
Dia langsung memejamkan mata, memusatkan mana menjadi sebuah pusaran arus sehingga mulai terbentuklah sebuah elemen baru yang mulai mengalir di tanganya.
"Jangan bergerak setelah berpikir, biarkan instingku yang mengambil alih. Biarkan instingku yang menggerakkan tubuhku..!! " Rivera membuka matanya, sebuah arus listrik mulai mengalir ditangannya.
"Keparat rendahan..!" sinis, Rivera, mengeluarkan elemen listrik dan menyengat semua monster yang mencoba untuk mendekat.
*JDERRRR...!!
*BOOMMM... sangkin besar arus listrik yang di keluarkan oleh Rivera, terdengar sebuah ledakan yang merambat ke monster-monster lainnya.
Tubuh monster-monster tersebut hangus disertai oleh bau daging yang hangus terbakar. Rivera melompat, menerjang ketinggian yang lumayan untuk menyerang monster-monster yang sudah bergumpul di satu titik.
*BOOMM.... suara ledakan yang 10 kali lebih keras terdengar, menggema di seluruh tempat sehingga bunyi ledakan itu bisa terdengar di istana kekaisaran.
Lubang-lubang besar tercipta gara-gara power yang dikeluarkan oleh Rivera terlampau besar. Bahkan gua ikut bergetar dan mengalami retak akibat efek getaran yang kuat.
Orang-orang di dalam sana panik, melihat keatas dengan tubuh meringkuk. Namun untungnya, Kahil, tetap berada di kondisi tenang, cukup tenang sampai bisa menenangkan yang lainnya.
"Kita di lindungi oleh Shield, reruntuhan tidak akan mengenai kita," ujar, Kahil, menenangkan rekan-rekannya.
"A-apa yang terjadi di luar? Mengapa suara ledakan itu terdengar sangat keras?!" kata perempuan pengguna tombak tadi dengan ekspresi paniknya.
Kahil menoleh, ikut berpikir dari mana sumber suara itu berasal?! Namun seperkian detik kemudian, Kahil, mulai tersadar pada kata-kata, Rivera, tadi.
"Apakah yang dimaksud yang mulia pangeran tadi.. adalah pemanasan seperti itu?" gumam, Kahil, sedikit terkejut setelah menyadari jika mungkin yang menyebabkan ledakan besar itu adalah, Rivera.
kedelapan orang itu langsung menoleh pada, Kahil. Mereka turut merasa terkejut jika memang, Rivera, lah yang telah menyebabkan ledakan tersebut.
"Sebesar apa kekuatan yang di miliki oleh matahari kecil kekaisaran kita? Apakah beliau adalah Putra Mahkota?" celetuk yang lainnya.
"Sepertinya bukan Putra Mahkota. Putra Mahkota sedang melakukan pendidikan sebagai ahli waris di Akademik. Tidak mungkin baginya untuk sampai di tengah-tengah hutan iblis ini," tepis, Kahil. Karena memang tidak mungkin jika putra mahkota bisa keluar dari akademik tanpa seizin kaisar yaitu, Alexander.
Mereka semua terdiam memikirkan siapa sebenarnya yang sedang bertarung di luar. Rasa penasaran mereka semakin membesar tatkala terdengar kembali suara keras dari luar.
*JDERRRR...!!
__ADS_1
Mereka semua berdiri, berjalan menuju pintu luar. Namun sayangnya mereka tidak bisa keluar dikarenakan ada sebuah Shield yang menghalangi. Tapi untunglah, pintu gua yang agak lumayan besar itu bisa terlihat oleh mereka.
Keadaan luar bisa terlihat dengan jelas dari posisi yang saat ini mereka pilih. Begitu melihat keadaan luar, mereka langsung tercengan, menatap kumpulan monster dengan tatapan kosong.
*JDERRRR....!!
Suara petir memecah lamunan mereka, saling berganti tatapan masing-masing.
"Aku tidak bisa membedakan yang mana monster sebenarnya... " lirih salah satunya dengan tatapan tidak percaya melihat, Rivera, sedang berlari mengejar monster yang sedang ketakutan karena ulahnya.
Beralih pada Rivera, dia mengejar sekumpulan monster serigala berkuku besi dan bertaring besi. Mengayunkan Blood Sword, membuat aliran mana yang disatukan dengan elemen petir sehingga menjadi sebuah aura yang menerpa mereka.
*SLASHH....!!
Pancaran cahaya terang dengan aliran listrik menuju kearah mereka, menerpa mereka bagai sebuah angin topan.
*BOOMM...!!
Monster serigala itu langsung tumbang satu - persatu. Sementara yang lainnya pergi, melarikan diri dari amukan Rivera. Insting monster mereka bahkan mengatakan jika, Rivera, bukanlah lawan yang bisa mereka taklukkan. Tubuh mereka gemetar ketakutan sembari berlari dari kejaran, Rivera.
"Kemana kalian pergi! Bukannya kalian yang datang kemari untuk menghantar kan nyawa kalian..?!" pekik Rivera mengejar monster-monster yang berlari setiap dikejar olehnya.
Dia melihat ke arah Ogre yang berusaha mengendap-endap untuk lari dari dirinya. Seketika, Rivera, langsung tersenyum mengembang dan kemudian langsung mengejar Ogre tersebut.
"Cik...!! " Ogre, tersebut pun melarikan diri, dengan cepat bagai melihat setan yang menyeramkan.
Lagi-lagi, Rivera, menghentikan langkahnya dengan ekspresi jengkel. "Mengapa semuanya lari?!" jengkel, Rivera.
"Tapi, jika mereka dibiarkan pergi, mereka akan pergi menyerang warga sekitar. Ah, tapi... sisa mereka hanya tinggal puluhan. Aku yakin jika Tuan Count bisa mengatasinya," monolog, Rivera, santai duduk kembali di perbatuan yang besar.
Dia duduk santai di atas batu tersebut seraya membeli 1 botol Elixir lalu mulai meneguk habis Elixir tersebut. Rivera mulai memeriksa Status Window untuk melihat beberapa hal.
*Ding
[Nona, kiryu telah menyaksikan pertarungan, Nona..!!]
__ADS_1
Rivera, mengangkat 1 alisnya seraya berkata "Kau bisa melihat pergerakan ku saat sistem di nonaktifkan?"
[Benar..!! Karena, Nona, juga semakin kuat, sehingga Kiryu bisa memiliki bebedapa otoritas tambahan.! ]
"Waww..! Tapi tidak selalu melihat, kan?!" lanjut, Rivera, mengangkat alis, menunggu jawaban dari, Kiryu.
[T-tidak, Nona..!! Kiryu juga tahu batasan..!! ]
Rivera, menghela napas lega, dengan mengulum senyum, menghias wajah cantiknya. Sangat disayangkan, saat ini dirinya sedang memakai sebuah topeng!!
" !! " Rivera terdiam. Melihat kearah kanan dengan mata memicing.
Samar-samar dia bisa mendengar, ada suara puluhan tapak kuda yang sedang mendekat ke titik dirinya berada. Samar-samar, Rivera juga bisa mencium bau pamiliar yang tidak akan pernah dia lupakan.
"Tuan Count... dia disini.. " gumam, Rivera, mengulum senyum.
"Dan juga, kakak... " lanjutnya, merasa deja vu pada sesuatu. Jantungnya langsung berdebar, mengingat kenangan hangatnya bersama kedua orang tersebut.
Rivera bangun dari posisi duduknya, dia melangkah menuju gua dan mulai masuk ke dalam gua tersebut.
Begitu memasuki gua, Rivera, langsung di sapa oleh tatapan kosong dari kesembilan orang tersebut. Mereka termenung, melihat ke arah, Rivera dengan tatapan kosong dan mulut ternganga lebar.
Rivera, mengangkat alis, merasa heran pada tingkah laku mereka. Dia menjetikkan jarinya, sehingga lamunan mereka terpecah.
"!!" mereka semua tersadar, mulai menurunkan pandangan dengan sikap canggung mereka.
"TERIMA KASIH, MATAHARI KEKAISARAN..!!" serempak mereka, membungkuk dengan mata terpejam.
"Angkat pandangan kalian. Sebentar lagi akan ada bala bantuan yang akan datang. Saya harap, kalian tidak menyebut kejadian ini pada orang lain, mengerti!" tegas, Rivera, dengan suara yang agak diberatkan sehingga memang terdengar seperti suara laki-laki.
Mereka langsung mengangkat pandangan mereka, dengan tubuh yang tegang dan suasana yang canggung itu.
"Kami berjanji akan merahasiakan kejadian ini kepada orang lain..!! " ujar, Kahil, dengan senyum canggungnya.
"Saya akan pergi, kalian urus semua ini. Jangan sampai ada yang curiga jika saya lah penyebab kehancuran ini, paham..?!" tegas, Rivera.
__ADS_1
"LAKSANAKAN..!! " serempak mereka.
^^^To be Continued~^^^