
Dia mengayunkan pedang itu kearah Animos dengan kekuatan penuh nya. Namun tanpa dia sadari bahwa Animos telah mengendalikan prajurit-prajurit yang sudah dia pengaruhi oleh sihir gelap sebelumnya.
10 prajurit datang menarik kaki Rivera sehingga dengan paksa Rivera turun untuk menghadapi mereka semua.
"Bajingan...!! " kesalnya lalu mulai mengeluarkan sihir api dan mengarahkan bola-bola api besar itu kearah 10 prajurit tersebut.
*BOMMM.... ke-10 prajurit itu langsung terbakar dan meronta-ronta kesakitan. Tidak ada lagi penghalang baginya sehingga mebuat Rivera bisa dengan mudah untuk menyerang dalang utamanya.
"Animos sudah seperti pengendali boneka sekarang ini. Semua musuh berada dibawah perintahnya. Jika ingin semuanya berakhir, maka aku harus membunuh Animos terlebih dahulu..!!" benak Rivera menggenggam erat-erat pedanganya.
Dia kembali maju dengan ekspresi kesal. Dia angkat pedang itu seraya berkata "Kau adalah makhluk rendahan. Iblis akan selalu berada di dunia bawah, jangan pernah bermimpi untuk menjadi malaikat yang berada di dunia atas..!! " tegas Rivera sembari menggunakan Sword Aura dan bergerak untuk menyerang Animos.
"Kau tidak akan bisa, bocah sialan..!! " sinis Animos.
" !! "
*SRUNGGG.... angin bertiup dengan kencang, membawa orang-orang sehingga memecah lamun Rivera. Keadaan benar-benar kacau.
Ledakan terdengar dimana-mana. Bahkan istana utama sudah hancur, dihancurkan oleh para ogre bertubuh besar. Semua petarung sedang berjuang untuk mengalahkan para monster yang tak kunjung berdatangan dari dalam portal.
" Animos.... anda sudah bertindak terlalu jauh..! " lirih Rivera menjadikan Animos kembali menjadi fokus utamanya.
Dia berjalan mendekati Animos yang sedang melayang sembari memegang Blood Sword dan mengangkat pedang yang sudah berbalut Sword aura itu kearah Animos.
Rivera benar-benar marah besar melihat penampakan yang terjadi karena Animos dan keroco-keroconya. Keadaan hancur itu benar-benar mengingatkan nya pada anak-anak buahnya yang meninggal gara-gara penghkianatan.
"Bajingan tua.. matilah..! " pekik Rivera, melompat dengan kemampuan penuh dan kemudian menghunuskan Animos dengan Blood Sword.
*Srakk... dada Animos berhasil ditembus oleh Rivera, sehingga Animos terjatuh, menghantam lantai ubin dengan keras.
*Brukkk...Animos terjatuh sembari memegangi dadanya yang sudah mengeluarkan darah dengan deras. Dia benar-benar kesakitan dengan ekspresi kesalnya, melihat kearah Rivera yang sudah datang dengan menyeret pedangnya itu.
__ADS_1
"Bagaimana, Animos? Bukannya anda telah bersikap sombong, dengan membiarkan saya tetap hidup. Anda memiliki kepercayaan tinggi, kan? Anda berpikir, anda bisa mengalahkan saya..?! " sinis Rivera mengarahkan pedang, mengangkat dagu Animos.
"Ka-kau...jika saja aku... menbunuh mu sejak awal..! " lirih Animos, sembari memegang dadanya dengan rasa sakit yang semakin bertambah.
Rivera hanya memberikan senyuman terbaiknya, menatap Animos dengan senang. Dia tarik pedang itu dari Animos, dan kemudian dia mulai berjongkok, menatap Animos dengan rendah.
"Animos, berhentilah bermimpi..! Anda sudah kalah, anda tidak bisa terus bersikap sombong..! " ujar Rivera pelan namun tajam.
Animos terdiam sejenak, menatap Rivera dengan tatapan yang kali ini berbeda.
" Hahahahahahaha...! Bodoh..!! " pekik Animos, tertawa dengan jahat.
Rivera mengerutkan keningnya dan kemudian bangun dari posisi berjongkok. " Apakah anda sudah menjadi gila..! " ujar Rivera sedikit merasa jengkel.
Animos berhenti tertawa, dia menatap Rivera dengan tatapan sinis seolah-olah dia baru saja mendapatkan sebuah kemenangan.
"Walaupun aku mati, kau tidak akan bisa menghentikan semua yang telah dikehendaki..! Lihatlah orang-orang dibelakangmu. Mereka sudah terlihat kelelahan menghadapi jumlah monster yang tidak kunjung habis, bukan?! " sinis Animos.
Memang benar jika para petarung sudah kelelahan. Mana mereka menipis karena terus dipermainkan oleh monster. Namun berbeda dengan Alexander, Ares dan para kesatria Holy Sword.
Mereka masih berdiri tegap, mengayunkan pedang mereka dengan indah. Mereka telah berhasil menghadapi monster dengan mudah, sehingga para monster itu hanyalah sebuah mainan semata.
"Animos, apa yang anda rencanakan. Anda sudah melakukan sesuatu yang tidak saya ketahui, bukan?! " tajam Rivera kembali mengarahkan pedang, mengankat dagu Animos.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Semua yang aku lakukan mampu untuk menjadikan seluruh kekaisaran ini sebagai tempat kekuasaan, kaum kami..! Kau tidak akan bisa menghentikan itu, meski kau membunuh ku..!! " jawab Animos disertai oleh senyum sinisnya.
Tentu saja itu semakin memancing amarah Rivera. Dia semakin jengkel karena Animos terus tersenyum sinis kearahnya.
"Animos... saya benar-benar sedang serius saat ini. Jangan... mempermainkan saya, atau tidak saya akan menunjukkan apa arti nya rasa takut pada anda..!! " tajam Rivera menampar-nampan pipi Animos dengan pedangnya.
Animos terdiam, tubuhnya kaku tatkala pipinya sedang disapa hangat oleh Blood Sword. Percayalah, sejujurnya Animos merasa takut melihat sosok Rivera yang sangat menyeramkan.
__ADS_1
Ditambah lagi, saat ini Rivera mulai mengeluarkan kemampuan the Shadow miliknya, sehingga bayangan aura Rivera menjadi sangat pekat, dan menakutkan.
"K-kau.. kau juga iblis..!! " ujar Animos ketakutan, melihat mana Rivera yang memiliki warna hitam pekat dan mengintimidasi.
"?!" Rivera memiringkan kepalanya dengan alis terangkat.
"Apa otak anda sudah tergeser?" ejek Rivera semakin menambah tenaga saat menampar pipi Animos.
"Terimalah. Siapa tahu saat menerima pukulan ini, anda akan sadar," lanjut nya berbicara sinis.
Animos terpaku, bibirnya terkunci menatap kearah Rivera. Tidak tahu mengapa, dia merasakan perasaan baru saat melihat Rivera saat ini. Rivera benar-benar sangat berbeda dengan sebelumnya. Rivera terlihat sangat menakutkan untuk ukuran seorang anak kecil berusia 11 tahun.
"K-kau monster. Bagaimana bisa kau menjadi sa-sangat menakutkan..!" lirih Animos dengan tubuh menggigil dan pupil mata bergetar. Rasa takutnya semakin membesar dan membesar saat dia berada di dekat Rivera.
Rivera tidak mengerti, dia melihat Animos dengan keheranan. "Ada apa dengan anda..? Berani sekali anda menyamakan saya dengan monster..! " kesal Rivera.
Animos menyeret tubuhnya mundur dari Rivera. Matanya terus membesar dan merasakan perasaan panik. Namun Rivera terus mengikuti Animos sembari menyeret pedangnya.
"Jangan mendekati ku.. jangan bunuh aku..!! " lirih Animos mengiba.
Rivera menatap datar kearah Animos. Sudah tidak ada lagi alasan bagi Rivera untuk membiarkan Animos terus hidup. Dia mengayunkan Blood Sword kearah Animos dengan sikap dingin.
"Jangan bunuh aku..!! "
"MEMBIARKAN MUSUH TETAP HIDUP ADALAH HAL TABU, ANIMOS..!!" pekik Rivera menebas Animos dengan membabi buta.
*Srak... Animos tergeletak tidak bernyawa dengan keadaan yang mengenaskan. Rivera berhenti, menendang Animos dengan perasaan marah yang tidak kunjung mereda.
Dengan rasa kesal itu, Rivera mulai melahap jiwa Animos untuk dipersembahkan kepada The Shadow, agar kemampuan The Shadow semakin bertambah kuat.
^^^To be Continued ~^^^
__ADS_1