
20 kuda berlari, ditunggangi oleh seseorang yang nampak memakai jirah perang mereka. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah kesatria setia Romant, yang dipimpin oleh Celevin dan Abel secara langsung.
Mereka pergi menuju titik suara keras yang telah terdengar menggema hampir di seluruh kekaisaran. Dengan pedang-pedang besar itu, mereka telah menebas monster-monster yang menghalangi jalan mereka.
"Hak...!! " mereka semakin menambah laju pergerakan kuda mereka sehingga semakin cepat pula mereka sampai di tempat tujuan.
Dan pada akhirnya, sebuah gua mulai terlihat tidak jauh dari mereka sehingga mereka langsung menuju pada gua tersebut.
Mereka semua menghentikan kuda mereka, lalu turun dari kuda sembari melihat semua kekacauan yang terjadi. Banyak sekali monster-monster mati, para monster itu bertumpuk-tumpuk, seperti sehabis disusun oleh seseorang.
Bahkan tanah-tanah mencekung, pohon-pohon bertumbangan dan batu-batu besar pecah berkeping-keping. Mereka tidak bisa mendeskripsikan kekacauan yang telah mereka lihat dengan kedua mata mereka sendiri.
"Kekacauan apa ini?! " celetuk Mark, melihat kehancuran itu dengan tercengang.
Celevin dan Abel yang masih menggunakan helm perang itu pun menoleh pada Mark. Mereka juga merasa heran pada kekacauan yang terjadi. Tidak mungkin kekacauan ini disebabkan oleh monster, bukan?!
Abel menurunkan pandangannya, berusaha mencari jawaban. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Abel, akhirnya membuka helm perang nya itu sehingga terlihat lah wajah tampan yang sudah lama tertutup oleh helm perang tersebut.
Abel yang kini sudah berusia 18 tahun itu terlihat semakin mempesona dengan rahang yang tegas dan hidung yang mancung. Sorot matanya pun menajam seolah tidak ada yang boleh lepas dari pandangannya!
"Disana ada gua, lebih baik kita periksa saja disana, Ayah," usul Abel, memandang kearah gua yang hampir saja runtuh.
Celevin langsung membuka helm nya, dan kemudian terlihatlah wajah tampan yang bahkan belum menua setelah 5 tahun berlalu. Namun sayangnya, mata Celevin mengalami buta sebelah akibat pertarungan sengit yang terjadi di tengan-tengan pertarungan nya bersama monster.
Mata kirinya tertutup oleh kain hitam, namun itu tidak bisa mengurangi ketampanan seorang Count Celevin Endirson.
"Baiklah, kita periksa gua itu sekarang!"
Mereka langsung pergi kearah gua, untuk melihat apakah disana ada seseorang atau tidak. Sementara ada 5 kesatria yang akan berjaga di luar kalau-kalau ada sisa monster yang mendekat.
__ADS_1
Mereka mulai memasuki gua, melihat dengan hati-hati dan sikap waspada mereka. Dan pada akhirnya, mereka mulai melihat ada 1 orang yang tewas dengan tubuh terpotong 2 di lantai gua tersebut. Hal itu semakin mengejutkan mereka.
Abel berjongkok, menyolet darah jasad itu lalu memeriksa nya dengan teliti. Mata tajam itu tertuju kedalam gua, melihat datar tanpa melewatkan apapun.
Dia kembali bangun, melihat pada Celevin dengan tatapan yang baru saja mendapatkan sesuatu.
"Sepertinya kejadian ini baru terjadi," ujar Abel, melirik arah dalam gua dengan sudut matanya.
Celevin mengangguk, dan kemudian mulai memasuki gua. Selangkah demi selangkah mereka mulai memasuki gua keseluruhan. Dan pada saat itulah, mereka bisa menemukan kesembilan orang tersisa dengan tubuh yang sudah terlilit oleh kain kasa. Bahkan pada kain kasa itu sudah di lumuri oleh darah.
Sontak saja, para bala bantuan langsung menuju kearah mereka dan membantu mereka.
"Apakah kalian yang baru saja melakukan pertarungan?" desak Abel dengan tatapan menusuk.
Seketika kesembila orang itu langsung terdiam, saling menoleh dengan ekspresi ragu mereka. Namun, Kahil, berbeda. Dia dengan berani maju, melihat kearah Abel dengan tatapan yakin.
Jelas-jelas mereka sudah merencakan pengakuan karena perintah dari Rivera.
Abel dan Celevin menatap tajam kearah, Kahil. Mereka berdua terlihat sangat menyeramkan, cukup menyeramkan sampai membuat, Kahil tertekan. Namun, Kahil, menekan rasa takutnya dan kemudian kembali berkata..
"Memang bukan kami yang melawan semua monster itu, tapi ada seseorang yang melakukannya. Beliau sangat hebat, sampai-sampai dalam hitungan detik saja, ribuan monster langsung habis. Namun... kami tidak tahu identitas pahlawan itu, karena beliau memakai topengnya," jelas Kahil.
Abel langsung menajamkan pandangan seraya berkata "Apakah yang anda katakan ini adalah kebenarannya?!" tegas Abel.
"Kami berani bersumpah!!" serempak mereka, dengan sorot mata yang di penuhi oleh keyakinan.
Melihat metulusan mereka, akhirnya Celevin dan Abel mempercayai mereka. "Baiklah, terima kasih atas bantuannya!" ujar Celevin mengulum senyum.
Karena banyak sekali urusan yang harus diurus, keduanya langsung sibuk pada urusan masing-masing untuk meneliti tempat pertarungan tersebut.
__ADS_1
Sementara Kahil dan yang lainnya hanya saling bertatapan, mengelus dada dengan perasaan lega mereka.
"Tidak sia-sia aku memungut darah dan menumpahkannya pada kain kasa ini..!!" benak Kahil mengelus dada, dengan perasaan lega.
Sementara di tempat yang tidak terlalu jauh dari sana, terlihat Rivera yang sedang duduk diatas pohon, melihat pergerakan mereka dengan tatapan sayup nya.
Dia bersandar pada pohon, mengulum senyum saat melihat sosok yang sudah sangat lama tidak dia lihat.
"Kakak.... " lirih Rivera menatap lama pada Abel.
"Apakah kalian sehat..? Sudah lama sekali tidak bertemu.. " lanjutnya, tersenyum lebar dan pada akhirnya mulai melepas topeng yang sudah lama melekat pada wajahnya.
Sebuah perasaan rindu memang telah dirasakan oleh Rivera. Pandangan nya menurun dengan senyuman yang mulai memudar. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya memburuk begitu mengingat jika saat ini nama baik nya benar-benar telah jatuh.
"Nama baik ku memang telah rusak semenjak dulu. Namun.. entah mengapa kali ini sudah semakin keterlaluan. Apakah Tuan Count dan kakak juga membenci diri ku? Apakah mereka turut menyalahkan ku atas kejadian 5 tahun lalu?" monolog Rivera tersenyum kecut, melirik pasukan yang sudah mulai meninggalkan tempat tersebut.
Kini hanya tertinggal tapak kaki kuda, yang sedang meninggalkan tempat tersebut Rivera tersenyum kecil melihat mereka yang sudah kembali dalam keadaan selamat.
Dia melompat dari atas pohon, dan mulai berjalan kembali ketempat tersebut. Tatapan dingin itu tertuju pada sebuah bendera putih yang tertancap di tanah.
"Mengapa sistem membawa ku ke tempat ini?!" monolog Rivera, meraba ujung bendera.
Dia arahkan kembali pandangannya ke arah sekitar. Tempat yang hancur itu memang tidak enak di pandang mata. Namun anehnya, Rivera malah tersenyum girang melihat penampakan itu bagai melihat sebuah karya seni.
Namun tidak lama, senyuman itu luntur tatkala dirinya merasakan ada seseorang yang mulai mendekat padanya. Dengan cepat Rivera langsung memasang topengnya kembali, setelah mengetahui siapa orang yang sedang ada di belakangnya.
"Anda..." suara berat itu terdengar, menyapa indera pendengaran, Rivera.
^^^To be Continued~^^^
__ADS_1