BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
SKENARIO 2


__ADS_3

Saat hendak melangkahkan kaki ke luar, Rivera menerima notifikasi dari sistem sehingga membuat nya mematung.


*Ding


[Nona, skenario 2 telah terbuka]


" !! "


"Mengapa tiba-tiba terbuka? Bukankah aku sedang tidak melakukan Raid?" bingung Rivera.


[Ada sebuah kejadian yang memancing skenario 2 muncul. Nona sendirilah yang mengundang skenario tersebut]


"A-apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun?"


Rivera semakin bingung, dia menoleh kearah belakang dan ternyata Alexander telah lama berada di sana. Dengan segera pula dia menghindar karena Alexander ingin mengendong nya kembali.


"Saya bisa berjalan sendiri," datar Rivera mulai berjalan mendahului Alexander.


Alexander hanya bisa tersenyum kecil dan kemudian mengikuti langkah Rivera. Sementara Rivera, dia sedang disibukkan oleh skenario yang tiba-tiba saja terbuka.


"Akhhh mengapa akhir-akhir ini keadaan membuat ku pusing. Mengapa juga skenario 2 terbuka secepat ini..?!"


Rivera benar-benar pusing karena tidak bisa menduga jika skenario 2 yang seharus muncul di lantai 20 harus muncul karena sebuah kejadian yang tidak dia ketahui. Dia bingung bagaimana caranya menghadapi skenario 2.


[Nona ada misi]


"Buka misinya"


*Ding


...⚠️ Tinggal di Emperor's Palace selama seminggu ⚠️...


" !! "


"Yang benar saja..!!" benak Rivera benar-benar terkejut karena misi menyuruhnya untuk tinggal di Emperor's Palace selama 1 minggu penuh.


[Nona ambil saja. Siapa tahu hadiah yang nona dapatkan adalah hadiah yang bagus]


"Apa yang kau katakan Kiryu. Mengapa aku harus tinggal bersama kaisar aneh ini...!! Dia itu monster, dia membuat ku merinding setiap kali aku dekat dengannya..! "


[Nona kan juga terlihat seperti monster~]


"Apa..!! "


[Tidak, Nona. Kiryu mohon pamit dulu]


*Ding

__ADS_1


"!!" betapa kesalnya Rivera pada Kiryu yang sudah mendapatkan akses keluar masuk mandiri karena skenario 2 terbuka dengan sangat cepat. Dia sangat kesal dan sangking kesalnya dia ingin berteriak. Namun Rivera bisa menahan emosinya dan berjalan kembali menuju ke dalam kamar Alexander.


Dia mondar-mandir di dalam kamar itu sambil memikirkan sesuatu. Alexander bahkan sampai bingung dan tidak mengerti mengapa bocah di depannya mondar-mandir seperti itu.


"Apa yang kau lakukan..?" heran Alexander memiringkan kepalanya.


" !! " Rivera tersadar. Dengan cepat dia menghampiri Alexander yang sedang duduk di sofa. Dia memegang bahu Alexander dengan ekspresi serius.


"Hey nak, dengarkan saya baik-baik. Anda ingin saya tinggal di istana anda bukan, maka saya akan tinggal disini. Tapi.. ada satu persyaratan yang harus anda penuhi terlebih dahulu, anda mengerti?" ujar Rivera menepuk-nepuk bahu Alexander sambil mendudukkan diri di samping Alexander.


"Ftttt..." tawa Alexander pecah. Dia tidak bisa menahan tawanya saat mendengar gaya bicara Rivera yang sama seperti seorang nenek-nenek.


"Apa..!! Mengapa anda malah tertawa. Tolong jawab dulu perkataan saya," kesalnya.


"Baiklah-baiklah, aku akan memenuhi persyaratannya.. jadi apa syarat yang kau berikan itu, hmm? " jawab Alexander menyeka air matanya.


"Huftt... saya akan tinggal di sini jika baginda membawa Nanny saya. Saya juga akan tinggal di sini jika kamar kita terpisah..!! " jelas Rivera menekan kalimat akhir.


Kening Alexander mengerut, dia melipat tangannya sambil berpikir..


"Mengapa harus ada wanita itu..? " datar Alexander.


"Mengapa..? Ya karena koki disini masakannya tidak enak, anda harus tahu itu..!!" kesal Rivera.


"Fttt... benarkah? Apakah sampai tidak seenak itu..? " tawa Alexander kembali pecah saat mendengar Rivera secara terang-terangan mengatai masakan koki di Emperor's Palace.


Alexander berpikir, dia menatap Rivera cukup lama dan kemudian dia pun berkata "Aku juga punya persyaratan, " ujar Alexander.


"Haihh... apa persyaratannya?" jengah Rivera.


"Panggil aku ayah untuk seterusnya. Jika setuju maka aku akan langsung membawa wanita itu kesini,"


"APA..? T-tapi baginda.. bagaimana... " Alexander menutup bibir Rivera dengan jari telunjuknya sambil berkata "Ayah~" ujarnya.


Rivera tercengang, dia mematung saat pria didepnnya ini menyuruhnya untuk memanggil nya dengan sebutan 'Ayah'. Rivera bergeleng dengan ekspresi tidak setuju.


"Kenapa saya harus memanggil anda 'Ayah?'" protes Rivera.


"Karena aku adalah Ayah mu.." jawab Alexander berhasil membuat Rivera berpikir cukup keras.


"Memang benar jika kau adalah ayah ku, tapi kan... " benak Rivera heran menatap bingung kearah Alexander.


"Apa kau setuju atau tidak? Jika kau setuju, cepat panggil aku ayah," lanjut Alexander tersenyum kecil.


"Tidak! Saya adalah anak cadangan. Bagaimana bisa saya menyebut baginda 'Ayah' sementara kepala menara sihir melarang itu karena sebuah kesialan bagi kekaisaran? Anda tahu dengan jelas, bukan?" tolak Rivera membuat ekspresi serius.


"....Apa kau percaya pada omong kosong itu?" datar Alexander kesal saat mengingat kembali sebuah pernyataan yang dibuat oleh kepala menara sihir pertama.

__ADS_1


Rivera terdiam, dia tidak menjawab sama sekali sehingga membuat Alexander sedikit kesal. "Jangan pikirkan omong kosong mereka. Jika kau ingin, aku akan menghabisi semua orang yang ada di menara sihir itu..." datar Alexander dengan tatapan penuh api.


"Mengapa anda mengatakan itu di depan anak kecil..!" sewot Rivera mengangkat 1 alisnya.


"..kau juga pernah membawa sebuah kepala manusia untuk ku.. jadi apakah anak kecil itu yang kau maksud?"


"....huft..." Rivera menatap Alexander cukup lama dan kemudian dia berkata "Saya benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran baginda," keluhnya.


"Jika itu sangat sulid bagimu, maka jangan lakukan," jawab Alexander tersenyum kecil.


"Baiklah, mau tidak mau saya harus memanggil anda dengan sebutan 'Ayah'. Begitukan?"


Alexander tersenyum kecil, dia merebahkan kepalanya kembali di paha Rivera dengan mata yang sudah terpejam. Rivera hanya bisa memberi respon pasrah sambil menyandarkan kepala nya di sandaran Sofa.


"Baginda, siapa saja orang yang berarti di hidup baginda?" tanya Rivera.


"......." Alexander terdiam. Tidak ada respon sedikit pun darinya sehingga membuat Rivera kembali melihat kearah Alexander.


"Baginda..?" Panggil Rivera lagi.


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Alexander sehingga membuat Rivera berpikir.


"Tidak juga... Anda bisa tidak memberi jawabannya semau Anda. Karena itu adalah hak Anda.." jawab Rivera, Namun setelah itu dia malah mendapat satu getukan di kepala nya oleh Alexander.


*Pletak


"A-apa..?" bingung Rivera sembari mengusap-usap keningnya.


"Panggil aku ayah..!! " desak Alexander.


"Baiklah, Ayah~~. Apakah Ayah~ puas?" jawab Rivera sedikit mengejek.


Alexander hanya bisa tersenyum melihat tingkah dari sang putri. Dia pun kembali merebahkan diri dan menutup matanya. Setelah menutup mata dan terdiam untuk sesaat, Alexander kembali berkata "Dan dirimu, siapa saja orang yang berharga itu?"


Rivera berpikir dan kemudian berkata "Tentu saja Nanny," jawab Rivera.


"...Benarkah? Mengapa harus wanita itu?" tanya Alexander dengan nada agak kesal.


"Karena setelah ibu saya meninggal, hanya Nanny satu-satunya yang mengurus saya dengan segenap jiwa dan raga. Jika saya tidak menganggap Nanny sebagai orang yang berharga, maka saya adalah orang yang tidak tahu terima kasih dan kurang ajar," jawab Rivera.


"Bukankah itu memang tugas nya? Dia juga mendapatkan gaji," lanjut Alexander bertanya masih dengan nada tidak suka.


".....Gaji yang dia terima tidak sebanding dengan pengorbanan yang dia berikan pada saya. Beliau adalah orang yang sangat saya hormati, jadi saya akan sangat marah jika ada orang yang menyentuhnya," jawab Rivera datar berselipkan kalimat peringatan.


Alexander hanya bisa tersenyum mendengar kalimat tersebut. Dia semakin merasa tertarik pada bocah yang baru beberapa kali dia temui ini.


^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2