BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
MENYELESAIKAN LANTAI 4


__ADS_3

Ogre itu kebingungan sambil berputar mengikuti Rivera yang sedang bergerak dengan sangat cepat.


"Bodoh, berhenti meniruku...!"


*Slash


Ogre itu terkapar dengan posisi tengkurap. Setelah menghabisi Ogre tersebut, Rivera kembali berjalan kearah permukiman Ogre untuk mencari Ogre-Ogre yang masih hidup. Dia berjalan sambil memegang pedangnya itu.


"Bersembunyi dimana kalian.." Ujarnya mencari-cari.


Akhirnya Rivera masuk kedalam rumah Ogre yang belum tersentuh oleh api. Dia membuka pintu rumah itu dan kemudian melihat ada 10 Ogre anak-anak dan satu Ogre betina dewasa. Mereka meringis ketakutan sambil berpelukan satu sama lain.


Ogre betina dewasa itu menatap Rivera dengan ekspresi memelas. Dia menangis sambil memeluk ke-10 Ogre anak-anak itu.


"Malang sekali nasib kalian..." Katanya sambil membuat ekspresi datar.


"Cik.. cik.." Satu ogre anak-anak itu datang menghampiri Rivera.


Ogre anak-anak itu memeluk kaki Rivera sambil menangis ketakutan. Rivera hanya memandang datar ke arah Ogre anak-anak yang memeluknya.


"..cik... cik.. cik...


" !! "


Tiba-tiba Ogre kecil itu mengeluarkan satu belati kecil dan hendak menyerang Rivera menggunakan belati kecil itu. Rivera tak bergerming, dia mengayunkan pedangnya dan menebas kepada Ogre kecil itu sehingga terkapar.


Masih dengan tatapan datarnya, Rivera maju ke arah 9 Ogre kecil dan 1 Ogre betina dewasa itu. Tanpa ba-bi-bu lagi, Rivera langsung menebas mereka semua tanpa ampun.


"Cih! Tidak ada simpati pada makhluk hijau seperti kalian..!" Tajamnya dan kemudian pergi meninggalkan pemungkiman Ogre.


Dia pergi memasuki hutan kembali sembari melihat-lihat beberapa item. Dia membeli 2 botol Elixir lalu meminumnya.


"Kiryu, aku sudah memeriksa keberadaan bos monsternya, tapi mengapa aku tidak bisa mendeteksi keberadaan monster turtle berada?" tanya Rivera.


[Beberapa Bos monster bisa menyembunyikan keberadaan mereka, Nona. Meski sudah dilihat menggunakan kemampuan pendeteksi, mereka bisa mengakali itu dengan kemampuan Hide yang mereka punya]


"Kemampuan Hide... apakah kemampuan itu semacam kemampuan tipe Unique?"


[Bukan, nona. Kemampuan itu hanya sebuah kemampuan Rank A]


"Oh benarkah...


"Kalau begitu terpaksa aku harus mencari keberadaan bos monster Turtle itu secara manual..." ujar Rivera dan kemudian pergi begitu saja.


Selama dia mencari, Rivera banyak sekali bertemu dengan monster-monster sampingan seperti monster kelinci bergigi gergaji, slime metalik dan ayam bertaring.


Karena bosan tidak kunjung menemukan bos monster, Rivera pun memilih untuk membunuh setiap monster-monster itu untuk menghilangkan jenuh.


Banyak sekali monster sampingan yang mati di setiap jalan yang sudah di lalui Rivera. Sehingga sampailah dia di sebuah batu besar yang di penuhi oleh lelumutan. Dia mendongak keatas sambil melihat kearah beberapa pohon yang sudah menua yang tumbuh diatas batu tersebut.


"Apa-apaan batu ini...mengapa sang besar sekali..." Gumam Rivera keheranan melihat batu yang begitu besar menghalangi jalannya.


Batu itu sangatlah besar sehingga rivera terlihat seperti seekor burung di hadapan pria dewasa yang memiliki badan yang kekar. Rivera keheranan, dia pun melompat ke atas batu itu dan melihat pemandangan dari bawah.


"Kiryu, apa kau tahu. Aku sangat bosan dan ingin keluar dari lantai 4 ini," ujar Rivera.


[Jika belum menghabisi bos monster, Nona tidak bisa meninggalkan lantai yang sudah dinaiki.]


"Siapa yang membuat peraturan itu?"


[Memang prosesnya seperti itu...]


"Hah sudahlah. Aku ingin rebahan sebentar di atas batu ini. Aku sangat ngantuk~" ujar Rivera sambil menguap dan kemudian merebahkan diri di atas batu tersebut.


[Nona, Kiryu baru ingat. Apakah tadi Nona sudah mengambil koin di dalam peti tadi?]


Rivera berpikir sejenak "....Tidak, aku belum mengambilnya" jawab Rivera masa-bodoh.


[Nona..! Koin itu sangat berharga karena dengan koin-koin itu kau bisa membeli item-item dan kemampuan di Shop sistem. Mengapa kau tidak mengambilnya!]


Rivera terdiam. Dia hanya mendengarkan omelan Kiryu dengan ekspresi acuh tak acuh.


[Nona....!!]


"Baiklah-baiklah. Sehabis membunuh bos monster aku akan langsung mengambil koin-koin itu. Puas kan?"


[Baiklah, Kiryu akan mengingatkan lagi jika Nona lupa]


Rivera hanya bisa menghela napas lelah saja. Dia menatap keatas langit yang silau itu sehingga matanya sedikit terpejam. Karena tak mampu pada silau cahaya mentari, Rivera pun menutupi pandangannya dengan tangannya.


"Bos monsternya dimana ya... mengapa susah sekali mencari nya.." gumam Rivera berusaha berpikir keras.


Dia pun segera berdiri dan melihat keseliling. Kali ini dia mencoba untuk menggunakan kemampuan pendeteksi kemampuan dan menatap pada sekeliling nya. Namun dia tidak bisa melihat apapun yang menunjukkan keberadaan Bos monster.


Karena merasa kesal tak menemukan apapun di sekelilingnya, Rivera pun menuduk, melihat kearah batu yang sedang dia pijak.

__ADS_1


*Ding


...[Nama : - ]...


...[Ras : Bos monster Turtle ]...


...[Usia : 1.000.000 Tahun ]...


...[Rank : S ]...


...[Strength : 99 ]...


...[Ability : 100 ]...


...[Skill : Hide ]...


...[Vitality : 100 ]...


...[Mana : 100 ]...


" !!! "


Rivera terdiam. Dia menatap batu yang barusan saja telah dia pindai. Rivera mundur perlahan-lahan dan kemudian melompat..


*Bommm


Tiba-tiba saja Bos monster yang disangka-sangka adalah sebongkah batu oleh Rivera itu bergerak dan menghuntam tanah dengan sangat keras. Akibat dari hantaman itu, timbul gelombang pancaran aura yang menyerbak di sekeliling.


Rivera terlempar menghantam pohon sehingga pohon itu tumbang.


"Ohok.. ohok.." Rivera memuntahkan seteguk darah.


Dia segera bangun sambil menyeka darah di mulutnya.


"Siapa sangka jika batu yang aku pijaki adalah bos monsternya. Tapi... apa-apaan dengan kekuatan besar itu?" kata Rivera merasa takjub karena bos monster kali ini nemiliki kemampuan yang sangat kuat


[Hati-hati, Nona]


"Baiklah,"


Rivera kembali fokus pada bos monster. Bos monster yang telah bangun dari tidurnya dengan segera merasa murka dan menghancurkan apa pun yang ada di sekelilingnya.


Dia sangatkah besar dan memiliki buntut panjang. Diatas cangkangnya memiliki duri-duri beracun yang baru saja dia keluarkan akibat merasakan ancaman dari sekelilingnya.


"Pergerakan Turtle itu sangat berantakan. Dia menyerang apapun yang dapat di serang. Aku tidak bisa menghampiri nya karena tenaganya sangat kuat, "


"Apa yang harus aku lakukan.." ujar Rivera berpikir keras untuk mengalahkan Turtle tersebut.


[Nona, kiryu menemukan kelemahannya. Nona harus mematahkan seluruh duri beracunnya karena duri-duri itu berhubungan langsung dengan strength miliknya]


" !! "


Tanpa membuang waktu lagi, Rivera segera berlari dan melompat keatas cangkang Turtle. Dia berusaha mempertahankan posisinya karena Turtle itu terus bergerak mengamuk.


"DIAMLAH...!! " pekik Rivera lalu mengayunkan pedang menebas duri-duri Turtle yang terus mengeluarkan racun.


*Trankk


Turtle itu semakin mengamuk dan berlari menghantam pohon-pohon besar sehingga tidak memungkinkan bagi Rivera untuk tetap berada di atas nya.


Rivera melompat ke belakang dan kemudian berlari mengejar Turtle itu. Sambil mengayunkan pedangnya, Rivera melompat menebas buntut Turtle itu menggunakan Sword aura.


"MATILAH...!!" Pekiknya.


*Slashh


"KRAUNGGGGGGGG....!!!"


Monster Turtle itu mengaum kesakitan dan kemudian berhenti bergerak. Dia masuk kedalam cangkangnya dan seketika racun mulai menyerbak keseluruh tempat.


"Siapa yang ingin kau coba racuni, Turtle jelek..!!" ujar Rivera kembali menaiki Turtle itu dan kemudian mengunus Turtle itu dengan Sword auranya.


*TRANKK


"KRAUNGGGG...!! "


Monster Turtle kembali mengeluarkan kepala nya dan kemudian mengamuk sambil mengelinding, menghancurkan apapun yang ada.


Karena ancaman itu, Rivera menghindar dengan lincah sambil sesekali menebas kepala sang Turtle.


"Diamlah dasar monster gila..!!" kesal Rivera karena Tutrle itu memiliki daya tahan hidup yang tinggi. Bahkan disaat lehernya sudah disayat dengan pedang, Turtle itu tetap hidup dan malah mengamuk tidak jelas.



__ADS_1


\*Ding



...\[Lantai 4 telah di bersihkan \]...



Setelah dengan segala upaya dan kerja keras Rivera, Turtle itu mati sehingga lantai 4 telah resmi diselesaikan. Rivera duduk diatas mayat Turtle itu dan kembali meneguk sebotol Elixir.



Dia menghela napas panjang karena rasa lelah kali ini sangat besar dari pada rasa lelah di lantai-lantai sebelumnya.



\[Nona, kemampuan nona bertambah\]



"Benarkah?" Rivera tersenyum senang dan kemudian membuka status window dengan semangat.



\*Ding



...\[Nama : Rivera Beatrice \]...



...\[Ras : Manusia \]...



...\[Usia : 11 Tahun \]...



...\[Rank : S\+ \]...



...\[Strength : 110 \]...



...\[Ability : 200 \]...



...\[Skill : Poison Blood , The shadow, Mercenary, Sword Aura, Saintess & Spy item's \]...



...\[Vitality : 130 \]...



...\[Mana : 500 \]...



"Mengapa jumlah mana ku sangat besar?" ujar Rivera kagum pada kemampuannya sendiri.



\[Mana yang Nona serap bergabung dengan kekuatan suci yang nona punya.\]



"Benarkah? Berarti aku bisa menggunakan sihir mulai saat ini?"



\[Benar, Nona. Sebenarnya Nona sudah bisa menggunakan kemampuan Magecian semenjak dulu, tapi Nona jarang memeriksa kemampuan Nona\]



"Aku mengerti...."



^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2