BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
ANAK PEREMPUAN MISTERIUS


__ADS_3

Mereka ber-4 keluar dari bar itu setelah meninggalkan 3 koin emas. Tanpa sedikit pun menyentuh makanan karena suasana sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk menyentuh makanan.


"Kenapa kita harus keluar..! Aku ingin makan..! " kesal Solderet sehingga orang yang berlimpasan dengan mereka menjadi terkejut karena ulahnya.


"T-tuan Solderet, suasana tadi tidak memungkinkan untuk Tuan putri. Kita tidak bisa mengundang kecurigaan mereka," sahut Dorothy tersenyum canggung.


Solderet masih saja terdiam dengan raut wajah masamnya. Dia sangat kesal karena tidak jadi menyantap makanan lezat di bar tadi.


Rivera menghela napas dalam-dalam berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Solderet.


"Jika kita masih disana, apakah anda berjanji akan menahan diri untuk tidak menghancurkan tempat itu?!" datar Rivera.


"Ya~ tidak" sahut Solderet mengarahkan pandangan kelain arah, berpura-pura bersiul.


Rivera bergeleng-geleng melihat sikap Solderet, jika saja dia tidak terlanjur membuat kontrak pada naga tua 1 ini, dia akan membunuh nya.


"Kalian ingatkan tujuan kita untuk datang kembali kesini. Nama baik saya sudah rusak, tidak ada tempat lagi bagi saya, disini. Kita harus mencari mansion yang sedang dijual," ujar Rivera.


"Tuan putri, kenapa kita harus kembali ke kekaisaran? Mengapa kita tidak pergi ke kerajaan lain?" tanya Johanna heran.


Rivera terdiam sejenak, sembari mengulum senyum dia melihat kearah Johanna.


"Mengapa harus pergi? Disini adalah tempat saya?" jawab Rivera.


"Lihatlah para penduduk sialan ini..!! Berani sekali merusak nama ku..!! " batinnya melihat kearah kios buku yang terpajang buku-buku dan surat kabar tentang dirinya.


Banyak sekali novel yang dijual dengan judul menjelek-jelekan nama Rivera. Novel itu terpampang di sepanjang kios. Bahkan banyak sekali pengunjung seolah-olah itu ada kegemaran mereka.


"Yang telah memberontak adalah Animos, tapi kenapa nama ku yang terus diangkat sebagai bahan kebencian?" jengkel Rivera.


"Putri, seperti apa yang Nanny bilang, jika nama putri sudah rusak. Mereka benar-benar tidak tahu berterima kasih," bisik Dorothy dengan perasaan jengkelnya.


Rivera terdiam, menatap lurus dengan ekspresi datarnya. Sudah tidak ada kata-kata yang ingin dia katakan.


"Karena mereka tidak ingat siapa pahlawan itu. Aku juga bisa mengerti, tapi mengapa seolah-olah aku lah yang menjadi kambing hitamnya?! " benak Rivera.


Setelah 10 menit berjalan-jalan, akhirnya mereka telah sampai ditengah-tengah kota yang menjadi tempat terkenangnya para pahlawan 5 tahun lalu. Ditengah-tengah jalan terlihat sebuah patung besar anak kecil memegang pedang besar beserta para prajurit yang mengelilingi patung tersebut.

__ADS_1


Patung itu tidak lain dan tidak bukan merupakan Rivera sendiri, beserta kesatria-kesatria holy swords.


Sehingga Rivera yang melihat patungnya itu pun terkejut bukan main. Dia melongo, menatap patungnya dengan tatapan tidak percaya.


Bukan hanya Rivera, bahkan Dorothy, Johanna dan Solderet ikut melongo melihat patung-patung itu. Mereka melihat kearah wajah patung itu yang terdapat kain putih yang menutupi.


"Sepertinya itu tuan putri, tapi.. mengapa wajahnya ditutupi kain putih?" celetuk Johanna.


Dorothy mengangguk, dia juga ikut berpikir. "Ya, karena mereka tidak mengingat wajah pahlawan mereka. Itu masuk akal,"


Rivera menghela napas dalam-dalam, disibukkan dengan patung nya yang berdiri tegap menghadap timur. Setiap pahatan patung itu membuat Rivera kagum pada sang pemahat.


Namun disela-sela rasa kagumnya, tiba-tiba sirine kota terdengar. Mergema keseluruh tempat sehingga para penduduk pun mendadak menghentikan langkah mereka.


Para penduduk menepi dari jalan dengan antusias mereka menyambut sebarisan prajurit berkuda sedang mengawal kereta kuda yang ditumpangi oleh keluarga kerajaan.


Kereta megah nan mewah itu memiliki logo matahari penuh dengan bendera yang memiliki gambar seorang naga.


Rivera memperhatikan dari samping, dengan ekspresi datarnya setelah mengetahui siapa yang ada di dalam kereta tersebut.


Akan tetapi niat itu berhasil dihalau oleh Rivera. "Jangan buat keributan lagi..! " datar Rivera memegang tangan Solderet dengan erat.


" !! " Solderet terkejut mendapati jika Rivera saat ini sedang memegang tangannya.


"Hey apa ini..?! Mengapa kau memegang tangan ku?! " ujar Solderet tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Diamlah, jangan buat keributan. Jadilah wali saya sebentar, saya ingin mendekat," ujar Rivera, mulai menyeret Solderet untuk mendekati para kerumunan yang sedang melihat kereta kuda kaisar yang sedang lewat.


Disusul oleh Dorothy dan Johanna yang kebingungan dengan tingkah Rivera. Mereka mulai mendekati kerumunan, mencoba menyelip masa untuk berada di paling depan.


"Hey..!! " tegas seorang penduduk laki-laki dengan kesal karena tidak terima jika antrian nya di serobot oleh orang lain.


Namun nyalinya menciut setelah Solderet menatapnya dengan tatapan tajam dan hawa membunuh yang kuat. Pria itu mematung, melihat sebuah kumpulan asap hitam disekitar Solderet.


"T-tidak, saya hanya bercanda," ujar pria itu mempersilahkan Solderet dan yang lainnya untuk lewat.


Mereka berempat pun pergi kedepan untuk melihat kereta yang sedang berhenti tepat di depan sebuah butik pakaian. Para penduduk melambai-lambaikan tangan mereka dengan sebuah rasa hormat pada anggota keluarga kekaisaran.

__ADS_1


Ditengah hiruk pikuk itu, pintu kereta pun terbuka perlahan. Para prajurit segera berbaris untuk mengelilingi kereta, lengkap dengan senjata mereka. Dan kemudian mulai terlihat Alexander dengan setelan pakaian bewarna biru muda, sehingga semakin menambah kesan cerah dan juga ramah.


Seketika para penduduk langsung berteriak, memanggil kaisar mereka disertai oleh tangisan terharu.


"Kaisar, semoga anda selalu diberkahi oleh dewa..!! "


"Kaisar, tolong lihatlah saya..!! "


Banyak sekali kalimat pujian dan kekaguman dari para rakyat. Mereka menatap Alexander yang sedang tersenyum dengan cerah seraya mengulurkan tangan pada seseorang yang akan ikut keluar dari dalam kereta.


Tidak lama, seorang anak kecil yang terlihat sekitar berusia 10 tahun sedang menggenggam tangan Alexander dan kemudian turun dari kereta itu.


Sontak saja itu semakin mengundang perhatian rakyat, karena anak perempuan itu memiliki rambut silver, rambut yang hanya dimiliki oleh keluarga kekaisaran.


Para rakyat dan juga wartawan merapat untuk melihat anak perempuan itu. Namun karena letak yang jauh, mereka tidak bisa melihat jelas wajah dari anak perempuan itu.


Rivera terdiam, menatap datar kearah anak perempuan itu. Sedetik kemudian alis nya terngkat setelah Alexander mengangkat anak perempuan itu kepelukannya.


"Siapa bocah itu... " celetuk Solderet sembari berpikir.


Ini menjadi tanda tanya besar antara Solderet dan juga rakyat kekaisaran. Namun berbeda dengan Rivera, dia memandang anak itu dengan tatapan tidak peduli seraya berpikir...


"Buat anak dengan siapa dia.." pikir Rivera bersikap masa bodoh.


*Ding


[Nona, misi sampingan telah muncul]


"Buka misinya..!! " jawab Rivera, tersenyum sinis menatap pada seorang anak perempuan berambut panjang dengan warna silver, sedang berada di gendongan Alexander.


^^^To be Continued~^^^


Note :


Maaf buat para readers jika dalam 2 hari ini Author hanya up 1 chapter. Author benar-benar minta maaf, karena ada 1 dan lain hal yang harus Author urus.


Makasih sudah membaca, dan sampai jumpa di chapter berikutnya~

__ADS_1


__ADS_2