
Di dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Eiden, Rivera sedang menunggu kedatangan Dorothy sambil membaca sebuah buku dongeng yang menceritakan tentang kisah nenek sihir dan gadis miskin.
Dia mendapatkan buku itu dari rak buku yang ada di kamarnya. Buku-buku itu sengaja disimpan Eiden di dalam kamar Rivera karena Eiden ingin Rivera lebih mengenal cerita-cerita anak kecil pada usianya sekarang.
Namun Rivera sama sekali tidak bisa menikmati buku-buku itu. Dia kebingungan mengapa harus ada pangeran berkuda agar sang gadis bisa terbebas dari kurungan nenek sihir. Dia berpikir mengapa sang gadis tidak membebaskan diri nya sendiri.
"Buku seperti apa ini!" kesalnya melempar buku itu kelantai.
Rivera menghela napas jenuh karena tidak bisa melihat keberadaan Dorothy sejak tadi. Dia merebahkan dirinya ke sofa sambil memperhatikan langit-langit ruangan.
"Aku ingin melakukan Raid menara, tapi aku tidak bisa membuka portal saat ini..!!" monolog Rivera gelisah karena merasa bosan di dalam kamar nya.
*Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar sehingga membuat Rivera segera bergegas berlari membuka pintu kamarnya.
"Nanny... " Rivera terdiam. Dalam sekejab tawanya menghilang dan berubah menjadi ekspresi datar.
"Selamat pagi, Tuan putri. Saya ingin mengatakan jika menu sarapan telah siap. Apakah putri ingin makan di ruang makan atau di dalam kamar saja, putri?" tanya Eiden tersenyum ramah.
"Antar di kamar saja," jawab Rivera dingin.
"Baiklah jika begitu, Tuan putri," Eiden membungkuk memberi hormat dan kemudian pergi dari sana.
Dengan cepat Rivera menutup pintu kamarnya dengan kuat.
*Bangg
"Huftt.. ku pikir Nanny, tadi. Apa pria gila itu menepati janji nya..? Jika sampai dia tidak menepati janjinya, aku akan membakar istana ini..!" geram Rivera.
Belum hilang rasa kesalnya, pintu itu kembali diketuk oleh seseorang. Rivera menoleh dengan ekspresi kesal, lalu mulai membuka pintu.
"Mau apa lagi anda kesini..!! " kesal Rivera membuka pintu.
" !! " Rivera terkejut dengan mata membola.
"Nanny... " dia tersenyum. Betapa senangnya dia melihat jika yang mengetuk pintu kali ini adalah Dorothy.
__ADS_1
"Tuan putri.. Nanny sangat khawatir pada putri.. " ujar Dorothy sedih sambil menyeka air matanya.
"Maafkan aku Nanny. Yasudah, mari masuk dulu,"
Mereka berdua akhirnya memasuki kamar. Rivera membawa Dorothy untuk duduk di sofa sembari menenangkan diri terlebih dahulu. Apalagi Dorothy benar-benar terlihat sangat sedih.
"Putri... apa putri tahu, Daniel dan Johanna sangat mencemaskan putri. Kami mencari putri kemana-mana, namun putri tidak di temukan. Untung saja ada seorang pelayan yang mengatakan jika putri ada di Emperor's Palace. Dia bilang putri ingin Nanny datang kemari.." jelas Dorothy dengan berlinang air mata.
"Sudah-sudah jangan menangis. Aku minta maaf jika membuat Nanny, Daniel dan Johanna khawatir. Mau bagaimana lagi, kaisar menculik ku. Dia juga mengurung ku di dalam kamar dan tidak memboleh kan ku keluar sama sekali," bisik Rivera sedikit melirik ke arah pintu.
Dorothy menyeka air matanya, dia turut memperhatikan pintu tersebut sambil berkata "Disana juga ada 2 prajurit yang menjaga pintu, putri. Mereka terlihat sangat menyeramkan," bisik Dorothy berhenti menangis dan ikut-ikutan menggibahkan kedua prajurit yang ada di depan kamar.
"Ohh 2 serangga itu ya.." sahut Rivera mengangguk-angguk mengerti.
"Putri, apakah putri akan tinggal disini? Apa putri yakin jika putri akan baik-baik saja ada disini?" bisik Dorothy khawatir.
"Tenang saja, hanya sampai 1 minggu saja kok. Aku sebenarnya juga malas harus tinggal disini, namun ada yang harus aku kerjakan," jawab Rivera.
"Tapi put... " perkataan Dorothy terhenti tatkala ada yang mengetuk pintu kamar Rivera.
*Tok tok tok
*Ceklek
Terlihat Eiden yang sedang mendorong Troli makanan sehingga membuat Dorothy sedikit terkejut karena dibelakang Eiden juga terdapat 5 pelayan lagi yang membawa troli-troli lainnya.
"M-masuklah," gagu Dorothy melebarkan pintu.
Mereka ber-6 masuk kedalam kamar Rivera dengan ke-6 troli itu juga. Sontak saja hal itu juga membuat Rivera terkejut karena porsi yang diberkan sangat banyak.
"Eiden, apa ini? Anda ingin memberi makan babi atau anak kecil, Eiden?" kejut Rivera tercengan sambil berdiri dari duduk nya.
"Putri, anda sedang dalam masa pertumbuhan. Sangat bagus bagi putri untuk makan banyak," jawab Eiden tersenyum mengembang.
"T-tapi..." Rivera masih terkejut pada semua hidangan yang ada di depannya. Dia menatap kearah Dorothy yang hanya memilih untuk diam dengan senyum canggung.
"Ayo siapkan semuanya untuk putri," titah Eiden pada ke-5 pelayan.
__ADS_1
Mereka bergegas mempersiapkan meja untuk diduduki Rivera agar bisa menyantap sarapan dengan nyaman. Tak lupa pula mereka meletakan vas bunga peonie di atas meja itu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya meja makan sudah siap. Rivera pun duduk disana dengan tatapan tidak percaya.
"Yang benar saja. Mengapa orang-orang ini memberi makan anak kecil seperti memberi makan 10 orang dewasa," bingung Rivera.
"Putri silahkan dinikmati. Saya akan pergi dari sini," ujar Eiden yang dibalas anggukan oleh Rivera. Mereka ber-6 pun pergi dari kamar Rivera sehingga membuat Rivera bisa menghirup napas lega.
"Hahhh... gila.." cicitnya.
Dorothy menghampiri Rivera dengan ekspresi kebingungan. Dan kemudian dia pun berkata "Putri, jangan makan semuanya. Putri bisa saja sakit perut jika makan terlalu banyak," khawatir Dorothy karena menganggap jika semua makanan ini Rivera lah yang memintanya.
"T-tidak akan Nanny, mana mungkin aku bisa menghabiskan semua makanan ini," jawab Rivera.
"Baguslah. Jangan sampai putri sakit perut karena makan terlalu banyak, " ujar Dorothy lega sambil mengelus dadanya.
Mereka menatap pada makanan-makanan itu. Rivera bingung ingin memulai dari mana, dan kemudian Rivera mendadak mendapatkan ide di kepala nya.
*Ding
Rivera membuka dimensi ruang dan waktunya. Dia mengintip kedalam dan kemudian bisa melihat jika calon-calon kesatrianya saat ini masih giat berlatih.
"Kalian... cepat kemari," teriak Rivera.
Mereka pun menyadari keberadaan Rivera dan bergegas menghampiri Rivera. Mereka tersenyum bahagia karena sudah selama 7200 hari Rivera tidak menemui mereka. Karena sudah 5 hari Rivera tidak membuka dimensi ruang dan waktu maka tidak heran jika sampai membutuhkan waktu 7200 hari.
Mereka terlihat seperti sebelumnya. Mereka tidak menua apalagi tumbuh. Mereka tetap awet muda seolah waktu tidak berjalan. Melihat itu Rivera cukup lega dan bangga karena para calon-calon kesatria nya ini sudah bertumbuh dengan sangat pesat.
Mereka sudah mencapai Rank A dan Rank B, kemampuan Holy sword mereka juga semakin bagus.
"Master, mengapa anda baru mengunjungi kami. Kami sangat merindukan master," rengek mereka.
"Maafkan saya. Saya tidak sempat untuk menjenguk kalian, karena say sangat sibuk,"
"Oh iya, saya punya sesuatu untuk kalian. Kumpulkan yang lainnya juga, ya."
"Baik master,"
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^