
Rivera berjalan menelusuri ruangan yang sangat besar itu. Meski sempat merasa kebingungan karena tidak terlalu pamiliar pada arah ruangan istana, akhirnya Rivera berhasil menemukan ruang makan lalu mulai masuk ke dalamnya.
Setelah dia memasuki ruangan itu, dia langsung di sambut oleh meja makan yang sudah di penuhi oleh berbagai hidangan ringan yang cocok dimakan dikala pagi itu. Disana juga ada Dorothy yang hendak ingin pergi setelah meletakan semua makanan itu ke-atas meja.
"Putri, anda sudah sampai," senang Dorothy sambil tersenyum lalu mulai menarik kursi untuk di duduki oleh Rivera.
Rivera membalas tersenyum dan kemudian duduk dibangku itu. Dia melihat kearah makanan diatas meja dengan tatapan sedikit kagum.
"Wah.. Nanny. Banyak sekali makanan nya..." kagum Rivera merasa tak sabar untuk memakan makanan yang ada di depannya.
Dorothy tersenyum riang. Dia membantu Rivera untuk mengambil beberapa menu yang sulit untuk digapai Rivera dengan tangan pendeknya. Sambil meletakan satu brokoli di piring Rivera, Dorothy pun berkata..
"Putri, setelah melakukan sarapan kita akan pergi untuk menyapa yang yang mulia Kaisar,dan mulia ratu . Beberapa putri dan pangeran harus bergumpul di Aula teaching. Apakah putri merasa keberatan?" tanya Dorothy dengan ekspresi menunggu jawaban.
Rivera menoleh, dia terlihat keheranan sambil berkata "Aula teaching itu untuk apa?" tanya Rivera.
Dorothy sedikit terhentak karena dia baru saja menyadari jika Rivera sedang kehilangan ingatannya. Dengan canggung Dorothy pun berkata "Putri, aula teaching itu digunakan untuk persiapan acara kekaisaran antara para keturunan kaisar yang belum memiliki pembimbing pribadi," terang Dorothy.
"....Siapa saja yang sudah mendapatkan pembimbing pribadi?" tanya Rivera lagi.
"Sejauh ini hanya pangeran mahkota dan putri mahkota saja yang sudah mendapatakan pembimbing pribadi, Putri." jawab Dorothy.
Rivera mengangguk, dia berpikir sejenak lalu mulai menyuap makanan nya kembali.
"Bagaimana putri? Apakah putri akan pergi?"
Rivera menoleh, dia hanya mengangguk tanpa menjawab karena saat ini dia sedang mengunyah makanan. Dia benar-benar terlihat seperti anak 11 tahun yang sesungguhnya. Bahkan Dorothy sudah tidak tahan lagi dengan kegemasan sang Tuan putri nya itu.
Rivera bahkan sampai heran melihat Dorothy tersenyum seorang diri. Dia melihat Dorothy dengan heran seolah berkata "Apa yang lucu?"
Karena tidak ingin membuang waktu yang lama, Rivera mempercepat makan nya agar bisa cepat-cepat pergi untuk menyapa Kaisar dan Ratu. Setelah menyapa Kaisar dan Ratu, baru saat nya Rivera akan pergi mengunjungi ruang teaching.
20 Menit berlalu ~~~
Masih dengan pakaian yang sama, Rivera berjalan menuju kearah Emperor's Palace, untuk memberi sapaan pada Ratu Alexander Windsor, setelah lama meninggalkan istana.
__ADS_1
Istana yang memiliki penampakan indah bagai sebuah istana surga itu sangat memanjakan mata Rivera. Istana itu sangat besar dan tinggi menjulang. Apalagi taman-taman di sana terlihat sangat indah karena dirawat dengan sangat baik.
Rivera merasa sangat takjub setelah melihat istana di depan matanya saat ini.
"Waktu pertama melihat Balmoral palace aku berpikir jika Balmoral palace sangat indah dan mempesona. Namun setelah melihat istana pribadi milik kaisar....aku berpikir jika Balmoral bahkan tidak bisa disandingkan dengan istana ini" benak Rivera celingak-celinguk melihat kesekitar.
"Putri, disana ada 2 penjaga yang sedang berjaga. Jika mereka bersikap dingin pada putri, jangan terlalu diambil hati ya," bisik Dorothy khawatir.
Sontak Rivera pun menoleh ke arah 2 penjaga yang dimaksud oleh Dorothy. Dia menekuk keningnya sambil berpikir "Bahkan penjaga kaisar saja memiliki Rank B. Aku tidak bisa membayangkan akan sekuat apa kaisar yang saat ini menjadi ayah ku,"
Mereka mendekat ke arah 2 penjaga tersebut. Dan langsung saja, ke-2 penjaga itu langsung menyilangkan tombak mereka dengan tatapan tajam menatap ke-arah Rivera.
Tatapan itu sangat tajam seolah-olah menganggap hina Rivera yang memiliki status sebagai anak ke-11. Rivera yang mendapatkan perlakukan semacam itu langsung saja naik pitam dan membalas menatap tajam ke-arah ke-2 penjaga itu.
"Apa yang kalian lakukan..! Putri ingin memberi salam kepada kaisar, berani sekali kalian menghalangi Putri!! " kesal Dorothy dengan nada sedikit keras.
"Cih, apa kalian sudah punya janji..? Jika tidak punya janji, maka pergilah..!" tajam pengawal sebelah kiri pada mereka ber-2.
" !! "
Rivera mempertajam tatapannya, ingin sekali diri nya mematahkan leher ke-2 prajurit itu. Namun dia memilih untuk berdiam diri sambil mengamati tindakan mereka.
Ke-2 penjaga itu naik pitam. Mereka kesal pada Dorothy yang baru saja memplototi mereka.
"Berani sekali pelayan hina seperti kau melihat kami dengan tatapan rendahan mu itu..!! " kesal prajurit sebelah kanan lalu melayangkan satu tamparan kepada Dorothy.
*PLAK
" !! "
Dorothy terjatuh dengan hidung dan sudut bibir mengeluarkan darah. Dia bisa merasakan jika saat ini tulang rahangnya bergeser dan hidungnya patah. Dia memegangi pipinya itu karena menahan rasa sakit yang sangat sakit.
"Makan itu wanita pelacur!!"
Mereka ber-2 terkekeh dengan tatapan hina mereka. Sementara Rivera, dia menatap Dorothy dengan dingin sambil menggenggam tangan dengan erat. Matanya bahkan menajam dengan rahang yang bergerigit.
__ADS_1
"Berani-beraninya... orang seperti kalian menyentuh orang ku..." ujar Rivera pelan namun tajam.
Dia menatap pada 2 prajurit itu dengan tatapan kosong.
"Apa..? Saya tidak mendengar apa yang putri katakan.. bisakah putri ulangi?" ejek prajurit kanan membuat ekspresi merendahkan Rivera.
Mereka ber-2 tertawa terbahak-bahak, mengolok-olok Rivera yang sedang menatap datar pada mereka.
"Diamlah. Tuan putri kita sudah marah..." sahut satu nya ikut mengejek.
"Rendahan..." Rivera mengeluarkan dagger nya lalu dengan cepat tangannya bergerak menikam dada prajurit kanan sehingga tepat mengenai jantung prajurit itu.
*Srakkk
Darah menyiprat ke baju dan wajah Rivera. Namun hal itu tidak bisa menghentikan aksi brutal nya menghabisi prajurit itu.
" !! "
"Apa yang terjadi pada putri cadangan ini..!!"
Dorothy dan prajurit lainnya mematung melihat kebrutalan Rivera menikam tubuh prajurit dengan bertubi-tubi. Prajurit itu bahkan tidak sempat melakukan perlawanan karena tenaga Rivera sangat kuat dari pada tenaga prajurit itu.
"Sialan...!" pekik Rivera akhirnya berhenti setelah prajurit itu kehilangan nyawanya.
"A-apa..." prajurit yang tersisa itu perlahan-lahan mundur dengan rasa takutnya. Dia menatap Rivera dengan ekspresi ketakutan seolah-olah sedang melihat monster.
Dia mengacungkan tombaknya itu pada Rivera agar Rivera tidak mendekat. Namun Rivera bahkan tidak memperdulikan tombak kecil itu lalu mengeluarkan pedang Blood dragon.
" !! " kaget prajurit itu setelah melihat pedang yang tiba-tiba saja muncul di tangan Rivera.
"Kau juga matilah..." tajam Rivera bergerak dengan sangat cepat sehingga prajurit itu tidak bisa membaca pergerakan Rivera.
*Slahh
*Srakk
__ADS_1
Darah kembali menyucur. Kepala prajurit itu mengelinding di lantai taman....
^^^To be Continued~^^^