
"Tidak sia-sia aku membayar wartawan sebesar 1.000 Gold. Ternyata hasilnya mampu membuat setidaknya ke-2 orang itu malu selama bertahun-tahun.." kekeh Rivera di dalam hati.
Dia sangat senang saat membaca isi surat yang dipenuhi hinaan untuk kedua Duke itu. Sangkin senangnya dia akan melakukan Raid menara saat itu juga, namun dia tahu jika dia tidak akan sempat untuk melakukan Raid.
Dia terus mengulang surat kabar itu seolah tidak pernah bosan. Dorothy bahkan tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan oleh Tuan putrinya.
" !! " ekspresi Rivera berubah dalam sekejab.
"Nanny..." panggilnya sambil berdiri membuat ekspresi serius.
"Ada apa tuan putri..?" bingung Dorothy.
"Hari ini kita akan pulang kembali ke Romant, bukan?"
"Be-benar putri. Apa ada yang terjadi..?" Dorothy kebingungan, dia tidak paham alasan Rivera membuat ekspresi serius seperti saat ini.
Rivera terdiam sejenak, dia melirik kearah kanan dan kiri.
"...Kita harus masuk sekarang..!" tegas Rivera menyuruh Dorothy untuk masuk.
"P-putri ada apa..."
"Masuk saja..!! "
Mau tidak mau Dorothy akhirnya mengikuti perintah Rivera meski merasa bingung sekaligus penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka masuk kedalam dan pergi menuju keruangan kerja milik Rivera.
"Putri, apa yang terjadi?" tanya Dorothy sudah merasa penasaran diujung tanduk.
"Balmoral telah dikepung oleh penyusup yang setidaknya memiliki Rank C dan paling tingginya adalah Rank A. Aku tidak tahu siapa yang mengirim mereka, namun mereka tidak terlihat berbahaya," jelas Rivera dengan ekspresi santai seolah-olah tidak menganggap para penyusup mencurigakan itu.
"Putri..apa yang akan terjadi..? Mau apa mereka mengepung Balmoral..!" Dorothy begitu kalut dengan pikiran berkecamuk. Dia melirik kearah gorden yang terbuka dan, segera pula dia menutup gorden itu rapat-rapat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, sepertinya mereka ingin menjaga ku agar tidak kembali ke Romant," jawab Rivera masih dengan ekspresi santainya.
Dorothy semakin terkejut. Dia duduk diam di sofa dengan tangan yang terus saja menggenggam. Sementara Rivera, dia hanya diam dengan bersandar di kursi kerjanya.
"Setidaknya ada 50 kesatria yang berada disekitar Balmoral. Aku yakin sekali jika yang mengirim mereka adalah kaisar, si pria gila itu. Tapi... apa niatnya?" benak Rivera membuat ekspresi datar.
"Betapa licik nya pria gila itu..!! Apa yang dia mau dariku, dasar gila..! " lanjutnya memaki Alexander.
"Nanny, beritahu ini pada Daniel dan Johanna. Tapi jangan sampai memancing kecurigaan dari para penyusup itu," titah Rivera.
"Baik putri,"
Dorothy bergegas pergi untuk memberitahu pada Daniel dan Johanna, sementara Rivera memilih untuk tetap tinggal disana.
Rivera berdiri lalu pergi untuk mengunci pintu. Dia menghela napas lelah lalu berkata "Apakah rencana ku sudah terbongkar? Tapi tidak mungkin jika kaisar mengetahui tentang rencana itu, bukan? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh kaisar..?" monolog Rivera.
"Aku harus bergegas memberi tahu ini pada Tuan Count.." lanjutnya lalu mulai membuka portal penghubung menuju ke istana yang sedang ditempati sementara oleh Celevin dan Abel.
Portal sudah terbuka. Rivera masuk kedalam kamar Celevin, sehingga Celevin yang sedang membaca beberapa berkas langsung berdiri dan mengambil pedangnya.
"T-tuan putri... bagaimana anda bisa membuat portal ini... anda.. " takjub Celevin tidak menyangka jika Rivera bisa membuka portal kemana saja.
"Lupakan tentang itu..! Sepertinya hari ini saya tidak bisa pulang bersama anda," jelas Rivera serius.
"Kenapa Tuan putri..? Apakah ada yang terjadi?" khawatir Celevin mulai fokus mendengarkan perkataan Rivera.
"Di sekitar istana yang saya tempati sedang dikepung oleh 50 penyusup. Saya tidak yakin siapa pengirimnya, namun saya yakin jika kesatria itu dikirim untuk menjaga agar saya tidak keluar dari Balmoral," jelas Rivera sehingga membuat Celevin terkejut dengan apa yang sedang terjadi.
"Mengapa mereka melakukan itu..?" gumamnya kesal.
"Saya menyarankan pada Tuan Count agar pulang ke Romant tanpa saya," ujar Rivera membuat Celevin terhentak.
__ADS_1
"A-apa maksud, Tuan putri..! Saya adalah wali putri sekarang, lalu mengapa saya harus meninggalkan putri disini," tolak Celevin tidak setuju untuk meninggalkan Rivera.
"...Kita harus mengikuti permainan yang sedang mereka mulai. Jika mereka menginginkan saya agar tidak pergi bersama Tuan Count, maka saya tidak akan pergi, " jawab Rivera datar.
"Tapi... " Celevin bimbang untuk meninggalkan Rivera sendiri disini. Dia sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan Rivera.
"Saya tidak ingin Tuan Count dan kakak berada dalam bahaya. Tolong ikuti saja apa yang akan saya katakan mulai sekarang..!" lanjutnya.
"Saya mengerti.. Tuan putri,"
Rivera tersenyum kecil. Sebenarnya dia sangat enggan untuk tetap tinggal di kekaisaran. Namun dia tidak ingin menyeret Celevin dan Abel kedalam permainan yang mulai dimainkan oleh Alexander.
"Kemungkinan akan ada surat dari kekaisaran yang akan dikirim ke kediaman Endirson setelah Tuan Count sampai di Romant. Saya juga memprediksi jika surat itu adalah surat perintah perang. Saya hanya meminta agar selama surat itu tidak datang, maka berlatihlah sekeras-keras nya untuk memperkuat tubuh dan menambah Rank Tuan Count," terang Rivera.
"Saya tidak tahu.. tapi saya akan mengikuti semua perkataan yang Tuan putri katakan. Namun.. jika sampai perintah perang itu terjadi, apa yang akan terjadi pada putra saya.." sedih Celevin menunduk.
"Putra saya bukanlah orang yang kuat. Saya sangat takut jika mereka melibatkan putra saya dalam kasus ini," lanjutnya semakin bertambah khawatir.
Rivera menatap Celevin dengan lekat, dia hanya bisa menghela napas saat mengingat-ingat tentang kelicikan Alexander.
"Tentang masalah keselamatan kakak sayalah yang akan mengurusnya. Tolong pikirkan saja rencana yang saya katakan pada anda..!" jelas Rivera sehingga membuat kekhawatiran Celevin setidaknya berkurang sedikit.
"Saya akan berlatih dengan keras, Tuan putri..!! " jawab Celevin tegas.
"Baguslah. Saya juga memiliki beberapa Elixir yang akan menambah daya tahan tubuh. Setiap latihan, Tuan Count harus meminun Elixir ini," ujarnya mengeluarkan 50 botol Elixir sekaligus, pada box yang dia keluarkan dari dalam ruang dimensi.
" !! " betapa terkejutnya Celevin setelah melihat Elixir yang sangat langka itu berada di depan matanya. Dia melihat Elixir dan Rivera secara bergantian.
"S-saya mengerti, Tuan putri.." jawab Celevin masih dilanda kebingungan.
"Baiklah, saya akan kembali ke Balmoral. Dan tolong, ingat baik-baik apa yang telah saya katakan..! " ujar Rivera kembali masuk kedalam portal.
__ADS_1
"....Hati-hati dijalan putri.." Celevin melongo. Dia tidak paham mengapa bocah manis yang dia tahu selama ini, bisa menggunakan kemampuan yang bisa digunakan setidaknya oleh Kepala sihir di menara sihir.
"Siapa sebenarnya, Tuan putri..? Mengapa Tuan putri menyembunyikan kekuatannya..?" monolog Celevin masih terkejut pada fakta yang baru saja dia ketahui.