BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
KEANEHAN DANIEL


__ADS_3

Beralih di Queen's Palace, Estira, Avane dan Loraine sedang duduk, bersantai di dalam taman kaca sembari melakukan pesta teh kecil-kecilan. Avane dan Loraine adalah putri kedua dan ketiga, yang telah merundung Rivera sebelumnya.


Tanpa memikirkan masalah yang terjadi kemarin, Avane dan Loraine tersenyum riang sembari berbincang-bincang kecil.


"Ibu, kapan keluarga kekaisaran bisa mengikuti akademi pendidikan? Aku sudah berusia 17 tahun, tapi mengapa aku belum bisa mengikutinya?!! " protes Avane jengkel memikirkan jika dirinya tidak bisa mengikuti pendidikan akademi.


Estira sedikit mengintip sembari menyesap tehnya dengan nikmat. Tidak lama dia selesai dengan tehnya lalu mulai meletakannya diatas meja. "Tunggulah saat musim semi berakhir. Ibu sudah membicarakan ini dengan wakil kepala akademi. Dia akan membujuk kepala akademi agar bisa menerima kalian berdua,"


Avane dan Loraine saling pandang dengan ekspresi wajah bahagia. Mereka tidak menduga jika dalam beberapa minggu lagi mereka akan memasuki akademi.


"Aku sangat senang..!! Selama ini aku sangat iri pada Croyton dan Rophili. Mereka sudah memasuki akademi semenjak usia 12 tahun dan 13 tahun. Sungguh pilih kasih..!!" ujar Loraine dengan perasaan senang namun diakhiri oleh suasana hati yang tiba-tiba memburuk.


Estira menarik bibirnya keatas. Mata sinis itu tertuju pada bunga mawar merah berduri sembari berkata "Kenapa harus iri..? Anak-anak ibu lebih hebat dari mereka, iyakan?" senyum Estira mengusap lembut dagu kedua putrinya.


"Ya!!"


"Benar!!"


Mereka tertawa dengan angkuh sampai tidak terasa ada seorang pelayan wanita, pelayan setia ratu yaitu, Baroness Erlhite. Erlhite datang menghampiri Estira sembari memberi hormat terlebih dahulu, lalu kemudian dia mulai mendekat lagi kearah Estira untuk membisikan sesuatu.


.............


Mata Estira langsung membesar. Gurat wajah itu mendadak tersenyum lebar disertai oleh perasaan bahagia.


"Apa anak cadangan pembawa sial itu memang telah diusir oleh kaisar dari istananya?!" senang Estira tidak sadar berbicara dengan keras.


Avane tersenyum dengan ekspresi masih terkejut. Namun berbeda sekali yang sedang dialami oleh Loraine. Tidak tahu mengapa, Loraine tiba-tiba saja merasakan rasa merinding disekujur tubuhnya. Bibirnya terkunci dengan pandangan tiba-tiba ter-arah kebawah.


tentunya itu mengundang perhatian dari Estira dan Avane. Estira mengalihkan fokus pada Loraine sembari berkata "Ada apa, Loraine? Apa kau tidak senang mengetahui bocah itu sudah diusir oleh kaisar?"


Loraine hanya diam, menatap tangannya yang saling bergenggam erat. Sementara Avane, dia melihat pada sang adik dengan pikiran mengerti. Avane menghela napas dalam-dalam dan mulai menatap Estira.

__ADS_1


"Bocah itu baru saja.. hmpppp..!! " Loraine menutup mulut Avane dengan kedua tangannya, sembari bergeleng-geleng.


" !! " Estira terkejut pada prilaku aneh dari kedua putrinya itu.


"Tidak ada yang terjadikan? Bisakah kalian beritahu pada ibu?!" tegas Estira.


Loraine bergeleng cepat. "Tidak ada yang terjadi, ibu. Aku sangat senang mengetahui jika bocah itu telah diusir oleh Ayah kaisar. Aku-aku hanya sedih karena Ayah kaisar sempat memberinya rasa sayang," jawab Loraine tersenyum canggung sembari menyelipkan beberapa kebohongan.


"Rivera sialan..!! Karena kau aku jadi mengalami trauma berat seperti ini!! Tunggu saja saat trauma ku hilang, aku akan membalasmu!! " benak Loraine dengan rasa marah memenuhi dadanya.


Mereka disibukkan dengan kesenangan dan kerisauan masing-masing, sampai tak terasa jika mereka sedang diawasi oleh 2 kesatria Holy Sword.


Kedua kesatria itu menggunakan pakaian putih dengan ditutupi oleh jubah putih sehingga wajah mereka tidak terlihat dengan jelas. Tidak lupa dengan pedang-pedang besar yang bertengger di punggung mereka.


Mereka saling pandang dan mengangguk, memberi kode untuk segera pergi dari sana. Mereka pergi menyelinap bagai sebuah bayangan.


...****************...


Rivera berjalan cukup laju sehingga Dorothy tertinggal di belakang. Sembari terus berpikir, dan mengamati sang Tuan putri, Dorothy bergumam "Huftt.. banyak sekali yang menjadikan Tuan putri sebagai bahan gosipan. Bagaimana caranya aku membuat Tuan putri agar tidak mendengar gosip-gosip itu?!"


Tentu saja Dorothy mengkhawatirkan Rivera karena gosip-gosip yang beredar. Karena hanya dengan sebuah gosip, seseorang bisa kehilangan segala-galanya. Dorothy tidak mau, jika itu harus terjadi pada Rivera.


Selang waktu berlalu, akhirnya mereka sampai di Balmoral. Seperti biasa, Johanna menyambut Rivera dengan senyuman bahagia. Mereka sangat senang melihat sang Tuan putri bisa kembali ke Balmoral Palace.


"Selamat datang kembali, Tuan putri. Saya benar-benar sangat merindukan Tuan putri," isak tangis Johanna mencuri fokus Rivera.


"Johanna, jangan menangis. Saya sudah datang kembali demi kalian," ujar Rivera, mencoba menenangkan Johanna.


Johanna mengusap air matanya. Dia tersenyum hangat sambil menggenggam kedua tangannya. "Tuan putri, kedepannya jika ingin pergi.. tolong ajak saya,"lirih Johanna menunduk sedih.


"Johanna... " Rivera sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


"Saya sudah tua. Alasan saya bertahan disini hanya karena Tuan putri. Jadi untuk apa saya tinggal disini jika Tuan putri pergi...! Saya tidak akan bisa memasak lagi untuk Tuan putri," lanjutnya masih menunduk sedih.


"Sama seperti saat aku menghadapi kenyataan jika aku tidak bisa memasak lagi untuk nyonya Merinne," benaknya merasa sangat sedih seakan dia ingin menangis saat itu juga.


Rivera dan Dorothy saling pandang. Mereka sangat paham apa yang dirasakan oleh Johanna. Rivera hanya bisa terdiam sembari mengalihkan indra penglihatan nya pada Daniel.


Daniel yang hanya diam sedari tadi dengan ekspresi datarnya cukup mencuri fokus Rivera. Namun Rivera memendam rasa curiga itu karena menganggap jika itu hanya perasaan yang berlebihan.


"Baiklah, Johanna. Saya akan kembali ke kamar karena saya sudah sangat lelah," ujar Rivera pamit namun masih dengan pandangan yang ter-arah pada Daniel.


"Baiklah, Tuan putri. Saya akan menyiapkan makanan kesukaan Tuan putri," balas Johanna membungkuk sedikit.


Rivera membalas mengangguk, tersenyum ramah dan tidak lama langsung meninggalkan Johanna dan Daniel. Namun entah mengapa, Rivera tetap merasakan perasaan tidak enak saat melihat Daniel. Dia mengerutkan keningnya dengan ekspresi jengkel.


"Huhh.. apakah aku terlalu lelah? Seperti nya aku harus istirahat agar pikiran ku jernih kembali," benaknya, masuk kedalam kamar. Namun, saat hendak melangkahkan kaki menuju kamar, tiba-tiba Rivera bisa merasakan mana dari pengguna Holy Sword ada di dalam kamarnya.


Seketika langkah kakinya terhenti dan langsung mengarahkan fokus pada Dorothy.


"Nanny, bisakah Nanny tinggalkan aku sendirian saat ini? Aku ingin istirahat," pinta Rivera.


"Baik, Tuan putri. Kalau begitu saya akan pergi," balas Dorothy berlalu pergi dari sana.


Dengan cepat Rivera mulai masuk ke dalam kamar sehingga dia bisa melihat jika ada 2 kesatria nya yang sedang menunggunya.


"Hormat kami, Master," sapa mereka, memberi hormat.


"Ya, baiklah. Katakan saja apa yang kalian bawa untuk saya? "


Dua kesatria Holy Sword itu saling tatap, dan kemudian mulai menatap Rivera dengan tatapan seriua.


"Baiklah, Master,"

__ADS_1


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2