BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
RIVERA TERSINGGUNG


__ADS_3

Selang beberapa saat, akhirnya mereka sampai di istana. Alexander membantu Rivera untuk turun dari atas kuda. Rivera dengan senang hati pun menerima bantuan tersebut karena dia memang sudah merasa lelah akibat berjalan seharian mengelilingi kota yang besar.


Dia jatuh dalam dekapan Alexander sembari meminjam bahu kokoh itu sebagai sandaran pengganti bantal. Rivera sedikit memejamkan matanya dengan rasa kantuk yang tiba-tiba saja datang.


"Wah mengapa kantuk ini tiba-tiba datang..!! Baiklah baginda, saya akan meminjam bahu mu ini..." benak Rivera dan secara perlahan mulai kehilangan kesadaran.


"Yang mulia, saya akan membawa putri kekamarnya," ujar Dorothy hendak melangkah untuk mengambil Rivera.


"Tidak usah! Saya sendiri yang akan mengantar bocah ini masuk kedalam kamarnya," tolak Alexander langsung pergi meninggalkan Dorothy dan Ares.


Dorothy hanya bisa pasrah dan mau tidak mau harus mengikuti kemauan Alexander yang ingin mengantar Rivera secara langsung untuk masuk ke dalam kamar. Dengan pandangan sayu Dorothy pun mulai mengikuti langkah Alexander dengan lesu akibat kelelahan karena berjalan seharian tiada henti.


Apalagi langkah Alexander yang pada dasarnya cepat sehingga membuat Dorothy mengeluarkan tenaga ekstra agar tidak ketinggalan.


Mereka bertiga pun memasuki Emperor's Palace dengan disambut oleh Eiden dan beberapa pelayan wanita. Eiden dan pelayan wanita membungkuk hormat sambil berkata...


"Selamat datang kembali yang mulia.." ujar mereka dengan hormat.


"Hm.. " dehem Alexander tanpa menghentikan langkahnya dan malah berjalan melewati mereka dengan tergesa-gesa.


Disusul oleh Dorothy yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa sehingga membuat Eiden tersadar dan menarik tangan Dorothy sehingga langkah Dorothy terhenti dengan paksa.


"Lady Dorothy, sebaiknya anda jangan mengikuti yang mulia kaisar dan Tuan putri ke-4. Biarkan mereka berdua dulu. Sebaiknya anda pergi saja untuk istirahat, " jelas Eiden tersenyum pepsoden sembari memberi kode pada pelayan wanita untuk membawa Dorothy pergi.


"Tapi-tapi saya harus menemani Tuan putri..!! Tidak..."


"Diamlah, biarkan ayah dan anak bersama..!! "


Mereka menyeret Dorothy pergi dari sana sehingga tersisalah Eiden yang sedang tersenyum bahagia sembari melambaikan tangan pada Dorothy.


"Huhh...sungguh hari yang berat.." keluhnya dan kemudian pergi dengan lesu.


...****************...


Alexander sudah berada di dalam kamar Rivera saat ini. Dengan sangat pelan dia mulai meletakan tubuh Rivera di atas kasur karena takut jika sang putri akan terbangun.


Setelah berhasil meletakan Rivera di atas kasur, Alexander segera melepas sepatu Rivera agar Rivera bisa tidur dengan nyaman. Setelah melepaskan kedua sepatu tersebut dia pun tersenyum senang sembari fokus menatap ke arah Rivera yang begitu lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Kita baru saja bertemu beberapa hari, namun aku bisa merasakan sebuah kenyamanan sehingga mimpi buruk ku tidak pernah datang lagi..." gumam Alexander mengelus pucuk rambut Rivera.


"Apa mungkin karena kau adalah anak wanita itu..?" lanjutnya dengan ekspresi serius.


Dia terus mengelus pucuk rambut Rivera dengan lembut dan tak jarang pula dia menepuk pelan pundak Rivera. Dia sudah sangat bekerja keras saat itu sehingga dia memutuskan untuk pergi dari sana agar tidur Rivera tidak terganggu akibat kehadirannya.


"Tidurlah dengan nyenyak.." bisik nya dan kemudian mulai menutup pintu dengan sangat pelan.


*Brukk


Seperti itulah hari-hari berlalu. Banyak sekali yang sudah dilakukan oleh Rivera sehingga membuatnya tidak penasaran lagi seperti apa kehidupan kota di abad ini. Dia merasa sangat puas dan cukup menikmati suasana yang ramai.


Tidak terasa, pagi mulai datang menyambut semua aktivitas makhluk hidup. Rivera yang masih terbaring di ranjangnya secara tiba-tiba membuka mata dan terdiam sejenak untuk memproses seluruh nyawanya.


Dia menghela napas sembari bangun untuk duduk mendekati meja kecil yang berada tepat disamping ranjang miliknya. Disana dia meraih sebuah lonceng emas dan mulai menggetarkan lonceng tersebut sehingga menghasilkan suara yang agak nyaring.


Setelah membunyikan lonceng, tidak lama pintu segera terbuka dan memperlihatkan seorang pelayan wanita rambut pendek bewarna pirang. Pelayan wanita itu membungkuk hormat sembari berkata...


"Selamat pagi, Tuan putri. Saya datang untuk membantu Tuan putri,"


Rivera terdiam sejenak. Dia memperhatikan pelayan itu dari atas sampai kebawah. Tidak lama dia pun berkata..


"Saya sudah 3 bulan bekerja di Emperor's Palace, Tuan putri. Namun saya jarang bertugas di dalam istana karena saya baru melakukan magang. Namun sekarang magang saya sudah selesai. Oleh karena itu saya bisa bertugas di dalam istana," jelas pelayan wanita itu dengan canggung.


"...siapa nama anda? "


"Nama saya adalah Annabelle, Tuan putri bisa memanggil saya Belle," jawab Belle masih dengan sikap canggungnya.


"Baiklah, Belle. Tolong bantu saya bersiap-siap,"


Belle pun dengan patuh segera membantu Rivera untuk bersiap-siap. Pekerjaan Belle terlihat cukup cekatan sehingga Rivera tidak memiliki keluhan terhadap pelayan satu ini.


Tak memakan waktu yang banyak, akhirnya Rivera sudah bersiap dan kini memutuskan untuk pergi keluar supaya dirinya bisa sarapan sehingga energinya bisa terisi dengan penuh.


Rivera berjalan di lorong panjang yang berdekatan dengan ruangan pribadi Alexander. Dia merasa tidak terlalu tertarik pada hal pribadi Alexander sehingga dirinya berlalu pergi begitu saja.


Namun disaat baru saja ingin pergi, Rivera bisa merasakan energi sihir yang sangat kuat yang berasal dari dalam ruangan tersebut. Dia bisa merasakan jika sihir kuat itu setidaknya berasal dari seorang kepala menara sihir. Karena mustahil baginya bisa menemukan orang dengan kekuatan sihir seperti saat ini.

__ADS_1


Karena penasaran, Rivera segera melangkan kan kaki untuk mendekat kearah pintu. Dia mencoba untuk memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan percakapan yang terjadi di dalam.


"Baginda kita tidak boleh membiarkan anak cadangan tinggal di istana turun temurun ini..!! Bagaimana jika kesialan akan datang?! "


"!! " Rivera terkejut, dia menarik kupingnya dari pintu sembari bergumam "Ck! Sial, sial, sial...kau yang sial!! " kesal Rivera kembali mendengarkan percakapan mereka.


"Tidak bisa..!!"


"Lebih baik anda mengajak putri mahkota atau paling tidak ajaklah putri ke-2 dan putri ke-3. Jika sampai kesialan datang maka saya tidak akan mau menolong Yang mulia untuk menghilangkan kesialan itu..!" ancam mereka dengan dingin.


"...mengapa orang-orang sihir seperti kalian berani mengancam ku?! " betapa dinginnya suara itu sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam menjadi tidak berkutik.


"T-tapi...


"Hentikan omong kosong itu jika kalian tidak ingin kepala kalian terpisah dari tubuh kalian..!" tajam Alexander sehingga berhasil membuat 2 orang di depannya menelan air liur.


"Baiklah..!! Saya akan pergi. Jika yang mulia tidak ingin mendengarkan saya, saya sendiri lah yang akan bertindak..!! " mereka pergi dengan perasaan kesal apa lagi tanpa memberi hormat kepada Alexander.


Mereka mulai membuka pintu dengan sikap tidak hormat mereka. Setelah membuka pintu mereka langsung disambut oleh Rivera yang sedang melihat tajam kearah mereka.


"K-kau...!! "


Rivera tersenyum sinis sembari melangkah maju mendekat kearah kepala menara sihir dan pengikutnya.


"Tadi anda mengatakan jika saya sial, ya? Hmmm... tapi jujur saja, saya merasa sedikit tersinggung. Jadi..apakah anda mau menghilangkan rasa sakit hati saya?" ujar Rivera dengan nada santai.


"Apa-apaan anak cadangan ini...


*PLAKK


*BRUKK


Rivera memukul mereka berdua dengan keras sehingga hanya dalam satu pukulan mereka langsung tumbang.


"Cih! Serangga yang lemah untuk seukuran kepala menara sihir..!! " ejek nya menendang kepala menara sihir dan pengikut kepala menara sihir.


" !! " Alexander tercengang. Dia menatap kearah Rivera dengan tatapan sedikit kaget namun juga bangga sehingga dia melayangkan 2 jempol tangannya pada Rivera.

__ADS_1


"Kau hebat.. " puji Alexander bertepuk tangan.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2