
Sesampainya di Emperor's Palace, Alexander membawa Rivera masuk ke dalam sebuah kamar yang memiliki ukuran yang besar dengan latar gelap. Kamar itu merupakan kamar pribadi Alexander. Rivera kebingungan mengapa Alexander membawanya pergi ke dalam kamar.
"Baginda, mengapa nada membawa saya kesini!!" kesal Rivera memplototi Alexander yang sedang duduk di sofa dengan senyum nya itu seolah-olah tidak terjadi apapun.
Rivera semakin heran karena Alexander tidak menjawab pertanyaannya. Dia sungguh malas menghadapi pria aneh di depannya saat ini. Dia memutuskan untuk duduk di ranjang itu sambil melipat tangannya.
"Baru dirimu yang berani duduk di ranjang seorang kaisar. Apa kau tidak takut?" tanya Alexander.
"Ck! Jadi apakah saya tidak boleh duduk disini, jika tidak boleh maka bilangkah..!! " kesal Rivera beranjak pergi namun tiba-tiba saja Alexander datang dan mengangkat tubuh Rivera kembali.
Dia meletakan Rivera keatas kasur sambil berkata "Kenapa kau sangat mudah tersinggung. Kau bisa saja duduk diatas kasur ku. Mulai sekarang pun kau akan tinggal disini,"
" !!.."
"Apa maksud anda saya akan tinggal di sini? Apa anda bercanda dengan saya, saya bahkan tidak mau. Jangan paksa saya, karena saya sangat tidak suka dipaksa oleh orang yang tidak dekat dengan saya..!! " kesal Rivera membuang muka dari Alexander.
Alexander tersenyum kecil, dia duduk di lantai lalu kemudian meletakan kepalanya pada paha Rivera. Tentu saja Rivera terkejut pada sikap Alexander. Dia tidak mengerti, mengapa Alexander memperlakukan nya seperti ini.
"Untung saja kau ini sangat kuat, jadi aku tidak bisa melawan mu. Kalau aku lebih kuat darimu aku akan memplintir kepala mu sebanyak 100 kali," geram Rivera tidak bisa berkutik pada sikap Alexander.
"Mengapa kau ingin pergi dari ku..? Padahal didekat mu aku bisa merasa nyaman sama seperti yang aku rasakan pada wanita itu.. " gumam Alexander perlahan-lahan mulai kehilangan kesadaran dan terlelap dalam tidur yang nyenyak.
"Apa ini.. mengapa seorang kaisar seperti anda malah duduk dilantai, dan sekarang malah berbaring di paha saya," jengah Rivera menghela napas panjang.
"Huftt.. sebenarnya yang bocah itu anda atau saya..! Dari awal saya tidak suka dekat-dekat dengan anda, anda saja yang mendatangkan diri pada saya dan bersikap sok akrab," kesal Rivera mulai mengangkat pelan kepala Alexander dan meletakan pada sudut kasur. Rivera secara diam-diam turun dari kasur itu karena berniat akan pergi, namun sayangnya tangan Alexander meraih lengan Rivera sehingga Rivera terjatuh ke dalam pelukan Alexander.
" !! " kejut Rivera karena tiba-tiba saja Alexander memeluk dirinya dengan erat selayaknya sebuah boneka.
"Baginda, tolong lepaskan tangan anda.. Baginda," panggil Rivera menggoncang-goncang tubuh Alexander. Namun Alexander tak kunjung sadar dan semakin lelap.
"Mau tidak mau aku harus menunggunya untuk bangun. Aku juga merasa agak ngantuk, jadi aku akan tidur~" perlahan-lahan namun pasti, Rivera pun terjatuh dalam rasa kantuk.
__ADS_1
Keduanya masing-masing terlelap dalam rasa kantuk mereka. Sampai tak terasa matahari pun mulai turun dan hari sudah menggelap. Sudah selama 7 jam keduanya tertidur di dalam kamar itu. Sehingga yang membuka mata terlebih dahulu adalah Rivera.
Rivera mengucek-ucek matanya sambil melihat kearah jendela kaca yang terbuka. Saat itu pula dia mengetahui jika hari sudah menggelap. Dia pun mengarahkan pandangan kearah Alexander yang masih tertidur dengan pulas.
"Aku khawatir jika Nanny sedang mengkhawatirkan ku saat ini. Aku harus kembali, aku tidak mau disini terus," gumamnya perlahan bangun dan kemudian melangkah untuk menuju keluar kamar.
"Mau kemana..?" tajam Alexander menghentikan langkah Rivera di tempat.
"Bukankah sudah aku katakan jika kau tidak boleh meninggalkan kamar ini tanpa persetujuan ku..?" lanjutnya mulai bangun dan menghampiri Rivera.
"Ck! Mengapa saya harus tinggal disini? Saya punya istana sendiri, mengapa juga saya harus menumpang di istana yang suram ini..!!" protes Rivera.
"Kalau begitu aku akan merobohkan istana mu, baru kau bisa tinggal disini..!" jawab Alexander tersenyum sinis sembari mengangkat tubuh Rivera.
"Kenapa sampai harus di robohkan?" bingung Rivera yang bahkan sudah tidak terkejut lagi saat Alexander mengangkat tubuhnya.
"Karena kau selalu saja ingin pergi dari sini. Padahal aku sudah berkata jika kau tidak boleh pergi,"
"Tidak boleh. Jika kau pergi maka aku tidak akan bisa melihat mu lagi,"
" !! "
"Itu hak saya untuk pergi. Lagi pula kan kalian juga yang mengirim bocah 11 tahun seperti saya ke daerah yang dipenuhi oleh monster. Dan sekarang mengapa anda harus berpura-pura baik pada saya sekarang..anda membuat saya bingung, baginda" datar Rivera sudah tidak mau memperdulikan apapun yang dilakukan oleh Alexander.
Alexander hanya diam. Dia menatap kearah Rivera yang mulai mengacuhkan dirinya. Dengan senyum kecil itu dia mulai membawa Rivera pergi menuju kearah ruang makan.
Hal itu pun tak luput dari pandangan para pelayan yang berada di sekitar sana. Mereka berbisik dan memperhatikan dengan ekspresi shock seperti sedang melihat setan. Mereka tidak percaya, jika sang kaisar yang di kabarkan tidak pernah memegang istri dan anaknya bahkan saat ini sedang menggendong seorang putri yang selama ini mereka benci.
Rivera cukup sadar maksud dari tatapan mereka padanya. Namun dia memilih untuk tidak memperdulikan mereka karena merasa jika hal itu tidak layak untuk di urus.
Saat ini mereka sudah sampai di ruang makan. Alexander meletakan tubuh Rivera pada kursi yang berdekatan dengan kursi yang akan dia duduki. Dia pun duduk di dekat Rivera dengan senyuman senangnya.
__ADS_1
"Makanlah, semua ini untuk mu," ujar Alexander menunjuk semua makanan manis yang ada di atas meja itu.
Rivera terdiam. Dia menatap datar kearah cake dan juga beberapa permen tersebut.
"Dari mana anda belajar cara memberi makan anak 11 tahun saat malam hari..! Saya bertanya-tanya orang bodoh mana yang memberi tahu anda..! " datar Rivera sehingga membuat Alexander hampir tertawa.
"Ftttt... "
Rivera menatap tajam kearah Alexander sehingga Alexander berhenti tertawa. Alexander memperbaiki ekspresi nya dan kemudian berkata "Apa yang biasanya anak 11 tahun seperti mu makan saat malam hari? " tanya Alexander dengan kesabaran penuh.
"Beri saya sup dan pai apel yang tidak terlalu manis," datar Rivera menopang dagu nya dengan malas.
"Baiklah,"
Alexander pun dengan segera memerintahkan para pelayan untuk membuat pai apel dan sup seperti apa yang dipinta oleh Rivera. Selama 20 menit Rivera berusaha bersabar untuk menunggu, dan pada akhirnya kedua menu yang dia pinta akhirnya telah datang.
Kini Rivera sedang menatap kearah 2 menu itu dengan tatapan jenuh. Dia kembali menatap kearah kedua pelayan yang masih menunggu di sampingnya.
"Apa ini? Kalian ingin memberi makan seorang bayi, ya? Kenapa porsinya sangat sedikit? " protes Rivera kesal.
Alexander menatap tajam kearah kedua pelayan itu sehingga membuat mereka berdua gemetar ketakutan.
"B-baik, Tuan putri. Kami akan segera menambah porsinya," ujar mereka hendak melangkah keluar.
"Tidak usah!! Saya tidak nafsu makan gara-gara kalian. Lebih baik tidak makan dari pada harus menunggu pergerakan kalian yang sangat lama itu," kesal Rivera mulai turun dari kursi.
"Mau kemana.." tanya Alexander ikut berdiri.
"Mau pergi lah, memang nya mau kemana lagi!!" jawab Rivera kesal lalu mulai pergi dari sana.
"Kenapa aku harus terjebak di dalam sini, memang nya aku ini tawanan..! "
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^