BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
SI KEMBAR BELLEZAC DAN VIESE


__ADS_3

Avane berlari terbirit-birit menuju ke Cosmo Palace. Ekspresi nya terlihat begitu ketakutan dengan keringat yang terus mengalir membasahi wajahnya. Karena merasakan lelah akhirnya Avane berhenti dengan napas ngos-ngosan.


"Sialan, bagaimana bocah itu bisa sangat kuat. Maafkan aku adik, aku tidak mau menjadi sasaran dari bocah gila itu," monolog Avane merinding dan pergi berlari masuk ke dalam Cosmo palace.


Beralih pada Rivera, Rivera sedang memperhatikan kucing yang sudah kehilangan nyawa itu. Dia menatap dengan tatapan kosong seolah-olah merasa berduka atas kepergian kucing tersebut.


Dorothy memahami betul apa yang sedang dirasakan oleh River. Namun dia tidak tahu harus berbuat apa agar bisa meredakan sedih sang Tuan putri.


"Putri....


Rivera menoleh pada Dorothy, "Ada apa, Nanny?"


"Kita harus menguburnya, apa putri ingin ikut?" lanjut Dorothy mulai mengambil sapu tangan dan membungkuskan sapu tangan itu kepada kucing yang sudah mati.


Rivera memperhatikan dengan dingin. Dia memalingkan wajahnya lalu berkata "Tidak, Nanny. Aku akan pergi untuk melakukan sesuatu," tolak nya lalu pergi dari sana.


Dorothy hanya bisa meratapi punggung Rivera yang sudah mulai menjauh. Dia menunduk sambil menatap kucing tersebut.


"Jangan sedih, sebenarnya putri juga sedih atas kepergian mu. Semoga kau tenang diatas sana," bisik Dorothy pada kucing mati itu.


......................


Rivera berjalan-jalan disebuah taman seorang diri. Di ekspresinya tergambar jelas sebuah kesedihan. Namun dia tidak bisa mengutarakan rasa sedih itu dan malah merasa aneh karena sebelumnya dia tidak pernah merasakan rasa sedih.


Dia menedangi Kerikil-kerikil dijalan sambil berkata "Sistem aktif"


*Ding


[Nona sudah lama nona tidak memanggil Kiryu]


"Aku sangat sedih, Kiryu"


[Nona... nona kenapa?]


"Tidak tahu, aku merasa sedih. Aku benar-benar tidak bisa mengolah rasa ini. Aku tidak pernah merasakan rasa ini sebelumnya," jawab Rivera mulai duduk dibangku taman.


Memang benar jika Rivera tidak pernah merasakan rasa sedih sebelumnya, karena pada saat menjadi prajurit bayaran Rivera sudah dirancang sedemikian Rupa oleh para peneliti agar tidak merasakan emosi yang mengganggu saat di medan perang.


Oleh karena itu dia malah terkejut dan tidak tahu cara mengolah rasa sedih yang dia dapat.


[Tenanglah, Nona. Beli saja 1 Elixir agar mental Nona membaik]


Rivera terdiam, dan tak lama dia pun mengikuti saran Kiryu dan langsung membeli satu Elixir. Rivera langsung meneguk Elixir itu dan berharap semoga rasa sedihnya mereda.


[Nona, bagaimana?]


"....ya, agak membaik" jawab Rivera merasa perlahan mulai membaik.


*Tap tap tap


Dari arah kanan terdengar suara langkah kaki sehingga membuat Rivera menoleh pada arah suara tersebut. Seketika hal itu membuatnya memicing saat melihat dua orang yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia juga tidak tahu nama dari ke-2 orang tersebut.

__ADS_1


Karena merasa penasaran, akhirnya Rivera menggunakan Spy item's pada mereka berdua.


*Ding


...[Nama : Bellezac Windsor ]...


...[Ras : Manusia ]...


...[Usia : 13 TAHUN ]...


...[Rank : C ++ ]...


...[Strength : 40 ]...


...[Ability : 50 ]...


...[Skill : Gravity Controller, Hypnotic & Sword Aura ]...


...[Vitality : 42 ]...


...[Mana : 40 ]...


*Ding


...[Nama : Viese Windsor ]...


...[Ras : Manusia ]...


...[Usia : 13 TAHUN ]...


...[Strength : 40 ]...


...[Ability : 52 ]...


...[Skill : Sword Aura, lie detector & Intimidating ]...


...[Vitality : 54 ]...


...[Mana : 40 ]...


"Ternyata mereka bocah kembar yang di katakan Dorothy itu. Kenapa mereka ada di sini," benak Rivera melihat kearah Bellezac dan Viese.


Kedua bocah itu memiliki warna rambut yang berbeda. Bellezac memiliki rambut bewarna emas dengan pupil mata bewarna hazel, sementara Viese memiliki warna rambut Silver dengan pupil mata bewarna Hazel. Hal itu mereka dapatkan dari kombinasi antara Alexander yang memiliki rambut silver dan Shananet yang memiliki rambut emas.


Rivera tanpa sadar memperhatikan Bellezak dan Viese cukup lama sehingga ke-2 anak kembar itu pun berjalan mendekat kearahnya.


" !! "


"Mau apa bocah-bocah itu datang kemari..." benak Rivera memalingkan wajahnya sambil berpura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.


Bellezac dan Viese semakin mendekat, mereka berdua tepat berhenti di depan Rivera dengan meletakan pedang kayu mereka di bahu mereka masing-masing. Sontak saja Rivera menelan air liur nya karena dia merasa jika kedua bocah ini terlihat seperti bocah-bocah anoyng yang ada di perancis.

__ADS_1


"Siapa ini...kenapa kau ada di taman kami?" tanya Viese membuat wajah keheranan.


"Maaf...?" sontak saja Rivera menoleh kearah kiri dan kanan untuk melihat kearah taman yang saat ini sedang dia masuki.


Dan benar saja, Rivera menyadari jika saat ini dia sedang masuk ke dalam taman palace lain.


"Apa kau tersesat?" tanya Bellezac dengan tampang datar mereka.


Rivera terdiam, dia mencoba untuk memahami kondisi nya saat ini.


"Tunggu-tunggu, aku tahu jika Rivera tidak pernah bertemu dengan ke-2 bocah ini sebelumnya. Namun, aku tidak tahu jika ke-2 bocah ini ternyata..... ramah, " benak Rivera masih terdiam sehingga membuat Bellezac dan Viese melambaikan tangan persis di depan wajah Rivera.


"Apa kau bisa mendengar kami? Apa yang terjadi?" tanya Viese.


"S-saya tidak sengaja memasuki taman ini. Maafkan saya, pangeran ke-4, pangeran ke-5," kata Rivera dan hendak pergi dari sana.


Bellezac dan Viese saling tatap, mereka akhirnya menarik belakang baju Rivera sehingga Rivera berhenti bergerak.


"Kenapa lagi dengan 2 bocah ini...!! " benak Rivera merasa frustasi karena harus menghadapi ke-2 bocah anoyng itu.


"Mau kemana?" kata Bellezac.


"Tetaplah disini, kau terlihat menggemaskan seperti seorang adik perempuan. Siapa nama mu?" sahut Viese akhirnya merangkul Rivera.


" !! "


Rivera mematung. Dia tidak tahu harus merespon apa. Dia tidak terbiasa menghadapi orang-orang seperti Bellesac dan Viese.


"Sa-saya putri ke-4, pangeran" jawab Rivera merasa canggung dan merasa ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Sontak saja, Bellezac dan Viese saling bertatapan. Mereka pun kembali melihat Rivera dengan teliti.


"Benarkah? Kau putri yang di rumorkan memiliki wajah jelek dan punya sifat pemarah itu..?" kata Viese sambil berpikir.


"Tapi kau tidak terlihat seperti itu... apakah rumor nya salah? " lanjut Viese kembali melihat kearah Rivera.


"S-saya....


Rivera sudah tidak tahu harus merespon apa. Dia lebih suka membunuh banyak monster dari pada menghadapi 2 bocah kematian di depannya.


"Ah menyebalkan. Aku harus pergi dari sini..." benak Rivera mencoba untuk diam-diam melangkah pergi dari sana. Namun lagi-lagi dia ditahan oleh Bellezac dan kemudian Bellezac merangkulnya sambil berkata


"Jangan pergi dulu. Aku masih ingin bertanya, kau tinggal dimana? Apakah kau ingin bermain dengan kami? Kalau kau mau kami bisa mengunjungi istana mu kapan saja," ujar Bellezac.


"Ti-tidak...!!" secara tidak sadar Rivera akhirnya menolak dengan keras. Hal itu pun membuat Bellezac dan Viese sedikit terkejut.


"Ma-maksud saya...saya tidak ingin merepotkan pangeran ke-4 dan ke-5, " ujar Rivera tersenyum canggung.


"Oh....tidak masalah. Kami tidak akan kerepotan, iyakan, kakak?" jawab Viese.


"Kau harus bermain bersama kami. Kau harus menjadi adik perempuan," sahut Bellezac.

__ADS_1


"Tidakkkkkk......."


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2