
Suasana pagi hari dengan hawa dingin yang sangat menusuk batin. Tidak mematikan tekat para penduduk kekaisaran Obelion untuk melakukan aktivitas mereka di kala pagi itu.
Di iringi oleh suara burung yang saling bersautan, membuat suasana kota semakin hidup.
Ditengah-tengah keramaian kota, terlihat 4 orang yang sedang berjalan dengan tubuh berbalutkan jubah. Tidak jarang pula mereka mendapatkan tatapan penasaran dari para penduduk yang berlimpasan dengan mereka.
Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Rivera, Dorothy, Johanna dan Solderet. Keberadaan mereka mengundang banyak sekali mata. Tanpa memperdulikan semua pandangan menusuk itu, mereka ber-4 pergi memasuki sebuah bar yang terkenal di pusat kota kekaisaran Obelion.
Setelah memasuki bar tersebut, mereka langsung disambut oleh suasana ramai dan juga berisik. Banyak sekali para kesatria, prajurit bayaran dan bahkan tidak jarang ada seorang bangsawan yang ada di dalam bar, menikmati minuman.
Begitu mereka memasuki tempat itu, datang seorang pelayan laki-laki, membawa sebuah nampan kosong dengan ekspresi ramah mereka.
"Selamat datang pengunjung, silahkan ikuti saya," ujar pelayan itu dengan ramah.
Mereka ber-4 pun langsung mengikuti pelayan itu yang sedang mengarahkan mereka pada kursi kosong yang berada di tengah-tengah para pengunjung lainnya.
Mereka duduk disana, melihat sekeliling mereka dengan tatapan waspada. Tidak lama pelayan laki-laki itu mulai menyodorkan daftar menu. Menunggu pesanan yang akan dipesan oleh ke-4 orang tersebut.
"Saya ingin menu-menu yang paling laris disini," singkat Rivera.
"Baiklah. Mohon ditunggu, saya akan membawakan pesanannya," ujar pelayan itu lalu pergi dari sana.
"Huhh... aku tidak sabar ingin menikmati makanan para manusia renda... "
"Diamlah, perhatikan dimana anda berada..!! " sela Rivera membuat perkataan Solderet terhenti.
Solderet terdiam dengan bibir manyunnya. Dia sangat bosan sehingga matanya tanpa sadar tertuju kesekitar.
Begitu melihat itu, Solderet langsung memicing, melihat pada orang-orang yang telah memberikan tatapan menusuk kepada nya dan ke-3 rekannya.
"Tck..!! Berani sekali makhluk hina ini... "
"Abaikan..! Tidak perlu melihat barang yang tidak penting," lagi-lagi Rivera menyela sehingga perkataan Solderet kembali terhenti.
"Tck..! Menyebalkan..!" gumam Solderet jengkel.
Johanna dan Dorothy hanya bisa terdiam, merasakan suasana yang sangat tidak nyaman. Apa lagi, ini adalah kali pertama mereka memasuki bar.
Mereka saling terdiam, menyembunyikan wajah dengan tudung jubah mereka.
"Putri, tudung jubah putri sedikit terbuka, " bisik Dorothy.
Rivera langsung mengarahkan fokus pada tudung jubahnya. Dan kemudian mulai membenarkan tudungnya agar rambut silvernya tidak terlihat.
__ADS_1
*Brakk... tiba-tiba suara keras dari arah samping mereka terdengar. Terlihat seorang laki-laki berbadan kekar sedang membanting gelas minuman dengan keras. Semua mata tertuju pada laki-laki itu yang sudah dalam keadaan mabuk.
"Bajingan..!!" pekiknya sehingga membuat pengunjung lainnya menjadi terganggu.
"Jika saja kejadian itu tidak terjadi, aku tidak akan menjadi pengangguran seperti ini..!! " lanjutnya berdiri, memukul meja dengan keras.
Semua orang semakin merasa terganggu, mereka terlihat kesal sampai salah 1 diantara mereka ada yang berdiri dan kemudian berkata..
"Pelayan..!! Cepat bawa pria gila itu dari sini! Dasar orang tidak berpendidikan..!!" kata seorang pria yang terlihat seperti seorang bangsawan.
Tidak lama datanglah 1 orang pelayan berbada kekar, tidak kalah kekarnya dari pria mabuk itu. Dia menghampiri pria bangsawan itu seraya berkata..
"Ada apa ini...? " tanya dirinya dengan ekspresi garang seolah tidak boleh ada keributan yang terjadi ditempatnya.
"Pria itu membuat masalah, cepat usir dia..!" jawab pria bangsawan itu menunjuk kearah pria mabuk tadi.
Langsung saja, pelayan kekar itu langsung berjalan menghampiri pria mabuk dan kemudian dia mulai menarik pria mabuk itu dengan mudah.
"Keluarlah kau brengsek..!!" kata pelayan itu dengan garang.
*BRUKK... pelayan berbadan kekar itu menendang pria mabuk tersebut keluar dari dalam bar. Seketika suasana menjadi tenang kembali tatkala sang pengganggu sudah hilang.
"Huft.. dasar orang aneh..!"
"Ya, itu karena monster-monster yang menghancurkan toko miliknya. Tapi dari pihak kekaisaran sudah memberikannya uang ganti rugi, jadi kemana uang itu pergi?"
"Yahh.. jika bukan kejadian itu tidak akan ada banyak orang yang menjadi pengangguran. Dia setiap hari berpoya-poya di bar ini, karena stres."
Mereka terus berbicara sehingga kondisi ruangan cukup menjadi berisik, cukup mengusik ketenangan Solderet yang sedang terdiam melihat daftar menu.
"Ck..!!" decak Solderet masih menahan emosinya.
Namun tiba-tiba saja terdengar pembicaraan seseorang sehingga membuat ruangan itu kembali ricuh.
"Aku yakin jika kejadian ini terjadi karena putri pembawa sial itu, yang tiba-tiba menghilang saat kejadian..! Dia pasti bersengkongkol dengan kepala menara sihir..!!"
"Itu benar..! Pasti dia yang telah menghasut kepala menara sihir agar melakukan pemberontakan..!! Dia kan telah diabaikan oleh kaisar.!! "
Semakin lama pembicaraan mereka semakin menjauh, mengusik ketenangan jiwa dan raga Rivera. Dia tersenyum sinis seraya merasakan sebuah rasa panas mulai menjalar di dadanya.
"Wah.. wah... wah...!! " benak Rivera mencoba untuk memendam rasa kesalnya.
Hal itu tidak luput dari tatapan mengejek Solderet. Dia tersenyum menyamping, menatap Rivera seolah-olah berkata "Kena kau..!! "
__ADS_1
Rivera hanya bisa mengulum senyum, menendang kaki Solderet dengan kuat.
*PLAKKKKK.... mata Solderet langsung membesar. Sebuah rasa nyeri yang luar biasa mulai menjalar ke seluruh tulang kaki kirinya.
"AUUUUU...!!" jerit Solderet kesakita.
"A-ada apa tuan Solderet?" bingung Johanna, menatap Solderet dengan panik.
Bukan hanya Johanna, seluruh pengunjung dan bahkan pelayan juga menatap Solderet dengan tatapan bingung. Mereka memicingkan mata mereka, merasa terganggu oleh suara keras Solderet.
"Ka-kau...!! " geram Solderet tidak mampu berkata-kata lagi karena Rivera menipiskan mata padany.
Mendadak dia langsung terdiam, duduk kembali ke kursinya seolah-olah tidak terjadi apapun barusan. Namun celakanya suasana semakin menjadi ricuh tatkala tudung jubah Solderet terbuka, sehingga rambut silver dan wajah mempesonanya langsung terlihat oleh orang-orang.
"R-rambut Silver..!"
"D-dia memiliki rambut silver...! "
Semua orang mendadak bangun dari posisi duduk mereka. Mereka semua menurunkan pandangan mereka dan kemudian mulai membungkuk seraya berkata..
"Hormat kami pada anggota kekaisaran.!!" ujar mereka serempak dengan rasa takut dan segan pada Solderet yang memiliki rambut Silver.
" !! " Rivera langsung menoleh kearah Solderet dengan pandangan jengkel.
"Tu'tuan Solderet, tudung jubah anda... !!" bisik Dorothy panik.
Solderet membalas tatapan mereka dengan pandangan jengkelnya. "Turunkan pandangan rendahan itu dari ku..!! Dasar menjijikan..!! " tegas Solderet memandang hina kearah semua orang.
Seketika pandangan mereka mulai jatuh, dan kemudian duduk kembali pada kursi mereka masing-masing, dengan rasa takut yang berasal dari hawa membunuh yang dikeluarkan oleh Solderet.
Rivera hanya bisa menampar kening, merasa lelah pada tingkah Solderet.
"Niat ku untuk makan-makanan bersama jadi rusak....!! " benak Rivera jengkel.
^^^To be Continued~^^^
Bocoran dikit
*Ding
[Nona, misi sampingan telah muncul]
"Buka misinya..!! " jawab Rivera, tersenyum sinis menatap pada seorang anak perempuan berambut panjang dengan warna silver, sedang berada di gendongan Alexander.
__ADS_1