, Rivera. Mereka duduk di belakang dengan tubuh yang semakin melemah.
Sementara, Rivera, dia dengan fokus mulai berdiri, mencoba untuk memusatkan mana nya agar bisa membentuk sebuah Shield. Itulah yang dinamakan kemampuan Panop.
Dalam hitungan detik, Shield mulai terbentuk, membentuk lingkaran. Shield yang kokoh itu membuat dinding gua bergetar, karena kekokohan Shield yang tidak bisa di tembus oleh apapun.
Sontak hal itu membuat kesembilang orang itu terkejut. Mereka membola tatkala melihat sebuah Shield yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Siapa orang ini sebenarnya..?! Aku tidak pernah melihat Shield dengan kualitas ini sebelumnya..!! " benak Kahil termenung melihat kemegahan Shield tersebut.
Rivera mulai berjalan kembali mendekat kearah mereka. Dengan melipat kedua tangannya, Rivera, berkata "Mau apa kalian datang kemari?! Seharusnya para petarung seperti kalian bisa merasakan kehadiran monster yang sangat banyak itu, bukan?!" datar Rivera.
"Kami hanya melakukan raid monster karena ini memang sebuah pekerjaan yang sudah kami lakukan berbelas-belasan tahun. Tapi.. kali ini kami benar-benar sial..!" sahut, Kahil, menyayangkan apa yang menimpa mereka.
^^^To be Continued~^^^
__ADS_1