BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
KEHORMATAN HANYA SEBATAS GELAR


__ADS_3

"Apakah berita itu sudah sampai di telinga Countes?" kata seorang nyonya bangsawan melirik tajam kearah Rivera sambil berbisik pada nyonya bangsawan lainnya.


"Berita apa itu, nyonya?"


"Putri yang dikabarkan lemah dan bodoh itu sudah sampai di kekaisaran. Bahkan saat dia sampai di istana, dia langsung melakukan tindakan yang jahat," bisik sang Countes itu lagi tak henti-hentinya melirik Rivera dengan tajam.


"Ah benarkah...? Apa yang putri cadangan itu lakukan? "


"Dia membunuh pelayan yang tidak mematuhi perkataannya. Sungguh sangat kejam. Saya sebagai orang yang memperlakukan pelayan dengan baik, merasa sangat kasihan pada pelayan yang mati di tangan putri cadangan itu..!! "


"Huh...? Sebegitunya ya... ?"


Mereka terus berbicara dengan sedikit meninggikan nada bicara mereka sehingga seisi ruangan menoleh pada Rivera dan memberi pandangan tajam kearah Rivera. Rivera selaku orang yang sedang menjadi pusat perhatian itu hanya bisa terdiam, mempertahankan ekspresi datarnya.


"Perduli apa aku. Mau kalian bicara apapun tentang ku, emang nya itu berpengaruh?!" benak Rivera berpikir jika apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan kekanak-kanakan.


Dia menatap dengan malas dan lebih memilih untuk beranjak dari pesta tersebut. Namun saat dirinya hendak ingin beranjak dari kursinya, tiba-tiba saja ada seorang nyonya bangsawan yang berbicara lancang sehingga membuat Rivera menghentikan langkahnya.


"Apakah dia tidak diajari oleh ibunya..! Mengapa dia berprilaku semena-mena hanya karena dia adalah seorang putri..!"


" !! " Rivera menggenggam jari-jemarinya. Dia menunduk menahan emosi yang sudah diujung tanduk.


"Mengapa para tolol ini membawa-bawa ibu ku..!! Tahu apa mereka..!" kesal Rivera hendak berbalik untuk melabrak nyonya bangsawan yang baru saja menyindirnya.


Namun tiba-tiba, terdengar sebuah suara pamiliar bagi Rivera yang sedang menegur Nyonya itu dengan tegas.


"Mengapa nyonya bangsawan seperti kalian repot-repot membicarakan orang lain yang bahkan lebih muda dari kalian. Apakah hanya sebatas gelar saja kehormatan itu? " tajam Celevin menatap orang-orang itu dengan tatapan tenang namun dengan hawa membunuh yang pekat.


"A-apa maksud Tuan... semua orang disini pasti juga setuju dengan apa yang saya katakan..!" jawab nyonya bangsawan itu tidak mau kalah dan malah mencari dukungan dari orang-orang sekitarnya.


"Apakah ada yang setuju..!" tajam Celevin menatap datar kesekeliling. Sontak saja semua orang mengalihkan pandangan mereka seolah-olah tidak tahu apapun dan tidak mau tahu.


"Lihatlah...adakah orang-orang yang mendukung perkataan Nyonya?!"


"Ka-kalian...!! " betapa kesalnya nyonya itu sehingga bibirnya bergetar menahan amarah. Dia hanya bisa terdiam karena sudah tidak ada lagi yang mendukung nya.


"Huftt... anda adalah seorang bangsawan, maka bersikaplah seperti bangsawan. Jangan suka membicarakan orang lain demi bisa memuaskan orang di sekitar anda. Anda terlihat seperti tidak memiliki tata krama!! " tajam Celevin dan kemudian pergi untuk menghampiri Rivera.

__ADS_1


Seketika ruangan itu menjadi sunyi karena mereka yang terlibat dalam membicarakan Rivera sudah terlanjur menanggung malu. Satu persatu dari mereka pergi dan berpura-pura untuk mengambil minuman.


"Tuan putri, apa anda baik-baik saja?" khawatir Celevin menatap sendu kearah Rivera.


Rivera tersenyum "Saya baik-baik saja, Tuan Count. Saya sangat berterima kasih pada Tuan Count yang telah berbicara untuk saya. Saya merasa lega karena ada orang lain yang mendukung saya," kata Rivera tersenyum kecut.


"Mereka telah berani berkata kurang ajar pada Tuan putri, tentu saja saya sebagai wali putri saat ini akan membela putri apa pun yang akan terjadi," kata Celevin membuat hati Rivera terenyuh dan merasa bersukur karena dia telah dikelilingi oleh orang tulus seperti Celevin.


"Saya bersykur.."


"Oh iya, dimana kakak? Mengapa saya tidak melihat kakak di mana pun?" tanya Rivera.


"Kakak..? " Celevin heran, dia tidak mengerti dan tidak tahu siapa yang sedang Rivera cari.


"Iya kakak. Maksud saya, Tuan muda Abel ada di mana?" jawab Rivera sehingga membuat Celevin mengerti dan sedikit terkejut saat mendengar Rivera memanggil Abel dengan embel-embel 'kakak'.


"S-saya mengerti... Abel sedang berada di ruang tunggu. Sebentar lagi dia akan datang kemari. Apa putri ingin menghampirinya?" ujar Celevin.


"Oh baiklah. Kalau begitu saya akan pergi untuk menemui Kakak," ujar Rivera lalu pergi meninggalkan Celevin.


"Ba-baiklah putri...." jawab Celevin menatap Rivera dengan tatapan tidak percaya "Apakah mereka memang seakrab itu?" lanjutnya.


"Dimana ruangannya..." monolog Rivera pergi kearah kiri.


"Dimana ya..." lanjutnya masih kebingungan pada ruangan yang besar itu.


Dia terus berjalan untuk mencari, namun pada saat dia memasuki lorong, tiba-tiba saja Rivera bertemu dengan si kembar Bellezac dan Viese. Mereka yang sudah melihat kehadiran Rivera sontak saja pergi menghampiri Rivera dengan wajah senang mereka.


" !! " Rivera terkejut melihat ke-2 bocah yang selama ini selalu dia hindari.


"Waduh... kenapa ke-2 bocah ini ada lagi," benak Rivera frustasi.


"Adik kecil.. mengapa kau ada disini,"


"Kau terlihan sangat cantik...!! "


Mereka berdua langsung menempel pada Rivera sehingga membuat Rivera pasrah akan sikap kekanak-kanakan mereka berdua. Dia terdiam dengan pandangan malas.

__ADS_1


"Adik kecil, kau ingin kemana?" tanya Viese.


"Saya ingin pergi ke ruang tunggu, yang mulia," jawab Rivera.


"Wahh bunny, kau merasa kelelahan ya," lanjut Viese yang kali ini menyebut Rivera dengan 'Bunny'.


"Bunny?" heran Rivera karena cepat sekali Viese merubah panggilannya.


"Iya, Bunny. Bunny adalah anak kelinci, dan kau terlihat seperti anak kelinci, " jelas Viese bersemangat.


"Apakah saya terlihat seperti itu?"


"Tentu saja..!!"


Mereka berjalan menuju ruang tunggu sambil mengobrol. Sebenarnya yang mengobrol hanyalah Bellezac dan Viese saja, sementara Rivera hanya berperan sebagai pendengar.


Selang beberapa menit, akhirnya Rivera, Bellezac dan Viese sampai di depan pintu ruang tunggu. Rivera pun dengan segera mendorong pintu itu sehingga terlihatlah Abel yang sedang membaca buku di dalam sana.


Sontak saja Rivera tersenyum dan menghampiri Abel yang masih belum sadar akan keberadaannya.


"Kakak, saya disini," kata Rivera tersenyum riang sehingga membuat si kembar saling pandang dengan ekspresi wajah kesal.


"Tuan putri.. anda di sini, " ujar Abel terkejut jika yang baru saja masuk ke-dalam ruangan itu adalah Rivera.


"Iya, kakak. Saya datang bersama pangeran ke-4 dan ke-5, juga." jawab Rivera.


Sontak Abel langsung melihat kearah Bellezac dan Viese. Dia berdiri dengan cepat lalu memberikan salam dengan hormat.


"Sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan pangeran ke-4 dan pangeran ke-5," ujar Abel yang hanya di acuhkan oleh Bellezac dan Viese.


Bellezac dan Viese malah menatap tajam pada Abel alih-alih membalas sapaan Abel.


"?!" Abel keheranan. Begitu juga Rivera yang melihat respon aneh yang diberikan oleh Bellezac dan Viese.


"Kalian kenapa?" tanya Rivera heran.


"...Bunny, mengapa kau memanggil anak ini 'kakak' sementara kami tidak?" tanya Viese menatap kesal pada Abel.

__ADS_1


"T-tungu....


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2