BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
SALAM PERPISAHAN


__ADS_3

Celevin dan Abel sudah bersiap untuk pergi kembali ke Romant. Mereka sangat sedih karena Rivera tidak bisa ikut kembali bersama mereka ke Romant. Terutama Abel, dia sangat kecewa pada kondisi buruk yang terjadi saat ini. Dia tidak rela harus meninggalkan Rivera apa lagi diri nya sudah mengetahui perlakuan apa saja yang di dapat Rivera saat tinggal di istana.


Namun keduanya harus berlapang dada untuk pergi tanpa keberadaan Rivera. Karena kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk bertindak.


Sementara saat ini, Rivera dan Dorothy sedang berada di depan pintu keluar Balmoral. Dia bisa merasakan jika diluar sedang ada 2 prajurit Rank A yang sedang menjaga pintu.


Saat ini Rivera sedang menggunakan pakaian pelayan dan sebuah jubah untuk menutupi rambutnya. Dia berniat untuk pergi keluar agar bisa mengucapkan salam perpisahan kepada Abel.


Bisa saja dirinya menggunakan kemampuannya untuk sampai kemanapun yang dia mau. Namun Rivera tidak ingin sampai kaisar tahu jika dirinya bisa membuka portal kemana saja saat baru menginjak usia 11 tahun. Karena bisa saja kemampuannya akan dimanfaatkan untuk sesuatu yang buruk.


Dia pun pergi keluar, meninggalkan Dorothy yang memilih untuk tetap tinggal di dalam Balmoral agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Sebutkan nama anda, dan mau kemana anda pergi," tegas salah satu penjaga itu pada Rivera yang sedang menyamar.


"Nama saya Ennie, saya adalah pelayan di sini. Saya ingin berbelanja kebutuhan dapur karena semua bahan makanan sudah habis," jelas Rivera menunjukkan keranjang belanja pada kedua penjaga itu.


Kedua penjaga itu saling pandang, mereka terlihat enggan untuk membuka jalan. Namun mereka merasa tidak enak karena sayur-sayur yang dibeli adalah sayur yang akan menjadi makanan putri ke-4, yaitu Rivera sendiri. Mereka tidak ingin bocah yang sedang mereka jaga itu sampai mati kelaparan.


"Baiklah, pergi secepatnya. Jangan sampai melakukan seauatu yang bisa memancing amarah kami, mengerti?! " tegas mereka dan dibalas anggukan oleh Rivera.


Rivera pun segera pergi dari sana sambil terus memperbaiki tudung jubah miliknya. Dia sangatlah lega karena kedua penjaga itu tidak mengenali dirinya.


Dia segera melesat menuju tempat Celevin dan Abel berada. Dia benar-benar berharap jika Celevin dan Abel belum pergi dari istana, karena Rivera ingin sekali mengucapkan salam perpisahan pada mereka.


Karena tidak ingin ketinggalan, Rivera segera berlari dengan kecepatan maksimal. Sehingga sampailah dia didepan bangunan utama kekaisaran yang menjadi tempat keluar masuknya sebuah kereta kuda.


Disana terlihat jika Celevin sedang mengobrol bersama Mark, yang hendak beranjak pergi keluar gerbang. Namun dengan cepat Rivera segera menghentikan mereka sehingga mereka semua mengalihkan fokus pada Rivera.

__ADS_1


"Tunggu saya..." teriak Rivera.


" !! " Celevin dan Mark langsung menoleh dan, kemudian turun dari kuda mereka begitu menyadari jika yang sedang berteriak itu adalah Rivera.


"Tuan putri, anda disni.." senang Celevin menyambut hangat keberadaan Rivera.


Mendengar jika sang ayah memanggil Tuan putri, sontak saja Abel ikut turun dari kereta kuda untuk melihat apakah memang benar jika ada Rivera atau tidak. Dan ternyata hal itu memang benar sehingga membuatnya tersenyum lebar untuk pertama kalinya.


"Tuan putri, anda disini.." senang Abel dengan senyuman merekah.


Rivera hanya bisa membalas tersenyum pada mereka. Sambil terus memperbaiki tudungnya, Rivera pun berkata "Saya tidak memiliki banyak waktu lagi. Saya ingin mengucapkan salam perpisahan pada Tuan Count dan kakak. Saya sangat berterima kasih pada kalian karena sudah menjaga saya selama ini," ujar Rivera sehingga membuat keduanya terenyuh pada setiap kata yang dikeluarkan.


"Tuan putri lah yang sudah banyak berjasa untuk Romant dan Endirson. Saya yang seharus berterima kasih pada Tuan putri," jawab Celevin dengan senyum lembutnya.


"Saya benar-benar tidak bisa ikut bersama Tuan Count dan kakak. Kondisi saya saat ini sangat tidak memungkinkan. Jadi... bisakah kalian berdua menunggu saya di Romant?" lanjut Rivera membuat ekspresi sedih.


"Kami akan selalu menunggu kedatangan Tuan putri. Pintu kediaman Endirson akan selalu terbuka untuk Tuan putri," jawab Celevin.


"Baguslah. Kalau begitu saya harus cepat pergi dari sini. Saya tidak memiliki banyak waktu lagi karena para penjaga akan mencurigai saya," ujar Rivera terburu-buru dan kemudian pergi dari sana sambil melambai-lambaikan tangan nya.


Celevin dan Abel membalas melambai pada Rivera. Mereka tersenyum dengan tulus karena perasaan senang bahwa Rivera akan kembali ke Romant. Namun seperkian detik, senyuman mereka berubah setelah melihat sesosok yang tidak diduga-duga sedang berada di belakang Rivera.


"Tuan putri..."


" !! "


Rivera langsung menoleh kebelakang dan kemudian terkejut saat menyadari jika dibelakangnya ada Alexander yang sedang memandang nya dengan datar.

__ADS_1


"B-baginda... " gumam Rivera tercengang.


"Mengapa aku tidak bisa merasakan keberadaan pria ini..?!" benak Rivera heran menatap kearah Alexander.


Alexander menatap sinis kearah Celevin lalu dia berkata "Anda pasti sibuk, jadi saya mengucapkan salam perpisahan pada anda," tajamnya dan kemudian mulai menggenggam tangan Rivera dengan kuat seolah-olah tidak mau melepaskan tangan itu dari genggamannya.


"B-baginda tolong lepaskan tangan saya," kesal Rivera memplototi Alexander.


Namun Alexander bahkan tidak mendengarkan perkataannya dan malah menyeret Rivera pergi dari sana.


"Baginda, anda mau membawa saya kemana..!! " tegas Rivera masih tidak didengar oleh Alexander.


"Mengapa pria ini sangat kuat..!! Apa sebenarnya dia ini.. " kesal Rivera karena tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan Alexander.


"Baginda tolong pelan-pelan, kaki saya sakit..!! " ujar Rivera lagi yang pada akhirnya di dengar oleh Alexander. Alexander pun menghentikan langkahnya, namun buruknya dia malah mengangkat tubuh Rivera sehingga membuat Rivera tercengang pada prilaku Alexander yang memperlakukan nya seperti seorang anak kecil.


"B-baginda, apa yang anda lakukan. Saya bisa berjalan sendiri!! "


"Diamlah!! Kau bilang jika kaki mu sakit, bukan? Maka aku akan menggendongmu, " jawab Alexander dengan datar.


"T-tapi kan saya bisa berjalan sendiri dengan pelan. Lagi pula kemana kita pergi? Ini bukan jalan menuju ke istana saya," ujar Rivera bertambah kesal karena Alexander telah berani bersikap semena-mena padanya.


Bukannya menjawab, Alexander malah diam dan terus berjalan menuju kearah yang entah akan menuju kemana. Karena tidak mengetahui kemana mereka akan pergi, Rivera memutuskan diam untuk mengamati keadaan.


"Si pria gila ini bersikap semau hatinya. Apa yang dia inginkan dari ku?! Apakah pria ini bodoh?" kesal Rivera berdengus.


^^^To be Continued~~^^^

__ADS_1


__ADS_2