
Pengumuman kembali terdengar sehingga memecah lamunan Rivera.
"Ratu memasuki ruangan..." suasana menjadi ricuh saat Ratu mulai memasuki ruangan pesta. Mereka membungkuk memberi salam.
"Semoga selalu dilimpahkan kesehatan, yang mulia Ratu," hormat mereka pada Estira yang baru saja memasuki ruangan pesta.
"Kalian juga..." dinginnya dan kemudian berjalan menuju singgasan Alexander.
"Hormat saya, Baginda," sapa Estira tersenyum manis memberi salam pada Alexander.
Alexander berdehem tanpa memperdulikan keberadaan dari Estira. Wanita cantik berambut emas itu pun sontak saja langsung merasa terbaikan. Sambil menekuk wajahnya dia pun duduk di singgasana di samping Alexander.
"Alexander, mau sampai kapan kau mengacuhkan ku..!! Apa yang kurang dari ku..? Apakah penampilan ku? Ini semua gara-gara perempuan itu..!! " Estira begitu gelisah melihat Alexander yang masih mengacuhkannya.
"Siapa yang sedang dia lihat sehingga dia mengacuhkan ku..." lanjutnya lagi mengikuti arah pandangan Alexander " !! " Estira langsung terkejut. Dia meremas tangannya kuat dengan ekspresi kesal.
"Anak dan ibu sama-sama pelacur....berani sekali anak cadangan itu mengikuti acara kekaisaran yang agung ini..!!"
Rivera bisa merasakan jika ada yang sedang memandangnya dengan hawa membunuh. Dia menoleh dan kemudian bisa melihat sesosok wanita cantik berambut emas yang sedang duduk di samping Alexander memandangnya dengan tajam.
Sontak saja hal itu membuat nya kesal karena mengetahui bahwa wanita yang sedang menatap tajam padanya adalah sang Ratu, ibu dari Loraine dan Avane. Dia memalingkan wajahnya sambil berkata "Kapan acara perjamuannya dimulai?" gumam Rivera namun cukup kuat terdengar oleh ketiga orang yang ada di sampingnya.
"Tunggu saja sebentar lagi, Bunny. Karena hal itu di putuskan oleh Ayah kaisar, " jawab Viese.
Rivera hanya bisa menghela napas karena merasa bosan pada acara perjamuan yang tak kunjung terjadi. Dia melipat tangannya sambil bersandar di sofa pojok itu. Mengetahui jika Rivera bosan, Bellezac berinisiatif ingin mengambilkan kudapan untuk mengisi jenuh Rivera.
Sementara Viese, dia pergi untuk mengambil minuman pada arah berbeda dari Bellezac. Tinggallah 2 orang saja pada pojok itu. Rivera dan Abel adalah 2 orang yang awet sekali berbicara, sehingga membuat suasana yang pada dasarnya tidak sunyi menjadi sunyi.
Tidak ada 1 pun diatara mereka yang berbicara. Mereka saling terdiam dengan melipat tangan mereka.
Selang waktu berlalu, tiba-tiba kaisar memberi kode pada pemain piano agar berhenti. Alunan piano tak terdengar lagi sehingga membuat fokus semua orang menuju pada Alexander.
__ADS_1
"Sudah cukup dengan tariannya..." ujar Alexander dengan ekspresi tersenyum kecil dan mata sayu sembari melihat pada Duke Pelet dan Duke Ropill yang sedari tadi melihat nya dengan tatapan mendesak.
Seketika saja, Duke Pelet dan Duke Ropill tersenyum lebar dan kemudian maju dengan bangga. Wajah kerakusan mereka terlihat dengan jelas. Mereka maju agak mendekat kearah singgasana Alexander.
Keadaan menjadi ricuh, para bangsawan saling berbisik dan diantara mereka ada yang sedang merapikan pakaian mereka. Mereka bingung apa yang sebenarnya yang akan dilakukan oleh kedua orang itu.
"Dalam beberapa bulan lalu telah muncul sebuah keajaiban di kekaisaran Obelion. Hal itu akan menambah kejayaan kekaisaran Obelion sehingga membuat kekaisaran kita menjadi lebih besar dan lebih kuat..!" ujar Duke Pelet mulai berpidato.
"Kita semua disini harus bijak, kita harus memikirkan Kekaisaran kita dan menggap kekaisaran kita adalah perihal nomor 1 yang harus diurus..! " sahut Duke Ropill..
Alexander hanya bisa tersenyum sinis mendengar ke-2 orang itu saling bergantian untuk berbicara perihal yang akan diurus. Dia hanya bisa mengamati permainan itu dengan bersandar di singgasananya.
"Tambang berlian akan sangat berguna bagi kemajuan kekaisaran kita. Kita harus bangga pada Count Endirson yang telah merawat tambang kekaisaran selama ini.." lanjut Duke Pelet sehingga membuat suasana ruangan menjadi semakin riyuh.
" !! "
"Berarti itu bukan tambang Count Endirson, ya? Apakah selama ini dia hanya menjaga tambang itu.."
"Apa lagi yang terjadi..?"
"Tak henti-hentinya ke-2 orang itu bertindak dengan apa yang bukan menjadi milik mereka. Dulu saya juga kena oleh rencana busuk mereka..!! "
Para bangsawan berbisik dan berada antara pro dan kontra. Mereka ada yang menyetujui perkataan Duke Pelet dan Duke Ropill. Namun tak sedikit pula ada yang tidak setuju pada pernyataan mereka, karena mereka tahu jika pertambangan itu adalah hak milik Endirson.
Sementara yang terjadi pada Rivera, dia hanya bersikap tenang seolah-olah memang sudah memprediksi apa yang akan terjadi. Yang hanya dia khawatir kan saat ini hanyalah Celevin dan Abel.
Rivera melihat kearah Celevin yang berdiri tak jauh darinya. Dia bisa melihat Celevin yang sedang berdiri memegang minumannya sambil membuat ekspresi datar. Celevin memandang lurus kearah Duke Pelet dan Duke Ropill seolah dirinya tidak merasa terancam sedikit pun.
"Demi kemajuan istana apanya..! Itu hanya karena kalian ingin mengisi perut kalian saja yang sudah buncit itu..!" benak Rivera hanya bisa tersenyum sinis dan menertawakan sikap bodoh ke-2 orang itu.
Dia kembali melirik kearah Abel. Abel yang sedari tadi hanya diam langsung merubah sikapnya begitu mendengar pembicaraan antara Duke. Raut wajahnya menghitam, dia mengepal jari-jemarinya dengan kuat. Rivera kembali menghela napas dan kemudian mulai menggenggam tangan Abel.
__ADS_1
"Kakak, tenanglah. Kita harus mempercayai ini pada Tuan Count. Jangan pernah berpikir jika mereka akan mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan..!" bisik Rivera menenangkan Abel.
Abel terdiam sambil menunduk. Dia membuat ekspresi sedih sehingga membuat Rivera kebingungan.
"Dia akan sangat sedih jika menyangkut Ayahnya. Sungguh anak yang berbakti," benak Rivera tersenyum kecil.
Kembali pada Duke Pelet dan Duke Ropill, mereka tersenyum dengan bangga sambil melipat ke-2 tangan mereka kebelakang. Dengan bangga pula, Duke Ropill mulai berbicara kembali.
"Untuk Tuan count Endirson, tolong majulah kedepan," suruhnya sehingga langsung saja di patuhi oleh Celevin.
"Hormat saya, matahari kekaisaran," hormat Celevin membungkuk.
"hmmm.." dehem Alexander sehingga Celevin bisa untuk mengangkat pandangannya kembali.
"Terima kasih, Tuan Count. Selama ini anda sudah menjaga apa yang harus anda jaga. Anda sudah ikut andil dalam memajukan kekaisaran kita ini..! " bangga Duke Pelet.
"....Saya tidak mengerti apa yang sedang Tuan Duke katakan...!" jawab Celevin datar.
" !! " Duke Pelet dan Duke Ropill terhentak mendengar jawaban tersebut. Namun berbeda dengan Alexander, dia justru hanya tersenyum sinis seolah sangat menikmati drama tersebut.
"Apa yang Count katakan, tentu saja tentang masalah pertambangan itu..." jawab Duke Pelet menjadi gelagapan.
"Apa saya pernah menyetujui nya..?" lanjut Celevin datar.
"Apa maksud anda, tentu saja itu tidak memerlukan sebuah persetujuan karena ini berhubungan dengan kekaisaran.." Duke Ropill terlihat sangat marah dan berbicara tegas pada Celevin.
"Benarkah... apa itu memang berhubungan dengan kekaisaran. Apa yang terjadi pada kekaisaran sehingga kekaisaran membutuhkan tambang berlian atas nama Endirson. Apakah baru-baru ini kekaisaran mengalami penurunan keuangan sehingga meminta sumbangan seperti ini..?" jawab Celevin menohok sehingga membuat ke-2 nya terdiam.
"Fttttt.. " Alexander tertawa. Dia tertawa saat mendengar jawaban Celevin sehingga mampu membuat ke-2 orang yang digadang-gadangi memiliki temperamen buruk menjadi tidak berkutik.
Semua orang langsung memandang pada Alexander. Sontak saja Alexander berhenti tertawa lalu berkata "Lanjutkanlah," suruhnya.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^