
Rivera makan dengan lahap sajian yang telah di buat oleh Johanna. Di mulai dengan makanan pembuka salad sayur, makanan utama steak dengan tambahan brokoli dan asparagus, lalu ditutup dengan hidangan penutup yaitu pai apel.
Setelah mengisi perutnya, Rivera memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke taman bersama Dorothy. Dia sangat bersemangat melihat-lihat taman yang lumayan indah di Balmoral palace.
Sambil melihat-lihat kearah bunga daisy, Rivera tanpa sengaja melihat ada seekor kucing gemuk sedang bermain dengan dedaunan bunga Daisy. Dia pun segera menghampiri kucing itu dan mengelus kucing tersebut.
"Nanny, apakah kucing ini tinggal disini?" tanya Rivera sambil tersenyum riang pada kucing yang sedang bersikap manja padanya.
"Tidak, Tuan putri. Nanny juga baru melihat kucing ini," sangkal Dorothy karena memang dia tidak mengal kucing tersebut.
"Benarkah... apa dia memiliki seorang pemilik yang lain..? Hai, Kucing. Apa kau sudah memiliki rumah? Kau ingin ikut dengan ku...?" tanya Rivera sambil membuat nada yang imut.
"Nanny kita harus....
*Srakkk
" !! "
"Kraungggg....! " kucing itu terjatuh setelah ada sebuah dager yang melayang tepat mengenai perutnya.
Seketika itu membuat Rivera naik pitam dan melihat kearah datangnya dagger.
" Kalian...." geram Rivera setelah melihat Avane dan Loraine yang sedang datang dengan senyuman sinis mereka.
Dengan percaya diri mereka menghampiri Rivera dan kemudian mengintimidasi Rivera dengan kemampuan mereka. Namun nyatanya, Rivera tidak bergeming sambil menggunakan Spy item's kepada mereka ber-2.
*Ding
...[Nama : Avane Windsor ]...
...[Ras : Manusia ]...
...[Usia : 17 TAHUN ]...
...[Rank : C + ]...
...[Strength : 30 ]...
...[Ability : Gravity Controller, lie detector & Magecian]...
...[Vitality : 34 ]...
...[Mana : 20 ]...
__ADS_1
*Ding
...[Nama : Loraine Windsor ]...
...[Ras : Manusia ]...
...[Usia : 16 Tahun ]...
...[Rank : C- ]...
...[Strength : 20 ]...
...[Ability : Intimidating, lie detector & Kloning ]...
...[Vitality : 30 ]...
...[Mana : 30 ]...
Rivera menatap tajam keara mereka ber-2. Dia tidak terima jika ke-2 orang itu melampiaskan amarah mereka kepada hewan yang tidak bersalah.
"Wah lihatlah, Adik. Dia sudah berani menatap mata kita..." ejek Avane tersenyum sinis sembari memanas-manasi Loraine.
"Berani sekali anak berdarah campuran seperti mu menatap mata ku yang berharga. Kau ingin di pukul ya!" hardik Loraine sambil melayangkan satu tamparan pada Rivera.
" !! "
Rivera menahan tangan Loraine sehingga membuat dua bersaudari itu terkejut. Loraine mencoba menarik tangannya namun dia tidak bisa melakukan hal itu karena Rivera mencengkram tangan Loraine dengan sangat kuat.
"Kau..apa yang kau lakukan..!! Kakak tolong bantu aku..!! " kesal Loraine meminta bantuan pada Avane. Sementara Avane malah gelagapan melihat Rivera yang sudah dalam keadaan marah besar.
"Berani sekali kalian menampakan wajah di hadapan saya..! Apa kalian tidak sayang nyawa...! " tajam Rivera melayangkan satu pukulan ke wajah Loraine sehingga Loraine terjatuh dengan kondisi hidung yang sudah berdarah.
Karena tidak merasa puas, Rivera menendangi Loraine sehingga Loraine meronta kesakitan.
"Tidak... tolong aku kakak...!!" pekik Loraine kesakitan sambil menyembunyikan wajahnya, takut jika Rivera menendang wajahnya juga.
Avane hanya diam mematung sambil melihat Loraine yang sedang di pukuli oleh Rivera. Dia menelan air liur nya dengan ekspresi wajah ketakutan.
"Bagaimana bocah lemah ini bisa menjadi sangat kuat? Apa aku telah melakukan hal yang salah pada bocah ini..? Aku harus kabur, aku tidak mau jadi sasaran selanjutnya..! " benak Avane dengan diam-diam pergi dari sana.
Rivera terus menendang Loraine dan sesekali melayangkan satu pukulan pada Loraine. Dia memukul dengan membabi buta seolah sedang membalaskan dendam lama.
"Tuan putri, Nanny mohon hentikan," mohon Dorothy merasa khawatir jika Rivera akan mendapatkan masalah yang besar.
__ADS_1
Namun seolah-olah tak mendengar permohonan dari Dorothy, Rivera malah semakin brutal menendang Loraine. Dia mencengkram kerah baju Loraine dengan pandangan marah dan rahang yang menggerigit.
"Manusia rendahan seperti mu membuat jijik..!! Apa salah kucing itu hingga kau berani membunuhnya, hah!! Saya benar-benar tidak menyangka ada orang seperti kalian di dunia ini," hardik Rivera pada Loraine yang sudah kehilangan setengah kesadaran nya.
"Putri..Nanny mohon..." lirih Dorothy terus memohon pada Rivera supaya Rivera bisa berhenti agar tidak mendapatkan masalah.
Terlebih lagi, Loraine dan Avane adalah anak dari Ratu Estira Pelet. Jika sampai Estira tahu tentang masalah ini, maka Estira tidak akan tinggal diam dan menghukum Rivera dengan berat.
Namun lagi-lagi Rivera tidak mendengarkan perkataan Dorothy. Dia sangat murka pada Loraine dan menyeret Loraine menuju sebuah pohon yang berada di taman belakang Balmoral palace.
Dia melempar Loraine sehingga Loraine menghantam pohon dengan keras..
"Akhhh..." Loraine meraung kesakitan sambil mencoba untuk bangun. Namun dia bahkan tidak bisa bangun karena tubuhnya mengalami cidera yang parah akibat pukulan yang di berikan oleh Rivera.
Rivera berjongkok, dia menarik rambut Loraine sambil berkata "Kedepannya jangan bermain-main dengan saya. Lihatlah, saya sudah meninggalkan tanda yang cantik ini di seluruh tubuh anda..." seringainya.
"....To-tolong ampuni aku...aku berjanji tidak akan mengganggu mu lagi, adik, " lirih Loraine masih merasa kesakitan.
*Plak
Rivera menampar pipi Loraine dan kemudian berkata "Jangan panggil saya dengan sebutan menjijikan itu..!! Jika tidak ingin di pukuli maka berbicara dengan benar!! "
Loraine menangis, dengan mulut bergetar dia pun berkata "Tolong ampuni nyawa saya, saya berjanji tidak akan mengganggu putri lagi,"
Rivera menatap datar kearah Loraine dan kemudian melepaskan cengkraman nya dengan kasar. Namun seperdetik sekian Rivera melayangkan 1 tendangan mautnya kearah kepala Loraine sehingga Loraine tumbang tidak sadarkan diri.
" !! "
"Putri, jika ada masalah, bagaimana? Nanny takut jika ratu akan ikut campur dalam masalah ini," khawatir Dorothy dengan ekspresi kalutnya.
"Tenang saja. Aku akan menyembuhkan luka fisik sehingga tidak akan ada bukti jika aku baru saja memukulinya," jawab Rivera dengan segera menyembuhkan luka lebam Loraine.
Tubuh Loraine seketika bersinar dan kemudian sinar itu menghilang bersamaan dengan kondisi kulit Loraine yang sudah membaik. Rivera segera berdiri dan mengelap tangannya menggunakan sapu tangan.
"Luka nya sudah sembuh. Aku memang sedikit kecewa, namun setidaknya dia menerima luka mental yang besar sehingga akan butuh waktu lama untuk sembuh," seringai Rivera dan kemudian mulai pergi dari tempat kejadian.
Dorothy yang masih bingung pada kejadian tadi pun dengan segera menyusul langkah Rivera. Dia menyusul dengan sedikit berlari dan sesekali melirik kearah Loraine yang sedang terkapar di tanah.
"Apa akan baik-baik saja jika tubuh putri ke-3 di biarkan begitu saja?" tanya Dorothy canggung.
"Jangan perdulikan manusia itu, Nanny. Fokus saja pada jalan mu agar tidak menabrak barang," sahut Rivera dengan ekspresi datar.
"Baik, putri," jawab Dorothy patuh
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^