BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
DIMULAI


__ADS_3

Rivera sudah banyak sekali menghabiskan waktu di dalam dimensi ruang waktu. Akhirnya setelah selesai membimbing para calon kesatria dalam menggunakan pedang, Rivera pun memutuskan untuk kembali ke dunia nyata.


Dia sampai di kamarnya dan seketika saat itu juga Rivera pun mulai merebahkan diri di lantai tanpa memikirkan jika lantai itu kotor atau tidak.


Dia menghela napas panjang lalu berkata "Kapan ya aku besar. Aku mengakui jika energi ku kuat, tapi mudah lelah karena masih anak-anak," monolog Rivera kesal dengan fisik anak-anak nya saat ini.


Dia memandang langit-langit dengan tatapan penuh makna.


*Tok tok tok


Terdengar sura ketukan pintu dari luar, Rivera pun berkata "Buka saja pintunya,"


*Ceklek


"Putri....


Dorothy menghentikan perkataannya setelah melihat Rivera terkapar dilantai dengan baju yang kotor akibat debu dari tanah.


"Tuan putri mengapa berbaring disini? Lantainya kan kotor. Ayo Nanny bantu bangun," ujar Dorothy memapah Rivera agar segera bangun.


Rivera dengan pasrah mengikuti semua perkataan Dorothy. Dia duduk di sofa dengan bersandar di sana.


Dorothy yang memahami betul dan mengetahui apa yang barusan dilakukan Rivera pun hanya bisa memendam rasa sedihnya itu. Dia pun dengan segera mengambil air hangat dan sebuah handuk di kamar mandi kamar tersebut.


"Putri, apakah latihannya lancar?" kata Dorothy berbasa-basi.


"Iya, semuanya berjalan lancar," jawab Rivera.


"....Putri pasti sangat kelah. Apakah putri ingin dibuatkan sesuatu untuk dimakan?" tanya Dorothy kembali sambil sedikit berteriak karena dia sedang berada di kamar mandi.


"Tidak usah, Nanny. Aku tidak memiliki nafsu makan,"


"Baiklah. Nanny tidak akan memaksa putri," ujar Dorothy sembari membawa sebaskom air hangat dan satu lembar handuk putih.


Dia pun meletakan sebaskom air hangat itu di atas meja dan mencelupkan handuk putih ke dalamnya.


"Putri sudah berjuang dengan keras. Terima kasih untuk semuanya. Nanny tidak akan pernah meragukan kemampuan putri, namun jangan pernah lupa jika putri adalah seorang anak kecil yang berumur 11 tahun. sesekali bersikaplah seperti anak 11 tahun, putri. Bermainlah dan bersikap manjalah," kata Dorothy sembari memeras handuk basah dan mengelap tangan Rivera dengan handuk basah tersebut.


Rivera yang mendengarkan nasihat itu hanya bisa terdiam sambil melihat kearah tangannya yang sedang dibersihkan.


"Bisakah putri berjanji kepada Nanny, putri harus lebih memperhatikan diri putri sendiri. Diri putri itu sangat berharga, putri harus berpikir jika diri putri adalah orang yang sangat berharga,"

__ADS_1


"Bisakah putri mengatakan hal itu?"


Rivera termenung sambil menunduk "Apakah aku memang sebeharga itu? Kenapa wanita ini berpikir jika aku berharga?" benak Rivera heran sekali gus merasa tersentuh dengan perkataan Dorothy.


"Putri...? "


Rivera mulai mengangkat pandangannya, sambil membuat ekspresi tersenyum ramah dia berkata "Aku adalah orang yang berharga," jawab Rivera sehingga membuat Dorothy tersenyum bahagia.


"Dorothy, kau adalah orang yang sangat unik," benak Rivera ikut tersenyum bahagia.


*Tok tok tok


Fokus mereka berubah. Mereka saling pandang saat ada yang mengetuk pintu kamar itu. Dorothy dengan segera berdiri dan pergi menghampiri pintu.


"Ceklek


"Oh, ternyata anda.." kata Dorothy saat mengetahui jika Thomas lah yang mengetuk pintu.


"Saya ingin menyampaikan pesan Count, Tuan Putri diminta untuk mengunjungi ruangan Tuan Count," kata Thomas.


Rivera sedikit mengintip sambil berkata "Baiklah Thomas, saya akan menyusul sebentar lagi," ujar Rivera.


Dorothy dan Rivera pun sontak saja langsung bertemu pandang seolah mereka sedang mengatakan "Seperti nya ada hubungan dengan undangan kekaisaran,"


Karena tidak ingin memakan banyak waktu akhirnya Dorothy pun membantu Rivera untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


8 menit berlalu...


Rivera dan Dorothy pun dengan segera menuju keruangan Count dengan penampilan Rivera saat ini yang menggunakan gaun selutut bewarna biru muda dan sepatu bewarna Biru muda pula. Tidak lupa dia menginkat kuncir dua rambutnya dengan pita yang bewarna biru muda.


Mereka terlihat terburu-buru dan akhirnya sampai di ruang Count.


*Tok tok tok


Rivera mengetuk pintu ruangan itu sambil berkata "Ini saya, Tuan Count,"


Tidak lama pintu pun terbuka dan memperlihatkan Mark dengan penampilan yang sangat berantakan. Terdapat mata panda yang besar di kelopak matanya dan bahkan rambutnya diikat dengan asal-asalan.


"H-hay Tuan Mark," sapa Rivera canggung.


"Masuklah Tuan Putri," kata Mark mempersilahkan Rivera masuk kedalam.

__ADS_1


Akhirnya Rivera dan Dorothy pun masuk kedalam ruangan yang memiliki kondisi tak kalah berantakannya dari Mark.


Berkas-berkas dan kertas lonyok berserakan dimana-mana dan bahkan terdapat noda tinta di lantai yang belum di bersihkan. Hal itu membuat Rivera dan Dorothy saling bertemu pandang seolah-olah mereka sedang memikiran sesuatu yang sama.


"Dimana Tuan Count?" tanya Rivera.


"Beliau sedang pergi ke kamar mandi. Sebentar lagi beliau akan datang," jawab Mark yang kembali fokus mengerjakan beberapa berkas.


"Dibalik penampilan sangar mikik Mark, ternyata dia memahami administrasi keuangan. Sangat menarik," benak Rivera yang melihat Mark sedang mengerjakan pemberkasan keuntungan dari hasil penjualan berlian.


Tak berselang lama, akhirnya Celevin datang dan melihat jika Rivera sudah berada di ruangannya. Dia pun dengan segera menghampiri Rivera lalu berkata "Tuan putri, apakah Tuan putri menunggu lama?"


"Tidak, Tuan Count"


"Ah baiklah, saya minta maaf jika sedikit terlambat. Silahkan duduk Tuan putri,"


Rivera pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Celevin dan, dia pun berkata "Tidak masalah. Saya hanya ingin mengetahui apa tujuan Tuan Count memanggil saya?" tanya Rivera.


"Saya hanya ingin menyampaikan jika 3 hari lagi kita akan melakukan perjalanan menuju ke istana kekaisaran," kata Celevin mulai membuat ekspresi serius.


Rivera tak bergeming dan menatap lurus sambil berkata "Apakah ada acara mendadak yang akan mereka selenggarakan?" tanya Rivera datar.


Celevin langsung paham pada perubahan nada bicara Rivera, dia merasa sedikit canggung untuk mengatakan kalimat selanjutnya.


"Hanya perjamuan makan saja, Tuan putri," jawab Celevin.


"Hmmm... selama ini kan jika ada acara di istana kekaisaran, kaisar tidak pernah mengundang Tuan Count? Apa tujuan kaisar mengundang Tuan Count setelah penemuan batu berlian itu?"


.........


Celevin terdiam termasuk Mark. Mereka tidak ada yang menjawab dan malah membuat ekspresi sambil berpikir.


"Hati-hati, Tuan Count. Kaisar adalah orang yang sangat licik. Jangan pernah terlena pada sikap nya nanti. Jika sampai anda terlena dan lemah, bisa saja anda yang akan jatuh,"


" !! "


"Terima kasih atas nasehat nya, Tuan putri. Saya akan berhati-hati mulai saat ini. Saya juga yakin jika kaisar tidak akan melakukan apa-apa," jawab Celevin tersenyum ramah kepada Rivera.


"Naif sekali..."


^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2