BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
KAHIL MACARIO


__ADS_3

Rivera berjalan keluar dengan perasaan kesal sambil menyeka pipinya berulang-ulang kali. Dia sangat kesal dan tak henti-hentinya berdecak sebal. Dia melirik kearah belakang dengan tatapan dingin, dengan segera pula dia menarik pandangannya dan mempercepat langkahnya.


"Dasar kaisar tidak punya otak. Aku sudah sangat jelas memperingatinya. Tapi mengapa dia bersikap seperti itu tadi. Aku sangat kesal, bukan hanya kesal karena dia memegang pipi ku, tapi..aku kesal karena orang itu sangat kuat..!! Kekuatan apa itu sebenarnya, mengapa itu sangat kuat" kesal Rivera memiliki mood yang buruk.


Rivera begitu kesal sampai merasa dia ingin mati karena sangkin kesalnya. Dia kesal karena kekuatan Alexander mampu mengintimidasinya. Meski itu hanya sedikit, namun Rivera tetap saja kesal.


Saat ini dia sedang berjalan menuju Queen's palace, tempat Ratu Estira tinggal. Dia sedang berjalan ditaman saat ini dan mencoba mencari jalan menuju Queen's Palace. Namun bukannya menemukan jalan, Rivera malah menabrak seorang pria asing saat hendak belok ke arah kiri.


*Brukk


" !! "


Pria itu terhuyung kebelakang, dengan repleks bagus yang dimiliki Rivera, dia menarik rambut panjang pria itu sehingga tidak jadi terjatuh..


"Hey apa anda tidak apa-apa?" tanya Rivera masih dalam kondisi memegang rambut biru muda, pria itu.


Pria tampan itu terlihat shock, dia menatap Rivera dengan tatapan tidak percaya. Begitu juga Rivera, dia heran melihat pria itu mematung sambil melihat nya dengan tatapan terkejut.


"Maaf?" kata Rivera dengan canggung.


" !! "


"A-apa barusan tadi? Kau yang menabrak ku? A-apa yang terjadi, seharusnya kan diri mu yang terjatuh karena kau sangat pendek," kata pria itu sambil berpikir.


Rivera tersenyum terpaksa, dia menipiskan mata nya dengan perasaan kesal "Saya memang pendek, tapi tak seharusnya juga anda berterus-terang seperti itu,"


"hmm.. benarkah...tapi memang pendek tuh. Seharusnya kan kau yang terjatuh karena menabrak aku yang merupakan orang dewasa," sahut pria itu sambil berpikir membuat ekspresi bingung.


Rivera menekuk wajahnya, dia kesal pada pria di depannya itu karena mengejek tinggi badannya. Rasanya ingin sekali dia menendang pria itu sehingga terbang menghantam pohon. Namun karena tidak ingin mendapatkan banyak masalah lagi, dia hanya memendam amarahnya sambil tersenyum paksa.


"Wahhh... benarkah. Maaf ya, tapi saya harus pergi," ujar Rivera lalu melangkah pergi.


"Eh tunggu dulu..!" pria itu menarik tangan Rivera sehingga membuat Rivera terkejut dan kemudian dengan cepat Rivera menarik tangan pria itu sehingga pria itu terhuyung kedepan dan kemudian tersungkur mencium tanah.


"Kemana sopan santun anda..!! " kesal Rivera lalu pergi meninggalkan pria itu.


"....Kenapa bocah itu sangat kuat....?! Siapa dia? Sungguh bocah yang menarik," katanya tersenyum senang sambil menyeka tanah di wajahnya.


"Ahh... tunggu...tunggu dulu.." pria itu terdiam, dia nampak tersadar akan sesuatu.

__ADS_1


"Baju bocah itu di penuhi noda darah, kan? A-apakah dia baik-baik saja?" ujarnya mulai tersadar pada point kecil yang telah dia lewatkan.


Karena tidak tenang, dia pergi dengan cepat untuk menyusul Rivera yang sudah menjauh. Dia berlari cepat sambil berteriak "hey bocah pendek, tunggu aku,"


Sementara Rivera, dia berjalan cepat dengan ekspresi yang masih kesal. Sudah beberapa kali dirinya berdecak sebal sambil sesekali melirik kebelakang, takut jika pria yang di anggap nya aneh akan mengikutinya. Namun sungguh sangat disayangkan, disaat dia menoleh tiba-tiba saja pria itu ada di belakang nya, sambil berlari melambaikan tangan.


Sontak saja Rivera segera mempercepat langkahnya sambil berkata "Dasar pria aneh! Mau apa dia mengikuti ku," kesalnya.


Rivera berjalan cepat kearah yang entah tak tau akan membawanya kemana. Saat ini yang dia tahu, dia harus menghindar dari pria aneh itu.


Sepanjang perlarian, banyak sekali pelayan berlalu lalang yang melihat Rivera dan pria itu saling kejar-kejaran. Mereka berbisik dan menatap Rivera dengan sinis.


"Hey, tunggu aku bocah," kata pria itu setelah berhasil meraih baju Rivera sehingga Rivera dengan terpaksa berhenti.


"Apa yang anda inginkan..! Dan berhentilah berbicara informal pada saya! "kesal Rivera menepas tangan pria itu sehingga terlepas dari bajunya.


"Kenapa kau ini sangat dingin sekali..!! Aku ingin memastikan apa kau mengalami luka? Mengapa ada bercak darah di tubuh mu..?" tanya pria itu memperhatikan Rivera dari atas sampai bawah.


"Apa urusan anda. Lagian berhenti bicara informal pada saya, karena kita tidak sedekat itu!! " tegas Rivera.


"Apa kau ingin kita menjadi dekat..?" sahut pria itu dengan tampang polos nya sehingga membuat Rivera semakin kesal.


"Bukan itu maksud saya.. anda ini apa-apaan..! Jangan ikuti saya, saya ingin pulang," kata Rivera frustasi pada pria yang sedang mengikutinya itu.


" !! "


"Apa-apaan...." kejut Rivera saat mengetahui jika pria itu merupakan pengguna Holy power.


"Siapa pria ini? " benak Rivera bingung lalu memutuskan untung menggunakan Spy item's.


*Ding


...[Nama : Kahil Macario]...


...[Ras : Manusia ]...


...[Usia : 37 TAHUN ]...


...[Rank : B+ ]...

__ADS_1


...[Strength : 50 ]...


...[Ability : Holy Power & Holy Sword]...


...[Vitality : 57 ]...


...[Mana : 100 ]...


"Dia pengguna Holy Power dan Holy Sword..! "


Rivera memperhatikan pria itu yang masih saja fokus menggunakan Holy Power padanya. Sambil tersenyum kecil Rivera berkata "Apa yang anda lakukan.."


"Karena hanya sia-sia saja kau melakukan itu.." lanjut dibenaknya menertawakan yang sedang dikerjakan Kahil.


" !! " Kahil membuka matanya dan menarik kembali Holy Power yang dia keluarkan.


"Apa luka mu sudah membaik?" tanya Kahil melihat kearah jari Rivera yang sedang mengalami luka. Sontak saja hal itu membuatnya sangat terkejut. Dia meraih tangan Rivera sambil menatap luka Rivera yang bahkan tidak menghilang.


"A-apa... mengapa luka nya tidak sembuh...! " heran Kahil pada luka Rivera yang tidak membaik bahkan saat menerima Holy Power darinya.


"Kau... kau pengguna Holy power juga kan..? Jawab aku..! " desak Kahil dengan ekspresi menunggu jawaban.


"Ck! Diamlah. Saya bukan pengguna Holy Power, mengapa anda berpikir demi kian..?" sangkal Rivera memicing.


"Bohong..! Kau adalah pengguna Holy Power kan..! Hanya pengguna Holy Power saja yang tidak mempan dengan Holy Power itu sendiri," ujar Kahil masih bersikekeh jika Rivera adalah pengguna Holy Power.


Rivera hanya diam. Dia menatap datar pada Kahil karena merasa jika pria di depannya itu sangat cerewet. Apalagi Kahil telah membuang-buang waktunya dengan omong kosong.


"Anda adalah utusan kuil suci, maka bertindaklah seperti utusan yang terhormat," datar Rivera mulai tidak suka.


" !! " Kahil terperanjat.


"Bagaimana kau tahu jika aku adalah utusan kuil suci? " bingung Kahil.


".....Sungguh bodoh..!" kesal Rivera lalu meninggalkan Kahil pergi.


"Eh bocah, mau kemana... jangan tinggalkan aku. Aku masih ingin bertanya pada mu. aku ingin tahu...


Rivera semakin menjauh dari Kahil sehingga suara Kahil perlahan menghilang dari indera pendengaran Rivera.

__ADS_1


"Bodoh sekali. Lebih baik aku kembali ke Balmoral dari pada harus bertemu Ratu. Kenapa di istana ini dipenuhi oleh orang-orang aneh!! " kesalnya.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2