
Darah kembali menyucur. Kepala prajurit itu mengelinding di lantai taman....
Rivera memandang kepala itu dengan tatapan dingin. Sudah tak terasa lagi rasa belas kasih pada orang yang sudah berani menyakiti orang-orangnya. Rivera bahkan merasa sangat puas karena ke-2 prajurit kurang ajar itu sudah mati ditangannya.
Tidak lama, pintu terbuka sehingga memecah lamunan Rivera. Dia menatap pada sosok yang membuka pintu istana itu.
"Hormat saya putri, kaisar menyuruh putri untuk menemui beliau," kata seorang Buttler tua bernama Eiden, 60 tahun.
Rivera melihat tajam pada Eiden lalu mulai meraih kepala prajurit yang sudah terpisah dari badannya itu. Sontak saja hal itu mengejutkan Eiden karena dia tidak berpikir jika Rivera akan membawa sebuah kepala manusia masuk kedalam untuk menemui Kaisar.
Namun, Eiden hanya bisa terdiam dan menunjukkan senyuman ramah. Sambil tersenyum dia pun berkata "Mohon ikuti saya, putri,"
"Tidak usah! Saya bisa sendiri, tolong urus pengasuh saya terlebih dahulu. Paham! " tegas Rivera masih menyimpan amarah dalam dirinya.
"!!" Eiden terhentak, dia melihat kearah Rivera dan Dorothy secara bergantian.
"B-baik, Tuan putri," jawab Eiden gagap masih dengan ekspresi yang tak lepas dari keterkejutannya pada sikap Rivera.
"Anak kecil berhati dingin.." benak Eiden melongo melihat Rivera.
Rivera pergi dari sana untuk menemui kaisar dalam kondisi bersimbah darah sambil membawa 1 kepala di tangan kirinya.
Eiden bahkan masih memperhatikan Rivera sambil berpikir "Apa benar dia adalah Tuan putri yang dirumor kan lemah itu? Sifatnya memang pemarah, namun dia sangat kuat, sangat kuat untuk menghabisi kesatria yang setidaknya memiliki Rank B. Apa jumlah Rank putri yang sebenarnya? " benak Eiden merasa takjub sekaligus tidak percaya dan menganggap apakah saat ini dia sedang bermimpi.
Kembali pada Rivera. Saat ini Rivera sedang menggunkan Kemampuan pendeteksi keberadaan miliknya. Dia menelusuri jalan yang berpotensi menunjukkan keberadaan Alexander, sehingga sampailah dia didepan pintu besar yang di selimuti oleh mana pelindung.
Rivera terdiam sejenak, dia bisa merasakan jika di Emperor's Palace terpasang sebuah pelindung sehingga para pengguna sihir tidak akan bisa menggunakan sihir mereka. Hal itu membuat Rivera menyeringai dan kemudian mendorong pintu itu sehingga pintu terbuka.
*Srekkk
Baru saja dirinya membuka pintu ruangan. Terlihat jika Alexander sedang duduk di singgasana nya sambil melihat Rivera dengan tatapan tertarik. Dia tersenyum kecil saat melihat sesuatu yang sedang dipegang oleh Rivera.
Rivera tidak bergeming terhadap aura pedang yang di keluarkan oleh Alexander. Dia malah tetap berjalan dengan tegak dan mata menatap lurus kedepan.
__ADS_1
*Trakkkk
Rivera melempar kepala itu kelantai dan kemudian berlutut memberi hormat pada kaisar.
"Hormat saya, Baginda kaisar," hormat Rivera masih dengan ekspresi datarnya.
"Apa ini...?" tanya Alexander pelan namun tajam dan mengintimidasi.
Rivera masih menurunkan pandangannya sambil berkata "Hanya tindakan kecil saja, supaya tidak ada sembarangan orang lagi yang berani mengusik saya, Baginda," jawab Rivera berterus terang dengan tegas.
Alexander menatap Rivera dengan lekat. Ditatapannya tersirat sebuah tatapan tertarik pada sesuatu. Dia bahkan tersenyum sinis seolah menunjukkan sebuah kepuasan.
"Berdirilah," titah Alexander langsung di ikuti oleh Rivera.
Rivera segera berdiri lalu berkata "Terima kasih atas kemuliaan nya, Baginda," kata Rivera datar berwajah dingin.
"Apa kau bermaksud untuk memperingati ku atau memberiku sebuah ancaman..." dingin Alexander merubah ekspresi nya dalam sekejab menjadi ekspresi serius.
Alexander sedikit terkejut mendengar keberanian Rivera yang tidak menyangkal satu pun perkataannya itu. Dia tersenyum kecil dengan mata menipis.
"Apa kau sadar pada perkataan mu saat ini..!" tajam Alexander monoton.
"Saya sangat sadar pada perkataan yang saya ucapkan. Saya tidak menyangkal jika saya ingin memberikan sebuah peringatan sekaligus ancaman bagi siapapun yang berani menyakiti orang terdekat saya. Saya melakukan ini agar semua orang tahu, apa yang bisa saya lakukan lewat Baginda yang memiliki posisi tertinggi," jawab Rivera lantang dengan tatapan datar pada Alexander.
Alexander memicing, dia mengeluarkan aura pedang yang tajam sehingga mulai terlihat sebuah mana pekat yang memenuhi seluruh ruangan itu. Karena mana yang sangat pekat itu, Rivera merasa sedikit terintimidasi sehingga keningnya mengeluarkan peluh. Namun dia masih bisa mempertahankan posisinya dalam keadaan berdiri tegap.
" !!! "
Sontak saja hal itu membuat Alexander semakin terkejut dan perpikir, bagaimana ada orang yang mampu menahan mana membunuh miliknya? Bahkan yang sedang berhadapan dengannya saat ini adalah seorang anak kecil berusia 11 tahun.
Alexander langsung tersenyum lebar dan menarik mana membunuh nya kembali. Dia berdiri dan berjalan mendekat kearah Rivera. Dengan senyum tipis nya Alexander berkata..
"Kotoran apa yang menempel di pipimu ini..." ujar Alexander sedikit membungkuk dan menyeka darah di pipi Rivera.
__ADS_1
Rivera langsung terkejut. Dia memicing dan mundur kebelakang..."Maafkan saya, Baginda," ujar Rivera menyeka sisa darah itu sendiri.
Alexander menarik tangannya dan kemudian tersenyum kecil. Dia menatap Rivera dengan tatapan begitu tertarik.
"Apa kau kesini untuk menyapa ku?" tanya Alexander berjalan kembali menuju singgasana nya dan kemudian duduk disana.
"Benar, yang mulia," jawab Rivera.
"Baiklah, aku terima salam mu. Sebagai hadiah pertemuan ini, aku akan mengirim 200.000 Gold di istana milikmu," kata Alexander tersenyum tipis.
Rivera membungkuk hormat lalu berkata " Terima kasih atas kemuliaan hatinya, Baginda,"
Alexander hanya tersenyum tipis dengan tatapan tipis. Dia menopang dagunya malas sambil berkata "Aku terima salam mu, pergilah untuk menyapa pada Ratu. Tunjukkan padanya apa yang kau tunjukkan padaku," kata Alexander tersenyum menyamping.
" !! "
Rivera membungkuk lalu kembali berkata "Saya mohon undur diri, Baginda," kata Rivera yang perlahan mundur lalu mulai keluar dari dalam ruangan itu.
Alexander tersenyum puas sambil menatap pada pintu yang sudah tertutup. Sudah sangat lama baginya tidak tersenyum dengan puas. Dia cukup merasa terhibur pada sikap brutal sang putri.
"Menarik..!! Timbul 1 anak ayam yang mulai membuatku tertarik..!! " monolog nya sambil melihat kearah kepala yang dibawa Rivera dengan senyuman sinis.
Dia mulai menggunakan kemampuan nya sehingga membuat kepala itu mengering dan perlahan menjadi abu. Kemampuan itu adalah kemampuan tipe Unique yang di turunkan pada keturunan yang memiliki darah sejati sang naga. Alexander adalah salah satu keturunan kaisar terdahulu yang memiliki kemampuan tersebut.
"Keluar lah," titah Alexander pada Ares yang sedang bersembunyi.
Ares datang dengan cepat seperti sebuah bayangan, dia berlutut memberi hormat pada Alexander.
"Selidiki bocah itu secepatnya. Aku ingin mengetahui apapun yang dia lakukan dan dengan siapa saja dia bergaul selama ini" titah Alexander.
"Akan saya laksanakan, Baginda,"
^^^To be Continued~^^^
__ADS_1