BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
AKAL LICIK KAISAR ALEXANDER WINDSOR


__ADS_3

"Tentu saja, Master! Saya sudah membayar para prajurit bayaran yang terpercaya. Saya juga membeli beberapa budak untuk di didik menjadi seorang informan," jawab Ambher turut membuat ekspresi serius.


Rivera terdiam sejenak, dan tak lama dia pun berkata "Informasi apa saja yang telah Nyonya dapatkan?" tanya Rivera.


Dengan segera Ambher pun mengambil sebuah jurnal dan membukanya. Dia membaca beberapa jurnal tersebut dan kemudian membuat ekspresi serius.


"Ini tentang istana kekaisaran, Master," jawab Ambher sehingga membuat Rivera dan Dorothy terhentak.


"Informasi seperti apa itu..?"


"Kabar mengenai pertambangan berlian Endirson sudah sampai di telinga fraksi istana. Dalam waktu 5 hari mereka akan mengadakan sebuah perjamuan istana. Celakanya mereka akan mengundang keberadaan Tuan Count beserta Tuan Muda dan Master," jelas Ambher.


"Mengapa hal itu menjadi sebuah celaka? Bisakah nyonya menjelaskannya pada saya?"


"Kaisar berniat meminta pertambangan itu menjadi atas nama kekaisaran,"


" !! "


Betapa terkejutnya Rivera dan Dorothy. Rivera menggenggam tangannya dengan sangat erat karena menahan emosi yang besar.


"Para bangsawan lainnya juga akan ikut berkumpul di perjamuan. Hal ini sudah jelas jika kaisar merencanakan rencana itu dengan sangat matang," lanjut Ambher.


"Si tua bangka itu sangat tamak!!" kesal Rivera.


Dorothy menunduk sedih. Pikirannya kalut setelah mengetahui jika kaisar merencanakan hal yang sangat kotor tersebut.


"Lalu apakah nyonya memiliki solusi atas tindakan itu?" tanya Rivera berharap.


"Ada..."


Rivera dan Dorothy bersemangat mendengar jika Ambher sudah menemukan solusi untuk mengatasi masalah itu. Rivera pun dengan rasa penasarannya segera bertanya "Apa solusi tersebut?"


"Pertambangan berlian di temukan di tanah Romant, tanah yang sama sekali bukan menjadi kekuasaan kaisar. Tanah Romant sudah ada semenjak kekaisaran terbentuk. Dan Tuan Count memiliki kendali penuh atas tanah ini," jelas Ambher.


" !! "


"Dan berarti, Tuan Count bisa menolak permintaan itu dengan mudah. Tapi apakah memang semudah itu?" ujar Rivera merasakan hal janggal.


"Tuan Count memang bisa menolaknya dengan mudah karena perintah itu diluar dari kekuasaan kaisar. Namun, skenario terburuknya kaisar bisa saja memerintahkan Tuan Count untuk berperang menuju neraka para monster. Kaisar adalah orang nomor satu di negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menolak perintah itu, karena sebuah penolakan bisa berarti penghinaan untuk kaisar,"

__ADS_1


" !! "


"Secara tidak langsung kaisar ingin Tuan Count mati di medan perang. Dengan begitu dia akan menguasai Tanah Romant dan tambang yang baru ditemukan," sambung Rivera bisa mengerti akar dari permasalahan tersebut.


Dia termenung sambil memikirkan sesuatu dikepalanya.


"Si keparat tua itu...!! Bagaimana bisa dia bersikap begitu licik pada seseorang. Tidak akan aku biarkan kau rakun tua...!"


"Nyonya, bisa beri tahu saya, dimana Nyonya membeli para budak-budak itu?"


"..........."


...****************...


Atas informasi yang telah diberikan Ambher, Rivera dan Dorothy segera bergegas menuju sebuah tempat perdagangan yang berhubungan dengan perdagangan budak.


Meski tahu jika itu bukanlah hal yang baik, Rivera tetap ingin membeli beberapa budak untuk dia jadikan sebagai prajurit bayangan.


"Jika benar-benar kaisar menyuruh Count untuk berperang, bisa saja kaisar mengirim beberapa prajurit bayaran untuk membunuh Abel. Dengan begitu dia bisa dengan mudah untuk menguasai Romant. Aku harus cepat..!!" benak Rivera terburu-buru masuk kedalam tempat perdagangan tersebut.


Sesampai di depan resepsionis, Rivera pun segera berbicara sambil di temani oleh Dorothy.


Resepsionis itu melihat kedua orang di depannya secara bergilir. Dimata Resepsionis itu, Rivera terlihat seperti seorang tuan muda kecil, sementara Dorothy terlihat seperti seorang ajudan laki-laki yang berotot besar dan berkumis tipis. Hal itu adalah perbuatan Rivera yang tidak mau jika penampilan aslinya dilihat oleh sembarangan orang.


"Tentu saja, tolong ikuti saya, Tuan Muda," kata Resepsionis itu mulai menuntun Rivera dan Dorothy memasuki sebuah bar yang dimana disana terdapat banyak sekali para bandit berkumpul sambil meminum bir.


Para bandit itu menatap sinis dan memiliki niat jahat di mata mereka kepada Rivera dan Dorothy. Namun sang Resepsionis dengan tegas melarang mereka lewat tatapan tajam. Mereka pun menghentikan niat mereka itu sambil terus memperhatikan dengan tajam.


Setelah melewati sebuah bar yang di penuhi oleh bandit, Resepsionis itu kembali membawa Rivera kesebuah ruang ketiga yang dimana di ruangan itu adalah sebuah ruangan kerja milik seseorang. Di ruangan kerja itu memiliki rak-rak yang dipenuhi buku.


Sang Resepsionis pun mengambil salah satu buku yang satu-satunya bewarna merah. Setelah dirinya mengambil buku merah tersebut, secara ajaib rak buku terbuka dan memperlihatkan sebuah tangga yang terhubung ke lantai bawah tanah.


Sambil menatap Rivera, Resepsionis itu pun berkata "Tolong ikuti saya Tuan Muda," Sambil melangkah menuruni anak tangga.


Rivera menatap Dorothy dan kemudian mengangguk. Dorothy yang merasa khawatir itu pun ikut mengangguk sambil menggenggam tangan Rivera. Mereka turun secara bersamaan menuju bawah tangga itu.


Resepsionis menuntun Rivera dan Dorothy menuju sebuah lorong yang dimana didepan lorong terdapat sebuah pintu besar. Resepsionis itupun membuka pintu tersebut dan kemudian terlihat sebuah penjara besar yang memiliki beberapa budak di dalamnya.


Ada sekitar 51 budak laki-laki dewasa, 20 budak wanita dewasa, 3 budak pria kecil dan 1 budak perempuan kecil.

__ADS_1


Masing-masing penjara memiliki sekat yang memisahkan antara perempuan dan pria. Masing-masing satu penjara berisikan 2-3 orang budak.


Rivera dan Dorothy yang melihat penampakan itu bukannya merasa iba atau sedih, mereka justru merasa aneh karena para tahanan terlihat bahagia meski mereka di kurung seperti itu.


Tubuh mereka semua tidak ada yang kurus maupun luka-luka. Mereka juga bersih dan tidak kotor.


"Ini semua adalah budak-budak yang tidak memiliki identitas lagi. Silahkan memilih, Tuan muda," kata Resepsionis itu mempersilahkan Rivera untuk memilih.


Rivera terdiam, dia mengalihkan pandangannya kesegala arah. Dia mencoba melihat kemampuan dari seluruh budak


yang ada disana. Setelah mencoba melihat kemampuan dari seluruh budak, Rivera pun kembali menghampiri sang Resepsionis.


"Saya menginginkan semua budak-budak yang ada di sini," ujar Rivera sehingga membuat Resepsionis itu terkejut.


"S-silahkan lihat-lihat kembali, Tuan muda. Apakah anda yakin ingin mengambil semua budak-budak ini?" tanya Resepsionis begitu terkejut.


"Saya membutuhkan banyak orang. Katakanlah, berapa jumlah yang harus saya bayar?"


" !! "


Resepsionis itu terdiam dan tak pecaya jika ada seorang Tuan muda yang akan membawa habis seluruh budaknya. Dia bahkan terlihat linglung dengan tingkah gelagapan.


"Apakah anak ini berasal dari selatan? Seperti nya dia penerus seorang Duke kaya raya," benak Resepsionis itu masih terkejut pada tindakan Rivera.


"Tuan?"


"Ah, ma-maafkan saya, Tuan muda. Saya hanya...."


"Katakan, berapa yang harus saya bayar?" tanya Rivera mengulangi kalimatnya dengan ekspresi datar.


"10.000 Gold, Tuan muda," jawab Resepsionis tersebut.


Rivera dengan segera membuka ruang dan waktu untuk mengambil 10.000 Gold, dan hal itu pun mengejutkan sang Resepsionis karena anak sekecil ini sudah bisa membuat sebuah ruang waktu sebagai tempat penyimpanan.


"Siapa anak ini sebenarnya..?" benak Resepsionis itu bertanya-tanya.


"Ini adalah Gold yang berjumlah 10.000. Sekarang keluarkan mereka semua karena saya sedang terburu-buru!"


"B-baik, Tuan muda..."

__ADS_1


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2